Rabu, 09 Januari 2013

Teori Kamma Dalam Buddhisme

 on  with No comments 
In ,  

Kamma adalah hukum sebab akibat. Teori tentang kamma merupakan salah satu ajaran dasar dalam Buddhisme. Akan tetapi kepercayaan tentang kamma telah ada dan lazim di India sejak sebelum lahirnya sang Buddha. Namun demikian, Sang Buddha-lah yang menjelaskan dan merumuskan ajaran ini kedalam bentuk yang lengkap seperti yang ada sekarang. Apa penyebab terjadinya perbedaan di antara umat manusia?

Mengapa seseorang bisa lahir bergelimang harta, memiliki mental, moral, dan fisik yang sehat, sementara yang lain sepenuhnya berada dalam kemiskinan, terjebak dalam kesengsaraan? Mengapa seseorang mempunyai kepandaian luar biasa sementara yang lain terbelakang? Mengapa seseorang bisa terlahir dengan membawa sifat-sifat mulia sementara yang lain terlahir dengan membawa kecenderungan untuk berbuat jahat? Mengapa seseorang bisa memiliki bakat dalam ilmu bahasa, artistik, matematika, atau musik sejak lahir? Mengapa seseorang bisa mempunyai cacat bawaan seperti buta, tuli, atau cacat fisik? Apakah semua perbedaan di antara umat manusia ini terjadi karena sebuah sebab, ataukah hal ini sepenuhnya terjadi hanya karena kebetulan?

Tidak ada seorang pun berpikiran sehat yang akan mengatakan ketidakadilan, perbedaan, dan keberagaman ini sebagai sebuah kebetulan semata. Di dunia ini, tidak akan terjadi sesuatu pada seseorang bila ia tidak patut menerimanya, baik oleh karena suatu sebab ataupun lebih. Meskipun demikian, pada umumnya manusia, yang kemampuan intelektualnya terbatas, tidak mampu mengetahui sebab-sebab sebenarnya. Suatu ‘akibat’ yang kita rasakan sekarang tidak hanya terjadi karena suatu ‘sebab’ yang kita lakukan pada kehidupan sekarang ini juga. ‘Sebab’ tersebut bisa saja kita lakukan pada kehidupankehidupan yang lampau.

Menurut Buddhisme, perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh lingkungan atau keturunan, tetapi juga oleh kamma. Dengan kata lain, perbedaan ini merupakan akibat dari perbuatan kita di kehidupan lampau dan juga perbuatan yang kita lakukan saat ini. Diri kita sendiri yang bertanggungjawab terhadap kebahagiaan dan penderitaan kita. Kita menciptakan surga kita sendiri. Kita menciptakan neraka kita sendiri. Kita adalah arsitek (perancang) dari nasib kita sendiri. Seorang pemuda yang sedang mencari kebenaran, kebingungan karena memiliki pemahaman yang tidak jelas mengenai munculnya perbedaan-perbedaan di antara umat manusia.

Ia menghampiri Sang Buddha dan bertanya dengan penuh hormat mengenai persoalan ini: “Apa penyebabnya, apa alasannya, Oh..... Yang Mulia,” tanyanya, “bahwa di antara umat manusia, ada yang berumur pendek dan berumur panjang, ada yang sehat dan berpenyakit, ada yang buruk rupa dan cantik jelita, ada yang berkuasa dan rakyat biasa, ada yang miskin dan kaya, ada yang terlahir rendah dan terlahir mulia, serta ada yang dungu dan bijaksana?

Sang Buddha menjawab: “Semua mahluk memiliki kamma-nya sendiri, mewarisi kamma-nya sendiri, lahir dari kamma-nya sendiri, terlindung oleh kamma-nya sendiri. kamma-lah yang membedakan makhluk-makhluk menjadi rendah maupun mulia.”

Beliau kemudian menjelaskan penyebab terjadinya perbedaan-perbedaan berdasarkan hukum sebab dan akibat. Kita lahir dengan membawa sifat-sifat ‘warisan’. Kita memiliki kemampuan-kemampuan bawaan yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Kepada orang tua, kita berhutang sel sperma dan sel telur yang membentuk inti sel, yang kemudian kita sebut sebagai mahluk hidup.

Sel sperma dan sel telur ini laten berada dalam tubuh tiap orang tua, sampai pada waktunya senyawa keduanya ditunjang oleh energi kamma untuk menghasilkan sebuah janin. Karenanya kamma adalah ‘sebab’ yang sangat esensial dalam pembuahan mahluk hidup. Timbunan kamma yang dikumpulkan dari kehidupan-kehidupan lampau, memainkan peranan yang jauh lebih besar terhadap pembentukan karakteristik fisik dan mental seorang anak daripada sel-sel dan gen-gen yang diwarisi dari orang tua.

Sebagai contoh, Sang Buddha, seperti layaknya setiap manusia, mewarisi sel-sel dan gen-gen dari kedua orang tuanya. Akan tetapi tidak ada seorangpun dari garis keturunan (kerajaan) nenek moyang Beliau yang sebanding dengan Beliau baik secara fisik, moral, maupun intelektual. Sang Buddha sendiri berkata, Beliau tidak termasuk dalam garis keturunan para raja, melainkan ‘garis keturunan’ para Buddha. Beliau sesungguhnya adalah manusia sempurna, sebuah ‘ciptaan’ luar biasa dari kamma-nya sendiri.

Menurut Lakkhana Sutta, Digha Nikaya, Sang Buddha memiliki ciri-ciri yang luar biasa, yakni 32 tanda manusia besar, sebagai hasil dari jasa-jasa perbuatannya di masa lampau. Perbuatan-perbuatan yang menyebabkan diperolehnya masing-masing tanda tersebut diterangkan dengan jelas dalam Sutta ini.

Dari contoh di atas, jelaslah bahwa kamma tidak hanya mempengaruhi ciri-ciri fisik, tetapi juga menghapus potensi sel dan gen dari orang tua. Inilah yang dimaksud Sang Buddha dengan pernyataannya “Kita adalah pewaris dari perbuatan (kamma) kita sendiri.” Sehubungan dengan permasalahan diatas, dalam Atthasalini, sebuah kitab komentar dalam Abhidhamma, dinyatakan: “Karena adanya perbedaan dalam kamma, maka muncullah perbedaan-perbedaan dalam kelahiran para makhluk, terlahir agung dan rendah, hina dan mulia, bahagia dan sengsara. Karena adanya perbedaan dalam kamma, maka munculah perbedaan dalam ciri-ciri setiap makhluk, cantik dan buruk rupa, terlahir mulia dan hina, sehat jasmani dan cacat. Karena adanya perbedaan dalam Kamma, maka muncullah perbedaan kondisi keduniawian, untung dan rugi, berkuasa dan tidak berkuasa, dicela dan dipuji, bahagia dan menderita.”

Jadi, berdasarkan pandangan Buddhis, perbedaanperbedaan mental, intelektual, moral, dan watak, sebagian besar tergantung pada perbuatan (kamma) kita sendiri, baik pada saat lampau maupun pada saat sekarang. Meskipun Buddhisme mengkaitkan fenomena keberagaman ini dengan kamma sebagai penyebab utama, namun ini tidak berarti segala sesuatu terjadi hanya akibat kamma. Hukum Kamma hanyalah satu dari dua puluh empat kondisi yang dijelaskan dalam filsafat Buddhis.

Terhadap pandangan salah yang menyatakan bahwa “Semua kejadian baik dan buruk yang kita alami hanya disebabkan oleh perbuatan kita di masa lalu”, Sang Buddha menolaknya dengan berkata : “Menurut pandangan ini, oleh karena perbuatannya di masa lampau, seseorang menjadi pembunuh, pencuri, pendusta, pemfitnah, tamak, dengki, dan sesat. Oleh sebab itu, bagi mereka yang berpandangan bahwa perbuatan-perbuatan lampau sebagai satu-satunya penyebab, maka tidak akan ada keinginan, usaha maupun kebutuhan untuk melakukan suatu perbuatan, sebaliknya juga tidak akan ada keinginan, usaha, maupun kebutuhan untuk tidak melakukan suatu perbuatan.”

Pada pernyataan di atas Sang Buddha menyangkal kepercayaan yang menyatakan bahwa semua fenomena baik fisik maupun mental disebabkan semata-mata oleh kamma masa lampau. Jika kehidupan saat ini dikondisikan atau dikendalikan sepenuhnya hanya oleh kamma masa lampau, maka kamma akan sama dengan fatalisme, nasib, atau takdir. Jika hal ini benar maka tidak ada yang namanya kehendak bebas. Hidup akan menjadi serba mekanis, tidak banyak berbeda dengan sebuah mesin. Doktrin fatalistic seperti ini bukanlah hukum Kamma dalam pandangan Buddhis.

Menurut Buddhisme, terdapat lima hukum (niyāma) yang bekerja di alam semesta, yakni
1. Utu Niyāma - hukum fisik anorganik, sebagai contoh: gejala timbulnya angin dan hujan. Hukum tentang silih bergantinya musim, perubahan iklim, penyebab terjadinya angin dan hujan, sifat dari panas, dan lain sebagainya, semuanya termasuk dalam kelompok pertama ini.

2. Bija Niyāma - hukum yang mengatur mengenai basil dan biji-bijian (hukum fisik organik), seperti padi berasal dari benih padi, rasa manis dari tebu atau madu, sifat-sifat tertentu dari berbagai macam buah, dan sebagainya. Teori sains mengenai sel dan gen, serta kemiripan fisik dari anak kembar mungkin berdasarkan pada hukum ini.

3. Kamma Niyāma – hukum mengenai sebab dan akibat. Sebagai contoh, perbuatan yang dilandasi oleh niat baik atau jahat akan menghasilkan akibat yang sesuai dengannya, baik maupun buruk. Sama halnya dengan air yang selalu mencari persamaan tinggi permukaan, demikian pula hukum Kamma, bila kondisinya tepat akan menghasilkan akibat yang tidak dapat dihindari, bukan sebagai hadiah ataupun hukuman melainkan sebagai rangkaian suatu kejadian. Rangkaian sebab dan akibat ini sama alaminya dan sama dibutuhkan seperti layaknya pergerakan matahari dan bulan.

4. Dhamma Niyāma – hukum dari fenomena-fenomena yang khas, sebagai contoh; gejala alam yang terjadi pada saat kelahiran terakhir seorang Boddhisatva. Hukum gravitasi dan hukum-hukum alam lainnya termasuk ke dalam kelompok ini.

5. Citta Niyāma – hukum yang mengatur alam pikiran atau psikis, contoh: proses berlangsungnya kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat-sifat kesadaran, kekuatan pikiran, dan sebagainya, termasuk telepati, telaesthesia, kemampuan mengingat hal-hal lampau, kemampuan meramal, mata dewa, telinga dewa, keahlian membaca pikiran, dan fenomena psikis lainnya yang terkadang tidak dapat dipahami atau dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Setiap fenomena mental maupun fisik dapat dijelaskan oleh cakupan kelima hukum di atas yang bekerja secara independen. Kamma hanya salah satu dari lima hokum ini. Seperti layaknya semua hukum alam, mereka bekerja dengan sendirinya, tidak membutuhkan ‘pemberi kuasa’. Dari kelima hukum di atas, Utu niyāma dan Dhamma Niyāma bisa dikatakan mekanis atau tidak dapat diatur, meskipun pada tingkat tertentu bisa dikendalikan melalui kecerdasan atau kekuatan pikiran manusia.

Sebagai contoh, api biasanya bersifat membakar, dan rasa dingin yang luar biasa dapat membekukan. Akan tetapi ada beberapa orang yang dapat berjalan melewati api dan bermeditasi telanjang di atas pegunungan Himalaya yang bersalju; para ahli tumbuhan dapat menciptakan keajaiban terhadap bunga-bungaan maupun buah-buahan; para praktisi Yoga bisa mengambang di udara. Hukum psikis bersifat mekanis, akan tetapi latihan Buddhis bertujuan untuk mengendalikan pikiran, yang mungkin dicapai melalui pengertian benar dan kemauan yang keras.

Hukum Kamma bisa dikatakan berjalan secara otomatis, dan ketika dorongan Kamma begitu kuatnya, seseorang tidak dapat mencampuri akibat yang dihasilkannya meskipun ia ingin. Tetapi kembali dengan pengertian benar dan kemauan yang keras seseorang dapat membentuk masa depannya sendiri. Kamma baik, yang dilakukan terus-menerus, dapat menghambat masaknya buah kamma buruk. Hukum Kamma merupakan sebuah hukum yang sangat rumit dan cara kerjanya hanya dapat dipahami sepenuhnya oleh seorang Buddha. Tujuan akhir dari Ajaran Sang Buddha adalah penghancuran total dari semua bentuk kamma.

Judul asli: The Teory Of Kamma in Buddhism
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw
Alih Bahasa: Marlin & Bodhi Limas
Editor: Y.M. Bhikkhu Abhipañño
Share:

0 Komentar:

Posting Komentar