Rabu, 09 Januari 2013

Pertanyaan-pertanyaan Seputar Hukum Kamma

 on  with No comments 
In ,  
Pertanyaan-pertanyaan Seputar Hukum Kamma

Tanya : Apakah kamma orang tua menentukan atau mempengaruhi kamma anak-anak mereka?
Jawab : Secara fisik, kamma dari anak umumnya ditentukan oleh kamma orang tua mereka. Orang tua yang sehat biasanya akan memiliki keturunan yang sehat dan orang tua yang berpenyakitan akan memiliki anak yang berpenyakitan pula. Mengenai bagaimana kamma dari anak-anak mereka ditentukan: sesungguhnya kamma si anak adalah sesuatu yang terpisah dan berdiri sendiri. Kamma si anak inilah yang membentuk kepribadian anak tersebut, yang merupakan akumulasi dari semua kebajikan dan kejahatan yang telah dilakukan dalam kehidupannya yang lampau dan tak terhitung banyaknya. Sebagai contoh adalah kamma dari Sang Buddha. Kamma Pangeran Siddhattha tidak dipengaruhi oleh gabungan kamma kedua orang tuanya, Raja Suddhodana dan Ratu Maya. Kekuatan dan keluhuran kamma dari seorang Buddha melebihi gabungan kamma kedua orang tuanya.

Tanya : Jika kamma orang tua tidak mempengaruhi kamma anak-anak mereka, bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa orang tua yang menderita penyakit mematikan, berkemungkinan atau cenderung menularkan atau menurunkan penyakit ini kepada keturunan mereka?
Jawab : Ketika seorang anak mewarisi sebuah penyakit, hal ini disebabkan oleh kekuatan sifat-sifat orang tuanya karena kekuatan Utu (kondisi-kondisi menguntungkan atau mendukung). Sebagai contoh, dua bibit yang diambil dari sebuah anak pohon. Yang satu ditanam di tanah yang kurang subur dan kering. Yang lain ditanam di tanah yang subur dan lembab. Hasilnya adalah bibit yang pertama akan tumbuh sebagai anak pohon yang layu dan tak lama kemudian akan mati. Sedangkan bibit yang kedua akan tumbuh dengan subur, dan akan menjadi sebuah pohon yang tinggi dan sehat. Dari sini diketahui bahwa sepasang bibit yang diambil dari pohon yang sama akan mengalami pertumbuhan yang berbeda sesuai dengan tanah dimana mereka ditanam.

Kamma lampau si anak dapat disamakan dengan bibit: sifat-sifat fisik dari ibu disamakan dengan tanah: dan sifat-sifat fisik ayah disamakan dengan kelembaban yang menyuburkan tanah. Untuk memudahkan pembicaraan, kita anggap saja pertumbuhan dan keberadaan dari anak pohon sebagai angka satu. Maka bibit berperan 1/10 dari pertumbuhan anak pohon, kondisi tanah berperan 6/10, dan kelembaban tanah sisanya, 3/10. Dengan demikian, meskipun potensi untuk tumbuh ada pada bibit (sang anak), akan tetapi pertumbuhan bibit tersebut secara langsung ditentukan dan dipercepat oleh kondisi tanah (sang ibu) dan kelembaban tanah (sang ayah). Oleh karena itu, kondisi tanah dan kelembaban harus diperhitungkan sebagai faktor yang menentukan pertumbuhan dan kondisi pohon. Demikian pula, faktor orang tua harus diperhitungkan pengaruhnya dalam pembuahan dan pertumbuhan keturunan mereka.

Andil kamma orang tua dalam menentukan faktorfaktor jasmaniah anak-anak mereka, adalah sebagai berikut: Jika orang tuanya adalah manusia maka keturunan mereka adalah manusia juga. Jika orang tuanya adalah binatang ternak maka anak mereka akan memiliki species yang sama dengan orang tuanya. Jika orang tuanya adalah keturunan Cina maka keturunan mereka akan berada dalam ras yang sama. Jadi, keturunannya tanpa terkecuali akan memiliki jenis dan spesies yang sama dengan orang tuanya.

Dapat dilihat dari atas bahwa, meskipun kamma si anak itu sendiri sangat kuat, ia tetap tidak dapat sepenuhnya terbebas dari pengaruh orangtuanya. Anak-anak cenderung mewarisi sifat-sifat fisik kedua orangtuanya. Tetapi bisa saja terjadi bila kekuatan kamma sang anak sangat kuat sekali, maka pengaruh gabungan kamma kedua orangtuanya tidak dapat mengalahkannya.

Semua mahluk yang terlahir karena hubungan seksual merupakan hasil dari tiga kekuatan berikut :
1. Kamma di kehidupan lampau.
2. Air mani dari sang ibu.
3. Air mani dari sang ayah.

Sifat-sifat fisik dari orang tua mungkin saja kekuatannya tidak sama. Yang satu dapat menetralkan yang lain pada tingkat tertentu. Kamma dan karakteristik fisik sang anak, seperti; ras, warna, dsb, merupakan hasil dari tiga kekuatan diatas.

Tanya : Ketika satu makhluk meninggal, apakah terdapat suatu ‘jiwa’ yang mengembara sesuai kehendaknya?
Jawab : Ketika suatu makhluk meninggal, dia akan mengalami kelahiran kembali, baik sebagai manusia, sebagai dewa atau brahma, sebagai hewan, atau sebagai salah satu penghuni alam neraka. Orang yang skeptis dan bodoh berpegang pada kepercayaan bahwa terdapat alam antara –antrabhava– antara kematian dan kelahiran kembali. Mereka percaya disana terdapat makhluk yang bukan manusia, bukan dewa atau brahma, bukan pula makhluk lainnya seperti yang tertulis dalam kitab suci.

Beberapa menyebutkan bahwa alam ini dihuni oleh makhluk yang memiliki lima khanda (lima kelompok, yakni : materi (rupa), perasaan (vedanā), pencerapan (sañña); bentuk-bentuk pikiran (sańkhara), dan kesadaran (viññana)). Beberapa lagi menyebutkan bahwa mahluk-mahluk ini adalah ‘jiwa’ atau ‘roh’ yang terlepas dari ikatan materi / fisik. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka memiliki kemampuan melihat seperti para Dewa, bahkan mereka memiliki kemampuan mengubah wujudnya untuk sementara menjadi makhluk apa saja sesuai kehendaknya. Yang lain berpegang pada teori yang tidak masuk akal dan keliru bahwa makhluk-makhluk ini dapat mengkhayalkan diri mereka berada di alam yang bukan alam keberadaan mereka sebenarnya.

Hal ini dapat diibaratkan sebagai orang miskin yang berkhayal menjadi orang kaya. Makhluk ini mungkin saja berada di alam neraka, tetapi ia beranggapan dirinya berada di alam para Dewa. Kepercayaan tentang alam antara ini adalah salah, dan ditolak dalam Buddhisme. Seorang manusia pada kehidupan ini, yang sesuai kamma -nya akan menjadi manusia pada kehidupan akan datang, akan terlahir kembali sebagai manusia. Seseorang, yang sesuai kamma –nya akan menjadi dewa di kehidupan selanjutnya, akan terlahir di alam para dewa. Demikian pula seseorang yang di kehidupan mendatang akan berada di alam neraka, akan mendapati dirinya berada di salah satu alam neraka pada kelahiran berikutnya.

Pemikiran tentang adanya suatu entitas, atau jiwa, atau roh yang ‘pergi’, ‘datang’, ‘berubah’, atau ‘berpindah’ dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain adalah pemikiran yang tidak dibenarkan oleh Dhamma. Menurut Dhamma, konsep ‘perpindahan’ ini dapat diilustrasikan seperti gambar yang dipancarkan oleh sebuah proyektor dengan filmnya itu sendiri, atau suara yang dihasilkan oleh gramofon dengan piringan hitamnya. Sebagai contoh, ada manusia yang meninggal dan terlahir kembali di alam Dewa.

Meskipun kedua alam ini berbeda, namun tetap terdapat suatu aliran atau kontinuitas yang tidak terputus antara keduanya pada saat terjadinya kematian. Hal ini berlaku juga pada kasus orang yang kehidupan berikutnya adalah di alam neraka. Jarak antara neraka dan alam manusia terlihat sangat jauh. Tetapi, tetap aliran ‘perjalanan’ dari satu alam kehidupan ke alam kehidupan lainnya tidak terputus sedikitpun, dan tidak ada penghalang berupa jarak atau lainnya yang dapat menyela gerakan kamma seseorang untuk terlahir dari alam manusia ke alam nereka. ‘Perjalanan’ dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya terjadi secara seketika, dan perubahan ini tak terhingga cepatnya, melebihi kecepatan kedipan mata atau kilatan petir.

Kamma menentukan ke alam mana semua makhluk akan terlahir kembali dan bagaimana kondisi kehidupan mereka di alam tersebut (dalam siklus kehidupan, yang harus dilewati atau dijalani hingga akhirnya pencapaian Nibbana). Akibat kamma bisa bermacam-macam, dan dapat dipengaruhi dengan banyak cara. Dengan melakukan dana, seseorang akan terlahir kembali sebagai manusia atau menjadi dewa di salah satu dari enam alam dewa, sesuai dengan tingkat kebajikan yang telah dilakukannya. Demikian pula halnya dengan menjalankan sila. Pencapaian jhana atau keadaan pencerapan, akan menyebabkan seseorang terlahir dalam alam brahma atau brahmaloka yang berjumlah dua puluh alam. Sedangkan seorang pelaku kejahatan akan jatuh ke kedalaman neraka, tingkat demi tingkat. Demikianlah kamma, baik yang lampau, sekarang, atau yang akan datang, akan menjadi jumlah total dari seluruh perbuatan kita, baik yang bajik, buruk, maupun netral. Seperti yang sudah disampaikan, kamma menentukan perubahan dari kehidupan kita. Oleh karena itu, ‘roh yang jahat’ bukanlah makhluk yang menghuni alam antara atau berada pada tahap transisi dari kehidupan.

Mereka adalah makhluk tingkat rendah dan termasuk dalam satu diantara lima alam kehidupan berikut:
1. Alam manusia
2. Alam raksasa (asura)
3. Alam neraka
4. Alam binatang
5. Alam hantu atau (peta)

Alam nomor 2 dan 5 sangat dekat dengan alam manusia. Kondisi mereka sangat tidak membahagiakan dan mereka biasanya dianggap sebagai roh-roh jahat. Tidak benar bahwa setiap makhluk yang meninggal di dunia ini akan terlahir kembali sebagai roh jahat. Tidak benar juga bahwa setiap makhluk yang meninggal secara mendadak atau karena pembunuhan cenderung terlahir kembali di alam raksasa.

Tanya : Apakah ada seorang manusia yang mengalami kelahiran kembali dan mampu mengetahui dengan jelas tentang kehidupannya yang lampau?
Jawab : Sebenarnya hal ini bukan merupakan kejadian yang luar biasa, dan sejalan dengan ajaran Buddhisme dalam kaitannya dengan kamma. Berikut adalah mereka-mereka yang pada umumnya tidak mampu mengingat kehidupannya yang lampau ketika terlahir menjadi manusia: Anak-anak yang meninggal ketika masih kecil; orang yang meninggal dalam usia tua dan pikun; orang yang kecanduan narkoba atau minuman keras; orang yang ibunya sering sakit-sakitan atau bekerja terlalu keras selama mengandung, atau ibunya bersikap sembrono dan lalai; anak-anak yang selama berada dalam kandungan sering kaget atau terkejut. Kesemua kelompok ini setelah meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai manusia pada umumnya tidak memiliki kemampuan untuk mengingat kehidupan lampaunya, dan kelompok ini meliputi sebagian besar manusia sekarang.

Berikut adalah mereka-mereka yang memiliki ingatan akan kehidupannya yang lampau: orang yang tidak terlahir kembali di alam manusia melainkan lahir di alam dewa, alam Brahma, atau di alam-alam neraka. Orang yang meninggal mendadak karena kecelakaan, padahal dirinya dalam kondisi sehat, kemungkinan akan memiliki kemampuan ini pada kehidupannya yang akan datang. Apalagi bila ditunjang oleh ibunya ketika mengandung dalam keadaan sehat juga. Orang yang menjalani kehidupan yang mantap dan penuh kebajikan, serta pada kehidupan yang lampau telah berjuang demi pencapaian, mampu memiliki kemampuan ini. Yang terakhir adalah para Buddha, para Arahat, dan para Ariya yang memperoleh kemampuan yang dikenal sebagai pubbenivāsā-abhiññā (kekuatan batin untuk mengingat kehidupan-kehidupan lampau).

Tanya : Apa saja lima abhiññā itu? Apakah abhiññā ini hanya dapat dicapai oleh seorang Buddha?
Jawab : Lima abhiññā (Pali: -abhi berarti luar biasa, tinggi; dan –ñana berarti pengetahuan, kebijaksanaan) atau lima kekuatan batin terdiri dari:

Iddhividhā = kemampuan untuk menciptakan benda-benda, kesaktian
Dibbasota = telinga dewa
Cetopariya-ñaņa = kemampuan untuk mengetahui pikiran orang lain
Pubbenivāsānussati = kemampuan untuk mengetahui kehidupan masa lampau
Dibbacakkhu = mata dewa

Abhiññā tidak hanya dapat dicapai oleh seorang Buddha, tetapi juga dapat dicapai oleh Arahat dan Ariya (orang yang telah mencapai kesucian), atau oleh orang biasa yang berlatih menurut Kitab (seperti halnya para pertapa, yang sudah ada sebelum zaman Sang Buddha, dan memiliki kemampuan terbang di udara dan pergi ke alam-alam lain).

Dalam kitab-kitab Buddhis, secara jelas dibabarkan tentang cara-cara untuk mencapai kelima abhiññā tersebut. Bahkan pada kehidupan sekarang, bila kita melatihnya dengan tekun dan cermat, kita mungkin saja akan mencapainya. Bila kita tidak menemukan ada seseorang yang memiliki kelima abhiññ pada saat ini, hal ini disebabkan karena kurangnya pengerahan tenaga baik fisik maupun mental dalam usaha untuk mencapainya.

Judul asli: The Teory Of Kamma in Buddhism
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw
Alih Bahasa: Marlin & Bodhi Limas
Editor: Y.M. Bhikkhu Abhipañño
Share:

0 Komentar:

Posting Komentar