Tampilkan postingan dengan label Dhammapada Bab XI Jara Vagga-Usia Tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dhammapada Bab XI Jara Vagga-Usia Tua. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Dhammapada XI : 146 - Kisah Teman-teman Visakha

 on  with No comments 
In ,  
Terdapat 500 orang pria dari Savatthi, mereka mengharapkan istri-istrinya menjadi orang yang murah hati, baik hati dan bersusila seperti Visakha. Kelima-ratus pria tersebut mengirim para istrinya kepada Visakha agar menjadi teman dekat Visakha. Pada pesta Bacchanalian yang berlangsung selama 7 hari, istri-istri tersebut mengambil semua minuman keras yang ditinggalkan suami mereka dan kemudian meminumnya tanpa diketahui oleh Visakha. Karena perbuatan yang tidak baik itu, mereka dipukuli oleh suami mereka. Pada kejadian lainnya, dikatakan bahwa mereka hendak mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka memohon agar Visakha membawa mereka kepada Sang Buddha, tetapi secara diam-diam mereka masing-masing membawa sebotol kecil minuman keras yang disembunyikan dalam bajunya.

Pada saat tiba di vihara, mereka meminum semua minuman keras yang mereka bawa dan membuang botol-botol tersebut. Visakha memohon kepada Sang Buddha untuk mengajarkan Dhamma kepada mereka. Pada saat itu, para wanita menjadi mabuk, bernyanyi dan menari, Mara mengambil kesempatan membuat mereka semakin berani dan tidak tahu malu untuk bernyanyi, menari, bertepuk tangan, melompat-lompat di dalam vihara. Sang Buddha melihat Mara yang membuat tingkah laku yang memalukan wanita-wanita tersebut.

Sang Buddha berkata pada diri sendiri, “Mara tidak boleh diberi kesempatan”. Oleh karena itu, tubuh Sang Buddha memancarkan sinar biru gelap yang menyebabkan wanita-wanita tersebut ketakutan dan mulai sadar.

Kemudian Sang Buddha menghilang dari tempat duduknya dan berdiri di atas Gunung Meru, dari tempat itu Beliau memancarkan sinar putih yang menerangi langit bagaikan diterangi seribu bulan.

Setelah itu Sang Buddha berkata kepada kelima ratus wanita tersebut, “Sebagai wanita kalian tidak seharusnya datang ke vihara dalam keadaan batin tidak sadar. Karena kalian telah lalai, Mara mendapat kesempatan membuat kalian berkelakuan yang memalukan, tertawa, menyanyi keras keras dalam vihara. Sekarang berusahalah untuk memadamkan api hawa nafsu yang terdapat dalam diri kalian.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 146 berikut: Mengapa tertawa, mengapa bergembira kalau dunia ini selalu terbakar? Dalam kegelapan, tidakkah engkau ingin mencari terang?

Lima ratus wanita itu mencapai tingkat kesucian sotapati setelah khotbah Dhamma berakhir.
Share:

Dhammapada XI : 147 - Kisah Sirima

 on  with No comments 
In ,  
Saat itu di Rajagaha tinggal seorang pelacur yang sangat cantik bernama Sirima. Setiap hari Sirima berdana makanan kepada delapan bhikkhu. Suatu ketika, salah seorang dari bhikkhu-bhikkhu itu mengatakan kepada bhikkhu lain betapa cantiknya Sirima dan setiap hari ia mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu. Mendengar hal ini, seorang bhikkhu muda langsung jatuh cinta pada Sirima meskipun belum pernah melihat Sirima.

Hari berikutnya bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikku yang lain pergi ke rumah Sirima untuk menerima dana makanan, pada hari itu Sirima sedang sakit. Tetapi karena Sirima ingin berdana makanan maka ia menerima kehadiran para bhikkhu.

Begitu bhikkhu muda tersebut melihat Sirima lalu bhikkhu muda berpikir, “Meskipun ia sedang sakit, ia sangat cantik!”

Bhikkhu muda tersebut memiliki hawa nafsu yang kuat terhadapnya. Larut malam itu, Sirima meninggal dunia. Raja Bimbisara pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahukan bahwa Sirima, saudara perempuan Jivaka, telah meninggal dunia. Sang Buddha menyuruh Raja Bimbisara membawa jenasah Sirima kekuburan dan menyimpannya di sana selama 3 hari tanpa dikubur, tetapi hendaknya dilindungi dari burung gagak dan burung hering. Raja melakukan perintah Sang Buddha. Pada hari ke 4 jenasah Sirima yang cantik sudah tidak lagi cantik dan menarik. Jenasah itu mulai membengkak dan mengeluarkan cairan dari 6 lubang.

Hari itu Sang Buddha bersama para bhikkhu pergi ke kuburan untuk melihat jenasah Sirima. Raja Bimbisara dan pengawal kerajaan juga pergi ke kuburan untuk melihat jenasah Sirima. Bhikkhu muda yang telah tergila-gila kepada Sirima tidak mengetahui bahwa Sirima telah meninggal dunia. Ketika ia mengetahui perihal itu dari Sang Buddha dan para bhikkhu yang pergi melihat jenasah Sirima, maka iapun turut serta bersama mereka.

Setelah mereka tiba di makam, Sang Buddha, para bhikkhu, raja, dan pengawalnya mengelilingi jenasah Sirima. Kemudian Sang Buddha meminta kepada Raja Bimbisara untuk mengumumkan kepada penduduk yang hadir, siapa yang menginginkan tubuh Sirima 1 malam boleh membayar 1000 tail, akan tetapi tak seorangpun yang bersedia mengambilnya dengan membayar 1000 tail, atau 500, atau 250, ataupun cuma-cuma.

Kemudian Sang Buddha berkata, “Para bhikkhu, lihat Sirima! Ketika ia masih hidup, banyak sekali orang yang ingin membayar 1000 tail untuk menghabiskan 1 malam bersamanya, tetapi sekarang tak seorangpun yang ingin mengambil tubuhnya walaupun dengan cuma-cuma. Tubuh manusia sesungguhnya subyek dari kelapukan dan kehancuran.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 147 berikut: Pandanglah tubuh yang indah ini, penuh luka, terdiri dari rangkaian tulang, berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan. Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya.

Bhikkhu muda itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.
Share:

Dhammapada XI : 148 - Kisah Uttara Theri

 on  with No comments 
In ,  
Uttara Theri yang berusia 120 tahun, pada suatu hari ia berjalan kembali dari berpindapatta. Ia bertemu dengan seorang bhikkhu, dan memohon bhikkhu itu untuk menerima persembahan dana makanannya. Tanpa pertimbangan bhikkhu tersebut menerima semua dana makanannya, sehingga Uttara harus pergi tanpa membawa makanan sedikitpun.

Hal yang sama terjadi dua hari berikutnya, sehingga selama tiga hari berturut-turut Uttara Theri tidak makan dan tubuhnya sangat lemas. Pada hari keempat, ketika ia dalam perjalanan perpindapatta, ia bertemu dengan Sang Buddha di jalan yang sempit. Ia memberi hormat kepada Beliau, kemudian berjalan mundur, secara tidak sengaja ia menginjak jubahnya sendiri dan kemudian terjatuh ke tanah dan kepalanya terluka.

Sang Buddha mendekati Uttara dan berkata, “Tubuhmu telah menjadi sangat tua dan lemah, akan segera hancur dan binasa.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 148 berikut: Tubuh ini benar-benar rapuh, sarang penyakit dan mudah membusuk. Tumpukan yang menjijikkan ini akan hancur berkeping-keping. Sesungguhnya, kehidupan ini akan berakhir dengan kematian.
Share:

Dhammapada XI : 149 - Kisah Bhikkhu-bhikkhu Adhimanika

 on  with No comments 
In ,  
Setelah lima ratus bhikkhu menerima obyek meditasi yang diberikan Sang Buddha, mereka pergi ke hutan. Di sana mereka melatih meditasi dengan bersemangat dan rajin sehingga mencapai ‘Penunggalan Kesadaran’ (jhana). Setelah mencapai jhana mereka berpikir bahwa mereka telah bebas dari hawa nafsu oleh karena itu mereka telah mencapai tingkat kesucian arahat. Pada hal kenyataannya, mereka hanya menilai dirinya sendiri berlebihan. Mereka pergi menjumpai Sang Buddha dengan maksud untuk memberitahukan tentang pencapaian kearahat-an mereka.

Ketika mereka tiba di gerbang luar vihara, Sang Buddha berkata kepada Y.A. Ananda, “Bhikkhu-bhikkhu itu tidak akan mendapat banyak manfaat apabila menemui-Ku sekarang, biarpun mereka pergi ke kuburan sekarang, baru kemudian menemui-Ku sesudahnya.”

Kemudian Ananda memberitahukan pesan Sang Buddha kepada para bhikkhu, dan mereka merenung, “Sang Buddha mengetahui segalanya, Beliau pasti mempunyai beberapa alasan agar kita pergi ke kuburan terlebih dahulu.” Maka pergilah para bhikkhu itu ke kuburan. Setelah tiba di kuburan, mereka melihat banyak mayat yang telah membusuk, kemudian mereka melihat dirinya sendiri bagaikan kerangka dan tulang belulang, dan ketika mereka melihat mayat-mayat yang baru, mereka menyadari bahwa mereka masih memiliki hawa nafsu.

Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa Beliau melihat dan muncul di hadapan para bhikkhu, kemudian Beliau berkata, “Para bhikkhu! Dengan melihat tulang belulang yang telah memutih, apakah pantas mempunyai hawa nafsu dalam dirimu?”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 149 berikut: Bagaikan labu yang dibuang pada musim rontok, demikian pula halnya dengan tulang-tulang yang memutih ini. Kesenangan apakah yang didapat dari memandangnya?

Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir
Share:

Dhammapada XI : 150 - Kisah Rupananda Theri (Janapadakalyani)

 on  with No comments 
In ,  
Janapadakalyani adalah puteri dari Gotami, ibu tiri Pangeran Siddhattha. Karena sangat cantik Puteri Janapadakalyani dikenal dengan nama Rupananda. Dia menikah dengan Nanda, saudara sepupu Pangeran Siddhattha. Pada suatu hari dia merenung, “Kakak saya yang akan menjadi raja telah meninggalkan keduniawian menjadi bhikkhu dan telah mencapai ke-Buddhaan. Rahula, anak dari kakak saya, suami saya, ibu saya, mereka semua telah meninggalkan keduniawian untuk menjadi bhikkhu dan bhikkhuni, sekarang tinggal saya sendiri di sini!”

Setelah merenung demikian dia pergi ke vihara untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhuni, bukan karena keyakinan tetapi hanya meniru orang lain dan merasa kesepian tinggal seorang diri. Setelah menjadi bhikkhuni, Rupananda sering mendengar bahwa Sang Buddha mengajarkan tentang ketidakkekalan, sehingga dia berpikir kalau dia bertemu dengan Sang Buddha pasti Beliau akan mencela kecantikannya, sehingga dia berusaha untuk menghindari perjumpaan dengan Sang Buddha. Akan tetapi karena begitu banyak orang memuji Sang Buddha, akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan Sang Buddha bersama para bhikkhuni.

Ketika Sang Buddha bertemu dengan Rupananda, Beliau berpikir, “Duri hanya dapat dikeluarkan dengan duri. Rupananda sangat melekat terhadap tubuhnya dan sangat sombong akan kecantikannya, dia harus meninggalkan kemelekatan dan kesombongan akan kecantikannya”.

Kemudian Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa menciptakan seorang anak gadis yang sangat cantik, berusia kira-kira 16 tahun dan duduk di dekatnya. Anak gadis itu hanya dapat dilihat oleh Sang Buddha dan Rupananda. Ketika Rupananda melihat anak gadis tersebut, Rupananda merasa dirinya hanyalah seekor gagak yang tua dan jelek dibandingkan dengan anak gadis itu, yang seperti seekor angsa putih. Rupananda begitu mengagumi wajah anak gadis tersebut yang cantik jelita. Tetapi ketika Rupananda memperhatikan sungguh-sungguh, dia terkejut karena anak gadis tersebut bertambah tua berusia 20, terus menerus ia memperhatikan anak gadis yang berada di samping Sang Buddha itu bertambah tua dan menjadi sangat tua. Anak gadis itu berubah dari anak gadis muda, menjadi setengah baya, tua, dan sangat tua.

Rupananda menyadari bahwa dengan timbulnya bayangan baru, bayangan lama lenyap, dan dia mulai menyadari proses perubahan yang terus menerus dan kelapukan tubuh. Dengan kesadaran ini, kemelekatan terhadap tubuhnya berkurang. Pada saat itu bayangan anak gadis yang ada di dekat Sang Buddha telah berubah menjadi wanita jompo, yang tidak dapat mengatur gerak tubuhnya lagi, terjatuh. Akhirnya bayangan wanita itu meninggal dunia. Dari tubuhnya muncul belatung, cairan tubuh keluar dari sembilan lubang, burung gagak dan pemakan bangkai mencabik-cabik bangkai itu.

Setelah melihat semua ini, Rupananda merenung, “Gadis muda itu menjadi tua dan jompo kemudian meninggal dunia di sini dihadapan mataku. Sama halnya dengan tubuhku akan menjadi tua dan rusak; akan merupakan sarang penyakit dan juga akan meninggal dunia.” Kemudian Rupananda menyadari akan corak sebenarnya kelompok kehidupan. Pada saat itu Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidak-kekalan, ketidakpuasan, dan ketanpa-intian dari kelompok kehidupan (khandha) dan Rupananda mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 150 berikut : Kota (tubuh) ini terbuat dari tulang belulang yang dibungkus oleh daging dan darah. Di sinilah terdapat kelapukan dan kematian, kesombongan dan iri hati.

Rupananda mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
Share:

Dhammapada XI : 151 - Kisah Ratu Mallika

 on  with No comments 
In ,  
Suatu hari, Mallika pergi ke kamar mandi mencuci wajah, kaki dan tangannya. Anjing peliharaannya juga masuk, ketika dia membungkuk untuk mencuci kakinya, anjing itu mencoba berhubungan kelamin dengannya, dan ratu merasa terhibur dan senang. Raja masuk melihat kejadian aneh lewat jendela kamarnya, ketika ratu masuk, dia berkata dengan marah, “Oh kamu wanita hina! Apa yang kamu lakukan dengan anjing itu di kamar mandi? Jangan menyangkal apa yang saya lihat dengan mataku sendiri.”

Ratu menjawab bahwa dia hanya mencuci muka, tangan dan kakinya, tidak melakukan kesalahan apapun. Kemudian dia melanjutkan, “Tetapi, ruangan itu sangat aneh, jika seseorang masuk ke ruangan itu, bagi orang yang melihat dari jendela ini akan muncul menjadi dua gambaran. Jika anda tidak mempercayaiku. Raja, silahkan masuk ke ruangan itu dan saya akan melihat lewat jendela.”

Raja pergi ke kamar mandi. Ketika dia keluar, Mallika bertanya kepada raja mengapa dia berlaku tidak pantas dengan seekor kambing betina di kamar itu. Raja menyangkal, tetapi ratu bersikeras bahwa dia melihat mereka dengan mata sendiri. Raja kebingungan tetapi seperti orang tolol dia menerima penjelasan dari ratu dan menyimpulkan bahwa kamar mandi itu benar-benar sangat aneh. Sajak saat itu, ratu sangat menyesal karena telah berbohong pada raja dan telah kurang ajar menuduhnya atas kelakuannya yang tidak pantas dengan seekor kambing betina.

Kelak, walaupun hampir meninggal dunia, dia melupakan kemurahan hati yang besar tiada bandingannya, yang telah diberikan kepada suaminya, dan hanya mengingat bahwa dia telah bersikap tidak jujur terhadap suaminya. Sebagai akibat dari perbuatannya, setelah meninggal dunia dia dilahirkan di alam neraka (niraya). Setelah pembakaran jenazahnya usai, raja bertanya kepada Sang Buddha, di mana dia dilahirkan kembali. Sang Buddha ingin menunda perasaan raja, dan juga tidak ingin raja berkurang keyakinannya terhadap Dhamma. Beliau mengalihkan pertanyaan itu, bahwa tidak seharusnya pertanyaan itu ditanyakan kepada Beliau sekarang ini sehingga Raja Pasenadi lupa bertanya pada Sang Buddha.

Setelah tujuh hari di alam neraka (niraya), ratu dilahirkan kembali di surga Tusita. Pada saat itu, Sang Buddha pergi ke istana Raja Pasenadi untuk menerima dana makanan. Beliau berharap dapat beristirahat di bangsal kereta tempat kereta kerajaan disimpan. Setelah mempersembahkan dana makanan, raja bertanya kepada Sang Buddha, dimana Ratu Mallika dilahirkan kembali, dan Sang Buddha menjawab, “Mallika telah dilahirkan di surga Tusita.”

Mendengar hal ini raja sangat gembira dan berkata, “Di mana lagi dia dapat dilahirkan? Dia selalu berpikir tentang perbuatan baik, selalu berpikir apa yang akan dipersembahkan kepada Sang Buddha besok hari. Bhante, sekarang ia telah pergi, saya, murid-Mu yang rendah ini, hampir tidak tahu apa yang harus dikerjakan.”

Kepada raja Sang Buddha berkata, “Lihat pada kereta ayahmu dan kakekmu, semua ini tergeletak sia-sia, sama halnya seperti tubuhmu yang menjadi sasaran kematian dan kerusakan. Hanya Dhamma yang mulia, yang tidak menjadi sasaran kehancuran.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 151 berikut: Kereta kerajaan yang indah sekalipun pasti akan lapuk, begitu pula tubuh ini akan menjadi tua. Tetapi ‘Ajaran’ (Dhamma) orang suci tidak akan lapuk. Sesungguhnya dengan cara inilah orang suci mengajarkan kebaikan.
Share:

Dhammapada XI : 152 - Kisah Laludayi Thera

 on  with No comments 
In ,  
Laludayi adalah seorang bhikkhu yang bodoh dan sangat pelupa. Dia tidak bisa mengatakan sesuatu hal sesuai dengan situasi pada saat itu, dia telah berusaha mencobanya. Pada suatu kesempatan yang berbahagia dan menguntungkan, dia berbicara tentang kesedihan, dan pada kesempatan yang menyedihkan dia membicarakan kesenangan dan kebahagiaan.

Di samping itu, dia tidak pernah menyadari bahwa dia telah mengatakan hal yang tidak sesuai dengan keadaan. Ketika berbicara tentang hal ini, Sang Buddha berkata, “Seseorang seperti Laludayi, yang memiliki sedikit pengertian sama halnya seperti seekor lembu jantan.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 152 berikut: Orang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi; dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang.
Share:

Dhammapada XI : 153 & 154 - Kata-kata Kebahagiaan Sang Buddha

 on  with No comments 
In ,  
Pangeran Siddhatta, dari keluarga Gotama, anak dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari kerajaan suku Sakya, meninggalkan keduniawian pada usia 29 tahun dan menjadi pertapa untuk mencari Kebenaran (Dhamma). Selama 6 tahun Beliau mengembara di lembah Gangga, menemui pemimpin-pemimpin agama yang terkenal untuk belajar doktrin dan metode mereka. Beliau hidup sangat sederhana dan secara ketat menjalani peraturan pertapaan yang keras; tetapi Beliau mendapatkan bahwa semua latihan itu tidak berdasar dan tidak bermanfaat.

Beliau memutuskan untuk menemukan Kebenaran dengan caranya sendiri. Dengan menghindari dua jalan ekstrim (pemuasan kenikmatan yang berlebihan dan penyiksaan diri), Beliau menemukan ‘Jalan Tengah’ yang membawa menuju kebebasan mutlak, Nibbana. Jalan Tengah (Majjhimapatipada) ini adalah Jalan Mulia Berfaktor Delapan, yaitu : Pengertian Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencarian Benar, Daya Upaya Benar, Kesadaran Benar, dan Konsentrasi Benar. Pada suatu malam duduk di bawah pohon Bodhi, di tepi sungai Neranjara, Pertapa Siddhattha Gotama mencapai `Penerangan Sempurna` (Bodhi-nana atau Sabbannuta-nana) pada usia 35 tahun.

Pada saat malam jaga pertama, Siddhattha mencapai kemampuan batin mengetahui kelahiran-kelahirannya-Nya sendiri yang lampau (Pubbenivasanussati-nana). Pada saat malam jaga kedua, Beliau mencapai kemampuan batin pengetahuan penglihatan tembus (Dibbacakkhu-nana). Kemudian pada malam jaga ketiga, Beliau memahami hukum sebab akibat yang saling bergantungan (Paticcasamuppada) dalam hal kemunculan (Anuloma) demikian pula pengakhiran (Patiloma). Menjelang fajar, Siddhattha Gotama dengan kemampuan akal-budinya, dan pandangannya yang terang mampu menembus pengetahuan `Empat Kebenaran Mulia`.

Empat Kebenaran Mulia adalah :
1. kebenaran mulia tentang penderitaan (Dukkha Ariya Sacca),
2. kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan (Dukkha Samudaya Ariya Sacca),
3. kebenaran mulia tentang akhir penderitaan (Dukkha Nirodha Ariya Sacca), dan
4. kebenaran mulia tentang jalan menuju akhir penderitaan (Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca).

Tercapai juga dalam diri Beliau, dengan segala kemurniannya, pengetahuan tentang keberadaan `kebenaran mulia` (Sacca-nana), pengetahuan tentang perlakuan yang diharapkan terhadap `kebenaran mulia` itu (Kicca-nana) dan pengetahuan tentang telah dipenuhinya perlakuan yang diharapkan terhadap `kebenaran mulia` itu (Kata-nana), dengan demikian Beliau mencapai `Sabbannuta-nana` (Bodhi-nana) dari seorang Buddha.

Sejak saat itu Beliau dikenal sebagai Buddha Gotama. Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa ketika Empat Kebenaran Mulia, dengan tiga aspek tersebut di atas (jadi keseluruhan ada 12 cara) telah benar-benar jelas bagi Beliau, barulah Sang Buddha mengumumkan kepada umat manusia, para dewa dan para brahma, bahwa beliau telah mencapai Penerangan Sempurna, dan menjadi seorang Buddha.

Pada saat pencapaian tingkat ke-Buddha-an, Beliau membabarkan syair 153 dan 154 berikut ini: Melalui banyak kelahiran dalam samsara, aku mencari pembuat rumah (tubuh) ini yang belum dapat ditemukan (karena belum mencapai Penerangan Sempurna). Kelahiran yang berulang-ulang sungguh adalah penderitaan.

O, pembuat rumah (nafsu keinginan/tanha)! Engkau telah terlihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh kerangkamu (noda batin) telah runtuh, atapmu (kebodohan) telah hancur. Batinku telah mencapai mencapai keadaan tak bersyarat (Nibbana), tercapailah akhir daripada nafsu keinginan.
Share:

Dhammapada XI : 155 & 156 - Kisah Putra Mahadhana

 on  with No comments 
In ,  
Putra Mahadhana tidak belajar ketika ia masih berusia muda, ketika menjelang dewasa dia menikah dengan putri orang kaya. Seperti dia keadaanya, isterinya juga tidak berpendidikan. Ketika orang tua kedua pihak meninggal dunia mereka mewarisi 80 nilai mata uang dari masing-masing pihak dan menjadi sangat kaya. Tetapi mereka berdua bodoh, hanya tahu menghabiskan uang dan tidak tahu bagaimana menyimpannya atau melipat gandakannya.

Mereka hanya makan, minum dan bersenang-senang, menghabiskan uang mereka dengan sia-sia. Ketika mereka telah menghabiskan semua uangnya, mereka menjual ladang mereka dan kebun serta akhirnya rumah mereka. Kemudian mereka menjadi sangat miskin dan tidak berguna. Karena tidak tahu cara mencari nafkah, mereka harus mengemis. Suatu hari, Sang Buddha melihat anak orang kaya ini bersandar di dinding vihara, mengambil sisa makanan yang diberikan oleh para samanera. Melihat itu Sang Buddha tersenyum. Yang Ariya Ananda bertanya kepada Sang Buddha mengapa Beliau tersenyum.

Sang Buddha menjawab, "Ananda, lihat kepada putera orang kaya ini, dia hidup dengan tidak berguna dan mempunyai kehidupan yang tidak bertujuan. Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap pertama kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya yang teratas, atau apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang arahat dan istrinya akan menjadi seorang anagami. Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap kedua kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya tingkat kedua; apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang anagami dan istrinya menjadi seorang sakadagami. Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap ketiga kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya tingkat ketiga; atau apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang sakadagami dan istrinya akan menjadi seorang sotapanna. karena dia tidak berbuat apa-apa dalam tiga tahap kehidupannya dia kehilangan seluruh kekayaan duniawinya, dia juga kehilangan kesempatan mencapai ‘Jalan dan hasil Kesucian’ (Magga-Phala)".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 155 dan 156 berikut: Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya.

Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, akan terbaring seperti busur panah yang rusak, menyesali masa lampaunya.
Share: