Tampilkan postingan dengan label Artikel Buddhis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Buddhis. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2019

Senin, 12 Agustus 2019

Minggu, 11 Agustus 2019

Selasa, 06 Agustus 2019

Jumat, 08 Maret 2013

Pengorbanan Gagah Berani

 on  with No comments 
In ,  
Saat masih seorang guru sekolah, perhatian saya tertarik pada seorang siswa yang mendapat peringkat terbawah pada ujian terakhir dalam kelas saya yang terdiri dari 30 siswa. Saya melihat dia menjadi tertekan karena nilainya yang tidak bagus, lalu saya menghampiri dan mengajaknya berbicara.

Saya berkata kepadanya, ''Harusnya ada orang yang berada di peringkat ke-30 dari 30 siswa di kelas ini. Tahun ini, orang itu adalah kamu, yang melakukan pengorbanan gagah berani supaya tidak seorangpun temanmu menderita malu karena mendapat peringkat terbawah di kelas ini. Kamu sungguh baik begitu penuh belas kasih. Kamu pantas mendapatkan medali''.

Kita berdua tahu bahwa apa yang saya katakan itu konyol, tetapi dia menyeringai lebar. Dia tidak lagi menganggap peringkat terbawahnya sebagai sebuah kiamat.

Dia mendapat peringkat yang jauh lebih baik pada tahun berikutnya, ketika tiba giliran orang lain melakukan pengorbanan gagah berani.

Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share:

Jenis Kebebasan Manakah yang Anda Sukai?

 on  with No comments 
In ,  
Jenis Kebebasan Manakah yang Anda Sukai?
Oleh Ajahn Brahm

Dua bhikkhu Thai yang dihormati ke rumah seorang umat untuk menerima persembahan dana makanan pagi. Di ruang tamu, tempat mereka menunggu, terdapat sebuah akuarium berisi berbagai jenis ikan hias. Bhikkhu yang lebih muda mengadukan bahwa memelihara ikan di akuarium itu bertentangan dengan prinsip Buddhis mengenai belas kasih. Itu bagaikan memenjara mereka.

Apa sih yang telah diperbuat oleh ikan-ikan itu sehingga mereka harus dikurung dalam penjara tembok kaca? Mereka semestinya bebas berenang di sungai atau di danau, bebas pergi ke mana pun mereka suka. Bhikkhu yang kedua tidak setuju. Memang benar, dia mengakui, bahwa ikan-ikan itu tidak bebas menuruti kehendaknya, tetapi hidup dalam akuarium membebaskan mereka dari begitu banyak marabahaya. Lalu dia menguraikan daftar kebebasan mereka.
    1. Pernahkah Anda melihat orang memancing ikan di akuarium di rumah seseorang? Tidak! Jadi, kebebasan pertama bagi ikan-ikan dalam akuarium adalah bebas dari ancaman para pemancing. Bayangkan apa jadinya bagi ikan di alam bebas, ketika melihat seekor cacing lezat atau seekor lalat sedap, mereka tidak pernah yakin apakah itu aman dimakan atau tidak.

      Mereka, tidak diragukan lagi, telah menyaksikan banyak teman dan kerabat mereka mencaplok seekor cacing yang tampak lezat, dan tiba-tiba lenyap dari pandangan mereka untuk selamanya. Bagi ikan di alam bebas, kegiatan makan itu penuh ancaman bahaya dan sering berakhir dalam tragedi. Makan malam bisa menjadi traumatik.

      Ikan di alam bebas bisa-bisa menderita gangguan pencernaan kronis karena hilangnya nafsu makan, dan ikan yang paranoid bisa dipastikan akan mati kelaparan. Ikan di alam bebas mungkin saja menderita tekanan batin, tetapi ikan di akuarium terbebas dari bahaya semacam ini.

    2. Ikan di alam bebas juga harus mencemaskan ancaman ikan lebih besar yang akan memangsa mereka. Dewasa ini, di beberapa sungai yang rusuh, para ikan tidak lagi merasa aman untuk keluyuran pada malam hari! Akan tetapi, tidak ada pemilik akuarium yang akan mengisi akuariumnya dengan jenis ikan yang akan memangsa ikan lainnya. Jadi, ikan dalam akuarium terbebas dari bahaya ikan kanibal.

    3. Dalam daur alaminya, ikan di alam bebas kadang tidak memperoleh makanan. Namun bagi ikan di akuarium hidup itu bagai tinggal di sebuah restoran. Dua kali sehari, makanan bergizi diantarkan ke depan pintu mereka, bahkan lebih nyaman daripada jasa pesan-antar pizza, karena mereka tidak perlu membayar. Jadi, ikan dalam akuarium terbebas dari bahaya kelaparan.

    4. Selama perubahan musim, sungai dan danau mengalami perubahan suhu yang ekstrem. Sungai dan danau menjadi sangat dingin pada musim dingin, sampai permukaannya tertutupi es. Pada musim panas, air bisa menjadi terlalu hangat untuk ikan, kadang bahkan sampai mengering. Namun, ikan dalam akuarium memiliki sistem pengaturan udara dan suhu. Suhu air dalam akuarium terjaga baik dan nyaman, sepanjang hari sepanjang tahun. Jadi ikan dalam akuarium, terbebas dari bahaya kedinginan dan kepanasan.

    5. Di alam bebas, bila seekor ikan jatuh sakit, tidak ada yang akan merawatnya. Namun, ikan dalam akuarium punya asuransi kesehatan gratis. Pemiliknya akan memanggil dokter ikan untuk datang ke rumah kapan pun ada ikan yang sakit; mereka bahkan tidak harus pergi sendiri ke klinik. Jadi ikan dalam akuarium terbebas dari bahaya ketiadaan perlindungan kesehatan.
Bhikkhu kedua yang lebih senior, menyimpulkan sikapnya, Ada banyak keuntungan menjadi seekor ikan dalam akuarium, katanya. Memang benar, mereka tidak bebas menuruti kehendaknya dan berenang ke sana kemari, tetapi mereka terbebas dari begitu banyak bahaya dan ketidaknyamanan.

Bhikkhu yang lebih senior melanjutkan penjelasannya bahwa itu sama seperti orang-orang yang hidup dalam kehidupan yang bajik. Benar, mereka tidak bebas mengikuti nafsunya dan seenaknya ke sana ke mari, namun mereka terbebas dari begitu banyak bahaya dan ketidaknyamanan.

Jenis kebebasan manakah yang Anda sukai?

Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share:

Inipun Akan Berlalu

 on  with No comments 
In ,  
Inipun Akan Berlalu
Oleh Ajahn Bram

Salah satu pengajaran tidak ternilai yang dapat membantu mengatasi depresi, adalah juga salah satu yang paling sederhana. Namun pengajaran yang terlihat sederhana, mudah untuk disalahpahami. Hanya jika kita akhirnya sudah terbebas dari depresi, barulah kita boleh menyatakan diri sudah betul-betul memahami cerita berikut.

Seorang narapidanan baru merasa ketakutan dan tertekan. Tembok-tembok batu di selnya seperti menyerap habis semua kehangatan; jeruji-jeruji besi bagai mencemooh segala belas kasih; suara gelegar baja yang beradu ketika gerbang ditutup, mengunci harapan jauh-jauh. Hatinya terpuruk sedalam hukumannya yang sedemikian lama. Di tembok, di atas kepala tempat tidur lipatnya, dia melihat sebuah kalimat yang tergores di sana; ''Ini Pun Akan Berlalu''.

Kalimat itu melecut semangatnya, mungkin demikian juga dengan narapidana lain sebelum dia. Tidak peduli betapa beratnya, dia akan menatap tulisan itu dan mengingatnya; ''ini pun akan berlalu''. Pada hari ia dibebaskan, dia mengetahui kebenaran dari kata-kata itu. Waktunya telah terpenuhi; penjara pun telah berlalu.

Ketika ia menjalani kembali kehidupan normalnya, dia sering merenungi pesan itu, menulisnya di secarik kertas untuk di taruh di samping tempat tidurnya, di mobil dan di tempat kerja. Bahkan saat dia mengalami hal-hal yang buruk, dia tidak akan menjadi depresi. Dengan mudah dia akan mengingat, ''ini pun akan berlalu'', dan terus berjuang. Saat-saat yang buruk pun tidak memerlukan waktu lama untuk berlalu. Lalu ketika saat-saat yang menyenangkan tiba, dia menikmatinya, tetapi tanpa terlalu sembrono. Sekali lagi dia akan mengingat, ''ini pun akan berlalu'', dan terus lanjut bekerja, tanpa menggampangkan hal yang menyenangkan itu. Saat-saat yang indah biasanya juga tidak akan bertahan lama-lama.

Bahkan ketika dia menderita kanker, ''ini pun akan berlalu'' telah memberinya pengharapan. Pengharapan memberinya kekuatan dan sikap positif yang mengalahkan penyakitnya. Suatu hari, dokter spesialis memastikan bahwa, ''kanker pun telah berlalu''.

Pada hari-hari terakhirnya, di atas ranjang kematian, dia membisikkan kepada orang-orang yang dicintainya, ''ini pun akan berlalu'', dan dengan enteng dia meninggalkan dunia ini. Kata-katanya adalah pemberian cinta terakhir bagi keluarga dan teman-temannya. Mereka belajar darinya bahwa, ''kesedihan pun akan berlalu''.

Depresi adalah sebuah penjara yang sering di alami oleh kita-kita ini. ''Ini pun akan berlalu'' membantu melecut semangat kita; juga menghindarkan salah satu penyebab depresi hebat, yaitu tidak mensyukuri saat-saat bahagia.

Sumber: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share:

Batu-Batu Berharga

 on  with No comments 
In ,  
Batu-Batu Berharga
Oleh Ajahn Brahm

Beberapa tahun lalu disebuah sekolah bisnis terkemuka di Amerika Serikat, seorang profesor menyampaikan sebuah kuliah yang luar biasa tentang ekonomi sosial didepan kelas S2-nya. Tanpa menjelaskan apa yang sedang dilakukannya, dengan hati-hati sang profesor meletakkan sebuah toples kaca di atas mejanya. Lalu, dengan diikuti tatapan mata para mahasiswanya, dia mengeluarkan sekantong penuh batu dan memasukkannya satu per satu ke dalam toples itu, sampai tidak ada lagi batu yang bisa dimasukkan. Dia bertanya kepada para mahasiswanya, ''Apakah toples ini sudah penuh?''

''Ya'' jawab mereka.

Sang profesor tersenyum. Dari bawah mejanya, dia meraih tas kedua, yang satu ini penuh kerikil. Dia lalu menuangkan sambil menggoyang-goyangkan kerikil-kerikil itu untuk mengisi celah-celah di antara batu-batu yang lebih besar di dalam toples. Untuk kedua kalinya, dia bertanya kepada para mahasiswanya, ''Apakah toples ini sudah penuh?''

''Belum'' jawab mereka. Sekarang mereka sudah mulai dapat menebaknya.

Tentu saja mereka benar, karena sang profesor mengambil lagi sekantong penuh pasir halus. Dia berusaha menuangkan pasir itu ke dalam toples, mengisi celah-celah di antara batu-batu besar dan kerikil-kerikil yang telah dimasukkan sebelumnya. Lagi-lagi dia bertanya, ''Apakah toples ini sudah penuh?''

“Mungkin tidak, Pak, yang tahu cuma Anda'', Jawab mahasiswanya.

Tersenyum mendengarkan jawaban itu, sang profesor mengeluarkan seteko air, lalu dia tuangkan ke dalam toples yang penuh dengan batu, krikil, dan pasir itu. Ketika tidak ada lagi air yang dapat dituangkan ke dalam toples itu, dia meletakkan teko itu dan memandang ke seluruh kelas.

''Lantas, apa pelajaran yang dapat kalian petik?'' tanyanya kepada para mahasiswa.

''Tak peduli seberapa padatnya jadwal Anda,'' sambut salah seorang mahasiswa, ''Anda akan selalu menambahkan sesuatu ke dalamnya!'' Jangan lupa, ini kan sekolah bisnis terkenal.

''Bukan!'' gelegar sang profesor dengan penuh empati. ''Apa yang ditunjukkan adalah jika kalian ingin memasukkan batu-batu yang besar, kalian harus memasukkannya pertama kali''.

Itu adalah pelajaran tentang prioritas.

Jadi apakah ''batu besar'' yang ada di dalam ''toples'' Anda? Apakah hal yang paling penting yang harus dimasukkan ke dalam kehidupan Anda? Pastikanlah untuk pertama-tama menjadwalkan ''batu-batu berharga'' ke dalam hidup Anda, atau Anda tidak akan pernah mendapatkannya, untuk mengisi hidup Anda.

Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share:

Ayam atau Bebek?

 on  with No comments 
In ,  
Ayam atau Bebek?
Oleh Ajahn Brahm

Berikut ini adalah cerita kegemaran guru saya, Ajahn Chah dari Thailand Timur Laut. Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan, ''Kuek! Kuek!''

''Dengar,'' kata si istri, ''Itu pasti suara ayam.''

''Bukan, bukan. Itu pasti suara bebek,'' kata si suami.

''Nggak, aku yakin itu ayam,'' si istri bersikeras.

''Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuukkk', bebek itu 'Kuek! Kuek!' Itu bebek, Sayang'', kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

''Kuek! Kuek!'' terdengar lagi.

''Nah, tuh! Itu suara bebek,'' kata si suami.

''Bukan, Sayang.......itu suara ayam! Aku yakin betul!'' tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

''Dengar ya! Itu a.......da.......lah......be....bek, B-E-B-E-K. Bebek! Tahu ?!'' si suami berkata dengan gusar.

''Tetapi itu ayam!'' masih saja si istri bersikeras.

''Itu jelas-jelas bue...bek! Kamu ini..... kamu ini....!''

Terdengar lagi suara, ''Kuek! Kuek!'' sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tidak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, ''Tetapi itu ayam........''

Si suami melihat air mata yang mengembang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, teringat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, ''Maafkan aku, Sayang kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok''.

''Terima kasih, Sayang'', kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

''Kuek! Kuek! Terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cerita.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar bahwa: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal ''ayam atau bebek?''

Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetika sehingga bersuara seperti bebek?

Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share:

Rabu, 06 Maret 2013

Dua Bata Jelek

 on  with No comments 
In ,  
Dua Bata Jelek
Oleh Ajahn Brahm

Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang. Tidak ada bangunan di atas tanah itu, bahkan sebuah gubukpun tidak ada. Pada minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu-pintu tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kami mengganjal pintu-pintu itu dengan batu bata di setiap sudut untuk meninggikannya dari tanah (tak ada matras-tentu saja, kamikan pertapa hutan).

Biksu kepala mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu yang datar. Pintu saya bergelombang dengan lubang yang cukup besar ditengahnya, yang dulunya tempat gagang pintu. Saya senang karena gagang pintu itu telah dicopot, tetapi malah jadi ada lubang persis di tengah-tengah ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan bahwa sekarang saya tidak perlu bangkit dari ranjang jika ingin ke toilet! Kenyataan nya, ada saja, angin masuk melewati lubang itu. Saya jadi tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam-malam itu.

Kami hanyalah bhikkhu-bhikkhu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang, bahan-bahan bangunannya sudah cukup mahal. Jadi saya harus belajar cara bertukang: bagaiman mempersiapkan pondasi, menyemen, dan memasang batu bata. Saya adalah seorang fisikawan teori dan guru SMA sebelum menjadi bikkhu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya ''BBC'' (Buddhist Building Company). Tetapi, pada saat memulainya, ternyata bertukang itu sangatlah sulit.

Kelihatannya gampang, membuat tembok dengan batu bata: tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, tetapi sisi lain malah menjadi naik. Lalu saya ratakan sisi yang naik itu, batu batanya menjadi melenceng. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat lagi. Coba saja sendiri!

Sebagai seorang bhikkhu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak perduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Saat itulah saya melihatnya ''oh, tidak!'' Saya telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.

Saat itu semennya sudah terlanjur terlalu keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi saya bertanya kepada kepala Vihara apakah saya boleh membongkar tembok itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Saya telah membuat kesalahan dan saya menajdi gundah gulana. Kepala Vihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.

Ketika saya membawa para tamu pertama kali berkunjung keliling Vihara kami yang baru setengah jadi, saya selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok bata yang saya buat. Saya tidak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

''Itu tembok yang indah'', ia berkomentar dengan santainya.

''Pak'', saya menjawab dengan terekejut, ''Apakah kacamata Anda tertinggal di Mobil? Apakah penglihatan Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?''

Apa yang ia ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkenan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, ''Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus''.

Saya tertegun. Untuk melihat pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu bata-batu bata lainnya selain dua batu bata jelek itu. Di atas, di bawah, di kiri, dan di kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu bata-batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, saya hanya terpusat pada dua bata jelek itu. Selama ini, mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah saya perbuat; saya terbutakan dari hal-hal lainnya. Itulah sebabnya saya tidak tahan melihat tembok itu, atau tidak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya saya ingin menghancurkannya. Sekarang, saya dapat melihat batu batu-batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tidak terlalu buruk lagi. Tembok itu menjadi seperti yang dikatakan pengunjung itu, ''Sebuah tembok yang indah''. Tembok itu masih tetap berdiri sampai sekarng, setelah dua puluh tahun, namun saya sudah lupa persisnya di mana dua bata jelek itu berada. Saya benar-benar tidak dapat melihat kesalahan itu lagi.

Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah ''dua bata jelek?'' Berapa banyak di antara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah ''dua bata jelek?'' Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus di atas, di bawah, di kiri, dan di kanan dari yang jelek, namun pada saat itu kita tidak mampu melihatnya. Malahan, setiap kali kita melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita buat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada hanyalah kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya kita benar-benar menghancurkan ''sebuah tembok yang indah''.

Kita semua memiliki ''dua bata yang jelek'', namun bata yang baik di dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak dari pada bata yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tidak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menikmati hidup bersama pasangan kita. Ini kabar buruk bagi pengacara urusan perceraian, tetapi ini kabar baik bagi Anda.

Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan memberi tahu saya tentang rahasia profesinya.

''Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan,'' katanya, ''tetapi kami bilang kepelanggan kami bahwa itu adalah ''ciri unik'' yang tiada duanya di rumah-rumah tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dollar!''

Jadi, ''ciri unik'' di rumah Anda, bisa jadi, awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yang sama, apa yang Anda kira sebagai kesalahan pada diri, rekan Anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah ''ciri unik'', yang memperkaya hidup Anda di dunia ini, tatkala Anda tidak lagi terfokus padanya.

Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share:

Selasa, 26 Februari 2013

Jadikan Nibbana Sebagai Tujuanmu

 on  with No comments 
In ,  
Jadikan Nibbana Sebagai Tujuanmu[1]
Judul Asli: Let Your Aim be Nibbana
Oleh: Y.M. Ajahn Chah
Penerjemah: Bhagavant.com

Pada saat ini arahkan pikiran Anda untuk mendengarkan Dhamma. Secara tradisi hari ini adalah hari dhammasavana (mendengarkan dhamma). Ini adalah waktu yang tepat bagi kita, para umat Buddha untuk mempelajari dhamma guna meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan kita. Memberi dan menerima ajaran adalah sesuatu yang telah kita lakukan untuk waktu yang lama. Kegiatan yang biasanya kita lakukan pada hari ini, seperti melantunkan pujian kepada Sang Buddha, mengambil sila, bermeditasi, dan mendengarkan ajaran, seharusnya dipahami sebagai cara dan prinsip bagi pengembangan spiritual. Hal itu tidak lebih dari ini.

Sebagai contoh, ketika tiba saatnya untuk mengambil sila, seorang bhikkhu akan membacakan sila-sila dan para umat awam akan berjanji untuk menerimanya. Janganlah salah paham terhadap apa yang terjadi. Sebenarnya adalah, kemoralan merupakan sesuatu yang tidak bisa diberikan. Kemoralan sebenarnya tidak dapat diminta atau diterima dari seseorang. Kita tidak bisa memberikannya pada orang lain. Dalam keseharian kita, kita mendengar orang-orang berkata, “Bhante telah memberikan sila dan kami telah menerima sila”. Kita berbicara seperti ini, disini, dipinggir kota dan menjadi kebiasaan kita dalam cara memahami.

Jika kita berpikir seperti itu, maka kita datang untuk menerima sila dari para bhikkhu pada hari penanggalan bulan (uposatha) dan jika para bhikkhu tidak ingin memberikan sila maka kita tidak memiliki kemoralan, hal itu hanyalah rekaan tradisi yang kita warisi dari nenek moyang kita. Berpikir dengan cara ini berarti kita menyerahkan tanggung jawab kita, kita tidak memiliki kepercayaan yang kuat dan keyakinan pada diri sendiri. Kemudian hal ini dibiarkan diturunkan kepada generasi berikutnya, dan mereka akhirnya juga datang untuk 'menerima' sila dari para bhikkhu. Dan para bhikkhu mulai mempercayai bahwa mereka adalah satu-satunya orang yang 'memberikan' sila kepada umat awam. Kenyataannya, kemoralan dan sila tidak seperti itu. Kemoralan dan sila bukanlah sesuatu yang 'diberikan' atau 'diterima', tetapi saat seremonial pelimpahan jasa dan sejenisnya, kita menggunakan hal ini sebagai ritual berdasarkan tradisi dan menggunakan terminologi (istilah).

Sebenarnya, moralitas terletak pada niat seseorang. Jika Anda memiliki kesadaran yang kuat untuk menahan diri dari tindakan yang membahayakan dan dari perbuatan yang salah yang dilakukan oleh jasmani dan ucapan, maka moralitas akan datang pada diri Anda. Anda perlu mengetahuinya dalam diri Anda sendiri. Tidak apa-apa untuk berjanji pada orang lain. Anda bisa mengingat sila oleh diri Anda sendiri. Jika Anda tidak tahu sperti apa sila itu, maka Anda bisa meminta penjelasan dari orang lain. Hal ini bukanlah sesuatu yang sangat rumit dan jauh. Jadi sebenarnya, kapanpun kita mengharapkan untuk 'menerima' moralitas dan Dhamma, kita segera mendapatkannya.

Hal ini seperti udara yang mengelilingi kita dimana saja. Kapanpun kita menarik nafas, kita akan memperolehnya. Begitu juga dalam hal kebaikan dan kejahatan. Jika kita berharap untuk melakukan kebaikan, kita dapat melakukannya dimana saja, kapan saja. Kita dapat melakukannya sendiri, atau bersama-sama dengan orang lain. Begitu juga dengan kejahatan. Kita dapat melakukannya dengan kelompok besar maupun kecil, ditempat tersembunyi ataupun di tempat terbuka. Sama seperti itu.
Share:

Senin, 25 Februari 2013

The Two Faces of Reality

 on  with No comments 
In ,  
The Two Faces Of Reality [1]
Oleh Ajahn Chah
Diterjemahkan dari ajahnchah.org

Dalam hidup kita, kita memiliki dua kemungkinan: menuruti duniawi atau melampaui duniawi. Sang Buddha adalah seseorang yang mampu membebaskan diri dari dunia dan dengan demikian menyadari pembebasan spiritual.

Dengan cara yang sama, ada dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan tentang alam duniawi dan pengetahuan tentang kebijaksanaan spiritual, atau kebijaksanaan mutlak. Jika kita belum berlatih dan melatih diri kita sendiri, tidak peduli berapa banyak pengetahuan duniawi yang kita miliki, dan dengan demikian tidak dapat membebaskan kita.

Berpikirlah dan benar-benar melihat dengan dekat! Sang Buddha mengatakan bahwa hal-hal dari duniawi berputar di sekitar dunia. Mengikuti duniawi, pikiran terjerat di dunia, mencemari dirinya sendiri apakah datang atau pergi, tidak pernah tersisa. Orang duniawi adalah mereka yang selalu mencari sesuatu – dan tidak pernah dapat menemukan dengan cukup. Pengetahuan duniawi benar-benar kebodohan, itu bukan pengetahuan dengan pemahaman yang jelas, sehingga tidak pernah ada akhirnya. Hal ini berkisar pada tujuan duniawi mengumpulkan benda-benda, mendapatkan status, mencari pujian dan kesenangan, sekumpulan khayalan yang telah menempel dengan cepat.

Setelah kita mendapatkan sesuatu, ada iri hati, khawatir dan egoisme. Dan ketika kita merasa terancam dan tidak dapat mencegahnya, kita menggunakan pikiran kita untuk menciptakan segala macam perangkat, sampai ke senjata dan bahkan bom nuklir, hanya untuk saling meledakkan. Mengapa semua ini menjadi masalah dan menyulitkan?

Ini adalah cara duniawi. Sang Buddha mengatakan bahwa jika seseorang mengikutinya di sekitar sana adalah tidak ada akhir.

Ayo berlatih untuk pembebasan! Tidaklah mudah untuk hidup sesuai dengan kebijaksanaan sejati, tapi siapa pun yang sungguh-sungguh mencari jalan dan buah dan bercita-cita untuk Nibbāna akan mampu bertahan dan bertahan. Bertahan menjadi puas dan puas dengan sedikit, makan sedikit, tidur sedikit, berbicara sedikit dan hidup secukupnya. Dengan melakukan ini kita bisa mengakhiri keduniawian.

Jika benih keduniawian belum tumbang, maka kita terus bermasalah dan bingung dalam siklus yang tidak pernah berakhir. Bahkan ketika Anda datang untuk ditahbiskan, terus menarik Anda untuk pergi. Hal ini menciptakan pandangan Anda, pendapat Anda, warna dan menghiasi semua pikiran Anda - itulah cara duniawi.

Orang-orang tidak menyadari! Mereka mengatakan bahwa mereka akan mendapatkan hal-hal yang dilakukan di dunia. Ini selalu menjadi harapan mereka untuk menyelesaikan segalanya. Sama seperti seorang menteri pemerintah baru yang ingin memulai dengan administrasi barunya. Dia berpikir bahwa ia memiliki semua jawaban, jadi dia merubah segala sesuatu dari pemerintahan lama dan mengatakan, ''Lihat! Saya akan melakukan semuanya sendiri''. Itu semua mereka lakukan, banyak hal keluar masuk, tidak pernah mendapatkan apa-apa yang dilakukan. Mereka mencoba, tetapi tidak pernah mencapai setiap penyelesaian yang nyata.

Anda tidak pernah bisa melakukan sesuatu yang akan menyenangkan semua orang - satu orang menyukai sedikit, yang lain suka banyak, seperti salah satu pendek dan satu suka panjang, beberapa suka pedas, asin dan beberapa suka renyah. Untuk membuat semua orang bersama-sama dalam satu pemikiran tidak dapat dilakukan.

Semua dari kita ingin mencapai sesuatu dalam hidup kita, tapi dunia, dengan semua kompleksitas, membuat hampir tidak mungkin untuk membawa segala penyelesaian yang nyata. Bahkan Sang Buddha, lahir dengan semua peluang dari seorang pangeran yang mulia, tidak menemukan penyelesaian ada di kehidupan duniawi.

Perangkap Dari Indera
Sang Buddha mengatakan tentang keinginan dan enam hal di mana hasrat memuaskan: pemandangan, suara, bau, rasa, sentuhan dan pikiran-benda. Keinginan dan nafsu untuk kebahagiaan, penderitaan, untuk kebaikan, untuk kejahatan dan sebagainya, meliputi semuanya.

Pemandangan ... tidak ada pemandangan yang sama seperti yang dilakukan oleh seorang wanita. Bukankah begitu? Bukankah seorang wanita benar-benar menarik membuat Anda ingin melihatnya? Seseorang dengan sosok yang benar-benar menarik datang menyusuri jalan, ''sak, sek, sak, sek, sak,'' Anda tidak bisa membantu tetapi menatapnya! Bagaimana dengan suara? Tidak ada suara yang lebih dari seorang wanita itu. Hal ini menembus jantung Anda! Bau adalah sama, aroma wanita adalah yang paling memikat dari semua. Tidak ada bau lain yang persis sama. Rasanya - bahkan rasa makanan paling lezat tidak dapat dibandingkan dengan seorang wanita. Sentuhan adalah sama, ketika Anda memeluk wanita, Anda tertegun dan mabuk.

Pernah ada seorang guru mantar magis terkenal dari Taxila di India kuno. Dia mengajarkan muridnya semua pengetahuan tentang pesona dan mantra. Ketika murid-muridnya telah berpengalaman dan siap untuk berjalan sendiri, ia meninggalkannya dengan instruksi terakhir dari gurunya, ''Saya telah mengajarimu semua mantera yang saya tahu, mantera dan ayat-ayat pelindung. Makhluk dengan tanduk dan gigi tajam, dan gading bahkan yang besar, Anda tidak perlu takut. Anda akan dijaga dari semua mantera ini, saya bisa menjaminnya. Namun, hanya ada satu hal yang saya tidak bisa menjamin perlindungan terhadap Anda, dan itu adalah daya tarik dari seorang wanita[2]. Saya tidak bisa membantu Anda. Tidak ada mantra untuk perlindungan terhadap yang satu ini, Anda harus menjaga diri sendiri''.

Objek mental muncul dalam pikiran. Mereka lahir dari keinginan: keinginan untuk harta berharga, keinginan untuk menjadi kaya, dan hanya sebuah kegelisahan yang diinginkan dengan hal-hal secara umum. Jenis keserakahan tidak semua mendalam atau kuat, itu tidak cukup untuk membuat Anda pingsan atau kehilangan kendali. Namun, ketika hasrat seksual muncul, Anda kehilangan keseimbangan dan kehilangan kendali Anda. Anda bahkan akan melupakan mereka yang membesarkan Anda yaitu orang tua Anda sendiri!

Sang Buddha mengajarkan bahwa obyek indera kita adalah perangkap - perangkap dari Māra[3]. Mara harus dipahami sebagai sesuatu yang merugikan kita. Perangkap adalah sesuatu yang mengikat kita, sama seperti suatu jerat. Ini adalah perangkap sang Mara, jerat pemburu, dan pemburu adalah Mara.

Jika hewan yang terjebak dalam perangkap pemburu, itu adalah keadaan sedih. Mereka tertangkap dengan cepat menunggu pemilik perangkap. Pernahkah Anda menjerat burung? Mata jerat dan ’’Boop’’ - tertangkap di leher! Sebuah senar yang kuat dan baik menjerat dengan baik. Kemana pun burung terbang, tidak dapat melarikan diri. Ia terbang kesana dan terbang kemari, tetapi jerat bekerja dengan erat menunggu pemilik jerat datang. Ketika pemburu datang, itu saja - burung tersebut dihinggapi dengan rasa takut, tidak ada jalan keluar!

Perangkap dari penglihatan, suara, bau, rasa, sentuhan dan pikiran-benda adalah sama. Mereka menangkap kita dan mengikat kita dengan cepat. Jika Anda memasang indra, anda sama seperti ikan tertangkap kail. Ketika nelayan datang, anda berjuang dengan semua yang diinginkan, tetapi tidak bisa lepas. Sebenarnya, Anda tidak tertangkap seperti ikan, itu lebih seperti katak - katak menelan bulat-bulat mata kail ke dalam ususnya, ikan hanya tertangkap dalam mulutnya.

Siapapun yang melekat pada indera adalah sama. Seperti orang mabuk yang hatinya belum hancur - ia tidak tahu kapan dia akan cukup. Dia terus memanjakan dan minum sembarangan. Dia tertangkap dan kemudian menderita sakit dan nyeri.

Seorang pria datang berjalan di sepanjang jalan. Dia sangat haus dari perjalanannya dan memiliki keinginan untuk minum air. Pemilik air mengatakan, ''Anda bisa minum air ini jika Anda suka, warnanya bagus, bau yang baik, rasa baik, tetapi jika Anda minum itu, Anda akan menjadi sakit. Saya harus mengatakan ini sebelumnya, itu akan membuat Anda sakit cukup untuk mematikan atau hampir mati''. Orang haus tidak mendengarkan. Dia haus seperti seorang yang setelah operasi dilarang minum air selama tujuh hari - dia menangis untuk air!

Ini sama dengan orang yang haus dengan indera. Sang Buddha mengajarkan bahwa mereka beracun - pemandangan, suara, bau, rasa, sentuhan dan pikiran-benda adalah racun, mereka adalah perangkap berbahaya. Tapi orang ini haus dan tidak mendengarkan, karena rasa haus dia menangis, menangis, ''Berikan aku air, tidak peduli betapa menyakitkan konsekuensi, biarkan aku minum'' Jadi dia mencelupkan keluar sedikit lalu menelannya dan menemukan itu rasa yang sangat lezat. Dia minum mengisi nafsunya dan lalu mendapat rasa sakit sehingga ia hampir mati. Dia tidak mendengarkan karena nafsu keinginannya tak tertahankan.

Ini adalah bagaimana orang tersebut terjebak dalam kesenangan indra. Dia minum dalam pemandangan, suara, bau, rasa, sentuhan dan pikiran benda, mereka semua sangat lezat! Jadi dia minuman tanpa berhenti dan di sana ia masih tetap terjebak dengan cepat sampai pada hari ia meninggal.

Share:

Sabtu, 23 Februari 2013

Upacara Dalam Agama Buddha

 on  with No comments 
In  
  1. Pengertian upacara
    • Suatu cetusan hati nurani manusia terhadap suatu keadaan.
    • Sebagai salah satu bentuk kebudayaan dapat kita selenggarakan sesuai dengan tradisi dan perkembangan jaman asalkan selalu didasarkan pada pandangan benar.
    • Buddha Dhamma sebagai ajaran universal, tidak mengalami perubahan (pengurangan maupun tambahan). Oleh sebab itu, manifestasi pemujaan kita pada Tiratana yang dijelmakan dalam bentuk upacara & cara kebaktian hendaknya tetap didasari dengan pandangan benar sehingga tidak menyimpang dari Buddha Dhamma itu sendiri.

  2. Sejarah terjadinya upacara dalam agama Buddha
    • Sang Buddha tidak pernah mengajar cara upacara. Sang Buddha hanya mengajarkan Dhamma agar semua makhluk terbebas dari penderitaan.
    • Upacara yang ada pada saat itu hanyalah upacara penahbisan bhikkhu & samanera.
    • Upacara yang sekarang ini kita lihat merupakan perkembangan dari kebiasaan yang ada, yang terjadi sewaktu Sang Buddha masih hidup, yaitu yang disebut `Vattha’, yang artinya kewajiban yang harus dipenuhi oleh para bhikkhu seperti merawat Sang Buddha, membersihkan ruangan, mengisi air, dsb; dan kemudian mereka semua bersama dengan umat lalu duduk mendengarkan khotbah Sang Buddha.
    • Setelah Sang Buddha parinibbana, para bhikkhu dan umat tetap berkumpul untuk mengenang Sang Buddha dan menghormat Sang Tiratana, yang sekaligus merupakan kelanjutan kebiasaan Vattha.

  3. Dua cara pemujaan
  4. Dalam agama Buddha juga terdapat ajaran tentang `pemujaan’. Namun, pemujaan dalam agama Buddha ditujukan pada obyek yang benar (patut) dan didasarkan pada pandangan benar. Menurut naskah Pali – Dukanipata, Anguttara Nikaya, Sutta Pitaka, ada dua cara pemujaan, yaitu:
    1. Amisa Puja
      1. Makna Amisa Puja
        • Secara harafiah berarti pemujaan dengan persembahan. Kitab Mangalattha-dipani menguraikan empat hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan Amisa Puja ini, yaitu:
          1. Sakkara: memberikan persembahan materi
          2. Garukara: menaruh kasih serta bakti terhadap nilai-nilai luhur
          3. Manana: memperlihatkan rasa percaya/yakin
          4. Vandana: menguncarkan ungkapan atau kata persanjungan.
        • Selain itu, ada tiga hal lagi yang juga harus diperhatikan agar Amisa Puja dapat diterapkan dengan sebaik-baiknya. Ketiga hal tersebut yaitu :
          1. Vatthu sampada: kesempurnaan materi
          2. Cetana sampada: kesempurnaan dalam kehendak
          3. Dakkhineyya sampada : kesempurnaan dalam obyek pemujaan
      2. Sejarah Amisa Puja
      3. Asal mulanya dari kebiasaan Bhikkhu Ananda yg selalu merawat Sang Buddha.
    2. Patipatti Puja
      1. Makna Patipatti Puja
      2. Secara harafiah berarti pemujaan dengan pelaksanaan. Sering juga disebut sebagai Dhammapuja. Menurut Kitab Paramatthajotika, yang dimaksud “pelaksanaan” dalam hal ini adalah :
        1. Berlindung pada Tisarana (Tiga Perlindungan), yakni Buddha, Dhamma, dan Ariya Sangha
        2. Bertekad untuk melaksanakan Panca Sila Buddhis (Lima Kemoralan) yakni pantangan untuk membunuh, mencuri, berbuat asusila, berkata yang tidak benar, mengkonsumsi makanan/minuman yang melemahkan kewaspadaan
        3. Bertekad melaksanakan Atthanga Sila (Delapan Sila) pada hari-hari Uposatha.
        4. Berusaha menjalankan Parisuddhi Sila (Kemurnian Sila), yaitu:
          • Pengendalian diri dalam tata tertib (Patimokha-samvara)
          • Pengendalian enam indera (Indriya-samvara)
          • Mencari nafkah hidup secara benar (Ajiva-parisuddhi)
        5. Pahala Patipatti Puja
          • Dalam Sutta Pitaka bagian Anguttara Nikaya, Dukanipata, dengan sangat jelas Sang Buddha Gotama menandaskan demikian: “Duhai para bhikkhu, ada dua cara pemujaan, yaitu Amisa Puja dan Dhamma Puja. Di antara dua cara pemujaan ini, Dhamma Puja (Patipatti Puja) adalah yang paling unggul”.
          • Dengan demikian sudah selayaknya jika umat Buddha lebih menekankan pada pelaksanaan Patipatti Puja alih-alih Amisa Puja.

        6. Sejarah Patipatti Puja
          • Cerita tentang Bhikkhu Tissa yang bertekad berpraktek Dhamma hingga berhasil menjelang empat bulan lagi Sang Buddha parinibbana. Dalam hal tersebut Sang Buddha bersabda: “Duhai para bhikkhu, barang siapa mencintai-Ku, ia hendaknya bertindak seperti Tissa. Karena, mereka yang memuja-Ku dengan mempersembahkan berbagai bunga, wewangian, dan lain-lain, sesungguhnya belumlah bisa dikatakan memuja-Ku dengan cara yang tertinggi/terluhur. Sementara itu, seseorang yang melaksanakan Dhamma secara benar itulah yang patut dikatakan telah memuja-Ku dengan cara tertinggi / terluhur”.

          • Peristiwa yang mirip juga terjadi atas diri Bhikkhu Attadattha, sebagaimana yang dikisahkan dalam Kitab Dhammapada Atthakatha.

          • Menyadari betapa penting hal tersebut untuk dipahami dengan jelas, Sang Buddha Gotama secara resmi juga menandaskan kembali kepada Ananda Thera demikian: “Duhai Ananda, penghormatan, pengagungan, dan pemujaan dengan cara tertinggi/terluhur bukanlah dilakukan dengan memberikan persembahan bunga, wewangian, nyanyian, dan sebagainya. Akan tetapi Ananda, apabila seseorang bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, atau upasika, berpegang teguh pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, bertingkah laku selaras dengan Dhamma, maka orang seperti itulah yang sesungguhnya telah me-lakukan penghormatan, pengagungan, dan pemujaan dengan cara tertinggi/terluhur. Karena itu Ananda, berpegang teguhlah pada Dhamma, hiduplah sesuai dengan Dhamma, dan bertingkah lakulah selaras dengan Dhamma. Dengan cara demikianlah engkau seharusnya melatih diri”.

          • Penerapan Patipatti Puja secara telak dapat menepiskan anggapan salah masyarakat umum bahwa agama Buddha tidak lebih hanyalah suatu agama ritualistis (peribadatan/persembahyangan) belaka.
    3. Makna upacara
    4. Semua bentuk upacara agama Buddha, sebenarnya terkandung prinsip-prinsip sebagai berikut :
      1. Menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur Sang Tiratana
      2. Memperkuat keyakinan (Saddha) dengan tekad (Adhitthana)
      3. Membina empat kediaman luhur (Brahma Vihara)
      4. Mengulang dan merenungkan kembali khotbah-khotbah Sang Buddha
      5. Melakukan Anumodana, yaitu `melimpahkan’ jasa perbuatan baik kita kepada makhluk lain
    5. Manfaat upacara
    6. Secara terperinci manfaat yang langsung didapat dari upacara adalah sebagai berikut:
      1. Saddha : keyakinan dan bakti akan tumbuh berkembang
      2. Brahmavihara : empat kediaman / keadaan batin yang luhur akan berkembang
      3. Samvara : indera akan terkendali
      4. Santutthi : puas
      5. Santi : damai
      6. Sukha : bahagia
    7. Sikap dalam upacara
    8. Upacara merupakan suatu manifestasi dari keyakinan dan kebaktian, oleh sebab itu sikap yang patut diperhatikan oleh umat dalam melakukan upacara adalah sebagai berikut ini:
      1. Sikap menghormat, ada beberapa cara antara lain:
        1. Anjali
        2. Namakara
        3. Padakkhina
      2. Sikap membaca Paritta
        1. Dilakukan dengan khidmat dan penuh perhatian
        2. Dibaca secara benar sesuai dengan petunjuk-petunjuk tanda-tanda bacaannya dan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah dijelaskan dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali Text), seperti pada Vinaya Pitaka, II.108, di mana Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu tentang masalah melagukan pembacaan Dhamma, yaitu sebagai berikut: “Para bhikkhu, ada lima bahaya (keburukan) jika Dhamma diucapkan dengan suara yang dinyanyikan :
          • Ia akan senang (bangga) pada dirinya sendiri sehubungan dengan suaranya yang telah didengarnya
          • Orang lain akan senang mendengar suaranya tersebut (mereka akan tertarik pada lagunya tersebut, bukan pada Dhammanya)
          • Umat awam akan mencemoohkan (karena musik hanya pantas untuk mereka yang masih menyukai kesenangan indera)
          • Karena sibuk mengatur suaranya tersebut, maka konsentrasinya menjadi pecah (ia melupakan makna dari apa yang sedang dibacanya)
          • Orang-orang yang mendengarnya bisa terjebak dalam pandangan-pandangan yang mengandung persaingan (dengan berkata: “Guru-guru dan pembimbing kami melagukannya seperti itu”, hal ini akan menyebabkan timbulnya pertentangan dan saling membanggakan diri pada umat Buddha generasi yang akan datang)
      3. Sikap bersamadhi
        1. Rileks, duduk bersila (bersilang kaki) dan tumpuan kedua tangan di atas pangkuan
        2. Memusatkan pikiran kita kepada obyek meditasi yang biasanya cocok untuk kita gunakan, misalnya pernafasan, sifat-sifat luhur Sang Tiratana, Empat Keadaan Batin yang Luhur (Brahma Vihara), dan sebagainya.
    9. Cara melakukan upacara yang benar
      1. Mengerti akan makna upacara seperti yang telah diuraikan di atas
      2. Setiap melakukan upacara harus benar-benar memahami apa yang dilakukan, bukan semata-mata tradisi yang mengikat yang tidak membawa kita pada pembebasan (Silabbataparamasa-samyojjana)
    Sumber : www.samaggi-phala.or.id
    Share:

    Māgha Puja

     on  with No comments 
    In  
    Māgha merupakan salah satu nama bulan dalam penanggalan di India kuno. Biasanya bulan Māgha ini jatuh antara bulan Februari dan Maret. Māgha Pūjā berarti puja/peringatan yang berhubungan dengan bulan Māgha. Māgha Pūjā yang kita peringati ini terjadi sembilan bulan setelah Pangeran Siddhartha mencapai penerangan sempurna di bulan Waisak. Hari suci Māgha Puja memperingati empat peristiwa penting, yaitu :
    1. Seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu datang berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
    2. Mereka semuanya telah mencapai tingkat kesucian arahat.
    3. Mereka semuanya memiliki enam abhinna.
    4. Mereka semua ditabiskan oleh Sang Buddha dengan ucapan “Ehi Bhikkhu”.
    Peristiwa penting ini dinamakan Caturangga-sannipata, yang berarti pertemuan besar para arahat yang diberkahi dengan empat faktor, yaitu seperti tersebut di atas. Peristiwa penting ini terjadi hanya satu kali dalam kehidupan Sang Buddha Gotama, yaitu pada saat purnama penuh di bulan Magha (Februari), tahun 587 Sebelum Masehi ( sembilan bulan setelah Sang Buddha mencapai Bodhi). Pada waktu itu, seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu datang secara serempak pada waktu yang bersamaan, tanpa adanya undangan dan perjanjian sebelumnya ke tempat kediaman Sang Buddha di vihara Veluvana (Veluvanarama, yang berarti hutan pohon bambu) di kota Rajagaha. Mereka datang dengan tujuan untuk memberi hormat kepada Sang Buddha sekembalinya mereka dari tugas menyebarkan Dhamma dan melaporkan hasil penyebaran Dhamma yang telah mereka lakukan tersebut.

    Para bhikkhu yang berkumpul pada peristiwa Magha Puja itu telah mencapai tingkat kesucian yang tertinggi, yaitu arahat. Mereka telah berhasil membasmi semua kilesa atau kekotoran batinnya sampai keakar-akarnya, sehingga mereka dikatakan telah khinasava atau bersih dari kekotoran batin. Mereka tidak mungkin lagi berbuat salah. Mereka telah sempurna.

    Mereka memiliki abhinna atau kemampuan batin yang lengkap yang berjumlah enam jenis, yaitu :
    1. Pubbenivasanussatinana, yang berarti kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang dahulu.
    2. Dibbacakkhunana, yang berarti kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan kesanggupan melihat muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan karmanya masing-masing (mata dewa).
    3. Asavakkhayanana, yang berarti kemampuan untuk memusnahkan asava atau kekotoran batin.
    4. Cetoporiyanana, yang berarti kemampuan untuk membaca pikiran makhluk-makhluk lain.
    5. Dibbasotanana, yang berarti kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam apaya, alam manusia, alam dewa, dan alam brahma yang dekat maupun yang jauh.
    6. Iddhividhanana, yang berarti kekuatan magis, yang terdiri dari :
    1. Adhittana-iddhi, yang berarti kemampuan mengubah tubuh sendiri dari satu menjadi banyak dan dari banyak menjadi satu.
    2. Vikubbana-iddhi, yang berarti kemampuan untuk “menyalin rupa “, umpamanya menyalin rupa menjadi anak kecil, raksasa membuat diri menjadi tidak tertampak.
    3. Manomaya-iddhi, yang berarti kemampuan mencipta dengan menggunakan pikiran, umpamanya menciptakan harimau, pohon, dewi.
    4. Nanavipphara-iddhi, yang berarti pengetahuan menembus ajaran.
    5. Samadhivipphara-iddhi, yang berati kemampuan konsentrasi, seperti:
    • Kemampuan menembus dinding, tanah, dan gunung.
    • Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam kedalam air.
    • Kemampuan berjalan diatas air.
    • Kemampuan melawan air.
    • Kemampuan terbang di angkasa.

    Para bhikkhu yang berkumpul pada peristiwa Magha Puja itu semuanya ditabiskan oleh Sang Buddha dengan cara “Ehi Bhikkhu Upasampada”. Pada saat pentahbiskan itu, Sang Buddha mengucapkan kata-kata sebagai berikut :
    “ Mari (Ehi) Bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan jelas. Laksanakan penghidupan suci dan singkirkan penderitaan.”

    Pada kesempatan agung itu, Sang Buddha menerangkan prinsip-prinsip ajaran yang disebut Ovada Patimokkha. Isi dari Ovada Patimokkha itu sama dengan syair yang tercantum dalam kitab suci Dhammapada bab XIV ayat 183, 184, dan 185 yaitu sebagai berikut :

    Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā
    Nibbānaṁ paramaṁ vadanti buddhā
    Na hi pabbajito parūpaghātῑ
    Samaṇo hoti paraṁ viheṭhayanto

    Sabbapāpassa akaraṇaṁ
    Kusalassūpasampadā
    Sacittapariyodapanaṁ
    Etam buddhāna sāsanaṁ

    Anūpavādo anūpaghāto
    Pāṭimokkhe ca saṁvaro
    Mattaññutā ca bhattasmiṁ
    Pantañca sayanāsanaṁ
    Adhicitte ca āyogo
    Etaṁ buddhāna sāsananti

    Kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi.
    “ Nibbana adalah yang tertinggi,” begitulah sabda para Buddha.
    Dia yang masih menyakiti orang lain,
    Sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

    Janganlah berbuat kejahatan,
    Perbanyaklah perbuatan baik,
    Sucikan hati dan pikiran,
    Inilah ajaran para Buddha.

    Tidak menghina, tidak menyakiti,
    Mengendalikan diri sesuai dengan peraturan,
    Makanlah secukupnya,
    Hidup di tempat yang sunyi,
    Dan giat mengembangkan batin nan luhur,
    Inilah ajaran para Buddha.

    Ovādapāṭimokkha yang dibabarkan Sang Buddha merupakan nasehat tentang cara hidup luhur bagi para samana/para bhikkhu. Hidup luhur adalah hidup yang bebas dari segala noda batin yakni; kāmāsava (noda batin berupa nafsu indria), bhavāsava (noda batin berupa kesenangan kemenjadian), avijjāsava (noda batin berupa ketidaktahuan). Untuk membebaskan diri dari segala noda batin adalah dengan pengembangan sῑla, samādhi, dan paññā.

    Sῑla, samādhi, dan paññā akan berkembang dengan maju jika dilandasi dengan praktik kesabaran. Tanpa adanya kesabaran, sīla, samādhi, dan paññā sulit untuk dikembangkan. Oleh karena itu, Guru Agung kita meletakkan kesabaran, dalam syair paling awal. Mengingat bahwa kunci dasar untuk melatih diri, menahan diri serta mengembangkan diri adalah dengan praktik kesabaran.

    Bagi kita umat Buddha, setiap kali kita memperingati Māgha Pūjā, kita seolah-olah diingatkan kembali tentang kesabaran, karena mengingat betapa pentingnya manfaat memiliki kesabaran.

    Pada saat sulit, saat ada masalah, jalan untuk menghadapinya adalah dengan mempraktikkan sikap hidup yang sabar. Orang yang sabar adalah orang yang tahan terhadap penderitaan yang dialami.

    Kesabaran sulit dimiliki, jika di dalam diri seseorang masih ada nafsu keinginan. Kesabaran muncul dengan mengembangkan kesadaran dan kebijaksanaan. Sabar berarti juga berhati-hati, tidak gegabah, dan juga bisa mengendalikan diri.

    Semoga kita semua dapat mempraktikkan kesabaran dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita selalu hidup bahagia.

    Pesan terakhir Sang Buddha:
    Handadāni bhikkhave amantayāmi vo,
    Vaya dhammā saṅkhārā,
    Appamādena sampādethāti.

    ”Kini, oh para bhikkhu, Kuberitahukan kepadamu bahwa; segala sesuatu yang muncul dari perpaduan faktor pembentuk sewajarnya mengalami kehancuran. Sempurnakanlah tugas kalian tanpa lengah.”

    Pada peristiwa Suci Magha Puja itu, Sang Buddha juga memberitahukan pengangkatan Arahat Sariputta dan Arahat Moggallana sebagai siswa Utama Beliau (Aggasavaka) dalam Sangha Bhikkhu.
    Share:

    Rabu, 06 Februari 2013

    Sifat Dhamma

     on  with No comments 
    In ,  
    Sifat Dhamma[1]
    oleh Ajahn Chah

    Kadang-kadang, ketika pohon buah mekar, angin lemut bergerak dan menjatuhkan bunga ke tanah. Beberapa yang tersisa tumbuh menjadi buah hijau kecil. Angin bertiup dan beberapa dari buah itu, juga jatuh! Yang lain mungkin menjadi buah atau hampir matang, atau bahkan sepenuhnya matang, sebelum jatuh.

    Dan demikian pula dengan manusia. Seperti bunga dan buah dengan angin, mereka juga jatuh dalam berbagai tahap kehidupan. Beberapa orang meninggal saat masih di dalam rahim, yang lain hanya dalam beberapa hari setelah lahir. Beberapa orang hidup selama beberapa tahun kemudian meninggal, tidak pernah mencapai kematangan. Pria dan wanita meninggal dalam masa muda mereka. Dan yang lain mencapai usia lanjut sebelum mereka meninggal.

    Ketika merenungkan tentang manusia, mempertimbangkan sifat buah dengan angin: keduanya sangat tidak pasti.

    Ketidakpastian sifat hal-hal ini juga dapat dilihat dalam kehidupan monastik. Beberapa orang datang ke biara berniat untuk ditahbiskan tetapi mengubah pikiran mereka dan meninggalkannya, beberapa dengan kepala yang sudah dicukur. Lainnya sudah pemula, maka mereka memutuskan untuk meninggalkan kehidupan biara. Beberapa menahbiskan hanya satu masa vassa kemudian lepas jubah. Sama seperti buah dengan angin - semua sangat tidak pasti!

    Pikiran kita juga sama. Sebuah kesan mental muncul, mendorong dan menarik di pikiran, maka pikiran jatuh - seperti buah.

    Sang Buddha memahami ketidakpastian hal-hal ini. Sang Buddha mengamati fenomena buah dengan angin dan tercermin pada para bhikkhu dan samanera murid-muridnya. Sang Buddha menemukan bahwa mereka juga, pada dasarnya memiliki sifat yang sama - pasti! Bagaimana hal itu bisa terjadi sebaliknya? Ini hanyalah jalan dari segala sesuatu.

    Jadi, untuk orang yang berlatih dengan kesadaran, tidak perlu untuk memiliki seseorang untuk menasihati dan mengajar semua yang banyak untuk dapat melihat dan memahami. Contohnya adalah kasus Sang Buddha yang dalam kehidupan sebelumnya, adalah Raja Mahajanaka. Dia tidak perlu belajar sangat banyak. Semua yang Buddha lakukan adalah mengamati pohon mangga.

    Suatu hari, saat mengunjungi taman dengan pengiringnya menteri, dari atas gajah, ia mengamati beberapa pohon mangga yang sangat penuh dengan buah yang matang. Tidak bisa berhenti pada saat itu, ia bertekad dalam pikirannya untuk kembali lagi nanti untuk mengambil beberapa bagian dari pohon itu. Sedikit yang ia tahu, bahwa menterinya yang datang bersama di belakang, menjadi rakus dan mengumpulkan semua buah, sang mentri menggunakan tiang untuk menjatuhkan mangga-mangg itu, memukul dan mematahkan cabang dan menjatuhkan daun-daun.

    Kembali dimalam hari ke hutan mangga, raja sudah membayangkan dalam pikirannya rasa lezat dari mangga, tiba-tiba ia menemukan bahwa mangga-mangga itu sudah tidak ada, benar-benar selesai! Dan bukan hanya itu, tetapi cabang dan daun telah benar-benar meronta-ronta dan tersebar. Raja, cukup kecewa dan marah, kemudian melihat lagi pohon mangga terdekat dengan daun dan cabang masih utuh. Dia bertanya-tanya mengapa?? Dia kemudian menyadari karena pohon itu tidak memiliki buah. Jika pohon tidak buah, tidak ada yang mengganggunya sehingga daun dan cabang-cabangnya tidak rusak. Pelajaran ini diserapnya dalam pikiran sepanjang perjalanan kembali ke istana: '' Ini tidak menyenangkan, menyusahkan dan sulit untuk menjadi seorang raja. Hal ini membutuhkan perhatian konstan untuk semua rakyatnya. Bagaimana jika ada upaya untuk menyerang, menjarah dan merebut kerajaannya'' Dia tidak bisa beristirahat dengan damai. Bahkan dalam tidurnya ia terganggu oleh mimpi.

    Dia melihat dalam pikirannya, sekali lagi, pohon mangga tanpa buah, daun dan cabang yang tidak rusak. ''Jika kita menjadi mirip dengan pohon mangga'', Dia berpikir,'' kami'' daun'' dan'' cabang'', juga tidak akan rusak”.

    Dalam kamarnya ia duduk dan bermeditasi. Akhirnya, ia memutuskan untuk ditahbiskan sebagai seorang bhikkhu, yang telah terinspirasi oleh pelajaran dari pohon mangga. Dia membandingkan dirinya dengan pohon mangga dan menyimpulkan bahwa jika seseorang tidak terlibat dalam cara-cara dunia, seseorang akan benar-benar independen, bebas dari kekhawatiran atau kesulitan. Pikiran tidak akan terganggu. Membayangkan itu, ia ditahbiskan.

    Sejak saat itu, di mana pun ia pergi, ketika ditanya siapa gurunya, ia akan menjawab,'' Sebuah pohon mangga''. Dia tidak perlu menerima pengajaran yang banyak. Sebuah pohon mangga adalah penyebab kesadaran kepada Opanayiko-Dhamma, ke dalam pengajaran terkemuka. Dan dengan kesadaranini, ia menjadi seorang biarawan, orang yang memiliki sedikit kekhawatiran, yang puas dengan yang sedikit, dan yang senang dalam kesendirian. Status kerajaannya menyerah, pikirannya akhirnya damai.

    Dalam kisah ini Sang Buddha adalah seorang Bodhisatta yang mengembangkan praktek dengan cara ini terus menerus. Seperti Buddha sebagai Raja Mahajanaka, kita juga harus melihat di sekitar kita dan menjadi jeli karena segala sesuatu di dunia siap untuk mengajar kita.

    Dengan bahkan kebijaksanaan intuitif sedikit, kita kemudian akan mampu melihat dengan jelas melalui cara-cara dunia. Kemudian kita akan mengerti bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah seorang guru. Pohon-pohon dan tanaman merambat, misalnya, semua bisa mengungkapkan sifat sejati dari realitas. Dengan kebijaksanaan, tidak perlu mempertanyakan siapa pun, tidak perlu belajar. Kita bisa belajar dari alam yang cukup untuk menjadi tercerahkan, seperti dalam kisah Raja Mahajanaka, karena semuanya mengikuti jalan kebenaran. Ini tidak menyimpang dari kebenaran.

    Terkait dengan kebijaksanaan ketenangan diri dan menahan diri, pada gilirannya, dapat menyebabkan wawasan lebih jauh ke dalam sifat alam. Dengan cara ini, kita akan dapat untuk mengetahui kebenaran hakiki dari segala sesuatu yang bersifat ''anicca-dukkha- anatta-[2]''. Ambil pohon, sebagai contoh, semua pohon di bumi adalah sama, adalah Satu, bila dilihat dari realitas ''anicca-dukkha-anatta-''. Pertama, mereka datang menjadi ada, kemudian tumbuh dan dewasa, terus berubah, sampai mereka mati akhirnya mati sebagai pohon menjadi keharusan.

    Dengan cara yang sama, orang dan hewan yang lahir, tumbuh dan berubah selama masa hidupnya sampai mereka akhirnya mati. Perubahan beraneka ragam yang terjadi selama transisi dari lahir sampai mati menunjukkan Jalan Dhamma. Artinya, segala sesuatu tidak kekal, memiliki pembusukan dan pembubaran sebagai kondisi alami mereka.

    Jika kita memiliki kesadaran dan pemahaman, jika kita belajar dengan kebijaksanaan dan perhatian, kita akan melihat Dhamma sebagai realitas. Dengan demikian, kita melihat orang-orang sebagai ambang terus-menerus lahir, berubah dan akhirnya berlalu. Setiap orang tunduk pada siklus kelahiran dan kematian, dan karena ini, semua orang di alam semesta adalah sebagai satu. Dengan demikian, melihat satu orang dengan jelas dan jelas adalah sama dengan melihat setiap orang di dunia.

    Dengan cara yang sama, semuanya adalah Dhamma. Tidak hanya hal-hal yang kita lihat dengan mata fisik kita, tetapi juga hal-hal yang kita lihat dalam pikiran kita. Sebuah pikiran muncul, lalu berubah dan mati. Ini adalah ''nama dhamma'', hanya kesan mental yang muncul dan meninggal dunia. Ini adalah sifat sesungguhnya dari pikiran. Secara keseluruhan, ini adalah kebenaran mulia Dhamma. Jika salah satu tidak terlihat dan diamati dengan cara ini, seseorang tidak benar-benar melihat! Jika seseorang melihat, seseorang akan memiliki kebijaksanaan untuk mendengarkan Dhamma yang dicanangkan oleh Sang Buddha.

    Dimana Buddha?
    Sang Buddha adalah dalam Dhamma.
    Dimana Dhamma?
    Dhamma adalah Sang Buddha.
    Di sini, sekarang!
    Dimana Sangha?
    Sangha adalah dalam Dhamma.

    Sang Buddha, Dhamma dan Sangha ada dalam pikiran kita, tapi kita harus melihatnya dengan jelas. Beberapa orang hanya memandang dengan santai dan berkata,'' Oh! Sang Buddha, Dhamma dan Sangha ada di pikiran saya''. Namun praktek mereka sendiri tidak cocok atau sesuai. Dengan demikian tidak cocok bahwa Buddha, Dhamma dan Sangha harus ditemukan dalam pikiran mereka, yaitu karena pikiran pertama harus mengetahui yang mana Dhamma.

    Membawa semuanya kembali ke titik Dhamma, kita akan mengetahui bahwa, di dunia, kebenaran memang ada, dan dengan demikian adalah mungkin bagi kita untuk berlatih untuk menyadari hal itu.

    Misalnya, adalah '' nama dhamma”, perasaan, pikiran, imajinasi, dll, semua tidak pasti. Ketika kemarahan muncul, tumbuh dan berubah dan akhirnya menghilang. Kebahagiaan, juga muncul, tumbuh dan berubah dan akhirnya menghilang. Mereka adalah kosong. Mereka tidak. Ini adalah cara segala sesuatu, baik secara mental dan material. Secara internal, ada tubuh dan pikiran ini. Secara eksternal, ada pohon-pohon, tanaman merambat dan segala macam hal yang menampilkan hukum universal ketidakpastian ini.

    Apakah pohon, gunung atau binatang, itu semua Dhamma, semuanya Dhamma. Dimana Dhamma ini? Berbicara secara sederhana, that which is not Dhamma doesn't exist. Dhamma is nature. Ini disebut ''Sacca Dhamma'', Dhamma Sejati. Jika seseorang melihat alam, orang melihat Dhamma, jika seseorang melihat Dhamma, orang melihat alam. Melihat alam, salah satu Dhamma.

    Dan demikian, apa gunanya banyak penelitian tentang realitas kehidupan, dalam setiap momen, dalam setiap aksinya, hanya sebuah siklus tanpa akhir dari kelahiran dan kematian? Jika kita sadar dan jelas menyadari ketika di semua postur (duduk, berdiri, berjalan, berbaring), maka pengetahuan diri siap untuk dilahirkan, yaitu mengetahui kebenaran Dhamma sudah ada di sini dan sekarang.

    Saat ini, Sang Buddha, Buddha yang sebenarnya, masih hidup, karena Dia adalah Dhamma itu sendiri, ''Sacca Dhamma''. Dan ''Sacca Dhamma”, apa yang memungkinkan seseorang untuk menjadi Buddha, masih ada. Ia tidak pergi kemana-man! Hal ini menimbulkan dua Buddha: satu di tubuh dan yang lain dalam pikiran.
    '' The real Dhamma'', Sang Buddha berkata kepada Ananda, dapatkah hanya diwujudkan melalui praktek. Siapapun yang melihat Buddha, melihat Dhamma. Dan bagaimana ini? Previously, no Buddha existed; it was only when Siddhattha Gotama [3] realized the Dhamma that he became the Buddha.

    Jika kita menjelaskannya dengan cara ini, maka Ia adalah sama seperti kita. Jika kita menyadari Dhamma, maka kita juga akan menjadi Buddha. Ini disebut Buddha dalam pikiran atau ''Nama Dhamma''

    Kita harus berhati-hati terhadap segala sesuatu yang kita lakukan, karena kita menjadi pewaris dari perbuatan kita sendiri baik atau jahat. Dalam berbuat baik, kita menuai baik. Dalam melakukan kejahatan, kita menuai kejahatan. Semua harus Anda lakukan adalah melihat ke dalam kehidupan sehari-hari anda untuk mengetahui bahwa ini adalah benar. Siddhattha Gotama tercerahkan dengan realisasi kebenaran ini, dan ini menimbulkan munculnya seorang Buddha di dunia. Demikian juga, jika masing-masing dan setiap praktek orang untuk mencapai kebenaran ini, maka mereka juga akan berubah menjadi Buddha.

    Dengan demikian, Sang Buddha masih ada. Beberapa orang sangat senang mengatakan, ''Jika Sang Buddha masih ada, maka saya dapat berlatih Dhamma'' Itu adalah bagaimana Anda harus melihatnya!.

    Buddha menyadar bahwa Dhamma yang ada secara permanen di dunia. Hal ini dapat dibandingkan dengan air tanah yang permanen yang ada di tanah. Ketika seseorang ingin menggali sebuah sumur, ia harus menggali cukup dalam untuk mencapai air tanah. Air tanah yang sudah ada. Dia tidak menciptakan air, dia hanya menemukan itu. Demikian pula, Sang Buddha tidak menciptakan Dhamma, tidak dekrit Dhamma. Dia hanya mengungkapkan apa yang sudah ada. Melalui kontemplasi, Sang Buddha melihat Dhamma. Oleh karena itu, dikatakan bahwa Buddha tercerahkan, untuk pencerahan adalah mengetahui Dhamma. Dhamma adalah kebenaran dari dunia ini. Melihat hal ini, Siddhattha Gotama disebut Sang Buddha. Dan Dhamma adalah yang memungkinkan orang lain untuk menjadi seorang Buddha,''Satu-yang-tahu'', orang yang tahu Dhamma.

    Jika makhluk memiliki perilaku yang baik dan setia kepada Buddha-Dhamma, maka makhluk-makhluk tidak akan pernah kekurangan kebajikan dan kebaikan. Dengan pemahaman, kita akan melihat bahwa kita benar-benar tidak jauh dari Sang Buddha, duduk berhadapan muka dengan dengan Sang Buddha. Ketika kita memahami Dhamma, maka pada saat itu kita akan melihat Sang Buddha.

    Jika seseorang benar-benar berlatih, seseorang akan mendengar Buddha-Dhamma apakah duduk di akar pohon, berbaring atau apapun posturnya. Ini bukanlah sesuatu yang hanya dipikirkan Hal ini muncul dari pikiran yang murni. Hanya mengingat kata-kata tidak cukup, karena ini tergantung pada melihat Dhamma itu sendiri, tidak ada yang lain selain ini. Jadi kita harus bertekad untuk berlatih untuk dapat melihat ini, dan kemudian praktek kita akan benar-benar lengkap. Di mana pun kita duduk, berdiri, berjalan atau berbaring, kita akan mendengar Buddha Dhamma.

    Dalam rangka untuk praktek pengajaran-Nya, Sang Buddha mengajarkan kita untuk hidup di tempat yang tenang sehingga kita dapat belajar untuk mengumpulkan dan menahan indera mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran. Ini adalah dasar untuk latihan kita karena ini adalah tempat di mana segala sesuatu muncul, dan hanya di tempat ini. Jadi kita mengumpulkan dan menahan enam indra untuk mengetahui kondisi yang muncul di sana. Semua kebaikan dan kejahatan muncul melalui enam indera. Mereka adalah bagian dominan dalam tubuh. Mata adalah dominan dalam melihat, telinga untuk mendengar, hidung mencium dalam, lidah dalam mencicipi, tubuh dalam menghubungi pikiran panas, dingin, keras dan lembut, dan timbul dalam gambaran mental. Semua yang tersisa untuk kita lakukan adalah untuk membangun praktek kita di seluruh titik-titik. Praktek ini mudah karena semua yang diperlukan sudah ditetapkan oleh Sang Buddha. Hal ini sebanding dengan Buddha menanam di kebun dan mengundang kita untuk mengambil bagian dari buahnya. Kita, diri kita sendiri, tidak perlu menanamnya.

    Apakah menyangkut moralitas, meditasi atau kebijaksanaan, tidak perlu untuk membuat keputusan atau berspekulasi, karena semua yang kita perlu lakukan adalah mengikuti hal-hal yang sudah ada dalam ajaran Sang Buddha.

    Oleh karena itu, kita adalah makhluk yang memiliki banyak manfaat dan nasib baik setelah mendengar ajaran Sang Buddha. Kebun sudah ada, buah yang sudah matang. Semuanya sudah lengkap dan sempurna. Semua yang kurang adalah seseorang untuk mengambil bagian dari buah, seseorang dengan keyakinan yang cukup untuk berlatih!

    Kita harus mempertimbangkan bahwa pahala dan keberuntungan yang sangat berharga. Semua yang kita perlu lakukan adalah melihat sekeliling untuk melihat berapa banyak makhluk lain yang memiliki sedikit keberuntungan, seperti anjing, babi, ular dan makhluk lainnya misalnya. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk belajar Dhamma, tidak ada kesempatan untuk mengenal Dhamma, tidak ada kesempatan untuk berlatih Dhamma. Ini adalah makhluk yang memiliki sedikit keberuntungan yang menerima pembalasan karma. Ketika seseorang tidak memiliki kesempatan untuk belajar, untuk mengetahui, untuk mempraktekkan Dhamma, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk bebas dari Penderitaan.

    Sebagai manusia kita tidak boleh membiarkan diri kita menjadi korban nasib tidak baik, kehilangan sikap yang tepat dan disiplin. Jangan menjadi korban sedikit keberuntungan! Artinya, tanpa satu harapan untuk mencapai jalan Kebebasan untuk Nibbana, tanpa harapan untuk mengembangkan kebajikan. Jangan berpikir bahwa kita sudah tanpa harapan! Dengan berpikir dengan cara itu, kita kemudian akan menjadi memiliki sedikit keberuntungan yang sama dengan makhluk lainnya.

    Kita adalah makhluk yang datang dalam lingkup pengaruh dari Sang Buddha. Jadi kita manusia yang sudah cukup dengan sumber daya. Jika kita memperbaiki dan mengembangkan pemahaman kita, pendapat dan pengetahuan di masa sekarang, maka akan membawa kita untuk berperilaku dan berlatih sedemikian rupa untuk melihat dan mengetahui Dhamma dalam kehidupan sekarang sebagai manusia.

    Kita dengan demikian berbeda dari makhluk lain, makhluk yang harus tercerahkan dengan Dhamma. Sang Buddha mengajarkan bahwa pada saat sekarang ini, Dhamma ada di sini di depan kita. Sang Buddha duduk dihadapan kita sekarang! Apakah perlu waktu lain untuk kita melihatnya?
    Jika kita tidak berpikir benar, jika kita tidak berlatih dengan benar, kita akan jatuh kembali menjadi hewan atau makhluk di Neraka atau hantu kelaparan atau demons [4]. Bagaimana ini? Coba lihat dalam pikiran Anda. Ketika kemarahan muncul, apa itu? Itu dia, lihat saja! Ketika delusi muncul, apa itu? Itu saja, di sana! Ketika keserakahan muncul, apa itu? Lihatlah di sana!


    Dengan tidak mengakui dan jelas memahami kesadaran mental, perubahan pikiran dari seorang manusia. Semua kondisi dalam keadaan menjadi. Menjadi menimbulkan kelahiran atau eksistensi sebagaimana ditentukan oleh kondisi sekarang. Dengan demikian kita menjadi dan ada sebagai kondisi pikiran kita.

    [1] .... Disampaikan kepada murid-murid Barat di Forest Monastery Wai Bung selama masa vassa tahun 1977, hanya salah satu bhikkhu senior telah lepas jubah dan meninggalkan biara

    [2] .... anatta Anicca dukkha-anatta-: tiga karakteristik eksistensi, yaitu: ketidakkekalan / ketidakstabilan, menderita / ketidakpuasan, dan bukan diri / impersonality.

    [3].... Siddhattha Gotama: nama asli dari Buddha historis. (Buddha,'' satu-yang-tahu,'' juga merupakan keadaan pencerahan atau Kebangkitan)

    [4].... Demons Menurut Buddha makhluk yang lahir di salah satu dari delapan kondisi dengan keberadaan tergantung pada kamma mereka. Termasuk tiga alam surgawi (di mana kebahagiaan dominan), alam manusia, dan keempat disebutkan  Alam menyedihkan atau alam neraka (di mana penderitaan dominan). Ajahn Chah selalu menekankan bahwa kita harus melihat kondisi-kondisi dalam pikiran kita sendiri pada saat ini. Sehingga tergantung pada kondisi pikiran, kita dapat mengatakan bahwa kita terus dilahirkan di kondisi-kondisi yang berbeda. Misalnya, ketika pikiran sedang terbakar dengan kemarahan maka kita telah jatuh dari keadaan manusia dan telah lahir di neraka di sini dan sekarang ini.

    sumber: ajahnchah.org

    catatan:
    that which is not Dhamma doesn't exist. Dhamma is nature

    Previously, no Buddha existed; it was only when Siddhattha Gotama realized the Dhamma that he became the Buddha saya tidak bisa memahami kalimat ini dan tidak menemukan kalimat yang tepat untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
    Share:

    Minggu, 03 Februari 2013

    Pandangan Sang Buddha Tentang Makan Daging

     on  with No comments 
    In  
    Pandangan Sang Buddha Tentang Makan Daging
    Oleh Bhikkhu Dhammavuddho Mahathera 

    Makan daging merupakan topik yang sangat sensitif. Ada beragam pandangan tentang makan daging dan setiap pandangan mungkin benar pada batas tertentu, tetapi pandangan-pandangan tersebut mungkin saja tidak bijaksana. Dalam hal ini, kita harus mengesampingkan pandangan pribadi kita dan bersikap lebih terbuka untuk melihat pandangan Sang Buddha. Hal ini penting sekali karena Beliau adalah Tathagata yang mengetahui dan melihat. Sutta dan Vinaya akan menjadi sumber referensi kita karena di AN 4.180, Sang Buddha berkata bahwa jika bhikkhu tertentu mengatakan sesuatu, yang diklaim sebagai sabda Sang Buddha, maka perkataan tersebut haruslah dibandingkan dengan Sutta (kumpulan khotbah) dan Vinaya (disiplin kebhikkhuan). Jika perkataan tersebut sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kita dapat menerimanya sebagai sabda Sang Buddha.

    Pertimbangan selanjutnya adalah Sutta dan Vinaya mana yang menjadi acuan kita? Walaupun berbagai mazhab Buddhis mempunyai penafsiran yang berbeda tentang ajaran Sang Buddha, umumnya semua setuju bahwa empat Nikaya (Kumpulan-kumpulan), yaitu, Dīgha Nikāya, Majjhima Nikāya, Saṃyutta Nikaya, dan Aṅguttara Nikāya, dan beberapa buku dari Khuddhaka Nikaya, adalah khotbah-khotbah tertua otentik Sang Buddha. Lebih lanjut, buku-buku kumpulan tertua ini konsisten secara keseluruhannya, mengandung rasa pembebasan, sementara buku-buku belakangan terkadang berisikan ajaran yang kontradiktif.

    Buku-buku Vinaya dari berbagai mazhab Buddhis semuanya cukup serupa dengan Vinaya Theravada. Untuk alasan ini, Sutta-sutta kumpulan tertua dan Vinaya Theravada akan menjadi sumber referensi kita.

    Referensi Sutta
    Majjhima Nikāya 55
    Khotbah ini penting sekali karena disini Sang Buddha menyatakan dengan jelas pendapat Beliau tentang makan daging. Tabib Raja, Jivaka Komarabhacca, datang mengunjungi Sang Buddha. Setelah memberi penghormatan, dia berkata: “Yang Mulia, saya telah mendengar hal ini: ‘Mereka menyembelih makhluk hidup untuk Samana Gotama (yaitu Sang Buddha); Samana Gotama dengan sadar memakan daging yang dipersiapkan kepadanya dari binatang yang dibunuh untuk dirinya’...”; dan bertanya apakah hal ini memang benar.

    Sang Buddha menyangkali hal ini, menambahkan “Jivaka, saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging tidak diijinkankan untuk dimakan: apabila dilihat, didengar atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) ... Saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging diijinkan untuk dimakan: ketika tidak dilihat, didengar, atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) ....”

    Lebih lanjut, Sang Buddha menambahkan: “Jika seseorang menyembelih suatu makhluk hidup untuk Tathagata (yaitu Sang Buddha) atau para siswanya, dia menimbun banyak kamma buruk dalam lima hal ...
    (i) Ketika dia berkata: ‘Pergi dan giring makhluk hidup itu’ ...
    (ii) Ketika makhluk hidup itu menderita kesakitan dan kesedihan ketika dijerat dengan lehernya yang terikat ...
    (iii) Ketika dia berkata: ‘Pergi dan sembelihlah makhluk hidup itu’ ...
    (iv) Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih ...
    (v) Ketika dia mempersembahkan kepada Tathagata atau para siswanya dengan makanan yang tidak diijinkan .... ”

    Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Sang Buddha membedakan antara daging yang diijinkan[1] dengan tiga kondisi dan daging yang tidak diijinkan. Ini adalah kriteria yang paling penting sehubungan dengan makan daging.

    Aṅguttara Nikāya 8.12
    Jendral Siha, seorang pengikut Nigantha, beralih ke ajaran Buddha setelah dia belajar Dhamma dari Sang Buddha. Dia mengundang Sang Buddha dan rombongan bhikkhu ke rumahnya hari berikutnya untuk bersantap, dan menyediakan daging dan makanan lainnya. Para Nigantha, yang cemburu karena seorang umat awam yang terkemuka dan berpengaruh telah pergi ke perkemahan Buddha, menyebarkan rumor bahwa Jendral Siha telah membunuh seekor binatang besar dan memasaknya untuk samana Gotama, “... dan samana Gotama akan memakan daging tersebut, mengetahui bahwa daging itu memang dimaksudkan untuk dirinya, perbuatan itu dilakukan untuk kepentingannya.’

    Ketika berita ini sampai ke telinga Jendral, dia menolak tuduhan mereka, berkata: “ ... Sudah lama tuan–tuan yang terhormat ini (Nigantha) sudah berniat untuk meremehkan Buddha ... Dhamma ... Sangha: tetapi mereka tidak dapat mengganggu Yang Terberkahi dengan fitnahan kejam, kosong, bohong, yang tak benar. Tidaklah demi menopang hidup, kita dengan sengaja merampas hidup makhluk manapun.

    Ini adalah salah satu khotbah yang dengan jelas menunjukkan bahwa Sang Buddha dan bhikkhunya makan daging. Juga, kita lihat bahwa daging dari binatang yang sudah mati ketika dibeli, diijinkan untuk dimakan, tetapi tidak diijinkan apabila binatangnya masih hidup.

    Aṅguttara Nikāya 5.44
    Ini tentang seorang umat awam, Ugga, yang mempersembahkan beberapa pilihan makanan yang baik untuk Sang Buddha: di antaranya adalah daging babi yang dimasak dengan buah jujube yang diterima oleh Sang Buddha. Sekali lagi, ini jelas bahwa Sang Buddha dan para siswanya makan daging.

    Sutta Nipata 2.2
    Disini Sang Buddha mengingat kembali suatu peristiwa pada kehidupannya yang lampau pada masa Buddha Kassapa. Buddha Kassapa adalah gurunya saat itu.

    Pada suatu ketika saat seorang petapa sekte luar bertemu dengan Buddha Kassapa dan mencacinya karena makan daging, yang dikatakannya sebagai noda dibandingkan dengan konsumsi makanan vegetarian. Buddha Kassapa membalas:
    “Membunuh ... melukai .... mencuri, berbohong, menipu ... berzinah; inilah noda. Bukan makan daging.

    ... Mereka yang kasar, sombong, memfitnah, curang, jahat ... kikir ... inilah noda. Bukan makan daging. ... Kemarahan, keangkuhan, sifat keras kepala, kebencian, penipuan, keirihatian, pembualan ... inilah noda. Bukan makan daging.

    ... Mereka yang bermoral buruk, .... dengki ... congkak ... menjadi orang yang paling keji, melakukan perbuatan demikian, inilah noda. Bukan makan daging.”

    Referensi Vinaya
    Patimokkha: Pacittiya 39
    Dalam disiplin kebhikkhuan, seorang bhikkhu tidak diijinkan untuk meminta makanan khusus tertentu. Tetapi, sebuah pengecualian diijinkan di Patimokkha (peraturan kebhikkhuan) ketika bhikkhu itu sakit. Dalam keadaan ini, bhikkhu diijinkan untuk meminta produk dari susu, minyak makan, madu, gula, ikan, daging ... Dengan jelas, ikan dan daging diijinkan untuk para bhikkhu.

    Buku Kedisiplinan: Buku Keempat [2]
    Dalam Mahavagga, sepuluh jenis daging dilarang bagi para bhikkhu: manusia, gajah, kuda, anjing, hyena, ular, beruang, singa, harimau, dan macan tutul. Kita dapat menyimpulkan dari sini bahwa daging dari binatang lain diijinkan, dengan terpenuhinya tiga kondisi untuk ‘daging yang diijinkan’, misalnya daging babi, daging sapi, ayam, dan lain sebagainya.

    Buku Kedisiplinan: Buku Keempat [3]
    Sup daging yang jernih diijinkan bagi bhikkhu yang sakit.

    Buku Kedisiplinan: Buku Pertama [4]
    Beberapa bhikkhu menuruni lereng dari Puncak Burung Nasar. Mereka melihat sisa hewan yang mati terbunuh oleh singa, menyuruh umat memasaknya dan memakannya. Di lain waktu, bhikkhu yang lain melihat sisa hewan yang mati terbunuh oleh harimau ... sisa hewan yang mati terbunuh oleh macan tutul ... dan lain sebagainya ... menyuruh umat memasaknya dan memakannya. Kemudian para bhikkhu ragu apakah itu sudah termasuk mencuri. Sang Buddha memberikan pengecualian kepada mereka dengan mengatakan tidak ada pelanggaran dalam mengambil apa yang menjadi milik binatang. Sekali lagi, di sini kita melihat bahwa para bhikkhu makan daging dan Sang Buddha tidak mengkritik atau melarang hal itu.

    Buku Kedisiplinan: Buku Kedua[5]
    Ini adalah kejadian ketika Arahat bhikkhuni Uppalavanna ditawarkan sebagian daging matang. Keesokan paginya, setelah mempersiapkan daging di biara wanita, dia pergi ketempat dimana Sang Buddha sedang tinggal untuk mempersembahkan kepadanya. Seorang bhikkhu, mewakili Sang Buddha, menerima persembahan itu dan mengatakan bahwa Uppalavanna telah menyenangkan Sang Buddha.

    Jelaslah bahwa Sang Buddha memakan daging; apabila tidak, Arahat bhikkhuni Uppalavanna tidak akan mempersembahkannya.

    Buku Kedisiplinan: Buku Kelima[6]
    Bhikkhu Devadatta merencanakan untuk memecah-belah komunitas para bhikkhu dengan meminta Sang Buddha untuk menetapkan lima aturan, salah satunya adalah para bhikkhu tidak diijinkan makan ikan dan daging.

    Sang Buddha menolak, dengan berkata: “Ikan dan daging sepenuhnya murni berdasarkan tiga hal: jika tidak dilihat, didengar atau dicurigai (telah dibunuh secara khusus untuk seseorang).”

    Sang Buddha bersabda bahwa seorang bhikkhu harus mudah disokong. Jika seorang bhikkhu menolak untuk memakan jenis makanan tertentu (baik daging maupun sayuran) maka dia tidak mudah disokong. Berbagai Alasan Sang Buddha Mengijinkan Makan Daging

    Tidak Ada Kamma Langsung dari Pembunuhan
    Sang Buddha berkata: “Ikan dan daging sepenuhnya murni (parisuddha) ….” [7] artinya tidak ada kamma langsung [8] (perbuatan yang disertai kehendak) dari pembunuhan jika binatang itu tidak dilihat, didengar atau dicurigai telah dibunuh secara khusus untuk seseorang.

    Tanpa tiga kondisi ini, ada unsur kamma tak bajik dan, oleh karenanya, daging jenis itu tidak diijinkan. Walaupun Sang Buddha mengijinkan makan daging, Beliau berkata di AN 4.261 bahwa kita menciptakan kamma tak bajik jika kita secara langsung mendorong terjadinya pembunuhan, menyetujui dan berbicara dengan bangga akan hal itu. Karena itu di AN 5.177 Sang Buddha berkata bahwa seorang umat awam tidak boleh berdagang daging, yang dijelaskan di kitab komentar sebagai pengembangbiakan dan menjual babi, ternak, ayam dan lain sebagainya untuk disembelih. Demikian pula, tidak diijinkan untuk memesan, misalnya sepuluh ekor ayam untuk keesokan harinya jika sejumlah binatang tersebut dimaksudkan disembelih untuk seseorang.

    Vegetarian Tidak Cocok dengan Cara Hidup Para Bhikkhu Buddhis
    Seorang bhikkhu seyogianya pergi meminta sedekah (mengemis) untuk makanannya kecuali dia
    (i) diundang untuk bersantap,
    (ii) makanan itu dibawa ke Vihara, atau
    (iii) makanan itu dimasak di Vihara.

    Dia tidak diijinkan untuk memasak makanan, menyimpan makanan untuk keesokan harinya, atau melibatkan diri dalam kegiatan bercocok tanam untuk menyokong dirinya sendiri. Dengan begitu, mengemis adalah salah satu dari dasar /landasan dari cara hidup para bhikkhu Buddhis.

    Hal ini dapat dilihat di suatu negara Buddhis (misalnya Thailand) dimana seorang bhikkhu mempunyai kebebasan dan dukungan untuk sepenuhnya berlatih sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Di sana kita melihat bukan hanya para bhikkhu tradisi kehutanan yang pergi meminta sedekah tetapi juga para bhikkhu dari kota kecil dan besar mengemis makanan setiap hari. Karena seorang pengemis tidak pantas memilih-milih, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, vegetarianisme tidak cocok dengan cara hidup para bhikkhu Buddhis - - yang mungkin merupakan alasan lain mengapa Sang Buddha menolak permintaan Devadatta seperti yang disebutkan sebelumnya.

    Argumentasi Permintaan dan Penyediaan
    Beberapa orang beragumen bahwa walaupun dengan tiga kondisi yang disebutkan sebelumnya, seseorang pantas dicela karena makan daging menyebabkan adanya permintaan yang harus diimbangi dengan penyediaan dengan pembunuhan binatang. Dengan kata lain, makan daging dalam keadaan apapun mendorong pembunuhan binatang.

    Kita harus paham bahwa ada dua jenis sebab dan akibat :
    (i) sebab dan akibat duniawi, di mana kehendak tidak dilibatkan, dan
    (ii)kamma-vipaka Buddhis, atau tindakan yang disertai kehendak/kesengajaan dan akibatnya.

    Makan daging yang diijinkan dengan tiga kondisi melibatkan hanya sebab dan akibat duniawi, dan tidak ada kamma dari membunuh. Makan daging yang tidak diijinkan melibatkan kamma tak bajik dan, karenanya, juga vipakanya. Oleh karena itu, makan daging harus dibagi dengan jelas menjadi dua bagian.

    Argumentasi permintaan dan penyediaan tidaklah berlaku. Di bumi ini, sejumlah besar manusia [9] dan binatang-binatang yang tidak terhitung jumlahnya terbunuh oleh kendaraan bermotor setiap hari. Hanya dengan mengendarai kendaraan atau bahkan duduk di atasnya, kita mendorong industri motor untuk membuat lebih banyak kendaraan bermotor. Jika kita menggunakan argumentasi permintaan dan penyediaan, maka hanya dengan menggunakan kendaraan bermotor kita mendukung pembunuhan binatang-binatang yang tak terhitung jumlahnya dan sejumlah besar manusia di jalanan setiap hari - - yang lebih buruk daripada makan daging!

    Memang benar bahwa kita secara tidak langsung terlibat dalam pembunuhan binatang-binatang tetapi, seperti yang dijelaskan sebelumnya, tidak ada kamma-vipaka dari membunuh. Keterlibatan tidak langsung dalam pembunuhan adalah benar, jika kita makan daging maupun tidak, dan merupakan sesuatu yang tidak terelakkan. Kita akan mendiskusikannya dibawah.

    Vegetarianisme juga Mendorong Pembunuhan.
    Kita mendorong pembunuhan walau sekalipun kita berpola makan vegetarian. Setiap hari monyet, tupai, rubah, kumbang, dan hama perusak lainnya dibunuh karena mereka makan dari pohon buah yang ditanam petani. Petani sayuran juga membunuh ulat bulu, keong, cacing, belalang, semut, dan serangga lainnya, dll.. Seperti di Australia contohnya, kangguru dan kelinci dibunuh setiap hari karena mereka memakan hasil panen.

    Banyak barang yang umumnya dimanfaatkan setiap orang dengan mengorbankan nyawa berbagai makhluk hidup. Sebagai contoh, sutera dibuat dengan pengorbanan ulat sutera yang tidak terhitung jumlahnya, dan lapisan lak putih [10] dari serangga lak yang tidak terhitung jumlahnya.

    Kosmetik mengandung sejumlah besar unsur pokok hewani. Banyak zat tambahan makanan, seperti: pewarna, penyedap, pemanis, juga menggunakan unsur pokok hewani. Produk keju menggunakan dadih susu yang diekstrak dari perut anak sapi untuk mengentalkan susu.

    Produk kulit dan bulu tentunya terbuat dari kulit binatang yang dibunuh untuk tujuan ini. Film fotografis menggunakan gelatin yang diperoleh dengan mendidihkan kulit, urat daging dan tulang dari binatang. Bahkan pupuk untuk sayur-sayuran dan pohon buah sering menggunakan tulang ikan kering yang digiling, dan sisa potongan ikan lainnya. Penggunaan susu sapi dan madu juga melibatkan banyak kekejaman terhadap binatang dan serangga terkait.

    Semua ini menunjukkan bahwa sungguh sulit untuk tidak terlibat dalam satu cara atau yang lain dalam kekejaman yang terjadi pada binatang-binatang.

    Catatan:
    [1] Dengan pengecualian dari sepuluh jenis daging yang dilarang untuk para bhikkhu: manusia, gajah, kuda, anjing, hyena, ular, beruang, singa, harimau, dan macan tutul. Rujuklah pada Mahavagga, Book of the Discipline: Buku 4, halaman 298 s.d. 300. The Book of Discipline adalah terjemahan berbahasa Inggris dari kitab Vinaya (dalam Bahasa Pāḷi) oleh Pāḷi Text Society, Inggris.
    [2] Halaman 298 s.d. 300
    [3] Halaman 281
    [4] Halaman 98
    [5] Halaman 36 s.d. 38
    [6] Halaman 276 s.d. 277v
    [7] Buku Kedisiplinan: Buku 5, halaman 276 s.d. 277
    [8] Baca “Only We Can Help Ourselves” oleh pengarang tentang penjelasan dari kamma. [Telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan dipublikasikan oleh DPD Patria Sumut]
    [9] Dua ribu setiap hari menurut laporan surat kabar.
    [10] Lak digunakan untuk memproduksi banyak produk, termasuk makanan.
    Share: