Tampilkan postingan dengan label Tokoh Buddhis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Buddhis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Y.M. Sayadaw U Waryameinda

 on  with No comments 
In  
Yang Mulia Sayadaw U Waryameinda lahir dari pasangan U Kyaw U dan Daw Shwe Mya di desa Ywadaw, dekat kota Minlha, Burma pada tanggal 25 Mei 1921. Pada usia 5 samapi 13 tahun beliau belajar dibawah bimbingan Yang Mulia Hman Kyaung Sayadaw.

Di usia 13 tahun itu pula beliau ditahbiskan sebagai samanera, calon bhikkhu dan belajar dasar-dasar Pitaka di Masoeyein Taik Vihara yang sangat terkenal di Mandalay.

Beliau lulus dari ujian samanera dasar, menengah, dan tinggi di tahun 1936, 1937, dan 1941 dengan baik. Beliau juga lulus dari ujian kelas 7 sekolah menengah bahasa Inggris ditahun 1954 dan masuk perguruan tinggi tahun 1960. umur 20 tahun beiau ditahbiskan sebagai bhikkhu dan menjadi anggota Sangha (persamuan para bhikkhu).

Yang memberi sila pada beliau saat itu adalah Y.M. U Warathapa dari kota Kyaiklat. Beliau banyak mempelajari naskah-naskah Buddhis dibawah bimbingan Y.M. Thera U Tilawka dari Pakokku Vihara. Kemudian, beliau kembali ke Hmankyaing Vihara di Minlha selama perang dunia II berlangsung.

Mulai tahun 1947, sekali lagi, Sayadaw mempelajari naskah-naskah Buddhis dari teks-teks Pali yang lebih tinggi, yakni Attagatha dan Tika serta 5 Nikaya dibawah bimbingan Y.M. U Kunneinya dari Chaukhatatkyi, Rangoon. Dan tahun 1954 beliau menjadi ketua Minlha Vihara di jalan Yedashi, Kota Bahan, Yangon.

Beliau melatih diri kemabli dengan praktek meditasi Satipatthana Vipassana di Mahasi Sasana Yeikhta menurut cara yang diajarkan Y.M. Mahasi Sayadaw Aggamahapanditha Sabhana Mahathera. Selain itu jabatan beliau adalah:
  1. Sekretaris dari asosiasi bhikkhu-bhikkhu awal kotapraja dari vihara-vihara utama di Kotapraja Bahan, Rangoon.
  2. Ketua Asosiasi Vihara Rangoon – Minlha.
  3. Kammathanacariya Sayadaw di cabang Myathalun Manhasi Sasana Yeikhta Vihara, jalan Yedashi, Kotapraja Bahan, Rangoon.
Yang Mulia Sayadaw pernah tinggal di Malaysia dari bulan Agustus 1985 sampai dengan Juni 1986. Sebagian besar waktunya dihabiskan di The Malaysian Buddhist Meditastion Center. Beliau mengunjungi tempat ini lagi pada Januari 1987. Beliau memutuskan untuk kembali ke Burma pada April 1987 karena kondisi kesehatan yang buruk. Akhirnya pada tanggal 11 Juni 1987 beliau meninggal.

Y.M. Sayadaw dipenuhi cinta kasih, welas asih, dan kesabaran yang berlimpah. Hal ini pula yang membuat beliau selalu rajin dan sadar. Beliau meyakini para muridnya bisa mengembangkan kualitas yang sama seperti dirinya. Dalam bimbingan dan memberikan petunjuk kepada para muridnya, beliau selalu menekankan untuk rajin-rajin berlatih meditasi satipathana vipassana. Terampil dalam memberikan instruksi serta penuh dengan kelembutan dalam menunjukkan jalan agara dicapai kemajuna.

Bagi para murid yang pernah memiliki kesempatan berlatih dibawah bimbingan beliau, mereka tersentuh dan terilhami oleh cara beliau dalam menegakkan disiplin dengan penuh kelembutan. Beliau juga dikenal sebagai guru yang dicintai oleh para muris-muridnya. Dan selalu bersungguh-sungguh dalam menguraikan dhamma agar mudah dimengerti serta diambil manfaatnya.

Bagaimanapun, guru dengan kualitas seperti ini sulit untuk ditemukan saat ini. Ketidakberdayaannya merupakan suatu kehilangan besar bagi umat Buddhis.

Diambil dari buku:
ASIVISOPAMA SUTTA
(Sutta Ular-ular Berbisa)
Oleh: Venerable Sayadaw U Waryameinda (Minlha Sayadaw)

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Indonesia Oleh:
Candasili Nunuk Y. Kusmiana
Editor Oleh: Panna Kumara
Share:

Rabu, 06 Februari 2013

Riwayat Ajahn Sumedho

 on  with No comments 
In  
Luang Por Ajahn Sumedho (Thai: อาจารย์ สุ เม โธ) lahir dengan nama Robert Jackman, pada tanggal 27 Juli 1934, di Seattle, Washington. Luang Por berarti Yang Mulia (หลวง พ่อ), sebuah gelar kehormatan yang diberikan sesuai dengan tradisi Thailand, Ajahn berarti guru. Sebagai bhikkhu selama 40 tahun, Y.M. Ajahn Sumedho dianggap tokoh penting dalam transmisi ajaran Buddha ke Barat.

Selama Perang Korea Robert Jackman menjalani dinas militer selama empat tahun dari usia 18 sebagai angkatan laut Amerika Serikat dibagian medis. Beliau kemudian mengambil gelar BA dalam studi bagian Timur jauh dan lulus pada tahun 1963 dan gelar MA dalam studi Asia Selatan di University of California, Berkeley. Setelah satu tahun sebagai pekerja sosial di Palang Merah, Jackman ditugaskan di Korps Perdamaian di Kalimantan 1964-1966 sebagai guru bahasa Inggris. Pada tahun 1966 beliau menjadi pemula atau samanera di Wat Saket Sri di Nong Khai, Timur Laut Thailand. Beliau menjadi seorang bhikkhu di bulan Mei tahun berikutnya.

Dari 1967-1977 di Wat Nong Pa Pong, beliau dilatih di bawah bimbingan Ajahn Chah. Beliau dianggap sebagai murid dari barat terakhir yang paling berpengaruh. Pada tahun 1975 beliau membantu mendirikan dan menjadi kepala biara pertama dari Biara Internasional, Wat Pa Nanachat di timur laut Thailand yang didirikan oleh Ajahn Chah untuk pelatihan muridnya yang tidak berasal dari Thailand. Pada tahun 1977, Ajahn Sumedho didampingi Ajahn Chah berkunjungan ke Inggris. Setelah mengamati minat kalangan Barat terhadap Buddhisme, Ajahn Chah mendorong Ajahn Sumedho untuk tetap di Inggris dengan tujuan mendirikan sebuah biara cabang di Inggris. Biara ini bernama Cittaviveka Forest Monastery di West Sussex.

Ajahn Sumedho diberikan wewenang untuk metahbiskan orang lain sebagai biarawan tak lama setelah beliau mendirikan Cittaviveka Forest Monastery. Beliau kemudian mendirikan sepuluh ajaran silsilah penahbisan bagi wanita, "Siladhara".

Ajahn Sumedho saat ini menjabat sebagai kepala biara dari Biara Buddha Amaravati dekat Hemel Hempstead di Inggris, yang didirikan pada tahun 1984. Biara ini adalah bagian dari jaringan biara-biara dan pusat Buddhis dalam silsilah Ajahn Chah, yang kini meluas di seluruh dunia, dari Thailand, Selandia Baru dan Australia, ke Eropa, Kanada dan Amerika Serikat. Ajahn Sumedho memainkan peran penting dalam membangun komunitas biara internasional.

Ajahn Sumedho adalah tokoh terkemuka dalam Tradisi Hutan Thailand. Ajarannya sangat langsung, praktis, sederhana, dan membumi. Dalam pembicaraan dan khotbah beliau menekankan kualitas kesadaran intuitif langsung dan integrasi kesadaran semacam ini dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kebanyakan guru dalam Tradisi Hutan, Ajahn Sumedho cenderung untuk menghindari abstraksi intelektual dari ajaran Buddha dan berfokus hampir secara eksklusif pada aplikasi praktis mereka, yaitu mengembangkan kebijaksanaan dan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Sarannya paling konsisten dapat diparafrasekan untuk melihat hal-hal dengan cara yang sebenarnya bukan dengan cara yang kita inginkan atau tidak inginkan. Beliau dikenal karena gaya komunikasi menarik dan cerdasnya, di mana beliau menantang para pendengarnya untuk berlatih dan melihat sendiri. Muridnya telah memahami bahwa beliau melibatkan pendengarnya dengan rasa humor yang menular, diliputi dengan kasih sayang yang jauh, pengalaman lucu dari dirinya sebagai seorang biarawan dalam pembicaraan pada praktek meditasi dan bagaimana pengalaman hidup

Sebuah teknik meditasi yang diajarkan dan digunakan oleh Ajahn Sumedho disebut "The Sound of Silence" Beliau berbicara panjang lebar tentang teknik ini dalam satu buku berjudul "The Way It Is" Meskipun beberapa mungkin menganggap itu sebagai hal yang sama seperti yoga Nada di Hatha Yoga Pradipika, lebih jauh membaca bab tentang yoga Nada di Hatha Yoga Pradipika jelas akan mengungkapkan bahwa mereka memang berbeda. "The Sound of Silence" juga merupakan judul dari salah satu buku Ajahn Sumedho ini (diterbitkan oleh Wisdom pada tahun 2007).

sumber:
amaravati.org
buddhanet.net
Share:

Riwayat Ajahn Chah

 on  with No comments 
In ,  
Yang Mulia Ajahn Chah (Phra Bodhiñāna Thera) dilahirkan dalam sebuah keluarga petani biasa di sebuah pedesaan di provinsi Ubon Rachathani, Thailand, pada tanggal 17 Juni 1918. Beliau tinggal dan hidup seperti anak muda lainnya di pedesaan Thailand, dan mengikuti kebiasaan adat istiadat, mengambil penahbisan sebagai pemula di biara desa setempat selama tiga tahun, di mana Beliau belajar membaca dan menulis, selain mempelajari beberapa dasar ajaran Buddha. Setelah itu Beliau kembali ke kehidupan awam untuk membantu orang tuanya, namun ia memiliki daya tarik untuk kehidupan monastik, pada usia 20 tahun (pada tanggal 26 April 1939) ia kembali masuk biara, kali ini untuk penahbisan yang lebih tinggi sebagai seorang bhikkhu, atau bhikkhu Buddha. Dia menghabiskan beberapa tahun pertama kehidupan ke-bhikkhuan-nya dengan mempelajari beberapa dasar Dhamma, disiplin, Bahasa Pali dan kitab suci, tetapi kematian ayahnya menyadarkannya atas kefanaan hidup. Hal ini menyebabkan Beliau berpikir mendalam tentang tujuan sebenarnya hidup, karena meskipun ia telah mempelajari secara ekstensif dan memperoleh beberapa kemahiran dalam bahasa Pali, ia tampak tidak lebih dekat ke pemahaman pribadi dari akhir penderitaan.

Perasaan kekecewaan secara mendalam, dan keinginan untuk menemukan esensi sebenarnya dari ajaran Sang Buddha muncul. Akhirnya (tahun 1946) ia meninggalkan studinya dan berangkat hidup mengembara. Yang Mulia  Ajahn Chah berjalan sejauh 400 km ke pusat Thailand, tidur di hutan dan mengumpulkan dana makanan di desa-desa di jalan. Yang Mulia Ajahn Chah tinggal di sebuah biara dimana peraturan vinaya (disiplin kebhikkhuan) dengan hati-hati dipelajari dan dipraktekkan. Sementara di sana ia diberitahu tentang Yang Mulia Ajahn Mun Bhuridatto, Yogi Meditasi yang sangat dihormati. Untuk bertemu seorang guru berprestasi, Ajahn Chah berangkat dengan berjalan kaki kearah Timur Laut untuk mencari Yang Mulia Ajahn Mun Bhuridatto. Ia mulai melakukan perjalanan ke biara-biara lain, belajar disiplin monastik secara rinci dan menghabiskan waktu yang singkat namun mencerahkan dengan Yang Mulia Ajahn Mun, guru meditasi hutan Thai yang paling menonjol pada abad ini. Pada saat itu Ajahn Chah sedang bergulat dengan masalah krusial. Dia telah mempelajari ajaran-ajaran moralitas, meditasi dan kebijaksanaan, yang disajikan dalam teks secara teliti dan halus, tapi Beliau tidak bisa melihat bagaimana mereka benar-benar dapat dipraktekkan. Ajahn Mun mengatakan kepadanya bahwa meskipun ajaran memang luas, di hati mereka sangat sederhana. Dengan kesadaran terkonsentrasi, jika dilihat bahwa segala sesuatu muncul dalam pikiran hati: di sana adalah jalan yang benar untuk praktek. Hal ringkas dan pengajaran langsung ini adalah wahyu bagi Ajahn Chah, dan dai mengubah cara berlatihnya. Jalannya menjadi jelas.

Selama tujuh tahun berikutnya, Ajahn Chah mempraktekkan gaya pertapaan biarawan Tradisi Hutan dengan keras, menghabiskan waktunya di hutan, gua, dan tanah kremasi, tempat yang ideal untuk mengembangkan praktek meditasi. Dia berjalan melalui pedesaan dalam pencarian tempat yang tenang dan terpencil untuk mengembangkan meditasi. Dia tinggal di hutan-hutan penuh dengan harimau dan ular kobra, menggunakan refleksi kematian untuk menembus arti sebenarnya dari kehidupan. Pada satu kesempatan Beliau berlatih di tanah kremasi, untuk menantang rasa takutnya dan akhirnya mengatasi rasa takut itu akan kematian. Kemudian, saat ia duduk kedinginan dan basah kuyup dalam hujan badai, ia mengelurakan suara kesedihan dan kesepian sebagai seorang bhikku tunawisma.

Setelah bertahun-tahun melakukan perjalanan dan praktek, ia diundang untuk menetap di sebuah hutan lebat dekat desa kelahirannya. Hutan ini tidak berpenghuni, yang dikenal sebagai tempat ular kobra, harimau dan hantu, sehingga menjadi seperti lokasi yang sempurna untuk seorang bhikkhu hutan. Pendekatan sempurna Yang Mulia Ajahn Chah untuk meditasi, atau praktik Dhamma, dan gayanya yang sederhana mengajar, dengan penekanan pada aplikasi praktis dan sikap yang seimbang, mulai menarik banyak pengikut para bhikkhu dan orang awam. Dengan demikian sebuah biara besar terbentuk di sekitar Ajahn Chah dan semakin banyak bhikkhu, biarawati dan umat awam datang untuk mendengar ajarannya dan berlatih dengan Beliau.

Gaya Ajahn Chah yang sederhana namun mendalam dalam pengajaran memiliki daya tarik khusus untuk orang Barat, dan banyak yang datang untuk belajar dan berlatih dengan Beliau, selama bertahun-tahun. Pada tahun 1966, orang Barat pertama datang untuk tinggal di Wat Nong Pah Pong, Y.M. Bhikkhu Sumedho. Bhikkhu Sumedho yang baru ditahbiskan baru saja menghabiskan masa vassa pertama, berlatih meditasi intensif di sebuah biara di dekat perbatasan Laos. Meskipun usahanya telah melahirkan beberapa buah, Bhikkhu Sumedho menyadari bahwa ia membutuhkan seorang guru yang bisa melatih Beliau dalam semua aspek kehidupan monastik. Secara kebetulan, salah satu dari biarawan Ajahn Chah, seseorang yang kebetulan bias berbicara sedikit bahasa Inggris mengunjungi biara di mana Bhikkhu Sumedho tinggal. Setelah mendengar tentang Ajahn Chah, ia meminta cuti dari guru-Nya, dan kembali ke Wat Nong Pah Pong dengan biarawan itu. Ajahn Chah mau menerima murid baru, namun bersikeras bahwa Beliau tidak memberikan perlakuan khusus untuk orang Barat. Dia harus makan dari dana makanan sederhana yang sama dan praktek dalam cara yang sama seperti semua biksu lain di Wat Nong Pah Pong. Pelatihannnya cukup keras dan menakutkan. Ajahn Chah seringkali mendorong biarawan lebih dari batas mereka, untuk menguji kekuatan dan daya tahan mereka sehingga mereka akan mengembangkan kesabaran dan tekad. Ia kadang-kadang memulai proyek-proyek kerja yang panjang dan kelihatan sia-sia, dalam rangka untuk menggagalkan keterikatan mereka terhadap ketenangan. Dan tekanan yang berat pada ketaatan terhadap Vinaya.

Sejak saat itu, jumlah orang asing yang datang ke Ajahn Chah mulai terus meningkat. Pada saat Bhikkhu Sumedho mencapai lima vassas, dan Ajahn Chah menganggapnya cukup kompeten untuk mengajar, beberapa bhikkhu baru juga memutuskan untuk tinggal dan melatih di sana. Pada musim panas tahun 1975, Bhikkhu Sumedho dan beberapa bhikkhu Barat menghabiskan beberapa waktu tinggal di hutan tidak jauh dari Wat Nong Pah Pong. Penduduk desa setempat meminta mereka untuk tinggal di sana , dan Ajahn Chah menyetujui. Wat Pah Nanachat ('International Forest Monastery') berdiri di sana, dan Yang Mulia Sumedho menjadi kepala biara dari biara pertama di Thailand yang dijalankan dengan berbahasa Inggris.

Pada tahun 1977, Ajahn Chah dan Ajahn Sumedho diundang untuk mengunjungi Inggris oleh English Sangha Trust, sebuah badan amal dengan tujuan pendirian sangha Buddha lokal. Melihat minat yang serius di sana, Ajahn Chah meninggalkan Ajahn Sumedho (dengan dua murid lain dari Barat yang kemudian mengunjungi Eropa) di London di Vihara Hampstead. Ia kembali ke Inggris pada tahun 1979, dimana pada saat para bhikkhu meninggalkan London untuk memulai Chithurst Biara Buddha di Sussex. Dia kemudian melanjutkan ke Amerika dan Kanada untuk berkunjung dan mengajar.

Pada tahun 1980 Yang Mulia Ajahn Chah mulai mengalami gejala pusing akut dan daya ingat menurun yang telah mengganggunya selama beberapa tahun. Pada tahun 1980 dan 1981, Ajahn Chah menghabiskan 'vassa' jauh dari Wat Nong Pah Pong, karena kesehatannya terganggu akibat dari efek diabetes. Sejak penyakitnya memburuk, ia menggunakan tubuhnya sebagai bahan pengajaran, contoh hidup ketidakkekalan dari segala sesuatu. Dia terus-menerus mengingatkan orang untuk berusaha mencari perlindungan sejati dalam diri mereka sendiri, karena ia tidak akan mampu mengajar untuk lebih lama lagi. Yang Mulia Ajahn Chah menjalani operasi pada tahun 1981, operasi yang dilakukan gagal, menyebabkan terjadinya kelumpuhan yang akhirnya membuat Beliau benar-benar terbaring sakit dan tidak mampu berbicara. Hal ini tidak menghentikan perkembangan bhikkhu dan orang awam yang datang untuk berlatih di kuilnya, namun, untuk siapa saja ajaran Ajahn Chah adalah panduan konstan dan sebuah inspirasi.

Setelah terbaring sakit dan tetap diam untuk sepuluh tahun yang luar biasa, Yang Mulia Ajahn Chah meninggal pada tanggal 16 Januari 1992, pada usia 74, meninggalkan komunitas yang berkembang dari biara dan pendukung di Thailand , Inggris, Swiss, Italia, Perancis, Australia, Selandia Baru, Kanada dan Amerika Serikat, di mana praktek ajaran Buddha terus berlanjut di bawah inspirasi guru meditasi besar ini. Meskipun Ajahn Chah meninggal pada tahun 1992, pelatihan yang didirikan masih dilakukan di Wat Nong Pah Pong dan biara-biara cabang, yang saat ini ada lebih dari 200 di Thailand. Disiplin sangat keras, memungkinkan seseorang untuk menjalani hidup sederhana dan murni dalam sebuah komunitas harmonis yang diatur dimana kebajikan, meditasi dan pemahaman dapat terampil dan terus dibudidayakan. Biasanya ada kelompok meditasi dua kali sehari dan kadang-kadang ada pembicara oleh guru senior, tapi jantung dari meditasi adalah jalan hidup.

Para bhikkhu melakukan pekerjaan manual, mewarnai dan menjahit jubah mereka sendiri, membuat sebagian besar keperluan mereka sendiri dan menjaga bangunan biara dalam kondisi rapi. Mereka hidup sangat sederhana mengikuti ajaran petapa, makan sekali sehari dari mangkuk dan membatasi pemilikan mereka dan jubah. Tersebar di seluruh hutan adalah gubuk individu dimana biarawan dan biarawati hidup dan bermeditasi dalam kesendirian, dan di mana mereka berlatih meditasi berjalan di jalan yang dibersihkan di bawah pohon.

Kebijaksanaan adalah cara hidup, dan Ajahn Chah telah berupaya untuk melestarikan gaya hidup monastik sederhana agar orang dapat belajar dan berlatih Dhamma di hari ini. Gaya Ajahn Chah yang sangat sederhanadalam pengajaran dapat mengecoh. Hal ini sering kali setelah kita telah mendengar sesuatu berkali-kali yang tiba-tiba pikiran kita sudah matang dan entah bagaimana teknik ajarannya bermakna jauh lebih mendalam. Keahliannya dalam menyesuaikan penjelasan Dhamma dari waktu kewaktu dan tempat, serta pemahaman dan kepekaan para pendengarnya, luar biasa untuk dilihat. Kadang-kadang di atas kertas meskipun, itu bisa membuat Beliau tampak seperti tidak konsisten atau bahkan kontradiksi-diri! Pada saat seperti itu pembaca harus ingat bahwa kata-kata ini adalah catatan pengalaman hidup. Demikian pula, jika ajaran mungkin tampak bervariasi dari tradisi, harus diingat bahwa Yang Mulia Ajahn Chah berbicara selalu dari hati, dari kedalaman pengalaman meditasinya.

Sumber : ajahnchah.org
Share:

Rabu, 16 Januari 2013

Kolonel Henry Steel Olcott

 on  with No comments 
In  
Henry Steel Olcott (Sinhala: කර්නල් හෙන්රි ස්ටීල් ඔල්කට්) dilahirkan di tahun 1832, di New Jersey, Amerika Serikat, di dalam keluarga Presbiterian yang saleh, ia adalah yang tertua dari enam bersaudara. Orang tuanya, Henry Olcott Wyckoff dan Emily Steel Olcott adalah seorang pengusaha Presbyterian. Olcott kuliah di Universitas Columbia yang bergengsi dari New York di mana ia bergabung dengan persaudaraan St Anthony Hall, suatu lingkungan dari orang-orang terkenal. Pada tahun 1851 bisnis ayahnya gagal dan ia harus meninggalkan universitas. Dari 1858-1860 Olcott adalah seorang koresponden pertanian untuk New York Tribune dan Mark Lane Express, tapi kadang-kadang ia mengirimkan artikel untuk bidang lain. Pada tahun 1860 Olcott menikah dengan Maria Epplee Morgan, putri dari rektor Paroki Trinity, New Rochelle, New York. Mereka memiliki empat anak, dua di antaranya meninggal saat masih bayi. 

Olcott kemudian bergabung dengan tentara Amerika dan mengabdi selama Perang Sipil. Dia dipromosikan ke pangkat Kolonel setelah membuktikan dirinya sendiri, dan kemudian dipindahkan ke departemen Kelautan di Washington D.C. Olcott mendapatkan reputasi baik dan bekerja pada komisi khusus yang menyelidiki pembunuhan Presiden Lincoln. Dia kemudian beralih ke bidang jurnalistik dan hukum. Pada 1874, Olcott tertarik akan upacara séances (upacara untuk berkomunikasi dengan orang yang telah meninggal) dari Saudara Eddy dari Chittenden, Vermont. Minatnya terangsang, Olcott menulis sebuah artikel untuk New York Sun, di mana ia menyelidiki Peternakan Eddy. Artikelnya cukup populer dibandingkan dengan artikel-artikel lainnya, seperti Harian New York Grafis Di tahun 1874, dia menjadi terlibat dalam spiritualisme setelah berteman dengan ahli gaib Rusia, Helena Blavatsky saat keduanya mengunjungi peternakan Eddy. Hal ini menjadi dasar ketertarikannya dalam gerakan Spiritualis dan hubungannya dengan Blavatsky membantu mendorongnya mendirikan Theosophical Society dengan sekelompok spiritualistis yang lainnya pada tahun 1875 di New York. 

Olcott bertindak sebagai pengacara selama beberapa tahun pertama pendirian Theosophical Society. Pada awal tahun Olcott mendukung finansial dari Theosophical Society dan bertindak Presiden sementara Blavatsky menjabat sebagai Sekretaris Society. Pada bulan Desember 1878 mereka meninggalkan New York untuk memindahkan markas Society ke India. Mereka mendarat di Bombay pada 16 Februari 1879. Markas Theosophical didirikan di Adyar, Chennai sebagai Adyar Theosophical Society, didirikan juga Perpustakaan Adyar dan Pusat Penelitian di kantor pusat. Sementara di India, Olcott berusaha untuk menerima terjemahan dari teks-teks suci oriental yang menjadi sumber dari hasil penelitian Barat.

Tujuannya adalah untuk menghindari interpretasi kebarat-baratan yang sering ditemui di Amerika, dan untuk menemukan pesan teks murni dari Buddha, Hindu, dan agama-agama Zoroaster, supaya memperoleh interpretasi yang benar untuk mendidik Barat. Akan tetapi, ketertarikan utama Olcott dan Blavatsky adalah ajaran Buddha dan mereka dengan segera melakukan perjalanan ke Sri Lanka, Setelah membaca buku tentang Debat Panadura di Amerika, ia tiba di Sri Lanka pada tahun 1880. 

Kolonel Henry Steel Olcott memutuskan untuk melakukan perjalanan ke pulau untuk mencari lebih banyak pengetahuan tentang ajaran Buddha. Sebelum kunjungannya, dia berkorespondensi dengan Yang Mulia Gunananda dan Yang Mulia Sumangala dan akhirnya tiba di tahun 1880. Hanya beberapa minggu setelah kedatangan mereka dan merasa yakin dengan ajaran dari Buddha, mereka mengambil Tiga Perlindungan dan Lima Sila di Vihara Wijayananda yang terletak di Weliwatta, Galle pada 19 Mei 1880, dan dengan demikian menjadi orang-orang barat pertama di jaman modern untuk secara publik dan formal menjadi umat Buddhis. Sebagai salah satu dari beberapa orang barat pertama yang memiliki ketertarikan dalam ajaran Buddha, dia diterima dengan banyak keriuhan dan perayaan ketika dia tiba di Galle.

Walaupun umat Buddhis telah memperoleh kembali kepercayaan diri dan keberanian mereka, masih banyak yang harus dilakukan. Mereka masih menghadapi diskriminasi pemerintah, dan kekuasaan misionaris atas sekolah-sekolah dan sistem pendidikan. Mereka kekurangan bakat organisasi dan kepemimpinan yang menyatukan, dimana keduanya tidak mampu disediakan oleh Sangha pada waktu itu. Olcott dengan pengalamannya sebagai perwira senior di tentara Amerika dan angkatan laut, memiliki bakat organisasi yang diperlukan ini. Lebih jauh lagi, sebagai orang luar yang netral, dia berkemampuan untuk menyatukan Sangha di belakang dia. 

Hanya satu bulan setelah kedatangannya, dia membentuk Buddhist Theosophical Society (Perhimpunan Teosofi Buddhis), membawa bersamanya bhikkhu-bhikkhu terkemuka dan umat awam. Tujuan dari Perhimpunan adalah untuk mempromosikan kesejahteraan dari umat Buddhis dan untuk mendirikan sekolah-sekolah Buddhis. Penekanan besar diletakkan pada penyekolahan dari anak-anak, karena Olcott percaya bahwa pendidikan yang baik merupakan satu-satunya cara agar umat Buddhis dapat mempertahankan diri dari para misionaris. Sebelum Perhimpunan dibentuk, hanya terdapat tiga sekolah Buddhis. Di tahun 1897, Perhimpunan telah mendirikan 46 sekolah Buddhis dan di tahun 1903, mereka mengelola 174 sekolah demikian.

Di tahun 1904, Perhimpunan telah mendirikan 429 sekolah-sekolah Buddhis diseluruh Sri Lanka. Olcott juga merupakan inspirasi bagi Young Men’s Buddhist Association - YMBA (Persatuan Pemuda Buddhis) dan sekolah Minggu Buddhis. Semua ini mengikuti sistem Protestan, dan masih aktif saat ini Pada masa awal, Olcott bekerja sangat keras, pergi dari desa ke desa untuk mengumpulkan dana bagi sekolah-sekolah. Teman dan penerjemahnya adalah seorang pemuda yang bernama Anagarika Dharmapala, yang juga memainkan peranan utama dalam kebangkitan Buddhis. Banyak dari sekolah-sekolah Buddhis yang terkenal seperti Perguruan tinggi Ananda dan Perguruan tinggi Nalanda di Colombo, Perguruan tinggi Dharmaraja di Kandy dan Perguruan tinggi Mahinda di Galle, bersumber langsung dari usaha dia. Olcott juga mendorong umat Buddhis untuk memulai publikasi mereka sendiri untuk menyebarkan ajaran-ajaran mereka. Perhimpunan Teosofi Buddhis kemudian menetapkan surat kabar berbahasa Sinhala dan juga Inggris. Olcott terkejut dengan kurangnya pengetahuan yang baik tentang ajaran Buddha diantara kebanyakan dari umat awam yang dia temui. 

Oleh karena itu, dia merumuskan Katekismus Buddhis di tahun 1881, mengikuti jejak katekismus Kristen. Katekismus Buddhis merangkum ajaran-ajaran penting dalam bentuk pertanyaan dan jawaban, sehingga orang biasa mampu untuk mempelajari dan memahami ajaran-ajaran ini dengan sendirinya. Hal ini masih dipakai di kebanyakan sekolah saat ini. Katekismus merupakan salah satu kontribusi paling abadi bagi kebangkitan agama Buddha di Sri Lanka, dan tetap digunakan sana hari ini. Pada waktu itu, Hari Waisak dengan aneh tidak dikenal sebagai hari libur nasional.

Hari Waisak dijadikan hari libur hanya pada tahun 1885 setelah Olcott dengan sukses mengajukan petisi ke pemerintah Inggris di London untuk mengabulkan hak ini untuk umat Buddhis. Dia juga membantu untuk merancang sebuah bendera yang diterima di Konggres Buddhis Sedunia pada tahun 1952, sebagai Bendera Buddhis Internasional. Sejumlah orang barat lainnya yang tinggal di Sri Lanka juga memainkan peranan yang aktif dan penting dalam melayani ajaran Buddha. Mereka menterjemahkan teks masa lampau, menulis buku-buku dan kemudian mengajarkannya di negara-negara mereka sendiri ketika mereka pulang. 

Diantara figur-figur ini adalah George Turner yang pertama menterjemahkan Mahavamsa ke Bahasa Inggris, Wilhelm Geiger yang menterjemahkannya ke Bahasa Jerman, dan Robert C. Childers yang mempublikasikan Kamus Bahasa Pali. Salah satu dari figur yang paling penting adalah Prof. T.W. Rhys Davids yang mendirikan Pali Text Society (Perhimpunan Teks Pali) di tahun 1881. Bersamaan dengan istrinya, Mrs. C.A.F. Rhys Davids, mereka membuat kontribusi besar atas penyebaran dan kemajuan dari pengetahuan Buddhis dengan banyaknya terjemahan dan tulisan mereka. Helena Blavatsky akhirnya pergi untuk tinggal di London, di mana dia meninggal pada tahun 1891, namun Olcott tinggal di India dan mengejar pekerjaan Theosophical Society di sana. Upaya untuk merevitalisasi ajaran Buddha Sri Lanka dipengaruhi banyak intelektual asli Buddha. 

Sri Lanka didominasi oleh kekuasaan kolonial Inggris dan pengaruh pada waktu itu, dan umat Buddha banyak mendengar penafsiran Olcott tentang pesan Buddha secara sosial memotivasi dan mendukung upaya untuk membatalkan upaya kolonialis untuk mengabaikan Buddhisme dan tradisi Buddhis. Seperti David McMahan menulis, "Henry Steel Olcott melihat Sang Buddha sebagai sosok mirip dengan pemikiran bebas liberal yang ideal - seseorang yang penuh 'kebajikan,' 'rasa terima kasih', dan 'toleransi', yang dipromosikan 'persaudaraan diantara semua orang' serta 'pelajaran kemandirian" pandangan Olcott terhadap Buddha dipengaruhi oleh pemimpin Sri Lanka, seperti Anagarika Dharmapala. Olcott dan Anagarika Dharmapala adalah asosiasi, yang mencerminkan kesadaran baik laki-laki dari kesenjangan antara Timur dan Barat-seperti yang terlihat dalam presentasi Buddhisme mereka di Barat. Olcott membantu secara finansial mendukung kehadiran Buddha di Parlemen Agama-Agama Dunia di Chicago, 1893. 

Dimasukkannya Agama Buddha di Parlemen diperbolehkan untuk perluasan Buddhisme dalamdunia Barat pada umumnya dan khususnya di Amerika, yang mengarah ke gerakan Buddha lainnya secara Modernis. Olcott meneruskan untuk bekerja dengan tanpa lelah bagi ajaran Buddha di Sri Lanka. Dia meninggal di tahun 1907 dan hari peringatan kematiannya masih luas diperingati di Sri Lanka. Pelayanan yang disumbangkan oleh Kolonel Olcott pada ajaran Buddha tidak dapat dikatakan lagi dan hutang dari semua umat Buddhis kepadanya tidak mungkin dapat diukur.
Share:

Selasa, 15 Januari 2013

Mohottiwatte Gunananda Thera

 on  with No comments 
In  
Mohottiwatte Gunananda Thera atau  Migettuwatte Gunananda Thera dilahirkan pada 9 Februari tahun 1823 di desa Mohottiwatta di keluarga Buddhis yang makmur. Para bhikkhu di Sri Lanka, setelah pentahbisan, biasanya menambahkan nama dari desa mereka ke nama mereka sendiri. Gunananda telah memiliki hubungan dekat dengan pendeta Katolik di masa mudanya dan menerima pendidikan di sekolah-sekolah Kristen. Beliau pernah, pada suatu waktu, bahkan mempertimbangkan untuk menjadi seorang pendeta Kristen. 

Akan tetapi, beliau berubah pikiran setelah berhubungan dengan beberapa bhikkhu dari desanya dan ditahbiskan sebagai Bhikkhu di usia ke 20, di Vihara Dodanduwa Gala Uda oleh Y.M. Thelikada Sonutthara Thera, menjadi anggota dari kelompok persaudaraan Amarapura. Kecakapan pidatonya dengan segera menjadi nyata dan beliau juga mulai memperoleh kecakapan besar dalam ajaran-ajaran Buddha. 

Pada suatu hari beliau membaca majalah Buddha Sahodaraya (Sinhala Buddha Brotherhood), beliau melihat bahwa umat Buddha di Colombo tunduk pada diskriminasi agama oleh umat Kristen. Setelah mempelajari bahwa umat Buddhis di Colombo merupakan subjek tekanan dari misionaris dan diskriminasi oleh pemerintah, beliau pindah kesana dan mulai mempertahankan ajaran Buddha dengan publikasi dan pidatonya. 

Di tahun 1862, beliau membentuk ‘Society for the Propagation of Buddhism’ (Perhimpunan untuk Penyebaran Ajaran Buddha) untuk menyusun perlawanan terhadap serangan-serangan misionaris, dan untuk mempublikasikan brosur dan selebaran untuk melawan material anti-Buddhis yang dibagikan oleh umat Kristen. Gunananda kemudian memimpin umat Buddhis dalam rangkaian dari debat-debat yang sangat penting dengan umat Kristen, yang memuncak dalam Debat Panadura yang terkenal di tahun 1873. 

Para misionaris Kristen menyebarkan agama memlalui pamflet dan buku-buku. Rev.D.J. Gogerly misionaris dari Weselyn menerbitkan "Christian Pragnapthi" pada tahun 1849. Gunananda menjawabnya dengan menerbitkan Durlabdi Vinodini pada tahun 1862. Hikkaduwe Sumanggala Thera menulis "Christiani Vada Mardanaya dan Samyak Darshanaya" pada tahun 1862-1863. Setelah itu publikasi di gantikan dengan debat publik.

Perdebatan Baddegama berasal dari argumen yang timbul antara seorang biarawan muda bernama Sumangala dan seorang pendeta Kristen di kuil Baddegama. Gunananda Thera dan biarawan lainnya, termasuk Bulatgama Dhammalankara, Sri Sumanatissa, Kahawe Nanananda, Hikkaduwe Sumangala, Weligama Sri Sumangala, Pothuwila Gunaratana berpartisipasi dalam perdebatan. Perdebatan tidak diadakan tatap muka. Hal ini karena cara perilaku para pendebat Kristen telah menyebabkan konflik, Buddha, sebagai mayoritas, secara alami akan disalahkan. Mengingat situasi kedua pihak sepakat untuk melaksanakan debat secara tertulis. Awalnya teks disusun dalam Baddegama, meskipun tulisan-tulisan selanjutnya dilakukan di Galle. Perdebatan Waragoda juga diadakan pada tahun 1865.

Debat selanjutnya dilakukan di Udanwita di  Distrik Hathara, sekarang Distrik Kegalle. Sang Pencipta, Penebus dan Surga Abadi adalah topik debat. Perdebatan dilakukan pada 1 Februari 1866. John Edwards Hunupola mewakili pihak Kristen, Dia adalah seorang mantan Bhikkhu Buddhis yang beralih ke Kristiani. Seperti disepakati sebelum debat, Gunananda Thera menerbitkan ringkasan perdebatan sebagai tanggapan atas Hunupola yang juga menerbitkan sendiri versi ringkasan. Gunananda Thera mengeluarkan publikasi yang lebih untuk melawan ringkasan Hunupola itu. Tidak ada catatan dari perdebatan Liyanagemulla, faktanya hanya dikenal  bahwa debat itu diadakan pada tahun 1866.

Sebagai intensitas dari perdebatan yang semakin naik di sisi Buddha dan pihak Kristen, kedua belah pihak sepakat untuk berdebat di Gampola pada 9 dan 10 Juni tahun 1871. Gunananda Thera menampilkan keterampilan pidato dalam debat ini dan di apresiasi penonton sampai menangis dalam sukacita dan kemudian  Gunananda Thera diarak sekitar kota Gampola. Setelah Gunananda Thera menyampaikan  khotbah di beberapa tempat di Gampola, orang-orang mulai mengatur prosesi, membawa Thera ke stasiun kereta api Peradeniya dan mengirim dia kembali ke Kolombo. Kemudia orang-orang mengumpulkan uang sebesar £ 75,00 untuk mencetak khotbah yang telah disampaikan Gunananda Thera.

Semua perdebatan yang paling memuncak dan paling menonjol dari semua perdebatan, adalah perdebatan Panadura, dua tahun setelah perdebatan Gampola pada tahun 1873. Penyebab debat ini terjadi  ketika Pendeta David De Silva menyampaikan khotbah tentang Soul di Chapel Wesleyan, Panadura pada 12 Juni 1873.  Gunananda Thera menyampaikan khotbah seminggu kemudian mengkritik poin yang diangkat oleh Pendeta David De Silva. Kedua belah pihak menandatangani perjanjian pada tanggal 24 Juli 1873 untuk menggelar Perdebatan di Panadura, meskipun ini bukan satu-satunya penyebab perdebatan karena perdebatan tentang isu-isu agama telah dimulai lebih dari 10 tahun sebelumnya. 

Penampilannya yang mengagumkan dan kemenangannya yang meyakinkan mencetuskan kebangkitan dari ajaran Buddha di seluruh pulau, dan beliau disambut sebagai pahlawan nasional. Sebelum kematiannya di usia ke 67 pada 21 September tahun 1890, Gunananda meneruskan usahanya dalam membantu untuk menghidupkan kembali Sasana. Beliau mempublikasikan banyak majalah Buddhis seperti Riviresa, Lakmini Kirana, dan Sathya Margaya dan juga ikut terlibat dalam panitia yang merancang bendera Buddhis.
Share:

Sabtu, 05 Januari 2013

Albert Einstein & Agama Buddha

 on  with No comments 
In  
Albert Einstein dilahirkan di Ulm, Kerajaan Wuettemberg, Prusia Raya (sekarang Jerman) pada tanggal 14 Maret 1879. Beliau terlahir sebagai putra sulung dari pasangan Hermann Einstein dan Pauline Koch. Di waktu kecilnya, Albert Einstein nampak terbelakang karena kemampuan bicaranya amat terlambat. Wataknya pendiam dan suka bermain seorang diri.

Bulan November 1981 lahir adik perempuannya yang diberi nama Maja. Sampai usia tujuh tahun Albert Einstein suka marah dan melempar barang, termasuk kepada adiknya. Minat dan kecintaannya pada bidang ilmu fisika muncul pada usia lima tahun. Ketika sedang terbaring lemah karena sakit, ayahnya menghadiahinya sebuah kompas.

Albert kecil terpesona oleh keajaiban kompas tersebut, sehingga ia membulatkan tekadnya untuk membuka tabir misteri yang menyelimuti keagungan dan kebesaran alam. Meskipun pendiam dan tidak suka bermain dengan teman-temannya, Albert Einstein tetap mampu berprestasi di sekolahnya. Ia menjadi juara kelas. Selain bersekolah dan menggeluti sains, kegiatan Albert hanyalah bermain musik dan berduet dengan ibunya memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen.

Albert Einstein menghabiskan masa kuliahnya di ETH (Eidgenoessische Technische Hochscule). Pada usia 21 tahun Albert dinyatakan lulus. Setelah lulus, Albert berusaha melamar pekerjaan sebagai asisten dosen, tetapi ditolak. Akhirnya Albert mendapat pekerjaan sementara sebagai guru di SMA. Kemudian dia mendapat pekerjaan di kantor paten di kota Bern. Selama masa itu Albert tetap mengembangkan ilmu fisikanya.

Tahun 1905 adalah tahun penuh prestasi bagi Albert, karena pada tahun ini ia menghasilkan karya-karya yang cemerlang. Papernya yang tersohor, yaitu tentang teori relativitas khusus, dimuat Annalen der Physik dengan judul Zur Elektrodynamik Bewegter Kurper (Elektrodinamika benda bergerak). Kelanjutan papernya yang sampai pada kesimpulan rumus termahsyurnya : E = mc², yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E). c adalah laju cahaya di ruang hampa (c >> 300 ribu kilometer per detik). Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Satu gram massa dengan demikian setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3000 rumah (berdaya 900 watt) selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya.

Tahun 1909, Albert Einstein diangkat sebagai profesor di Universitas Zurich. Tahun 1915, ia menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya sejak kecil terbayar dengan diraihnya Hadiah Nobel pada tahun 1921 di bidang ilmu fisika. Selain itu Albert juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu. Pada tahun 1933, Albert beserta keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya, baik sebagai pengajar ataupun sebagai peneliti terganggu. Tahun 1941, ia mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, Albert ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu.

 Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Albert Einstein meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia. Dalam tahun-tahun terakhirnya ia mengaju pada "perasaan religius kosmik" yang meresapi dan menjaga karya-karyanya. Pada tahun 1954, setahun sebelum kematiannya, ia mengatakan tentang ingin "merasakan alam semesta seperti sebuah kesatuan kosmik." Ia juga suka menggunakan istilah religius, seperti pada tahun 1926 mengatakan bahwa "Ia [Tuhan] tidak bermain dadu" ketika mengacu pada ketidakpastian yang dihasilkan oleh teori kuantum.

Beberapa pernyataan Albert Einstein dikutip dari berbagai sumber:

The beginnings of cosmic religious feeling already appear at an early stage of development, e.g., in many of the Psalms of David and in some of the Prophets. Buddhism, as we have learned especially from the wonderful writings of Schopenhauer, contains a much stronger element of this. The religious geniuses of all ages have been distinguished by this kind of religious feeling, which knows no dogma and no God conceived in man's image; On the other hand, I maintain that the cosmic religious feeling is the strongest and noblest motive for scientific research. It is cosmic religious feeling that gives a man such strength. A contemporary has said, not unjustly, that in this materialistic age of ours the serious scientific workers are the only profoundly religious people. (Albert Einstein : The Development of Religion, New York Times Magazine dan Albert Einstein: The World as I See It) 

Menurut Albert Einstein, Buddhis sebagai agama yang tanpa dogma dan tanpa adanya Tuhan sangat cocok dengan sains.

Schopenhauer's saying, that "a man can do as he will, but not will as he will," has been an inspiration to me since my youth up, and a continual consolation and unfailing well-spring of patience in the face of the hardships of life, my own and others". (a speech by Albert Einstein to the German League of Human Rights, Berlin, in the autumn of 1932) 

At first, then, instead of asking what religion is I should prefer to ask what characterizes the aspirations of a person who gives me the impression of being religious: a person who is religiously enlightened appears to me to be one who has, to the best of his ability, liberated himself from the fetters of his selfish desires and is preoccupied with thoughts, feelings, and aspirations to which he clings because of their superpersonalvalue. It seems to me that what is important is the force of this superpersonal content and the depth of the conviction concerning its overpowering meaningfulness, regardless of whether any attempt is made to unite this content with a divine Being, for otherwise it would not be possible to count Buddha and Spinoza as religious personalities. Accordingly, a religious person is devout in the sense that he has no doubt of the significance and loftiness of those superpersonal objects and goals which neither require nor are capable of rational foundation. They exist with the same necessity and matter-of-factness as he himself. In this sense religion is the age-old endeavor of mankind to become clearly and completely conscious of these values and goals and constantly to strengthen and extend their effect. (Albert Einstein: "Science and Religion" in The Conference on Science, Philosophy and Religion)

 I believe in Spinoza's God, Who reveals Himself in the lawful harmony of the world, not in a God Who concerns Himself with the fate and the doings of mankind. (Albert Einstein: "Science and Religion" in The Conference on Science, Philosophy and Religion dan Albert Einstein: Philosopher-Scientist edited by Paul Arthur Schilpp) 

What humanity owes to personalities like Buddha, Moses, and ranks for me higher than all the achievements of the enquiring and constructive mind. (Albert Einstein, The Human Side, edited by Helen Dukas and Banesh Hoffman, Princeton University Press, 1954) 

Konsep Tuhan Personal menurut Einstein:
“I cannot accept any concept of God based on the fear of life or the fear of death or blind faith. I cannot prove to you that there is no personal God, but if I were to speak of him I would be a liar.” (Albert Einstein in an interview with Professor William Hermanns)

 "The word God is for me nothing more than the expression and product of human weaknesses, the Bible a collection of honourable, but still primitive legends which are nevertheless pretty childish. For me the Jewish religion like all others is an incarnation of the most childish superstitions, No interpretation no matter how subtle can (for me) change this" (a letter written by Albert Einstein on January 3, 1954 to the philosopher Eric Gutkind) 

About God, I cannot accept any concept based on the authority of the Church. As long as I can remember, I have resented mass indocrination. I do not believe in the fear of life, in the fear of death, in blind faith. I cannot prove to you that there is no personal God, but if I were to speak of him, I would be a liar. I do not believe in the God of theology who rewards good and punishes evil. My God created laws that take care of that. His universe is not ruled by wishful thinking, but by immutable laws. (W. Hermanns, Einstein and the Poet—In Search of the Cosmic Man) 

Einstein tidak mengakui adanya Tuhan personal dan menganggap keyakinan akan Tuhan personal sebagai sesuatu yang kekanak-kanakan. Konsep ketiadaan Tuhan secara personal sejalan dengan konsep Buddhis.
Share: