Tampilkan postingan dengan label Sutta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutta. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2019

Selasa, 19 Februari 2013

Asivisopama Sutta

 on  with No comments 
In  
ASIVISOPAMA SUTTA
(Sutta Ular-ular Berbisa)

Oleh: Venerable Sayadaw U Waryameinda (Minlha Sayadaw)
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Indonesia Oleh:
Candasili Nunuk Y. Kusmiana
Editor Oleh: Panna Kumara
Tata Letak & Sampul : Samuel B. Harsojo
Akhir Desember 2004

Asivisopama sutta atau sutta ular-ular yang sangat berbisa berasal dari Samyutta Nikaya, suatu kumpulan kata-kata dhamma dari Sang Buddha. Dan Mahasi Sayadaw telah berulang kali membabarkan ulang sutta ini. Karena sutta ini dapat dipakai sebagai dasar pengetahuan bagi para yogi yang telah tengah berlatih meditasi vipassana.

Perumpamaan
Tersebutlah seorang laki-laki yang setelah melakukan perbuatan jahat, tidak mau menanggung akibat perbuatan jahatnya itu. Ia tidak ingin dihukum dan menderita. Sang raja mengetahui bahwa lelaki ini orang jahat. Tetapi ia tidak memiliki bukti yang dapat digunakan untuk menghukum kejahatan yang telah dilakukan tersebut. Namun sang raja menemukan sebuah cara untuk menghukumnya meski tidak secara langsung. Ia diperintahkan memelihara empat ekor ular yang sangat berbisa dan berbahaya. Ular-ular berbisa ini akan menggigit jika marah. Gigitannya dapat menimbulkan penderitaan dan bahkan kematian.

Seperti perintah raja, ia pun memelihara ular-ular tersebut dengan baik. Setiap hari ia membangunkan ular-ular itu, memandikan, memberinya makan, memenuhi segala kebutuhannya dan juga melatihnya. Ia berpikir, merupakan kehormatan baginya mendapat tugas mulia semacam ini dari raja. Maka ia pun merasa bahagia dan menerimakehadiran ular-ular tersebut dengan senang hati. Keempat ular tersebut mengambil posisi demikian. Ular pertama merayap melalui kaki naik ke tubuhnya dan beristirahat di bahu kanan. Ular kedua merangkak dari sisi sebelah kiri dan beristirahat di bahu kiri. Ular ketiga memanjat dari arah depan, melingkari tubuhnya dan beristirahat di muka. Ular keempat merangkak dari belakang dan beristirahat di kepalanya.

Laki-laki ini tidak menyadari bahwa dirinya dalam bahaya. Sebaliknya, ia bahagia memiliki dan memelihara ular-ular itu. Ular-ular itu diperlakukan seperti perhiasan berharga. Dipamerkannya ular-ular itu berkeliling kota dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan. Suatu hari ia bersua dengan karib sahabatnya. Si sahabat mengingatkannya demikian, ''jika masing-masing ular ini ingin melakukan sesuatu yang berbeda disaat yang bersamaan, kamu tidak akan mampu memuaskan mereka. Akibatnya mereka akan marah dan menggigitmu. Apabila hal ini terjadi, kami akan menderita dan kemungkinan bisa mati.'' Kata sahabat ini lagi, ''Raja sebenarnya secara tidak langsung semghukummu. Bila engkau tidak mapu menjaga ular-ular itu dengan baik atau tidak mampu menyenagkan dan memuaskan mereka, raja akan menghukummu atau ular-ular itu yang menggigitmu sampai mati.''

Kenyataannya memang demikian. Ada beberapa orang suruhan raja yang diperintahkan mengawasinya, untuk memastikan apakah ia benar-benar menjaga ular-ular itu. Melihat keadaan ini, si sahabat menasehatinya untuk melarikan diri saat pengawas dan ular-ular sedang tidur. Laki-laki ini mematuhi nasehat sahabatnya tersebut. Ia melarikan diri pada saat yang tepat. Raja yang mengetahui bahwa ia melarikan diri, segera memerintahkan para pengawal untuk megejar dan membawanya kebambali. Tak ketinggalan ular-ular juga mengikuti, mengikuti jejaknya dari bau yang ditinggalkannya. Setelah mengejar beberapa lama, baik apara pengawal maupun para ular-ular itu tidak berhasil menemukan buruannya. Tetapi raja tidak berputus asa. Beliau ingat dengan lima musuh lelaki itu. Mereka berkenan mencari, menemukan serta mebawanya kembali dihadapan raja meski tapaimbalan apapun. Raja juga membuat pengumuman dengan hadiah besar bagi siapupun yang berhasil menangkap dirinya.

Dalam pelariannya, laki-laki ini bertemu lagi dengan sahabat baiknya dan meningatkan dirinya bahwa ia tidak hanya dikejar oleh ular-ular itu dan pesuruh raja. Tetapi juga oleh 5 musuhnya. Maka, si sahabat ini menasehatinya agar lari secepat dan sejauh mungkin. Saat raja menyadari bahwa laiki-laki ini sulit ditemukan, beliau didatangi oleh seseorang yang mengaku kawan dekat buronan raja tersebut. Orang ini akan membujuk laki-laki tersebut pulang kemabli. Jika dilihat sepintas, orang ini bersikap layaknya kawan baik. Tetapi sesungguhnya ia adalah musuh terselubung laki-laki itu. Sekali lagi sahabat baik laki-laki itu datang untuk mengingatkan datangnya seorang ''kawan'', sahabat yang salah. Maka, berbekal nasehat tersebut saat si ''kawan'' ini datang dan membujuknya untuk kembali, ia pun menolaknya. Ia terus berlari sampai menemukan sebuah desa. Desa itu keadaannya berantakan. Dan hanya ada 6 rumah yang sedang ditinggal pergi pemiliknya.

Ia pun berkeliling mencari makan dan minum di desa ini. Maklum saja, setelah berlari demikian lama, ia kehausan dan kelaparan. Rumah pertama yang dimasukinya hanya ada pot dan beberapa kotak kosong. Demikian pula dengan rumah lainnya, tidak ada sedikit pun makanan tersisa. Karena kelelahan ia duduk di bawah pohon dengan maksud tidur sejenak. Saat itu sahabat baiknya datang dan memberitahukan bahwa rumah-rumah kosong itu milik 6 perampok yang akan segera kembali. Jika para perampok menemukan dirinya, sudah pasti mereka akan membunuhnya. Mendengar nasehat ini, meski kelelahan, ia melanjutkan pelariannya dan terus berlari sampai menemukan sebuah sungai lebar, dalam dan berarus deras. Ia menyadari jika dirinya bisa mencapai sisi seberang, ia akan aman dari perahu yang bisa dipakainya untuk menyebrang.

Ia pun segera mengumpulkan ranting-ranting pohon dan megikutinya untuk dijadikan sebuah rakit. Saat rakit sederhana itu selesai, ia menaiki dan mengayuh rakit sederhana itu dengan kedua kai dan tangannya. Sekuat tenaga ia berjuang. Dengan keteguhan hati dan usah yang besar akhirnya ia sampai ke sisi seberang sungai. Ditempat ini ia baru merasa lega karena telah terbebas dari musuh-musuhnya. Dari seberang ia meliaht bagaimana ular-ular dan para pengawal raja berdiri keakutan di tepi sungai yang lain. Mereka takut kembali ke kerajaan karena gagal menjalankan tugas dan raja akan memberikan hukuman saat mereka kembalidengan tangan kosong. Akhirnya, mereka menunggu di tepi subgai dengan sia-sia dan mati kelaparan.

Setelah memberikan perumpamaan ular dan laki-laki ini secara panjang lebar, ada beberapa hal penting dari cerita ini yang dapat diambil hikmahnya bagi para yogi aat berlatih meditasi. Bagaimanapun, menyampaikan cerita saja tidaklah mencukupi. Ada hal penting lain yang perlu dijelaskan untuk para yogi sehingga mereka bisa mempelajari dan mempraktekkan dalam latihan.

Adapun 3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam praktek dhamma, yaitu:
  1. Sabhava Yotti, Melihat segala fenomena pada diri sendiri sebagaimana adanya.
  2. Sadaka Yotti, Contoh mengenai orang lain yang berhasil dalam latihan. Jika menemukan kesulitan saat berlatih, kita bisa mendapat masukan dari contoh-contoh semacam ini.
  3. Ayama Yotti, Seseorang dapat terinspirasi dengan mendengrarkan suatu percakapan. Dalam dhamma tidak ada stupun yang bersifat khayalan. Semua yang dibabarkan bersumber dari Tipitaka, ajaran murni.
Untuk membabarkan kebenaran dari segala sesuatu sebagaimana danya, maka sumber yang dirujuk harus mengacu pada naskah asli. Disini, Y.M. Mahasi Sayadaw selalu mengingatkan bhikkhu guru meditasi, untuk membabarkan dhamma yang ada hubungnnya dengan vipassana. Ketika mengutip cerita-cerita dhamma seorang guru tidak boleh menekankan selain vipassana. Cerita-cerita yang diambil harus secara langsung berhubungan dengan vipassana. Karena seseorang tak akan bisa meraih pandangan terang hanya dengan belajar, berpikir, mendengarkan khotbah-khotbah atau berdiskusi, hanya melalui praktek (meditasi vipassana) sajalah seseorang bisa mencapai pandangan terang.

Sekarang kami akan memberikan penjelasan tentang lambang-lambang yang digunakan dalam cerita di atas:
  1. Empat ular berbisa melambangkan empat unsur utama.
  2. Lima musuh berarti lima kelompok kehidupan.
  3. Kawan yang salah adalah nafsu-nafsu raga atau kemelekatan atas kenikmatan indrawi.
  4. Desa berantakan dan enam rumah kosong melambangkan tubuh dan landasan indra.
  5. Sisi sungai merujuk pandangan salah tentang adanya dir-atta ditthi
  6. Sungai berarti empat banjir besar.
  7. Rakit melambangkan Delapan Jalan Utama
  8. Sisi seberang sungai berarti Nibbana
  9. Laki-laki yang menagyuh rakit dengan sekuat tenaga melambangkan diri kita yang berjuang dengan sepenuh daya.
  10. Mencapai pantai seberang berarti mencapai nibbana.
Share:

Minggu, 10 Februari 2013

Milinda Panha - Pendahuluan

 on  with No comments 
In ,  
Pendahuluan

Milinda Pañha merupakan buku Buddhis kuno yang diagungkan serta dianggap bernilai tinggi sehingga oleh orang-orang Burma dimasukkan ke dalam Kitab Suci Pali. Di dalam Kitab Pali dikatakan bahwa percakapan antara Raja Milinda dengan Nagasena terjadi 500 tahun setelah Sang Buddha parinibbana. T.W. Rhys David, penerjemah yang terkemuka untuk kitab-kitab Pali, menganggap buku ini sangat bagus. Beliau mengatakan, “Saya berani mengatakan bahwa ‘Pertanyaan Raja Milinda‘ ini jelas merupakan karya besar prosa India; dan dipandang dari sudut kesusasteraan benar-benar merupakan buku terbaik di kelasnya, terbaik yang pernah dihasilkan di negara mana pun juga.”[1]

Gaya Milinda Pañha sangat mirip dengan dialog Platonik, di mana Nagasena memainkan peran sebagai Socrates dan menang berdebat dengan Raja Milinda di dalam sudut pandang Buddhis, karena penalarannya yang sehat dan perumpamaannya yang tepat. Si pengarang memang tidak dikenal, tetapi hampir dapat dipastikan dia dahulu hidup di India Barat Laut atau di Punjab, karena dia sama sekali tidak menyebutkan daerah pedalaman India di bagian selatan Sungai Gangga. Dan ini didukung oleh keterangan yang ada tentang Raja Menander, raja orang-orang Bactria yang dikenal sebagai Milinda.

Banyak yang diketahui tentang Raja Menander. Sejumlah besar mata uangnya telah ditemukan di daerah yang luas di bagian India Utara, sampai sejauh Kabul di sebelah Barat, Mathura di sebelah Timur serta Kashmir di sebelah Utara. Seringkali dia tergambar sebagai seorang laki-laki muda atau kadang-kadang juga laki-laki yang sangat tua. Plutarch mengatakan, “Menander adalah seorang raja yang terkenal amat adil dan sangat dekat dengan rakyatnya. Maka pada waktu dia meninggal -yang terjadi di suatu camp- berbagai kota berebut untuk memiliki abunya. Pertengkaran itu diselesaikan dengan kesepakatan para wakil dari berbagai kota itu untuk membagi re!iknya, dan kemudian mereka mendirikan monumen-monumen untuk mengenang Sang Raja”.

Suatu penerbitan tentang harta karun Mir Zakah baru-baru ini menegaskan kepemimpinan Menander di Ghazni dan daerah-daerah sakitarnya di lembah Kabul sebelah utara (ada 521 mata uang Menander di dalam harta karun itu). Penemuan Attic Tetradrachm Menander akhirnya menyelesaikan spekulasi itu. Menander pasti telah memerintah di daerah Kabul. Di sebelah Utara, dia menduduki Hazara dan lembah Swat.[2] Jadi Menander adalah satu dari raja-raja Yunani yang tetap berada di Bactria untuk melanjutkan kekuasaan Yunani yang didirikan oleh Alexander Agung, dan Menander adalah salah satu raja terpenting. Mungkin dia bertahta dari kira-kira 150 SM sampai 110 SM (jadi percakapan ini terjadi lebih dari 400 tahun sesudah Sang Buddha parinibbana).

Strabo mengingatkan tentang hebatnya kerajaan Bactria yang berekspansi melebihi batas mulanya, dan dia secara kebetulan juga menyebutkan bahwa raja yang terutama bertanggung jawab untuk perluasan itu adalah Demetrius dan Menander … Tetapi dibanding Demetrius,[3] Menander meninggalkan tanda yang jauh lebih mendalam berkenaan dengan tradisi India. Menander menguasai Delta Indus, jasirah Surastra (Kathiavar), menduduki Mathura di Jumna, menyerbu Madyamika (Nagari dekat Chitor) dan Saketam di selatan Oudh, serta mengancam ibukotanya, Pataliputta. Tetapi penyerbuan itu dipukul mundur dan Menander dipaksa kembali ke negaranya sendiri.[4] Karena rakyat Bactria kemudian menjadi Buddhis maka dapat dipastikan bahwa Raja Menander benar-benar adalah Raja Milinda yang diacu di dalam buku itu. Namun ada juga kemungkinan bahwa percakapan itu merupakan alat sastra yang digunakan oleh pengarang untuk menambah daya tarik terhadap apa yang pada mulanya merupakan penjelasan terperinci tentang ajaran Buddhis, dan merupakan sangkalan terhadap pandangan salah yang selama itu telah disebarluaskan oleh mereka yang memusuhi Buddhisme.

Cerita pembukaan dalam Miln. yang berkenaan dengan masa muda Nagasena juga hampir identik dengan cerita tentang Mogaliputta Tissa muda yang diceritakan dalam Mahavamsa, Kitab Suci Ceylon. Mogaliputta Tissa Thera hidup kira-kira 100 tahun sebelum Menander dan disebutkan 2 kali di dalam teks (Miln. hal. 3,71) sehingga mungkin saja cerita inilah yang lebih tua. Tetapi, Mahavamsa ditulis jauh sesudahnya oleh Mahanama pada permulaan abad ke-6 Masehi, sehingga cerita itu mungkin saja telah dipinjam oleh Mahanama dari buku Miln., yang pada waktu itu merupakan kitab suci yang diedit oleh Buddhagosa. (Dalam Milinda Tika, uraian tentang Miln., dinyatakan bahwa beberapa syair dalam prolog dan epilog dalam Miln. dikarang oleh Buddhagosa).

Dari percakapan yang dianggap terjadi antara Milinda dengan Purana Kassapa, Makkhali Gosala dan beberapa petapa lain, jelas terlihat bahwa cerita pembukaan ini hanya karangan belaka, karena petapa-petapa ini sezaman dengan Sang Buddha. Cerita ini didasarkan pada Samañña Phala Sutta dari Digha Nikaya. Tetapi ada satu perbedaan yang patut dicatat. Di dalam Samaññaphala Sutta,[5] Pangeran Ajatasattu mengunjungi Sang Buddha tetapi tidak bisa mengenalinya; sementara dalam pendahuluan di Miln., Raja Milinda berkata tentang Nagasena, “Tidak perlu menunjukkan dia kepadaku”. Jadi Raja Milinda tampak lebih tinggi daripada Pangeran Ajatasattu.

Bangkitnya Kerajaan Magadha
Di dalam Mahaparinibbana Sutta, Sang Buddha meramalkan bahwa kota Pataliputta, yang dibangun persis sebelum kemangkatannya, akan menjadi kota besar. “Ananda, dari antara kota dan kota besar yang kini merupakan pusat perkumpulan dan perdagangan suku Arya, kota yang baru ini akan menjadi kota terbesar yang disebut Pataliputta, suatu tempat di mana barang-barang dibongkar, dijual dan didistribusikan. Tetapi kota ini akan mengalami bahaya banjir, api dan pertikaian dari dalam”.[6] Kerajaan Magadha, yang beribukota Pataliputta (Patna modern), lama-kelamaan menjadi kota yang paling kuat di seluruh India.

Di pertengahan abad ke 4 SM seorang Sudra bernama Mahapadma Nanda merampas tahta kerajaan Magadha dan menjadi penguasa kerajaan yang membentang dari sungai Brahmaputra di sebelah timur sampai ke Beas di sebelah Barat. Tetapi di seberang sungai Beas ada beberapa kerajaan kecil.

Pada saat yang bersamaan Alexander Agung menguasai Persia dan menyeberangi Hindu Kush untuk masuk ke Bactria (Afganistan Utara). Dibutuhkan waktu 2 tahun untuk menaklukkan daerah yang tidak ramah ini, tetapi waktu melakukan hal itu, Alexander Agung mendirikan juga beberapa kota yang menembus jauh ke utara sampai ke Samarkand dan Leninabad (dulu: di Uni Soviet). Ada juga kota lain yang telah diidentifikasikan di Charikar (sebelah utara Kabul). Setelah mendengar tentang sungai Indus, Alexander Agung kembali menyeberangi Hindu Kush pada tahun 372 SM dan terus mendesak ke Taxila (Takkasila) di sebelah timur. Tetapi ketika dia sampai di sungai Jhelum, dia dihadang raja Paurava yang mempunyai gajah-gajah perang. Bahkan para veteran Macadonia pun tidak mampu melawan musuh seperti itu. Maka Alexander terpaksa mundur sampai ke sungai Indus untuk kemudian kembali melalui Persia di mana dia meninggal di Babylon pada 323 SM. Walaupun demikian dia telah meninggalkan dasar-dasar kerajaan Bactria dan telah menjelajah sungai Jhelhum dan sungai Indus.

Setelah kematian Alexander, Chandragupta, pendiri dinasti Maurya, dapat mengusir garnisun Yunani dari lembah Indus. Pada tahun 321 SM dia mengalahkan Nanda dan menguasai kerajaan Magadha dengan ibukotanya Pataliputta. Penerus Alexander, Seleukos I Nikator, memimpin suatu ekspedisi melawan orang-orang India pada tahun 311 SM dengan harapan merebut kembali daerah Punjab. Tetapi dia terhalang kekuasaan Chandragupta. Pada tahun 304 SM Seleukos dengan senang hati menandatangani persetujuan dengan Chandragupta, dan memberikan anak perempuannya untuk dinikahi dan bahkan juga memberikan daerah-daerah yang luas, yang sekarang menjadi Baluchistan dan Afganistan, sebagai alat tukar untuk 500 gajah perang. Seleukos mengirimkan duta besarnya, Magasthenes, ke Pataliputta. Dilihat dari peninggalan tulisannya, kita mengetahui tentang besarnya pasukan dan kekuatan pertahanannya di sana. Chandragupta memerintah selama 24 tahun dan putranya Bindusara, sangat sedikit yang kita ketahui tentang dia, memerintah selama 28 tahun sampai kematiannya di tahun 269 SM.

Pada saat kematian Bindusara, putra tertuanya sudah menjadi raja muda di Takkasila, sedangkan putranya yang kecil, Asoka, adalah raja muda di Ujjeni di selatan. Asoka bertempur dengan saudaranya memperebutkan hak untuk bertahta dan saudaranya terbunuh di dalam pertempuran itu. Asoka kemudian menjadi penguasa kerajaan yang besar, dari Bengala sampai ke Afganistan. Walaupun demikian dia tetap masih belum puas. Setelah sembilan tahun bertahta, sesudah pertempuran berdarah merebut Kerajaan Kalinga (Orissa), barulah Asoka meninggalkan peperangan dan menjadi pengikut Buddhisme yang taat. Kaisar Asoka mengirimkan utusan-utusan bhikkhu ke daerah tapal batas kekaisarannya yang luas. Banyak prasasti Asoka yang telah ditemukan di Lembah Kabul yang ditulis di dalam bahasa Yunani dan Aramaik.

Di tempat lain, prasastinya menyebutkan bahwa dia telah berhasil menyebarkan Dhamma di Mesir, Siriya, Macadonia, Yunani, Cyprus, Bactria, Kashmir, Gandhara, dsb. Mahavamsa mengatakan bahwa banyak utusan yang dikirimkan ke Kashmir, Gandhara, Bactria, Himalaya, Sindh (Gujarat). Prasasti di dalam wadah relik yang ditemukan di stupa-stupa Sanci mencatat keberhasilan misi itu ke Pegunungan Himalaya. Sayangnya catatan-catatan stupa yang lain telah dirusak. Namun dapat kita pastikan bahwa misi ke Kashmir dan Gandhara itu berhasil, karena bahkan di zaman Sang Buddha pun Takkasila merupakan pusat belajar yang terkenal. Mahavamsa juga mencatat bahwa pada peresmian Stupa Agung di tahun 157 SM, para bhikkhu datang dari Alasanda (Charika) yang terletak di Yona (Bactria).

Bangkitnya Kerajaan Bactria
Setelah Asoka mangkat pada tahun 227 SM, kekaisaran Maurya mulai terpecah-pecah. Pada tahun 250 SM meletus pemberontakan di dalam kekaisaran yang didirikan oleh Seleukos, di bawah pimpinan gubernurnya, Diodotus I. Kekaisaran itu terus berkembang di bawah penggantinya, Diodotus II dan Euthydemus. Pada permulaan abad 2 SM, para penguasa Yunani dari kerajaan baru Bactria menyeberangi Hindu Kush dan mulai menyerbu India dari barat laut. Di antara raja-raja Yunani yang berkuasa sampai di sebelah selatan Kush, kelihatannya Apollodotus-lah raja yang pertama. Dua kali dia disebutkan berhubungan dengan Menander. Kekuasaan mereka berkembang ke barat daya sampai Ariana (Afganistan selatan) dan ke selatan sampai lembah Indus.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Menander pasti telah berkuasa di lembah Kabul dan Swat dan pada suatu saat dia juga menguasai lembah Indus. Sagala, kota yang disebutkan di dalam Miln. sebagai tempat di mana percakapan itu terjadi, adalah kota kuno orang-orang Madras yang datang di daerah itu kira-kira pada abad 6 SM. Sekarang kota itu disebut Sialkot, yang terletak di antara sungai Chenab dan Ravi, dekat perbatasan Kashmir. Di buku Miln. halaman 53, disebutkan bahwa Kashmir berjarak 12 yojana (84 mil) dan bahwa Milinda lahir di pulau Alasanda, yang jaraknya kurang 200 yojana dari situ. Ada banyak kota yang didirikan oleh Alexander selama penaklukannya, beberapa di antaranya mungkin merupakan tempat kelahiran Menander. A.K. Narain menduga bahwa kota kelahiran Menander adalah kota yang didirikan di Charikar, tetapi jaraknya kurang dari 200 yojana (1400 mil) dengan perhitungan biasa. Ataukah mungkin itu kota Alexandra yang terletak di Leninabad atau salah satu dari kota-kota Alexandra yang terletak lebih jauh ke Barat?

Namun, dari bukti-bukti yang ada dapat kita perkirakan bahwa Menander lahir di Bactria tetapi dibesarkan di Ariana (lembah Kabul), dan bahwa di tahun-tahun pertama pemerintahannya, dia mengembangkan kerajaan ayahnya sampai ke lembah Indus dan lebih jauh lagi, dan kemudian mungkin mendirikan ibu kota di Sagala. Tidak seperti Bactria yang banyak sekali dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani, daerah-daerah baru ini sudah menganut Buddhis. Pada waktu itu, Menander telah banyak dididik di dalam tradisi Yunani tetapi telah mengenal Buddhisme secara langsung dan tak pelak lagi dia pasti sering menjumpai para bhikkhu yang hidup di kerajaannya. Walaupun demikian, kelihatannya agak tidak mungkin kalau pengetahuannya tentang ajaran Buddhisme cukup untuk dapat mengadakan dialog seperti yang di tulis di dalam Miln. karena Milinda tampaknya memiliki pengetahuan yang luas tentang teks yang ada. Saya berpendapat bahwa pengarang paling tidak telah bertemu sebentar dengan Menander, dan kemungkinan besar dia mendasarkan karyanya ini pada tradisi lisan percakapan itu. Kemudian dia menggunakan pengetahuannya sendiri yang luas untuk mengembangkan dialog itu menjadi karya yang panjang, yang kita miliki sekarang ini. Mungkin dia menggunakan dialog sebagai alat untuk menambah daya tarik pada risalatnya. Dan untuk menyenangkan hati raja Yunani itu, dia membuatnya sebagai salah satu tokoh utama.

Hipotesa ini mendapat dukungan dari terjemahan bahasa China yang hanya terdiri dari tiga bagian pertama yang hampir identik dengan teks Pali mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, tetapi cerita pendahuluannya berbeda. Dalam hal ini, kedua-duanya tidak tampak otentik.

Perbandingan dengan Teks China[7]
Sebagaimana telah ditunjukkan oleh V. Trenchner ketika dia menyalin teks Pali di tahun 1860-an, dapat kita pastikan bahwa Milinda Pañha yang asli ditulis di dalam bahasa Sanskerta karena permulaannya adalah kata-kata “Tam yatha nusuyata” (demikianlah yang telah diturunkan), dan bukannya rumusan Pali “Evam me sutam” (demikianlah yang telah saya dengar). Dan hal ini dipertegas oleh adanya terjemahan teks China yang menunjukkan beberapa perbedaan yang patut dicatat walaupun jelas sumbernya sama.
  1. Di dalam tiga bagian pertama, versi China sama dengan versi Pali, dan ini menunjukkan bahwa empat bagian lain (Dilema, Pertanyaan yang Diselesaikan dengan Kesimpulan, Praktek Petapa dan Perumpamaan) merupakan tambahan kemudian.
  2. Karya bahasa China, Nagasena-Bhikshusutra, mengambil nama sang bhikkhu; sementara karya bahasa Pali, Milinda Pañha, mengambil nama sang raja.
  3. Karya bahasa Pali mempunyai dua belas pertanyaan ekstra.
  4. Cerita-cerita kehidupan lampau Nagasena dan Milinda tidak sama.
  5. Versi China tidak menyebutkan Abhidhamma; sementara hal itu sering disebutkan dalam versi Pali.
  6. Pada klasifikasi Bodhipakkhiya Dhamma yang sangat terkenal, penterjemah China melenceng di dalam beberapa istilah, dan ini menunjukkan bahwa dia tidak terbiasa dengan teks Pali.
  7. Versi Pali mengatakan bahwa binatang mempunyai penalaran tetapi tidak mempunyai kebijaksanaan; versi China mengatakan bahwa binatang mempunyai kebijaksanaan tetapi hatinya berbeda.
Walaupun ada banyak perbedaan kecil di antara dua teks itu, ada hubungan yang erat antara perumpamaan-perumpamaan yang digunakan untuk menerangkan istilah yang didefinisikan serta urutan pertanyaannya. Hal itu membuat kita yakin bahwa keduanya adalah terjemahan karya yang lebih tua (mungkin di dalam bahasa Sanskerta). Tetapi kita harus hati-hati menyimpulkan; yang mana yang lebih otentik. Bhikkhu Thich Mihn Chau, yang berusaha membuktikan keantikan karya asli yang mendasari terjemahan China, menyatakan bahwa karya itu ditulis segera setelah Sang Buddha mangkat. Beliau menunjukkan tidak adanya klasifikasi teks ke dalam Vinaya, Sutta, Abhidhamma dan Nikaya, yang didefinisikan dengan baik baru pada Konsili ketiga, sementara Menander baru lahir lebih dari 100 tahun setelah konsili ini. Jadi, jelas bahwa ‘yang asli’ tidak dibuat lebih awal dari abad pertama SM. Kesenjangan panjang sebelum terjemahan-terjemahan itu muncul pada sekitar tahun 400 M, merupakan waktu yang cukup lama untuk melakukan berbagai penambahan dan amandemen, atau penghilangan dan pengosongan.

Melihat alasan-alasan yang telah disebutkan di atas dan fakta bahwa percakapan di dalam Miln. dikatakan terjadi kira-kira 500 tahun setelah Sang Buddha mangkat, sementara Menander hidup paling tidak 100 tahun lebih awal, maka kemungkinan besar Miln. dikarang beberapa waktu setelah kematian Menander. Mungkin saja karya itu berdasar pada tradisi lisan dari percakapan yang benar-benar terjadi antara Menander dengan satu atau beberapa bhikkhu. Penerus Menander, Ratu Agathocleia dan Strato I Soter, melanjutkan tahta kerajaan setidak-tidaknya 40 tahun setelah kematian Menander. Tetapi mereka menyaksikan dinasti baru di India Barat, yaitu dinasti Saka (Scythia) dan Yueh-Chih dari Asia Tengah. Lalu era Bactria Yunani pun berakhir.

Penyusunan Kitab Pali
Epilog mengatakan bahwa kitab itu dibagi menjadi enam bagian dan 22 bab yang berisi 262 pertanyaan, sementara 42 dari pertanyaan itu belum diturunkan, jadi sebenarnya semua berjumlah 304. Tetapi sungguh sulit melihat bagaimana ini dihitung. Ada ketidakcocokan hitungan di dalam berbagai teks yang ada, walaupun hal ini mungkin sudah dapat diduga karena karya itu sudah sangat tua.

Sekarang ini hanya ada 237 pertanyaan. Untuk menomori bab-bab saya mengikuti urutan teks Palinya. Hanya saja saya telah memasukkan 7 bab terakhir ke dalam Bab 17.

Di dalam edisi Milinda Pañha ini, walaupun saya telah mengikuti susunan teks Pali, banyak perumpamaan yang saya hilangkan. Dan perumpamaan yang panjang (walaupun indah) saya singkat, namun saya harap hal ini tidak merusak keindahan karya aslinya. Tujuannya adalah agar buku ini cukup padat dan menarik bagi pembaca dari negara-negara barat yang sibuk. Buku ini adalah suatu ringkasan, bukan terjemahan, dan karena itu di sana-sini saya menggabungkan beberapa alinea menjadi satu agar ringkas. Walaupun demikian saya tetap berusaha menyesuaikan dengan maksud pengarang aslinya, yang merupakan penjelasan tentang ajaran Sang Buddha dan uraian tentang beberapa konsep salah yang mungkin menyesatkan.

Referensi yang diberikan di catatan kaki adalah nomor halaman teks Pali dari Pali Text Society. Dalam terjemahannya nomor-nomor halaman ini diberikan dengan tanda kurung di bagian kiri atas, atau di dalam tubuh teks pada buku Vinaya dan Jataka.

Untuk membantu mereka yang ingin mengetahui kata Pali yang diterjemahkan (yang kadang-kadang berbeda dengan terjemahan Rhys Davids atau Miss Horner), saya sertakan kata-kata Pali di bagian Apendiks bersama dengan terjemahan bahasa Inggrisnya. Saya juga telah menyusun daftar kutipan kitab suci yang diberikan pengarang Miln. dan beberapa bacaan lain yang hanya terdapat di Miln., yang mungkin menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Bagi mereka yang belum terbiasa dengan terminologi Buddhis, saya telah menyertakan Apendiks istilah-istilah Pali dengan penjelasan singkat mengenai maknanya.

Catatan:
[1]. T.W. Rhys Davids, pendahuluan QKM.
[2]. A.K. Narain, The Indo-Greeks.
[3]. Cambridge History of India, Vol. I. Hal 446.
[4]. V.A. Smith. The Early History of India.
[5]. D. I. 50.
[6]. D. II. 87, 88
[7]. Untuk perbandingan lebih detail dan menyeluruh, lihat Milinda Pañha and Nagasenabhikshusutra (A Comparitive Study) Bhikkhu Thich Mihn Chau.
Share:

Milinda Panha - Apendiks

 on  with No comments 
In ,  
Apendiks
Kata Kata Pali dan Istilah Teknis
  • Empat Buah Sang Jalan
    1. Pemenang-Arus (sotappana, tingkat kesucian pertama). Ketika mewujudkan nibbana untuk pertama kalinya, pemenang-arus telah menghancurkan tiga belenggu pandangan salah: percaya adanya pribadi, percaya pada tata-cara dan ritual, dan keraguan. Dia tidak mungkin dapat melakukan kejahatan yang keji, dan seandainya melakukan suatu perbuatan jahat, dia tidak dapat menyembunyikannya. Dia terjamin pasti mencapai tingkat Arahat, paling banyak dalam tujuh kali kelahiran.
    2. Yang-Kembali-Sekali-Lagi (sakadagami, tingkat kesucian kedua). Yang-kembali-sekali-lagi ini telah menghilangkan sebagian besar kekuatan belenggu nafsu keinginan dan niat jahat; dia akan dilahirkan di bumi paling banyak hanya satu kali lagi sebelum mencapai tingkat Arahat.
    3. Yang-Tidak-Kembali-Lagi (anagami, tingkat kesucian ketiga). Yang-tidak-kembali-lagi ini telah sepenuhnya mematahkan belenggu-belenggu nafsu keinginan dan niat jahat; dia tidak akan dilahirkan kembali di bumi tetapi akan mencapai tingkat Arahat di alam-alam yang lebih tinggi, di alam dewa atau alam Brahma.
    4. Arahat. Arahat telah menyingkirkan lima sisa belenggu, telah menghancurkan semua kebodohan batin dan nafsu keinginan, serta mengakhiri semua bentuk kelahiran kembali. Dengan demikian dia mencapai tujuan akhir kehidupan suci. Empat Cara Hidup Tanpa Rasa Takut (vesarajja)
    5. Sang Buddha berkata, “Aku tidak melihat alasan apa pun yang dipakai orang untuk marah terhadapku di dalam hal:
      1. telah sepenuhnya tercerahkan,
      2. banjir-banjir yang telah sepenuhnya dihancurkan,
      3. pengetahuan tentang penghalang kemajuan,
      4. pengetahuan Dhamma yang menuju ke penghancuran banjir-banjir itu.
  • Lima Kelompok Pembentuk Makhluk (khandha)
    Ketika kita mengatakan ‘makhluk hidup’, ini hanyalah suatu cara bicara konvensional. Yang mendasari konvensi ini adalah pandangan salah mengenai kepercayaan akan adanya pribadi, kekekalan dan adanya substansi. Tetapi, apabila kita periksa dengan lebih seksama apakah sebenarnya makhluk hidup atau orang itu, maka yang akan kita temukan hanyalah suatu arus fenomena yang terus menerus berubah. Fenomena-fenomena ini dapat diatur di dalam lima kelompok: tubuh atau fenomena materi, perasaan, persepsi (pencerapan), bentukan-bentukan mental dan kesadaran murni. Ini hanya kategori, dan janganlah menganggap bahwa kelompok-kelompok ini merupakan sesuatu yang stabil.

  • Lima Penghalang (nivarana)
    Nafsu keinginan, keinginan jahat, kelambanan dan kemalasan, keresahan dan penyesalan yang mendalam, serta keraguan. Kekotoran-kekotoran batin ini disebut penghalang karena menghambat perkembangan konsentrasi.

  • Delapan Penyebab Gempa Bumi
    1. Bumi ini ditopang oleh air, air ditopang oleh udara, udara oleh ruang. Kadang-kadang angin besar bertiup kencang dan air tergoncang. Ketika air tergoncang, bumi tergoncang. (Catatan- Air adalah elemen kohesi/ kepaduan atau ketidak-stabilan, udara adalah elemen gerak. Elemen-elemen ini ada sekalipun pada batu karang yang meleleh).
    2. Seorang petapa atau dewa dengan kekuatan yang besar menyebabkan bumi bergoncang lewat kekuatan konsentrasinya.
    3. Ketika Sang Bodhisatta secara sengaja dan sadar meninggal dari surga Tusita, dan terkandung dalam rahim ibunya, bumi besar ini bergoncang.
    4. Ketika Sang Bodhisatta secara sengaja dan sadar keluar dari rahim ibunya, bumi besar ini bergoncang.
    5. Ketika Sang Tathagata mencapai pencerahan tertinggi yang sempurna, bumi besar ini bergoncang.
    6. Ketika Sang Tathagata memutar roda Dhamma, bumi besar ini bergoncang.
    7. Ketika Sang Tathagata secara sengaja dan sadar melepaskan proses mental yang menahan kehidupan, bumi besar ini bergoncang. (Dengan kekuatan kesaktiannya Beliau sebenarnya dapat memperpanjang kehidupannya, tetapi karena tidak diminta, Beliau melepaskan kemungkinan itu dan mengumumkan waktu wafatnya)
    8. Ketika seorang Buddha meninggal dunia dan mencapai Parinibbana, bumi besar ini bergoncang. Sepuluh Belenggu (samyojana)
  • Kamachanda (nafsu), byapada (kemauan jahat), mana (kesombongan), sakkaya-ditthi (percaya adanya pribadi), vicikiccha (keraguan), silabattam (kemelekatan pada ritual dan upacara), ruparaga (nafsu akan keberadaan), issa (iri hati), macchariya (ketamakan), avijja (kebodohan batin).

  • Sepuluh Kesempurnaan (Parami)
    Dana (kedermawanan), sila (moralitas), nekkhama (meninggalkan keduniawian), panna (kebijaksanaan), viriya (semangat), khanti (kesabaran), sacca (kejujuran), adhitthana (tekad), metta (cinta-kasih), upekkha (ketenang-seimbangan).

  • Delapan Belas Sifat Kebuddhaan (Buddhadhamma)
    1-3. Melihat segala hal: di masa lalu, kini dan yang akan datang.
    4-6. Pantas dalam tindakan, ucapan, dan pikiran.
    7-12. Mantapnya hal-hal berikut ini sehingga tidak dapat dicegah oleh yang lain: kehendak, doktrin, hal-hal yang dihasilkan oleh konsentrasi, semangat, pembebasan dan kebijaksanaan.
    13-14. Menghindari kesenangan atau apa pun yang dapat mengundang hinaan, serta perselisihan dan pertikaian.
    15. Mahatahu.
    16. Melakukan segala hal dengan kesadaran penuh.
    17. Melakukan semua hal dengan tujuan tertentu.
    18. Tidak melakukan apa pun dengan memihak secara tidak bijaksana.

  • Tiga Puluh Dua Bagian Tubuh (untuk perenungan)
    Rambut kepala, bulu tubuh, kuku, gigi, kulit; daging, otot, tulang, sumsum tulang, ginjal; jantung, hati, sekat rongga dada, limpa, paru-paru; usus besar, usus kecil, isi perut, makanan di dalam perut, tahi; empedu, lendir, nanah, darah, keringat; lemak padat, lemak cair, ludah, ingus, minyak sendi, air kencing, otak.

  • Abhidhamma- berarti Ajaran yang lebih tinggi. Abhidhamma menggunakan metode analitis. Sementara khotbah-khotbah menggunakan bahasa konvensional manusia atau makhluk, Abhidhamma menggunakan istilah-istilah seperti ‘lima khanda makhluk’.

  • Penyerapan (jhana) – yaitu tahap-tahap konsentrasi mental yang dapat dicapai dengan mengatasi lima rintangan. Hasil dari keadaan-keadaan ini adalah kelahiran kembali di alam Brahma.

  • Latihan Keras (dukkarakarikam) – Ini adalah latihan-latihan penyiksaan diri yang dijalankan oleh Sang Bodhisatta tetapi harus dibedakan dari latihan-latihan petapa (dhutanga), yang walaupun sulit namun bukannya rendah dan bukan pula tidak menguntungkan.

  • Arahat – Lihat Empat Buah dari Sang Jalan.

  • Yunani Bactria (Bactrian Greek) – (Yonaka) Ada beberapa acuan untuk kata yonaka selain yang ada di dalam Milinda Pañha. Sebuah prasasti di gua di Nasik, dekat Bombay, menyebutkan sembilan Yonaka yang merupakan donor, dan Mahavamsa menghubungkannya dengan bhikkhu-bhikkhu dari Yona, seorang Yonadhammarakkhita yang pasti merupakan seorang bhikkhu Yunani Baktria.

  • Bhikkhu – Biarawan Buddhis yang telah menerima penahbisan yang lebih tinggi.

  • Bodhisatta – Makhluk yang sepenuhnya mengabdi untuk mencapai pencerahan sempurna seorang Buddha. Untuk itu dia harus mengembangkan kesempurnaan-kesempurnaan (parami) selama berkalpa-kalpa.

  • Pohon Bodhi – Pohon di mana Sang Bodhisatta menjadi seorang Buddha. Pohon Bodhi Ananda merupakan anak pohon dari pohon aslinya, yang dibawa Ananda ke Savatthi untuk mengingatkan orang-orang pada Sang Buddha jika Beliau sedang pergi. Sebatang anak pohon lain dikirim ke Sri Lanka oleh Raja Asoka dan masih dipuja sampai kini.

  • Brahma – Seorang dewa atau makhluk agung yang berada di alam kehidupan yang terbebas dari hawa nafsu.

  • Brahmacari – Orang yang menjalani kehidupan selibat.

  • Brahmana – Seorang pendeta Hindu atau orang dari kasta itu.

  • Cara (perilaku yang baik) merupakan penyelesaian tugas-tugas. Pengimbangnya, sila, adalah penahanan diri dari perbuatan salah.

  • Jasa (puñña) – Perbuatan-perbuatan baik yang merupakan landasan untuk kebahagiaan dan kemakmuran di dalam lingkaran kelahiran kembali.

  • Peraturan-peraturan yang Minor dan Kurang Penting
    Pengarang Milinda Pañha mengatakan bahwa yang dimaksud dengan peraturan-peraturan minor adalah pelanggaran karena perbuatan salah (dukkata), sedangkan peraturan-peraturan yang kurang penting adalah pelanggaran karena ucapan salah (dubhasita), walaupun dia mengakui bahwa lima ratus bhikkhu thera yang mulia tersebut tidak satu suara mengenai hal ini.

  • Yang-Tidak-Kembali-Lagi - Lihat Empat Buah Sang Jalan.

  • Yang-Kembali-Sekali-Lagi – Lihat Empat Buah Sang Jalan.

  • Parinibbana – Kematian seorang Buddha, Paccekka Buddha, atau Arahat.

  • Patimokkha – 227 peraturan latihan yang diucapkan lagi oleh para bhikkhu pada upacara hari uposatha, setiap bulan baru dan bulan purnama.

  • Masa Vassa – Masa tiga bulan, dari Agustus sampai Oktober, di mana para bhikkhu tetap tinggal di satu tempat. Senioritas seorang bhikkhu diukur dari vassa atau jumlah tahun dia menjadi bhikkhu.

  • Penalaran (Yoniso Manasikara) – Sering diterjemahkan sebagai “perhatian sistematis”. Artinya perhatian akan sifat-sifat yang mengikis kekotoran batin dan bukannya sifat-sifat yang meningkatkan kekotoran batin. Samana – Seorang petapa, tidak harus Buddhis.

  • Buddha Soliter – Pacceka Buddha atau Buddha yang mencapai pencerahan tanpa bantuan seorang Buddha Mahatahu. Tidak seperti Buddha Mahatahu, Buddha Soliter belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan untuk mengajar orang lain.

  • Pemenang Arus – Lihat Empat Buah Sang Jalan.

  • Tipitaka – Kumpulan berunsur tiga, yaitu Sutta, Vinaya dan Abhidhamma; yang berupa khotbah, peraturan disiplin dan filsafat – Lihat Kitab Suci Pali.

  • Vedagu – digunakan di Milinda Pañha dengan pengertian suatu jiwa atau sesuatu yang mengalami, yang melihat, mendengar, membau, mencicipi, merasa atau mengetahui. Ini juga merupakan julukan bagi Sang Buddha yang artinya ‘Yang Telah Memperoleh Pengetahuan.’

  • Vinaya – Enam dari Kitab Suci yang menangani disiplin-disiplin para bhikkhu dan berbagai urusan pengaturan lainnya.

  • Visuddhimagga – Buku pegangan yang sangat berharga yang ditulis di dalam bahasa Pali pada abad ke-3 M oleh Yang Mulia Buddhaghosa, yang menjelaskan latihan berunsur tiga: moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan.

Share:

Milinda Panha - Prolog

 on  with No comments 
In ,  
Prolog

Di kota Sagala bertahta Raja Milinda, orang yang sangat pandai dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, dengan sifatnya yang sangat ingin tahu. Dia pandai berdebat tetapi selama itu tak seorang pun mampu menghapus keraguannya mengenai persoalan keagamaan. Raja telah menanyai guru-guru terkenal tetapi tak satu pun yang memuaskan hatinya.

Assagutta, salah satu dari sekian banyak Arahat yang hidup di pegunungan Himalaya, dengan kekuatan super-normalnya mengetahui keraguan raja. Maka dia lalu mengadakan pertemuan untuk bertanya apakah ada orang yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan raja. Karena tak ada yang sanggup, maka mereka semua naik ke Surga Tiga Puluh Tiga dan memohon pada Dewa Mahasena agar lahir sebagai manusia sehingga agama dapat terlindungi. Salah satu bhikkhu yang bernama Rohana setuju pergi ke Kajangala di mana Mahasena telah lahir kembali dan menungguinya sampai besar. Ayah si anak, Brahmana Sonuttara, menyuruh agar anaknya mempelajari tiga Kitab Veda, tetapi si anak, Nagasena, menyatakan:

“Ketiga kitab Veda ini kosong, dan bagaikan sekam!
Di dalamnya tak ada realita, kebenaran yang penting atau
berharga.”

Menyadari bahwa anak ini telah siap, Rohana lalu muncul. Kedua orang tua Nagasena menyetujui anaknya menjadi samanera. Maka Nagasena mempelajari Abhidhamma. Setelah menguasai dengan sempurna pengetahuan tentang tujuh buku Abhidhamma, Nagasena diizinkan masuk ke Sangha para bhikkhu dan Rohana mengirimnya ke Petapaan Vattaniya untuk belajar dari Assagutta. Sementara menghabiskan musim penghujan di sana, Nagasena diminta berkhotbah pada seorang wanita saleh yang merupakan pendukung Assagutta. Sebagai hasil dari percakapan ini, baik si wanita maupun Nagasena mencapai dhammacakkhu: pengetahuan bahwa apa pun yang mempunyai awal juga pasti bersifat mempunyai akhir. Assagutta kemudian mengirim Nagasena kepada Dhammarakkhita di Taman Asoka di Pataliputta.

Di sana, dalam waktu tiga bulan, Nagasena telah menguasai kitab-kitab Tipitaka lainnya. Dhammarakkhita mengingatkan muridnya agar tidak hanya puas dengan pengetahuan dari buku saja. Pada malam hari itu juga, Nagasena -si murid yang rajin itu- mencapai tingkat Arahat. Kemudian dia pergi bergabung dengan para Arahat lainnya yang masih tinggal di Himalaya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nagasena siap untuk berdebat dengan siapa pun.

Sementara itu, Raja Milinda terus melanjutkan pencaharian spritualnya dengan cara mengunjungi bhikkhu Ayupala di Petapaan Samkheyya dan bertanya mengapa para bhikkhu meninggalkan kehidupan duniawi. Bhikkhu itu menjawab, “Agar dapat hidup dengan benar dan berada dalam ketenangan spiritual.” Lalu raja pun bertanya, “Adakah, Yang Mulia, orang awam yang hidup sedemikian itu?” Sang bhikkhu mengakui bahwa banyak orang awam seperti itu. Maka raja pun berkata dengan pedas:
“Kalau begitu, Yang Mulia Ayupala, tidak ada gunanya meninggalkan kehidupan duniawi. Pastilah karena dosa-dosa yang telah dilakukan di dalam kehidupan sebelumnya maka para petapa meninggalkan kehidupan duniawi, dan bahkan menjalani juga praktek-praktek penyiksaan petapa seperti misalnya: hanya mengenakan pakaian dari kain buruk, makan hanya sekali sehari, atau tidak tidur berbaring. Di situ tidak ada nilai-nilai luhur, tidak ada pantangan yang bermanfaat, tidak ada kehidupan yang benar!”

Setelah raja berkata demikian, Bhikkhu Ayupala terdiam dan tidak berkata apa pun. Lalu lima ratus orang Yunani Bactria yang menemani raja berkata: “Sang bhikkhu itu terpelajar tetapi dia tidak berani, jadi dia tidak menjawab.” Mendengar ini, raja berseru: “Seluruh India ini kosong, bagai sekam! Tidak ada orang yang mampu berdebat denganku dan mampu mengusir keraguanku!”

Tetapi orang-orang Yunani Bactria masih tidak bergerak, maka raja pun bertanya lagi, “Hai para pengawalku yang setia, adakah orang terpelajar lain yang mampu berdiskusi denganku dan dapat mengusir keraguanku?”

Maka menteri Devamantiya berkata, “Ada, baginda yang agung, seorang bhikkhu bernama Nagasena yang terpelajar, bersifat tenang namun penuh dengan keberanian. Beliau mampu berdiskusi dengan baginda. Sekarang ini beliau tinggal di Petapaan Samkheyya. Baginda harus pergi ke sana dan mengajukan pertanyaan kepadanya.” Pada waktu nama ‘Nagasena’ disebut, raja menjadi gelisah dan bulu romanya berdiri. Kemudian raja mengirimkan utusan ke sana untuk memberitahukan kedatangannya. Diiringi lima ratus orang Yunani Bactria, raja menaiki kereta kencananya dan pergi menuju tempat tinggal Nagasena.
Share:

Milinda Panha Bab I Jiwa

 on  with No comments 
In ,  
Raja Milinda pergi menemui Bhikkhu Nagasena. Setelah saling mengucapkan salam persahabatan secara sopan, raja duduk dengan hormat di satu sisi. Milinda mulai bertanya:
  1. “Apa sebutan Yang Mulia dan siapakah nama Anda?”
    “Baginda, saya disebut Nagasena. Namun itu hanyalah rujukan dalam penggunaan umum, karena sebenarnya tidak ada individu permanen yang dapat ditemukan.”

    Mendengar itu, Milinda mengundang orang-orang Yunani Bactria serta para bhikkhu untuk menjadi saksi: “Nagasena ini berkata bahwa tidak ada individu permanen yang tersirat di dalam namanya. Mungkinkah hal seperti itu diterima?” Kemudian dia berbalik kepada Nagasena dan berkata, “Yang Mulia Nagasena, jika hal tersebut benar, lalu siapakah yang memberi Anda jubah, makanan dan tempat tinggal? Siapakah yang menjalani kehidupan dengan benar? Atau juga, siapakah yang membunuh makhluk hidup, mencuri, berzinah, berbohong dan mabuk-mabukan? Jika apa yang Anda katakan itu benar, maka tidak ada perbuatan yang bajik atau perbuatan yang tercela, tidak ada pelaku kebajikan atau pelaku kejahatan, dan tidak ada hasil karma. Yang Mulia, seandainya saja seseorang membunuh Anda, maka tidak akan ada pembunuh. Dan itu juga berarti tidak ada master atau guru di dalam Sangha Anda. Anda katakan bahwa Anda disebut Nagasena. Nah, apa itu Nagasena? Apakah rambutnya?”

    “Saya tidak mengatakan demikian, raja yang agung.” “Kalau begitu, apakah kukunya, giginya, kulitnya atau bagian tubuh lainnya?” “Tentu saja tidak.” “Atau apakah tubuhnya, atau perasaannya, atau pencerapannya, atau bentuk-bentuk pikirannya, atau kesadarannya?[1] Ataukah gabungan dari itu semua? Ataukah sesuatu di luar semua itu yang disebut Nagasena?” Masih saja Nagasena menjawab: “Bukan semuanya itu.” “Kalau begitu, dapat dikatakan bahwa aku tidak dapat menemukan Nagasena itu. Nagasena hanyalah omong kosong. Lalu siapakah yang kami lihat di depan mata ini? Yang Mulia telah berdusta.”

    “Baginda, tuan telah dibesarkan di dalam kemewahan sejak dilahirkan. Bagaimana tadi baginda datang kemari, berjalan kaki atau naik kereta?” “Naik kereta, Yang Mulia.”

    “Kalau begitu, tolong jelaskan apakah kereta itu? Apakah porosnya? Apakah rodanya, atau sasisnya, atau kendalinya, atau kuknya, yang disebut kereta? Ataukah gabungan dari itu semua, ataukah sesuatu di luar semua itu?” “Bukan semuanya itu, Yang Mulia.”

    “Kalau begitu, baginda, kereta ini hanyalah omong kosong. Baginda berdusta ketika berkata datang kemari naik kereta. Baginda adalah raja yang besar di India. Siapa yang baginda takuti sehingga baginda berdusta?” Kemudian Nagasena memanggil orang-orang Yunani Bactria dan para bhikkhu untuk menjadi saksi: “Raja Milinda ini telah berkata bahwa beliau datang kemari naik kereta, tetapi ketika ditanya, ‘Apakah kereta itu?’ beliau tidak dapat menunjukkannya. Dapatkah hal ini diterima?” Maka secara serempak ke-500 orang Yunani Bactria itu berteriak bersama-sama kepada raja, “Jawablah bila baginda bisa!”
    “Yang Mulia, aku telah berkata benar. Karena mempunyai semua bagian itulah maka ia disebut kereta.” “Bagus sekali. Baginda akhirnya dapat menangkap artinya dengan benar. Demikian pula, karena adanya tiga puluh dua jenis materi organik[2] di dalam tubuh manusia beserta lima unsur makhluklah maka saya disebut Nagasena. Seperti yang telah dikatakan oleh Bhikkhuni Vajira di hadapan Sang Buddha yang Agung, ‘Seperti halnya karena memiliki berbagai bagian itu maka kata ‘kereta’ digunakan, demikian juga bila ada unsur-unsur makhluk maka kata ‘makhluk’ digunakan.’”[3] “Sangat indah Nagasena, sungguh luar biasa teka-teki ini telah Anda pecahkan, meskipun sulit. Seandainya Sang Buddha berada di sini pun Beliau pasti akan menyetujui jawaban Anda.”

  2. “Berapa musim penghujan (masa vassa) yang telah Anda jalani, Nagasena?” “Tujuh, baginda.” “Tetapi bagaimana dapat Anda katakan tujuh; apakah Anda yang tujuh atau jumlahnya yang tujuh?” Lalu Nagasena menjawab, “Bayang-bayang baginda sekarang ada di tanah. Apakah baginda rajanya atau bayang-bayang itu rajanya?” “Akulah rajanya, Nagasena, tetapi bayang-bayang itu ada karena aku.” “Demikian juga, O baginda, jumlah tahunnya tujuh, saya tidaklah tujuh. Tetapi karena sayalah angka tujuh itu ada dan merupakan milik saya, sama seperti bayang-bayang itu merupakan milik baginda.” “Sungguh hebat, Nagasena, dan sangat luar biasa. Dengan baik teka-teki ini telah Anda pecahkan, meskipun sulit.”

  3. Kemudian raja berkata, “Yang Mulia, maukah Anda berdiskusi denganku lagi?” “Jika baginda ingin berdiskusi sebagai orang terpelajar, ya; tetapi jika baginda ingin berdiskusi sebagai raja, tidak.” “Bagaimana orang terpelajar berdiskusi?” “Bila orang terpelajar berdiskusi akan ada kesimpulan, dan ada penyelesaian kekusutan; yang salah ditunjukkan kesalahannya dan dia mengakui kesalahannya tanpa marah.”

    “Dan bagaimana raja berdiskusi?” “Bila raja mendiskusikan suatu masalah dan beliau mengemukakan suatu pandangan, jika ada yang berbeda pendapat dengan raja maka raja akan menghukum orang itu.”
    “Baik, kalau begitu sebagai orang terpelajarlah aku akan berdiskusi. Silakan Yang Mulia berbicara tanpa takut.”
    “Dengan senang hati, baginda.”
    “Nagasena, aku akan bertanya”, kata raja.
    “Bertanyalah, baginda.”
    “Aku telah bertanya, Yang Mulia.”
    “Kalau demikian saya telah menjawab.”
    “Apa yang telah Anda jawab?”
    “Apa yang telah baginda tanyakan?”

    Raja berpikir, “Bhikkhu ini benar-benar seorang terpelajar yang hebat, dia cukup mampu mendiskusikan apa pun juga denganku.” Maka sang raja menyuruh Devamantiya, menterinya, untuk mengundang Nagasena ke istana bersama dengan banyak bhikkhu lain. Raja lalu pergi dengan bergumam: “Nagasena, Nagasena.”

  4. Maka Devamantiya, Anantakaya dan Mankura pergi ke petapaan Nagasena untuk menjemput para bhikkhu ke istana. Di dalam perjalanan menuju ke istana, Anantakaya berkata kepada Nagasena, “Yang Mulia, bila saya mengatakan ‘Nagasena’, apakah sebenarnya Nagasena itu?” “Anda pikir apa Nagasena itu?” “Jiwa, nafas di dalam yang keluar dan masuk.” “Jika nafas itu, setelah keluar, tidak lagi kembali masuk, apakah orang itu masih akan hidup?” “Tentu saja tidak.” “Tetapi setelah para peniup trompet, misalnya, meniup trompetnya, apakah nafas mereka kembali pada mereka?” “Tidak Yang Mulia, tidak.” “Kalau begitu kenapa mereka tidak mati?” “Saya tidak mampu berbantahan dengan Anda. Tolong jelaskanlah bagaimana.” “Tidak ada jiwa di dalam nafas. Proses menarik dan menghembuskan nafas ini hanyalah tenaga unsur pokok dari kerangka tubuh.” Kemudian Nagasena Thera[4] berbicara tentang Abhidhamma dan Anantakaya merasa puas dengan penjelasan itu.

  5. Setelah para bhikkhu tiba di istana dan selesai makan, sang raja duduk di tempat rendah dan bertanya, “Apa yang akan kita diskusikan?” “Marilah kita mendiskusikan Dhamma.” Dan raja berkata, “Apa tujuan Yang Mulia meninggalkan kehidupan duniawi, dan apa tujuan akhir yang ingin dicapai?” “Kami meninggalkan kehidupan duniawi dengan tujuan melenyapkan penderitaan dan tidak ada penderitaan lain yang muncul. Lenyapnya nafsu secara total tanpa sisa adalah tujuan akhir kami.” “Yang Mulia, apakah setiap orang masuk Sangha untuk tujuan yang sangat mulia tersebut?” ‘Tidak. Ada yang masuk untuk menghindar dari kekejaman raja, ada yang untuk menghindar dari perampok, ada yang untuk menghindar dari hutangnya, dan ada yang untuk mencari nafkah. Tetapi mereka yang masuk dengan tujuan yang benar melakukannya agar nafsu dapat sepenuhnya padam.”

  6. Sang raja berkata, “Adakah orang yang tidak terlahir kembali setelah mati?” “Ya, ada. Orang yang tidak lagi mempunyai kekotoran batin tidak akan terlahir kembali setelah mati; yang masih mempunyai kekotoran batin akan terlahir kembali.” “Apakah Anda akan terlahir kembali?” “Jika saya mati dengan nafsu keinginan di dalam pikiran, ya; tetapi jika tidak, tidak.”

  7. “Apakah seseorang yang terbebas dari kelahiran kembali itu bisa terbebas karena kekuatan penalarannya?” “Dia bisa terbebas karena penalaran dan juga karena kebijaksanaan, keyakinan, moralitas, kewaspadaan, semangat, dan konsentrasi.” “Apakah penalaran sama dengan kebijaksanaan?” “Tidak. Binatang memiliki penalaran tetapi tidak memiliki kebijaksanaan.”

  8. “Bhikkhu Nagasena, apa ciri khas penalaran; dan apa ciri khas kebijaksanaan?” “Memegang adalah ciri penalaran, memotong adalah ciri kebijaksanaan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Bagaimana petani gandum memanen gandumnya?” “Mereka memegang batang-batang gandum dengan tangan kirinya, dan dengan sabit di tangan kanannya mereka memotong gandum tersebut.” “Demikian juga halnya, O baginda, para petapa memegang pikirannya dengan penalaran dan memotong kekotoran batin dengan kebijaksanaan.”

  9. “Bhikkhu Nagasena, apakah ciri khas moralitas?” “Menopang, O baginda, karena moralitas merupakan landasan bagi semua sifat yang baik, yakni:
    • Lima kemampuan batin yang mengendalikan dan lima kekuatan moral (Catatan- yakni: keyakinan, semangat, kewaspadaan, konsentrasi, dan kebijaksanaan),
    • Tujuh faktor pencerahan (Catatan- yakni: kewaspadaan, penyelidikan, semangat, sukacita, ketenangan, konsentrasi, dan ketenang-seimbangan),
    • Delapan faktor Jalan Mulia (Catatan- yakni: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, kewaspadaan benar, dan konsentrasi yang benar),
    • Empat landasan kewaspadaan (Catatan- yakni: kewaspadaan pada tubuh, pada perasaan, pada buah-pikir, pada objek pikiran),
    • Empat usaha benar (Catatan- yakni: usaha untuk mencegah dan menghilangkan keadaan yang tidak bajik serta usaha untuk mengembangkan dan mempertahankan keadaan yang bajik),
    • Empat landasan keberhasilan (Catatan- yakni: hasrat, energi, keuletan dan kebijaksanaan),
    • Empat penyerapan (Catatan- yakni: empat tahap pemusatan pikiran atau jhana ),
    • Delapan kebebasan (Catatan- yakni: delapan tingkat pelepasan pikiran oleh konsentrasi yang sangat kuat),
    • Empat metode konsentrasi (Catatan- yakni: meditasi untuk cinta kasih, kasih sayang, sukacita bersimpati, dan ketenang-seimbangan), serta
    • Delapan pencapaian yang agung (Catatan- yakni: empat jhana tanpa-bentuk dan empat jhana berbentuk).

    Semua sifat yang baik itu ditopang oleh moralitas. Di dalam diri orang yang mengembangkan batinnya dengan menggunakan moralitas sebagai fondasi, kondisi-kondisi yang baik ini tidak akan berkurang.”
    “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya semua bentuk kehidupan hewan dan tumbuhan bergantung pada tanah sebagai penopang, demikian juga seorang petapa -dengan moralitas sebagai penopangnya- mengembangkan lima kemampuan batin yang mengendalikan dan lain sebagainya itu.[5] Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha:

    “Bila orang bijaksana, yang telah kokoh moralitasnya, Mengembangkan konsentrasi dan permahaman, Kemudian sebagai bhikkhu, dia gigih dan bijaksana, Dia berhasil menguraikan kekusutan ini.”[6]

  10. “Apakah ciri khas dari keyakinan?”
    “Kejernihan dan inspirasi. Ketika keyakinan muncul di dalam pikiran, keyakinan itu menembus cadar lima penghalang. Maka pikiran menjadi terang, tenang dan tidak terganggu. Dengan demikian keyakinan menjadi jernih. Dan inspirasi adalah tanda ketika meditator -karena memahami bagaimana pikiran orang lain telah terbebas- kemudian terinspirasi untuk mencapai apa yang masih belum dapat dicapainya, untuk mengalami apa yang masih belum pernah dirasakannya, dan untuk merealisasikan apa yang masih belum dimengertinya. Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha: ‘Dengan keyakinan dia menyeberangi banjir, Dengan kewaspadaan melewati samudera kehidupan, Dengan ketetapan hati semua penderitaan dia tenangkan, Dengan kebijaksanaan dia dimurnikan’.”[7]

  11. “Dan apa, Yang Mulia, ciri khas dari semangat?”
    “Penguatan, O baginda, sehingga semua sifat baik yang ditopang oleh semangat tidak menjadi pudar.”
    “Berikanlah ilustrasi.”

    “Sama seperti bila bala tentaranya telah dipukul mundur oleh pasukan musuh yang lebih besar, seorang raja akan mengingat-ingat siapa sekutu yang bisa diharapkan untuk menguatkan pasukannya agar dapat mengalahkan musuh yang kuat itu. Begitulah penguatan merupakan ciri dari semangat. Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha:

    ‘Siswa mulia yang penuh semangat, O bhikkhu, Menyingkirkan yang tidak bajik dan mengembangkan yang bajik, Menghindari yang tercela dan mengembangkan yang tak tercela, Dengan begitu dia menjaga kemurnian pikirannya’.”[8]

  12. “Nagasena, apakah ciri khas dari kewaspadaan?”
    “Mencatat dan menyimpan di dalam ingatan. Ketika kewaspadaan timbul di dalam pikiran petapa, secara berulang-ulang dia mencatat apa yang bajik dan apa yang tidak bajik, apa yang tak-tercela dan apa yang tercela, apa yang tidak penting dan apa yang penting, sifat-sifat yang gelap dan terang, dan sebagainya. Dia akan berpikir, ‘Inilah empat landasan kewaspadaan, inilah empat usaha yang benar, inilah empat landasan keberhasilan, inilah lima kemampuan batin yang mengendalikan, inilah lima kekuatan moral, inilah tujuh faktor pencerahan, inilah delapan faktor Jalan Mulia, inilah ketenangan, inilah kebijaksanaan, inilah pandangan terang, dan inilah kebebasan.’
    Demikianlah dia mengembangkan semua sifat yang bajik dan menghindari sifat-sifat yang harus dihindari.”

    “Berikanlah ilustrasi.” “Sama seperti bendahara raja yang mengingatkan tuannya tentang besarnya pasukan raja dan jumlah kekayaan yang ada.” “Bagaimana ‘menyimpan di dalam ingatan’ dapat menjadi tanda kewaspadaan?” “Ketika kewaspadaan muncul di dalam pikiran, orang akan mencari kategori tentang sifat-sifat yang baik dan yang tidak baik. Dia akan berpikir, ‘Sifat-sifat yang ini menguntungkan dan yang itu merugikan.’ Dengan demikian dia melenyapkan apa yang jelek di dalam dirinya serta mempertahankan apa yang baik.” “Berikanlah ilustrasi.” “Sama seperti perdana menteri raja yang memberikan nasihat tentang tindakan yang benar. Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha: ‘Kunyatakan, O para bhikkhu, kewaspadaan sangatlah membantu di mana pun juga’.”[9]

  13. “Dan apa, Nagasena, ciri khas dari konsentrasi?”
    “Menjadi pemimpin, O baginda. Semua sifat yang bajik mempunyai konsentrasi sebagai pemimpinnya; sifat-sifat bajik mengarah padanya, dan menuju ke situ.” “Berikanlah ilustrasi.”
    “Seperti halnya kalau rumah miring dan menuju ke suatu titik -yaitu titik tertinggi di atap- demikian juga semua sifat yang baik mengarah dan memusat pada konsentrasi. Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha:
    ‘Bhikkhu, kembangkanlah konsentrasi; seorang bhikkhu yang terkonsentrasi melihat segala sesuatu sebagaimana adanya’.”[10]

  14. Apa, Nagasena, ciri khas dari kebijaksanaan?”
    “Menerangi,[11] O baginda. Ketika kebijaksanaan muncul di dalam pikiran, kebijaksanaan itu mengusir kegelapan yang dimiliki kebodohan batin, membuat munculnya pancaran pandangan terang, membuat bersinarnya pengetahuan, dan membuat jelasnya Kesunyataan Mulia. Demikianlah meditator dengan kebijaksanaan yang paling terang mencerap ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan tidak-adanya-diri di dalam segala bentuk.” “Berikanlah ilustrasi.”

  15. “Sama seperti lampu, O baginda, yang berada di ruangan gelap akan menerangi ruangan itu dan membuat objek yang ada menjadi jelas terlihat.”

  16. Sifat-sifat yang sangat berbeda ini, Nagasena, apakah membuahkan hasil yang sama?”
    “Ya, yaitu hancurnya kekotoran di dalam pikiran. Sama seperti berbagai kekuatan pasukan misalnya gajah, kavaleri kereta perang, dan pemanah membuahkan satu hasil, yaitu takluknya tentara musuh.” “Penjelasan yang baik, Nagasena. Anda pandai menjawab.”

Catatan:
[1]. Lihat catatan pada lima kelompok di Apendiks.
[2]. Lihat Apendiks.
[3]. S. i. 135.
[4]. Thera (sesepuh) biasanya digunakan untuk orang yang menjadi bhikkhu lebih dari 10 musim hujan (vassa), tetapi Nagasena baru 7 vassa. Lihat Pertanyaan no. 2 hal. 7.
[5]. Bandingkan dengan S. syair 45.
[6]. S. i. 13. 165; Vism (syair pembuka).
[7]. S. i. 214; Sn. syair 184.
[8]. A iv. 110
[9]. Tidak terlacak.
[10]. S. iii. 13, syair 414; bandingkan dengan Asl. 162.
[11]. Termasuk juga ‘memotong’ yang telah disebutkan di atas.
Share:

Sabtu, 09 Februari 2013

Milinda Panha Bab II Kelahiran Kembali

 on  with No comments 
In ,  
  1. “Orang yang terlahir kembali, Nagasena, apakah dia orang yang sama atau berbeda?”
    “Bukan sama namun juga bukan berbeda.”
    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Sama halnya seperti susu yang pertama-tama berubah menjadi dadih lalu menjadi mentega dan kemudian menjadi ghee. Tidak benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih tersebut sama dengan susu, tetapi semuanya itu berasal dari susu. Begitu juga tidaklah benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih itu sesuatu yang bukan susu.”

  2. “Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali itu menyadari tentang kenyataan ini?”
    “Ya, baginda.”
    “Bagaimana dia tahu?”
    “Dengan lenyapnya semua yang menjadi penyebab atau kondisi dari kelahiran kembali. Seperti halnya seorang petani yang tidak membajak atau menabur atau memanen akan mengetahui bahwa lumbungnya tidak akan terisi.”

  3. “Nagasena, di dalam diri seseorang di mana pengetahuan (ñana) telah timbul, apakah kebijaksanaan (pañña) juga timbul?”
    “Ya, baginda.”
    “Apakah pengetahuan sama dengan kebijaksanaan?”
    “Ya, baginda.”
    “Kalau begitu, apakah dengan pengetahuan dan kebijaksanaan itu ada kemungkinan dia tidak mengetahui tentang suatu hal?”

    “Dia akan tetap berada di dalam ketidaktahuan tentang hal-hal yang belum dipelajarinya. Akan tetapi mengenai hal yang telah dicapai oleh kebijaksanaan -yaitu pemahaman tentang ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan tidak-adanya-diri- dia tidak akan tidak tahu.”

    “Kalau begitu, apa yang terjadi pada pandangan kelirunya tentang hal-hal itu tadi?” “Pada saat pengetahuan muncul, pada saat itu pula pandangan salahnya lenyap. Seperti ketika sinar datang, maka kegelapan pun hilang.”
    “Tetapi apa yang terjadi pada kebijaksanaannya?”
    “Setelah melakukan tugasnya, kebijaksanaan itu kemudian lenyap; tetapi pengertian orang itu tentang ketidakkekalan, ketidakpuasan dan tidak-adanya-diri tidak ikut lenyap.”

    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Seperti halnya orang yang ingin menulis surat pada malam hari akan menyalakan lampu dan kemudian menulis surat tersebut. Setelah selesai dia akan memadamkan lampu. Tetapi meskipun lampu telah dipadamkan, suratnya tetap ada.”

  4. “Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali merasakan kesakitan?”
    “Mungkin dia merasakan kesakitan fisik, O baginda, tetapi bukan kesakitan mental.”
    “Jika dia merasakan kesakitan fisik, mengapa dia tidak mati saja dan mencapai keadaan lenyapnya kemelekatan, dan menghentikan penderitaan?”
    “Arahat tidak memiliki kesukaan atau kebencian terhadap kehidupan. Dia tidak menggoncangkan pohon agar buahnya yang masih belum matang jatuh, melainkan menanti sehingga buahnya masak. Demikian ini dikatakan oleh Bhante Sariputta, siswa utama Sang Buddha:
    ‘Bukan kematian, atau kelahiran yang kunantikan;
    Bagaikan pekerja menantikan upah, aku menantikan waktuku.
    Bukan kematian atau kelahiran yang kurindukan,
    Dengan waspada dan jelas mengerti,
    Begitulah aku menantikan waktuku’.”[1]

  5. “Apakah perasaan yang menyenangkan itu bermanfaat, tidak bermanfaat, atau netral?” “Mungkin salah satu di antara tiga itu.”
    “Tetapi, Yang Mulia, tentunya jika kondisi yang bermanfaat itu tidak menyakitkan, sedangkan yang menyakitkan itu tidak bermanfaat, maka tidak akan mungkin ada keadaan yang bermanfaat yang sekaligus menyakitkan.”[2]

    “Bagaimana pendapat baginda seandainya saja ada orang yang memegang bola besi panas di satu tangannya, dan di tangan lain menggenggam bongkah es, apakah kedua-duanya akan menyakitkan orang itu?” “Tentu saja.” “Kalau begitu hipotesa baginda pasti keliru. Jika keduanya tidak sama-sama panas, tetapi rasa panas itu menyakitkan, atau jika keduanya tidak sama-sama dingin, tetapi rasa dingin itu menyakitkan, maka rasa sakit itu tidak datang dari rasa panas atau dingin.” “Aku tidak mampu berbantahan dengan Anda. Tolong jelaskan.”

    Kemudian Nagasena mengajarkan Abhidhamma:- “Ada enam rasa senang yang berhubungan dengan kehidupan duniawi dan enam yang berhubungan dengan kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; enam kesengsaraan di dalam kehidupan duniawi dan enam di dalam kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; dan enam perasaan netral pada kedua-duanya. Semuanya ada tiga puluh enam. Kemudian ada tiga puluh enam perasaan pada masa lalu, pada masa kini, dan semuanya ada seratus delapan perasaan.”

  6. “Apa yang terlahir kembali itu, Nagasena?’
    “Batin dan jasmani.”
    “Apakah batin dan jasmani yang ini juga yang terlahir kembali?”
    “Bukan, tetapi oleh batin dan jasmani inilah maka perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itulah maka batin dan jasmani yang lain terlahir kembali. Walaupun demikian, batin dan jasmani itu tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya.”
    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang. Setelah merasa hangat, mungkin orang itu pergi meninggalkan dalam keadaan menyala. Andaikan saja api tersebut kemudian menjalar dan membakar ladang orang lain, lalu pemilik ladang itu menyeretnya ke hadapan raja serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut. Bila dia berkata, ‘Baginda yang mulia, saya tidak membakar ladang orang ini. Api yang saya tinggalkan itu berbeda dengan api yang membakar ladang orang ini. Saya tidak bersalah’, apakah dia patut dihukum?”

    “Tentu saja, karena tak peduli apa pun yang dia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya.”

    “Demikian juga, O baginda, oleh batin dan jasmani ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka batin dan jasmani baru akan terlahir kembali; tetapi batin dan jasmani tersebut tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya.”

  7. “Apakah Anda, Nagasena, akan terlahir kembali?”
    “Apa gunanya menanyakan hal itu lagi? Bukankah telah saya katakan bahwa jika saya mati dengan nafsu keinginan di pikiran saya, maka saya akan terlahir kembali? Jika tidak, ya tidak.”

  8. “Anda tadi baru saja menjelaskan tentang batin dan jasmani. Apakah batin itu, dan apakah jasmani itu?”
    “Apa pun yang kasar adalah jasmani (materi). Apa pun yang halus dan pikiran atau keadaan mental, adalah batin (mentalitas).”
    “Mengapa jasmani dan batin ini tidak dilahirkan secara terpisah?”
    “Kondisi-kondisi ini saling berhubungan seperti halnya kuning telur dan kulitnya. Keduanya selalu timbul bersama dan hubungan ini sudah ada sejak waktu yang lama sekali.” [3]

  9. “Nagasena, ketika Anda mengatakan, ‘Waktu yang lama sekali’, apakah artinya? Apakah ‘waktu’ itu ada?”
    “Waktu berarti masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Bagi beberapa orang, waktu itu ada; bagi orang lain tidak. Di mana ada makhluk yang akan dilahirkan kembali, bagi mereka waktu itu ada; di mana ada makhluk yang tidak akan terlahir kembali, bagi mereka waktu itu tidak ada.”
    “Bagus sekali, Nagasena, Anda pandai menjawab.”
Catatan:
[1]. Thag .1002, 1003.
[2]. Perbuatan-perbuatan bajik tidak menyakitkan hasilnya, tetapi mungkin kita sulit melakukannya karena kemelekatan dan kebencian kita. Padahal kekotoran batinlah yang menyebabkan kita menderita bukan perbuatan bajik. Perbuatan-perbuatan jahat menyakitkan hasilnya, tetapi mungkin kita senang melakukannya karena kebodohan kita. Kemudian bila hasilnya datang, kita harus menderita.
[3]. Rhys Davids, dengan menggunakan Teks Sinhala, membaca kalimat ini sebagai evametam dighamaddhanam sambhavitam tetapi di Teks Burma tertulis: sandhavitam.
Share:

Milinda Panha Bab III Permulaan Waktu

 on  with No comments 
In ,  
  1. “Nagasena, apakah akar dari masa lalu, masa kini, dan masa mendatang itu?” “Kebodohan batin. Kebodohan batin mengkondisikan bentuk-bentuk pikiran; bentuk-bentuk pikiran mengkondisikan kesadaran yang menghubungkan kembali; kesadaran mengkondisikan batin dan jasmani; batin dan jasmani mengkondisikan enam landasan indera; enam landasan indera mengkondisikan kontak; kontak mengkondisikan perasaan; perasaan mengkondisikan nafsu keinginan; nafsu keinginan mengkondisikan kemelekatan; kemelekatan mengkondisikan dumadi; dumadi mengkondisikan kelahiran; kelahiran mengkondisikan usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kepedihan, kesengsaraan, dan keputusasaan.”

  2. “Anda katakan bahwa asal mula yang pertama dari segala sesuatu adalah tidak jelas. Berikanlah ilustrasi.” “Sang Buddha berkata, ‘Karena adanya landasan indera dan objek indera maka timbullah kontak; karena adanya kontak, timbullah perasaan; karena adanya perasaan, timbullah nafsu keinginan; dan karena adanya nafsu keinginan, timbullah tindakan (karma). Lalu dari tindakan ini sekali lagi landasan indera dihasilkan.’ Nah, bisakah ada akhir dari rangkaian ini?” “Tidak.” “Demikian pula, O baginda, asal mula yang pertama dari segala sesuatu itu tidak dapat dipahami.”[1]

  3. Apakah asal mula yang pertama dari segala sesuatu itu tidak diketahui?” “Sebagian dapat diketahui, sebagian lagi tidak.” “Kalau begitu, manakah yang dapat diketahui dan manakah yang tidak?” “Kondisi apa pun yang mendahului kelahiran ini, bagi kita tampaknya tidak pernah ada. Berkenaan dengan hal itu, asal mula pertamanya tidaklah diketahui. Namun kondisi yang tadinya belum ada kemudian ada, dan segera sesudah kondisi itu muncul, ia lenyap lagi. Berkenaan dengan hal itu, asal mula pertamanya dapat diketahui.”

  4. “Apakah ada bentukan-bentukan yang dihasilkan?” “Tentu saja, O baginda. Di mana ada mata serta bentuk maka ada penglihatan; di mana ada penglihatan maka ada kontak; di mana ada kontak maka ada perasaan; di mana ada perasaan maka ada nafsu keinginan; di mana ada nafsu keinginan maka ada kemelekatan; di mana ada kemelekatan maka ada dumadi; dan di mana ada dumadi maka ada kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kepedihan, kesengsaraan dan keputusasaan. Tetapi bilamana tidak ada mata dan bentuk maka tidak ada penglihatan, tidak ada kontak, tidak ada perasaan, tidak ada nafsu keinginan, tidak ada kemelekatan, tidak ada dumadi; dan bilamana tidak ada dumadi maka tidak akan ada kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kepedihan, kesengsaraan dan keputusasaan.”

  5. “Apakah ada bentukan-bentukan yang tidak dihasilkan?” “Tidak ada, O baginda, karena hanya dengan proses dumadilah mereka dihasilkan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Apakah rumah yang baginda tempati ini dihasilkan dari proses dumadi?” “Semuanya, tidak ada yang tidak. Kayu ini dahulu berada di hutan, dan tanah liat ini dahulu ada di tanah. Hanya melalui usaha para pekerjalah rumah ini terwujud.” “Demikian juga, O baginda, tidak ada bentukan-bentukan yang tidak dihasilkan.”

  6. “Adakah, Nagasena, sesuatu yang disebut ‘Sang Yang Mengetahui’ (vedagu) ?”[2] “Apakah itu?” “Suatu inti yang hidup di dalam diri, yang dapat melihat, mendengar, mencicip, membau, merasakan dan memahami segala sesuatu; sama seperti halnya kita yang saat ini duduk di sini dapat melihat keluar lewat jendela mana pun yang kita inginkan.” “Jika, O baginda, inti yang hidup di dalam diri itu dapat melihat, mendengar, mencicip, membau dan merasakan benda-benda seperti yang baginda katakan, dapat jugakah ia melihat benda-benda melalui telinga dan sebagainya?” “Tidak, Yang Mulia.” “Kalau demikian, baginda, inti yang hidup itu tidak dapat menggunakan indera semaunya sendiri seperti kata baginda. O baginda, hanya karena adanya mata dan bentuklah maka penglihatan dan kondisi-kondisi lainnya muncul, yaitu: kontak, perasaan, pencerapan, niat, pemusatan pikiran, semangat dan perhatian. Secara sekaligus semuanya timbul bersama dengan penyebabnya, dan karena itu ‘Sang Yang Mengetahui’ tidak dapat ditemukan.”

  7. “Apakah kesadaran-pikiran muncul setiap kali kesadaran mata muncul?” “Ya, baginda, bila ada yang satu maka ada juga yang lainnya.” “Yang mana muncul terlebih dahulu?” “Pertama kesadaran-mata, baru kemudian kesadaran-pikiran.” “Apakah kesadaran-mata mengeluarkan perintah kepada kesadaran-pikiran, atau sebaliknya?” “Tidak, tidak ada komunikasi di antara keduanya itu.” “Kalau begitu, Nagasena, mengapa kesadaran-pikiran muncul di mana pun ada kesadaran mata?” “Karena, O baginda, ada kecenderungan, pintu, kebiasaan dan asosiasi.” “Berikanlah ilustrasi.” “Jika kota perbatasan raja memiliki tembok yang kuat tetapi hanya ada satu pintu gerbang dan seseorang akan meninggalkan kota, lewat manakah dia?” “Melalui pintu gerbang itu.” “Dan jika ada orang lain yang akan pergi, lewat manakah dia?” “Melalui gerbang yang sama.” “Apakah orang pertama tadi memerintah orang kedua dengan mengatakan, ‘Keluarlah dengan cara yang sama denganku’, atau apakah orang kedua mengatakan kepada orang pertama, ‘Saya akan keluar dengan cara seperti anda’?” “Tidak Yang Mulia, tidak ada komunikasi di antara mereka berdua.” “Dengan cara seperti itulah kesadaran-pikiran muncul di mana ada kesadaran-mata, namun tidak ada komunikasi di antara mereka.”

  8. Di mana ada kesadaran-pikiran, Nagasena, apakah selalu ada kontak dan perasaan?” “Ya, di mana ada kesadaran-pikiran, ada kontak dan perasaan. Juga pencerapan, niat, pikiran pemicu dan pikiran yang bertahan.”

  9. “Apakah ciri khas dari kontak?” “Sentuhan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Bagaikan dua rusa yang berbenturan kepala; mata adalah bagaikan rusa yang satu, sedangkan objek yang terlihat bagaikan rusa lainnya. Benturan yang terjadi itu adalah kontak.”

  10. “Apakah ciri khas dari perasaan?” “Yang dialami, O baginda, dan dinikmati.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya seseorang yang telah melayani rajanya dan diberi kedudukan, dia kemudian akan menikmati keuntungan karena jabatannya.”


  11. “Apakah ciri khas dari persepsi (pencerapan)?” “Mengenali[3] kebiruan, kekuningan, atau kemerahan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya bendahara raja mengenali barang-barang milik rajanya dengan cara melihat bentuk dan warnanya.”

  12. “Apakah ciri khas dari niat?” “Dikandung, O baginda, dan dipersiapkan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya seseorang yang menyiapkan racun dan setelah meminumnya dia akan menderita kesakitan, demikian pula seseorang yang memikirkan suatu kejahatan dan kemudian melaksanakannya, dia akan menderita di neraka.”

  13. “Apakah ciri khas dari kesadaran?” “Mengetahui, O baginda.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya penjaga di alun-alun kota akan mengetahui orang yang datang dan dari mana arah datangnya; begitu pula ketika seseorang melihat suatu objek, mendengar suatu suara, mencium suatu aroma, mencicipi suatu cita rasa, merasakan suatu sentuhan atau mengetahui sebuah gagasan; dengan kesadaranlah dia mengetahui hal itu.”

  14. “Apakah ciri khas dari buah-pikir pemicu?” “Memasang, O baginda.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya tukang kayu memasang kayu yang sudah ditakik dengan cermat ke dalam takik lainnya agar pas demikianlah pemasangan merupakan ciri buah-pikir pemicu”

  15. “Apakah ciri khas dari buah-pikir yang bertahan?” “Memeriksa berulang-ulang.” “Berikanlah ilustrasi.” “Buah-pikir pemicu bagaikan pukulan pada gong; sedangkan buah-pikir yang bertahan bagaikan gaungnya.”

  16. “Apakah kondisi-kondisi ini dapat dipisahkan dan dikatakan; ‘Ini adalah kontak, ini perasaan, ini persepsi, ini niat, ini kesadaran, ini buah-pikir pemicu, dan ini buah-pikir yang bertahan’?” “Tidak, baginda, hal itu tidak dapat dilakukan. Jika seseorang menyiapkan sup yang berisikan dadih, garam, jahe, biji lada, dia tidak dapat mengeluarkan cita rasa dadih itu dan menunjukkan ‘Inilah cita rasa dadih’ atau mengeluarkan cita rasa garam dan mengatakan ‘Inilah cita rasa garam’. Walaupun demikian, semua cita rasa itu ada di dalam sup dengan ciri-cirinya sendiri.”

  17. Lalu Bhikkhu Nagasena bertanya, “Apakah garam, O baginda, dapat dikenali oleh mata?” “Ya, Yang Mulia.” “Berhati-hatilah dengan apa yang baginda katakan.” “Kalau begitu, garam dikenali oleh lidah.” “Ya, itu betul.” “Tetapi, Nagasena, apakah hanya dengan lidah saja setiap jenis garam dapat dikenali?” “Ya, setiap jenis.” “Kalau demikian, mengapa sapi membawa segerobak penuh garam?” “Garam itu sendiri tidaklah mungkin dibawa. Sebagai contoh, garam juga mempunyai massa, tetapi orang tidak mungkin dapat menimbang garam. Yang dapat ditimbang hanyalah massanya.” “Nagasena, Anda sungguh lincah di dalam perdebatan.”
Catatan:
[1]. Mencari asal mula kehidupan di dalam Super Nova atau di dalam D.N.A. adalah pencarian yang sia-sia, karena penyebab akarnya terdapat di dalam pikiran. Sang Buddha berkata:–
“Selama kelahiran yang tak terhitung banyaknya
Aku telah mengembara di dalam samsara,
Aku mencari, tetapi tidak menemukan pembangun rumah ini.
Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang!
Pembangun rumah, kini engkau telah terlihat!
Engkau tak akan membangun rumah lagi.
Semua kasau [kekotoran batin] telah patah.
Tiang bubungan [kebodohan] telah hancur berserakan.
Pikiranku telah pergi ke nibbana.
Telah tercapai akhir dari nafsu keinginan.” Dhp. syair 153-154.

[2]. Di tempat lain vedagu digunakan sebagai sebutan untuk Sang Buddha yang berarti ‘Seseorang yang telah mencapai Pengetahuan’.

[3]. Sañña, viññana, dan pañña berturut-turut dapat dibandingkan sebagai seorang anak, seorang dewasa, dan seorang pedagang uang yang melihat koin emas. Si anak kecil mengetahui bahwa koin itu bulat dan bersinar. Hanya itu saja. Si orang dewasa mengetahui bahwa koin itu juga memiliki nilai yang berharga. Si pedagang uang mengetahui segala sesuatu tentang koin itu. Lihat Vism. 437.
Share:

Milinda Panha Bab IV Landasan Indera

 on  with No comments 
In ,  
  1. “Apakah lima landasan indera dihasilkan dari berbagai karma, atau semuanya berasal hanya dari satu karma?” “Dari berbagai karma, O baginda.” “Berilah ilustrasi.” “Jika kita menanam lima jenis biji-bijian di ladang, maka hasilnya juga akan lima macam.”

  2. “Nagasena, mengapa orang tidak semuanya serupa; ada yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang, ada yang sakit-sakitan dan ada yang sehat, ada yang buruk rupa dan ada yang rupawan, ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang lahir di keluarga rendah dan ada yang di keluarga terpandang, ada yang tolol dan ada yang bijaksana?” “Mengapa tidak semua sayuran serupa?” “Karena berasal dari bibit yang berbeda.” “Demikian juga, O baginda, karena berbagai karmalah maka makhluk tidak semuanya sama. Demikian ini telah dikatakan oleh Sang Buddha, ‘Semua makhluk memiliki karma sebagai harta kekayaannya sendiri. Semua makhluk adalah pewaris dari karmanya sendiri, dilahirkan karena karmanya sendiri, merupakan saudara dari karmanya sendiri, dan memiliki karma sebagai pelindungnya; karma apa pun yang mereka perbuat itulah yang membedakan mereka berada pada tingkatan yang tinggi atau rendah.”[1]

  3. “Anda katakan bahwa Anda meninggalkan kehidupan duniawi agar supaya penderitaan dapat dilenyapkan dan tidak ada lagi penderitaan yang muncul. Apakah hal ini dihasilkan oleh usaha sebelumnya, ataukah untuk diperjuangkan sekarang ini, pada saat ini?” “Usaha sekarang ini berhubungan dengan apa yang masih harus dilakukan, usaha yang dahulu telah menyelesaikan apa yang harus dilakukannya saat itu.” “Berikanlah ilustrasi.” “Apakah baru sesudah musuh menyerang maka baginda memerintahkan para prajurit untuk menggali tempat perlindungan, mendirikan benteng, membangun menara penjagaan, mendirikan kubu, dan mengumpulkan makanan?” “Tentu saja tidak, Yang Mulia.” “Demikian juga, usaha sekarang ini berhubungan dengan apa yang masih harus dilakukan, usaha yang lalu telah menyelesaikan apa yang harus dilakukannya saat itu.”

  4. “Anda katakan bahwa api neraka dalam sekejap dapat menghancurkan batu karang sebesar rumah; tetapi Anda juga mengatakan bahwa makhluk apa pun yang terlahir di neraka tidak akan hancur, meskipun terbakar selama ratusan ribu tahun. Bagaimana aku dapat mempercayai hal ini?” “Meskipun makanan, tulang, dan bahkan batu yang dimakan oleh berbagai makhluk betina dihancurkan di dalam perut mereka, tetapi embrionya tetap tidak hancur. Demikian juga makhluk di neraka tidak dapat hancur karena pengaruh karmanya.”

  5. “Anda katakan bahwa planet bumi ini terletak di air, air terletak di udara, dan udara terletak di ruang. Hal ini juga aku tidak percaya.” Kemudian bhikkhu Nagasena menerangkan kepada raja tentang daur filter-air yang ditopang oleh tekanan atmosfer dan raja Milinda menjadi yakin.[2]

  6. “Apakah berhentinya nafsu itu nibbana?” “Ya, O baginda. Semua makhluk yang tolol memanjakan diri dalam kenikmatan indera dan objeknya; mereka menemukan kesenangan di dalamnya dan melekat padanya. Oleh karena itu mereka terhanyut oleh banjir [nafsu] dan tidak terbebas dari kelahiran dan kematian. Siswa bijaksana orang-orang suci tidak akan menyenangi kenikmatan indera dan objeknya. Dan di dalam dirinya nafsu keinginan berhenti, kemelekatan berhenti, dumadi berhenti, kelahiran berhenti, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kepedihan, kesengsaraan dan keputusasaan berhenti dan tidak ada lagi. Dengan demikian, berhentinya nafsu adalah nibbana.”

  7. “Apakah semua orang mencapai nibbana?” “Tidak semuanya, O baginda; tetapi siapa pun yang berperilaku benar, mengetahui apa yang seharusnya diketahui, mencerap apa yang seharusnya dicerap, meninggalkan apa yang seharusnya ditinggalkan, mengembangkan apa yang seharusnya dikembangkan, dan merealisasikan apa yang seharusnya diwujudkan, dia mencapai nibbana.”

  8. “Dapatkah orang yang belum mencapai nibbana mengetahui bahwa nibbana itu benar-benar membahagiakan?” “Ya tentu saja, O baginda. Seperti halnya orang yang belum pernah merasakan tangan dan kakinya putus dipotong dapat mengetahui betapa sakitnya kondisi itu karena mendengar jeritan kesakitan orang yang kehilangan anggota badannya; demikian juga orang yang belum pernah mengetahui betapa membahagiakannya kondisi itu karena mendengar kata-kata yang penuh sukacita dari mereka yang telah mencapainya.”
Catatan:
[1]. M. iii. 203. bandingkan dengan A. syair 87, 288.
[2]. Lihat catatan tentang gempa bumi di Apendiks.
Share:

Milinda Panha Bab V Sang Buddha

 on  with No comments 
In ,  
  1. Pernahkan Anda atau guru-guru Anda melihat Sang Buddha?” “Belum, baginda.” “Kalau begitu, Nagasena, tidak ada Buddha!” “Tetapi apakah baginda dan ayah baginda sudah pernah melihat sungai Uha[1] di Himalaya?” “Belum, Yang Mulia.” “Kalau begitu, tepatkah kalau dikatakan bahwa sungai Uha itu tidak ada?” “Nagasena, Anda sangat cerdik menjawab.”

  2. “Apakah Sang Buddha tidak ada bandingnya?” “Betul, Beliau tidak terbandingkan.” “Tetapi bagaimana Anda dapat berkata demikian, jika Anda belum pernah bertemu Beliau?” “Sama seperti orang yang belum pernah melihat samudera dapat mengetahui betapa luasnya samudera itu karena lima sungai besar mengalir ke dalamnya tetapi permukaan airnya tidak naik; demikian juga saya tahu betapa tidak terbandingkannya Sang Buddha bila saya memikirkan guru-guru besar yang telah saya temui, yang hanya merupakan siswa Sang Buddha.”

  3. “Apakah orang lain dapat mengetahui bahwa Sang Buddha tidak ada bandingnya?” “Ya, tentu saja.” “Bagaimana caranya?” “Di zaman dahulu hidup Tissa Thera,[2] seorang yang ahli dalam tulis-menulis. Bagaimana orang dapat mengetahui tentang beliau?” “Dari tulisannya.” “Demikian pula halnya, baginda, siapa pun yang melihat Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha dapat mengetahui betapa tidak terbandingkannya Sang Buddha itu.”

  4. “Sudahkah Anda, Nagasena, melihat apa kebenaran itu?” “Kami, para siswa, O baginda, harus menjalani hidup kami sesuai dengan peraturan kebhikkhuan yang telah diberikan oleh Sang Buddha.”[3]

  5. “Apakah mungkin ada kelahiran kembali tanpa adanya transmigrasi (perpindahan)?” “Ya, mungkin saja. Sama seperti orang dapat menyalakan lampu minyaknya dari nyala lampu minyak yang lain tanpa ada yang berpindah dari satu lampu ke lampu yang lain; atau seperti seorang murid dapat menghafal sebuah syair dari gurunya tanpa syair itu berpindah dari guru ke muridnya.”

  6. Lalu Milinda bertanya lagi, “Apakah ada sesuatu semacam ‘Sang Yang Mengetahui’ (vedagu)?” “Tidak dalam arti yang sebenar-benarnya.”[4]

  7. “Apakah ada makhluk yang berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain?” “Tidak, tidak ada.” “Jika begitu, apakah tidak ada cara untuk lolos dari akibat perbuatan jahat?” “Ya, ada cara untuk lolos seandainya mereka tidak terlahir kembali, tetapi jika terlahir kembali maka tidak akan ada cara untuk lolos. Proses batin dan jasmani ini menghasilkan perbuatan -baik yang suci maupun yang tidak suci- dan karena karma tersebut maka proses batin dan jasmani lainnya terlahir lagi. Karena itulah batin dan jasmani ini tidak terbebas dari perbuatan jahatnya.”

    “Berikanlah ilustrasi.” “Jika seorang pencuri mencuri mangga orang lain, apakah dia patut dihukum?” “Tentu saja.” “Tetapi mangga yang dicurinya tidak sama dengan mangga yang dulu ditanam oleh si pemilik; mengapa dia patut dihukum?” “Karena mangga yang dicuri itu berasal dari mangga yang ditanam orang itu.” “Demikianlah juga, O baginda, proses batin dan jasmani ini melakukan perbuatan -baik yang suci maupun yang tidak suci- dan oleh karena karma tersebut maka proses batin dan jasmani lainnya terlahir lagi. Karena itulah maka batin dan jasmani ini tidak terbebas dari perbuatan jahatnya.”

  8. “Setelah perbuatan dilakukan oleh satu proses batin dan jasmani, di mana perbuatan itu berada?” “Perbuatan tersebut mengikuti batin dan jasmani itu, O baginda, seperti bayang-bayang yang tidak pernah pergi. Namun orang tidak dapat menunjuk perbuatan-perbuatan itu dan berkata, ‘Perbuatan-perbuatan itu di sini atau di sana’, sama seperti buah dari sebatang pohon tidak akan dapat ditunjukkan sebelum buah itu muncul.”

  9. “Apakah orang yang akan terlahir kembali mengetahui hal ini?” “Ya, dia tahu. Sama seperti seorang petani yang menanam benih di tanah, setelah melihat bahwa hujan cukup banyak, dia tahu bahwa panen akan tiba.”[5]

  10. “Apakah Buddha ada?” “Ya.” “Apakah Beliau dapat ditunjukkan berada di sini atau di sana?” “Sang Buddha telah meninggal dunia dan tidak ada yang tersisa untuk membentuk individu lain. Beliau tidak dapat ditunjukkan berada di sini atau di sana, sama seperti nyala api yang telah padam tidak dapat dikatakan berada di sini atau di sana. Tetapi sejarah keberadaannya[6] dapat dikenali dari Ajaran[7] yang telah dibabarkan oleh-Nya.”
Catatan:
[1]. Hulu sungai Gangga.
[2]. Mungkin mengacu pada Moggalliputta Tissa Thera, pencetus Konsili Ketiga dan pengarang Kitab Kathavatthu, ‘Pokok-pokok Kontroversi’.
[3]. Ada peraturan latihan (Pacittiya no. 8) bahwa bhikkhu tidak diperkenankan menceritakan tingkat pencapaian spiritualnya.
[4]. Ada dua tingkat kebenaran: kebenaran konvensional dan kebenaran tertinggi. Menurut kebenaran konvensional, adalah salah bila dikatakan ‘manusia’ itu tidak ada. Tetapi menurut kebenaran tertinggi hal itu justru benar. Pada realitasnya, yang ada hanyalah suatu aliran batin dan jasmani yang terus-menerus berubah, namun secara salah kita menganggap proses itu ‘manusia’. (Komentar penerjemah)
[5]. Bandingkan dengan Pertanyaan no. 2 di hal. 19.
[6]. Seperti juga keberadaan para Buddha yang akan datang.
[7]. Dhammakaya.
Share:

Milinda Panha Bab VI Kemelektan

 on  with No comments 
In ,  
  1. “Apakah tubuh jasmani ini, Nagasena, berharga bagi para petapa?” “Tidak, baginda.” “Kalau begitu, mengapa para petapa merawat dan memberikan perhatian pada tubuh jasmani?” “Kami merawat dan menjaga tubuh jasmani ini sama seperti kita merawat luka. Bukan karena luka itu berharga bagi kita, melainkan hanya supaya daging baru dapat tumbuh kembali. Demikian ini telah dikatakan oleh Sang Buddha: “Tubuh jasmani yang kotor ini berbau busuk Seperti tinja, seperti kakus; Tubuh jasmani yang oleh para bijaksana Dikutuk ini, adalah sumber kesukaan bagi si tolol. Sebuah tumor di mana sembilan lubang berdiam Terbungkus di dalam mantel kulit yang berkeringat[1] Dan meneteskan kotoran pada tiap sisinya, Mencemari udara dengan bau busuk ke mana-mana. Seandainya saja secara kebetulan harus terjadi Apa yang tersimpan di dalam berada di luar, Tentu orang akan membutuhkan cambuk Untuk menghalau anjing dan gagak’.”[2]

  2. “Jika Sang Buddha itu Maha Tahu, mengapa Beliau baru menetapkan peraturan Sangha setelah suatu peristiwa terjadi?” “Beliau baru menetapkan peraturan ketika dibutuhkan, sama seperti seorang dokter ahli baru menuliskan resep bagi pasiennya ketika dibutuhkan, walaupun dia telah mengetahui semua obat sebelum suatu penyakit menyerang.”

  3. “Jika Sang Buddha memiliki tiga puluh dua tanda manusia agung,[3] mengapa orangtua Beliau tidak memilikinya juga?” “Sama halnya seperti bunga teratai yang terlahir di lumpur dan menjadi sempurna di air tidak menyerupai lumpur dan air, demikian juga Sang Buddha tidak sama dengan orangtua Beliau.”

  4. “Apakah Sang Buddha seorang Brahmacari, seorang yang tidak menikah?” “Ya.” “Kalau begitu Beliau pengikut Brahma!” “Meskipun suara gajah sama seperti suara bangau, gajah bukanlah pengikut bangau. Katakanlah, baginda, apakah Brahma itu mempunyai kecerdasan (buddhi)?” “Ya.” “Kalau begitu pastilah dia pengikut Sang Buddha!”

  5. “Apakah pentahbisan bhikkhu itu sesuatu yang baik?” “Ya.” “Tetapi apakah Sang Buddha menjalaninya, atau tidak?” “Baginda, ketika Sang Buddha mencapai Pencerahan Sempurna di kaki pohon Bodhi, itulah pentahbisan Beliau. Tidak ada penganugerahan pentahbisan bagi Beliau dari orang lain seperti yang Beliau berikan kepada siswa-siswa-Nya.”

  6. “Bagi siapakah air mata itu merupakan penyembuhan: bagi orang yang menangis karena kematian ibunya, atau bagi orang yang menangis karena cintanya pada kebenaran?” “Air mata yang pertama, O baginda, ternoda dan panas oleh kemelekatan, tetapi air mata yang kedua itu tidak ternoda serta sejuk. Terdapat penyembuhan di dalam kesejukan dan ketenangan, tetapi di dalam panas dan nafsu tidak akan mungkin ada penyembuhan.”

  7. “Apakah perbedaan antara orang yang dipenuhi kemelekatan dengan orang yang telah terbebas dari kemelekatan?” “Yang pertama diperbudak, O baginda, sedangkan yang kedua tidak diperbudak.” “Apa maksudnya?” “Yang pertama dipenuhi nafsu keinginan, sedangkan yang kedua tidak.” “Tetapi kedua-duanya menyukai makanan yang enak, dan kedua-duanya tidak menyukai makanan yang tidak enak.” “Orang yang melekat, O baginda, makan dengan mengalami cita rasa makanan itu serta mengalami kemelekatan pada cita rasa itu. Tetapi, orang yang tidak melekat mengalami cita rasa makanan itu saja dan tidak mengalami kemelekatan yang timbul dari cita rasa makanan tersebut.”

  8. “Di manakah kebijaksanaan berdiam?” “Tidak di mana pun, O baginda.” “Kalau begitu kebijaksanaan itu tidak ada.” “Di manakah angin berdiam?” “Tidak di mana pun.” “Kalau begitu angin itu tidak ada!” “Anda sangat cerdik dalam menjawab, Nagasena.”

  9. “Apa yang dimaksud dengan lingkaran tumimbal lahir (samsara)?” “Seseorang yang dilahirkan di sini, mati di sini dan dilahirkan di tempat lain. Setelah dilahirkan di sana, dia mati dan dilahirkan di tempat lain.”

  10. “Dengan apakah kita mengingat perbuatan yang telah dilakukan di masa lalu?” “Dengan ingatan (sati).” “Apakah bukan dengan pikiran (citta) kita mengingat kembali?” “Apakah baginda ingat sesuatu urusan yang pernah baginda lakukan tetapi kemudian terlupakan?” “Ya. “Apakah waktu itu baginda tanpa pikiran?” “Tidak. Tetapi ingatan saya yang tak mampu.” “Kalau begitu mengapa baginda katakan bahwa dengan pikiran kita mengingat kembali?”

  11. “Apakah ingatan selalu timbul dengan sendirinya, ataukah dipengaruhi oleh sugesti dari luar?” “Kedua-duanya, O baginda.” “Tetapi apakah bukan berarti bahwa pada dasarnya semua ingatan itu bersifat subjektif?”[4] “Baginda, seandainya tidak ada bagian ingatan yang ditanamkan maka para ahli tidak perlu berlatih atau bersekolah, dan guru tidak akan ada gunanya. Tetapi keadaan sebaliknyalah yang terjadi.”
Catatan:
[1]. Hanya dua baris terakhir ini ada di Miln.
[2]. Vism. 196. Terjemahan Bhikkhu Ñanamoli.
[3]. Ciri fisik yang diramalkan oleh astrologi. Lihat D.ii. 17; M.ii. 136; Miln.17.
[4]. Bagi saya tidak jelas apa yang dimaksudkan di sini. Mungkin Raja Milinda beranggapan bahwa karena suatu ingatan yang dipancing oleh ingatan lain sesudah itu muncul karena usaha mental orang itu sendiri, maka asal mula ingatan itu bersifat subjektif.
Share: