Rabu, 09 Januari 2013

Apa Penyebab Kamma?

 on  with No comments 
In ,  
Ketidaktahuan (avijjā), tidak mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya, adalah penyebab utama dari Kamma. Dalam pațicca-samuppāda (hukum asal mula saling bergantungan) Sang Buddha mengatakan, “Dari ketidaktahuan maka timbul bentuk-bentuk kamma (avijjāpaccayā sańkhārā).” Berasosiasi dengan ketidaktahuan adalah sekutunya, yaitu keinginan (tańhā), yang merupakan penyebab lain dari kamma. Semua perbuatan jahat dikondisikan oleh dua akar ini.

Sedangkan semua perbuatan bajik yang dilakukan umat awam (putthujana), meskipun ditunjang oleh tiga akar baik yaitu alobha (tidak serakah), adosa (tidak membenci), dan amoha (kebijaksanaan), tetap dianggap sebagai Kamma karena kedua akar (ketidaktahuan dan keinginan) masih laten berada dalam dirinya. Bentuk-bentuk moral dari Kesadaran Jalan Para Ariya (magga citta), tidak disebut sebagai kamma karena hal ini cenderung mengikis dua akar penyebab tersebut.

Siapakah pelaku kamma? Siapa pula yang memetik buah kamma? Apakah kamma membentuk sebuah jiwa? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Yang Mulia Buddhaghosa menulis dalam Visuddhi Magga : “Tidak ada yang namanya si pelaku perbuatan; Tidak ada pula yang memetik buahnya; Yang ada hanya perpaduan; Inilah kebenaran yang sesungguhnya.”

Sebagai contoh, meja yang kita lihat merupakan sesuatu yang nyata. Namun dalam pengertian yang lebih tinggi, yang dinamakan meja terdiri dari bagian-bagian fisiknya dan ciri-cirinya. Dalam percakapan umum, seorang ilmuwan akan menggunakan istilah “air”. Akan tetapi dalam laboratorium mereka menggunakan istilah H2O. Dengan cara yang sama, untuk tujuan konvensional (biasa, sehari-hari), digunakan istilah laki-laki, wanita, mahluk, diri, dan lain lain.

Namun apa yang disebut ‘makhluk’ sesungguhnya adalah fenomena-fenomena fisik dan batin, yang terus-menerus berubah dan tidak akan pernah sama dalam dua saat yang berurutan. Oleh karena itu, Buddhisme tidak mempercayai adanya sesuatu (entitas) yang tidak berubah. Buddhisme juga tidak mempercayai adanya seorang pelaku terpisah dari tindakannya, adanya si perasa terpisah dari persepsinya, dan adanya sesuatu yang sadar dibalik kesadaran.

Kemudian, siapa yang melakukan kamma? Dan siapa yang akan merasakan akibatnya? Kemauan atau kehendak (cetanā) adalah pelaku kamma itu sendiri. Perasaan (vedanā) adalah yang merasakan buah dari kamma. Terlepas dari kondisi mental yang murni (suddhadhamma) ini, tidak ada yang menabur dan tidak ada yang menuai.

Judul asli: The Teory Of Kamma in Buddhism
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw
Alih Bahasa: Marlin & Bodhi Limas
Editor: Y.M. Bhikkhu Abhipañño
Share:

0 Komentar:

Posting Komentar