Rabu, 09 Januari 2013

Apa Penyebab Kamma?

 on  with No comments 
In ,  
Ketidaktahuan (avijjā), tidak mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya, adalah penyebab utama dari Kamma. Dalam pațicca-samuppāda (hukum asal mula saling bergantungan) Sang Buddha mengatakan, “Dari ketidaktahuan maka timbul bentuk-bentuk kamma (avijjāpaccayā sańkhārā).” Berasosiasi dengan ketidaktahuan adalah sekutunya, yaitu keinginan (tańhā), yang merupakan penyebab lain dari kamma. Semua perbuatan jahat dikondisikan oleh dua akar ini.

Sedangkan semua perbuatan bajik yang dilakukan umat awam (putthujana), meskipun ditunjang oleh tiga akar baik yaitu alobha (tidak serakah), adosa (tidak membenci), dan amoha (kebijaksanaan), tetap dianggap sebagai Kamma karena kedua akar (ketidaktahuan dan keinginan) masih laten berada dalam dirinya. Bentuk-bentuk moral dari Kesadaran Jalan Para Ariya (magga citta), tidak disebut sebagai kamma karena hal ini cenderung mengikis dua akar penyebab tersebut.

Siapakah pelaku kamma? Siapa pula yang memetik buah kamma? Apakah kamma membentuk sebuah jiwa? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Yang Mulia Buddhaghosa menulis dalam Visuddhi Magga : “Tidak ada yang namanya si pelaku perbuatan; Tidak ada pula yang memetik buahnya; Yang ada hanya perpaduan; Inilah kebenaran yang sesungguhnya.”

Sebagai contoh, meja yang kita lihat merupakan sesuatu yang nyata. Namun dalam pengertian yang lebih tinggi, yang dinamakan meja terdiri dari bagian-bagian fisiknya dan ciri-cirinya. Dalam percakapan umum, seorang ilmuwan akan menggunakan istilah “air”. Akan tetapi dalam laboratorium mereka menggunakan istilah H2O. Dengan cara yang sama, untuk tujuan konvensional (biasa, sehari-hari), digunakan istilah laki-laki, wanita, mahluk, diri, dan lain lain.

Namun apa yang disebut ‘makhluk’ sesungguhnya adalah fenomena-fenomena fisik dan batin, yang terus-menerus berubah dan tidak akan pernah sama dalam dua saat yang berurutan. Oleh karena itu, Buddhisme tidak mempercayai adanya sesuatu (entitas) yang tidak berubah. Buddhisme juga tidak mempercayai adanya seorang pelaku terpisah dari tindakannya, adanya si perasa terpisah dari persepsinya, dan adanya sesuatu yang sadar dibalik kesadaran.

Kemudian, siapa yang melakukan kamma? Dan siapa yang akan merasakan akibatnya? Kemauan atau kehendak (cetanā) adalah pelaku kamma itu sendiri. Perasaan (vedanā) adalah yang merasakan buah dari kamma. Terlepas dari kondisi mental yang murni (suddhadhamma) ini, tidak ada yang menabur dan tidak ada yang menuai.

Judul asli: The Teory Of Kamma in Buddhism
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw
Alih Bahasa: Marlin & Bodhi Limas
Editor: Y.M. Bhikkhu Abhipañño
Share:

Penggolongan Kamma

 on  with No comments 
In ,  
Penggolongan Kamma
(A) Menurut perbedaan fungsinya, kamma digolongkan empat macam:
1. Janaka kamma (kamma penghasil)
Setiap kelahiran dikondisikan oleh kamma baik atau kamma buruk masa lampau, yang muncul sesaat sebelum kematian. Kamma yang menciptakan kondisi bagi kelahiran yang akan datang disebut sebagai janaka kamma atau kamma penghasil. Kematian seseorang hanyalah merupakan ‘akhir yang sementara dari fenomena yang bersifat sementara pula’. Meskipun wujud yang sekarang musnah, wujud yang lain akan menggantikannya, sesuai dengan getaran pikiran yang dibangkitkan pada momen kematian. Hal ini dikarenakan kekuatan kamma yang menunjang alur kehidupan masih ada. Pikiran terakhir inilah yang secara teknis disebut kamma penghasil. Kamma penghasil menentukan keadaan seseorang di kelahirannya yang berikut.

Kamma penghasil mungkin saja berupa kamma baik ataupun kamma buruk. Menurut Kitab Komentar, kamma penghasil adalah kamma yang menghasilkan kelompok batin dan kelompok jasmani pada saat pembuahan. Kesadaran awal, yang disebut dengan istilah ‘kesadaran kelahiran kembali’ atau pa*isandhi, dikondisikan oleh kamma ini. Bersamaan dengan munculnya ‘kesadaran kelahiran kembali’, timbul pula ‘sepuluh faktor pembentuk fisik’, ‘sepuluh faktor pembentuk seks’, dan ‘sepuluh faktor unsur pokok’ (kāya-bhavavatthu dasaka).

Sepuluh faktor pembentuk fisik terdiri dari:
(a) Empat unsur pokok (mahābhuta):
1. Unsur padat (pațhavi)
2. Unsur cair (āpo)
3. Unsur panas (tejo)
4. Unsur gerak (vāyo)


(b) Empat unsur pembentuk (upādāna rupa), yakni;
1. Unsur warna (vaņņa)
2. Unsur bau (gandha)
3. Unsur rasa (rasa)
4. Unsur nutrisi (ojā)

Kedelapan unsur ini (4 mahābhuta + 4 upādāna = 8) disebut Avinibhoga Rupa (kondisi atau pembentuk yang tidak dapat dipisah atau dibagi).

(c). Unsur kehidupan atau vitalitas (jivitindriya) dan jasmani (kāya).
Kesepuluh unsur ini (8 avinibhoga + 1 jivitindriya + 1 kāya) disebut sebagai sepuluh faktor pembentuk jasmani (kāya dasaka).

Sepuluh faktor pembentuk jenis kelamin terdiri dari 4 mahābhuta, 4 upādāna, 1 jivitindriya, dan 1 jenis kelamin (bhava). Sepuluh faktor unsur pokok terdiri dari 4 mahâbhûta, 4 upādāna, 1 jivitindriya dan 1 landasan kesadaran (vatthu), yaitu; mata, telinga hidung, lidah, dan tubuh / kulit. Dari keterangan di atas, sangat jelas bahwa jenis kelamin ditentukan pada tahap awal pembuahan mahluk hidup. Hal ini dikondisikan oleh kamma dan bukan oleh kombinasi sel sperma dan sel telur yang bersifat kebetulan. Penderitaan dan kebahagiaan yang dialami oleh suatu individu dalam rangkaian hidupnya merupakan akibat yang tidak dapat dihindari dari adanya kamma penghasil.

2. Upathambaka kamma (kamma pendorong / penyokong)
Kamma penyokong adalah kamma yang datang setelah kamma penghasil dan menyokongnya. Kamma ini tidak bersifat baik atau buruk, akan tetapi hanya bersifat membantu atau mempertahankan kekuatan kamma penghasil dalam rangkaian siklus hidup seseorang. Dari sesaat sesudah pembuahan hingga pada saat menjelang kematian, kamma penyokong akan terus bekerja mendorong kamma penghasil. Kamma penyokong yang baik (kusala upathambhaka) akan membantu dalam memberikan kesehatan, kekayaan, kebahagiaan, dsb kepada seseorang yang terlahir dengan kamma penghasil yang baik (kusala janaka). Sebaliknya, kamma penyokong yang buruk (akusala upathambaka) akan membantu dalam memberikan penyakit, penderitaan, dsb kepada seseorang yang terlahir dengan kamma penghasil yang buruk (akusala janaka)

3. Upapilaka kamma (kamma penghalang / pelemah)
Tidak seperti kamma penyokong, kamma penghalang bersifat untuk memperlemah, menghalangi, dan memperlambat berbuahnya kamma penghasil. Sebagai contoh, seseorang yang terlahir dengan kamma penghasil yang baik, bisa saja menderita berbagai macam penyakit, yang mencegahnya menikmati hasil-hasil yang menyenangkan dari perbuatan-perbuatan baik yang telah dia lakukan. Sebaliknya, seekor binatang yang dilahirkan akibat kamma penghasil yang buruk, bisa saja menikmati hidup yang nyaman dengan memperoleh makanan yang baik, tempat tinggal yang layak, dsb, sebagai hasil dari kamma penghalangnya yang baik, yang mencegah berbuahnya kamma penghasil yang buruk.

4. Upaghataka kamma (kamma penghancur)
Menurut hukum Kamma, kekuatan dari kamma penghasil dapat dihapus hanya oleh dorongan kamma berlawanan yang sangat kuat yang dilakukan di masa lampau. Kamma ini mencari kesempatan untuk berbuah dan bisa saja bekerja tanpa disangka-sangka, seperti sebuah daya penghalang berkekuatan besar yang dapat menghentikan lajunya anak panah dan menjatuhkannya ke tanah. Kamma seperti ini disebut sebagai kamma penghancur, yang lebih kuat dibandingkan kedua kamma sebelumnya, karena tidak hanya menghalangi tetapi menghancurkan kekuatan kamma penghasil secara total. Kamma penghancur ini juga dapat bersifat baik atau buruk. Cerita Devadatta dapat digunakan untuk menggambarkan cara kerja dari keempat Kamma di atas.

Devadatta adalah orang yang berusaha untuk membunuh Sang Buddha dan menyebabkan perpecahan dalam Sangha (siswa-siswa Sang Buddha). Kamma penghasil yang baik membawanya terlahir dalam sebuah keluarga kerajaan. Kenyamanan dan kekayaan yang dia peroleh secara terus menerus merupakan perbuatan dari kamma penyokong. Kamma penghalang atau pelemah bekerja pada dirinya ketika dia menjadi bahan hinaan saat dikucilkan oleh Sangha. Akhirnya, kamma penghancur memyebabkan kehidupannya berakhir secara menyedihkan.

(B) Penggolongan kamma, menurut prioritas hasilnya;
1. Garuka Kamma
Garuka Kamma adalah kamma yang berat atau serius –dapat berarti baik atau buruk. Kamma ini menghasilkan buahnya di kehidupan sekarang serta di beberapa kehidupan yang akan datang. Yang merupakan garuka kamma yang baik adalah pencapaian Jhana (tingkatan dalam meditasi). Sedangkan untuk garuka kamma yang buruk, terdapat lima kejahatan kejam / keji yang akan berbuah dengan segera (pañcanantariya kamma), yaitu: membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh seorang arahat, melukai seorang Buddha, dan menyebabkan perpecahan Sangha. Mempertahankan pandangan salah yang permanen juga termasuk garuka kamma.

Sebagai contoh, jika seseorang yang telah mengembangkan jhana dan kemudian ia melakukan salah satu dari kejahatan keji diatas, maka kamma baiknya akan terhapus oleh kamma buruknya yang berkekuatan lebih besar. Kelahirannya yang berikut akan dikondisikan oleh kamma buruk tanpa dapat dicegah oleh pencapaian jhana yang telah dia dilakukan lebih dahulu. Devadatta kehilangan kekuatan batinnya dan terlahir dalam alam yang rendah karena telah melukai Sang Buddha dan menyebabkan perpecahan Sangha. Raja Ajatasattu akan dapat mencapai tingkat kesucian pertama (sotāpanna) jika dia tidak membunuh ayahnya. Dalam kasus ini, kekuatan kamma buruk bertindak sebagai penghalang bagi dirinya untuk mencapai tingkat kesucian.

2. Asanna kamma
Asanna Kamma adalah kamma yang dilakukan oleh seseorang atau diingat seseorang tepat sesaat sebelum kematian. Oleh karena asanna kamma berperanan amat penting dalam menentukan kelahiran yang akan datang, banyak orang di negara Buddhis yang mencurahkan perhatian lebih terhadap kamma ini. Tradisi untuk mengingatkan orang yang hampir meninggal akan semua perbuatan baiknya dan membuat mereka banyak melakukan perbuatan baik menjelang kematiannya masih dilakukan di negara-negara Buddhis. Terkadang seorang yang jahat dapat meninggal dengan tenang dan mendapatkan kelahiran yang baik, jika dia mengingat atau melakukan perbuatan-perbuatan baik pada saat terakhir hidupnya.

Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa seorang algojo secara kebetulan memberikan dana makanan kepada Yang Ariya Sariputta. Pada saat menjelang kematiannya ia mengingat perbuatan bajik ini dan sabagai akibatnya ia dilahirkan di alam bahagia. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa meskipun algojo tersebut menikmati kelahiran yang menyenangkan, ia akan terbebas dari akibat-akibat perbuatan buruk yang telah terkumpul selama masa hidupnya. Perbuatan-perbuatan itu akan berbuah ketika kesempatannya atau kondisinya tiba. Seseorang yang baik dapat meninggal dengan tidak tenang karena tiba-tiba teringat akan perbuatan buruknya atau karena memiliki pikiran jahat, yang secara bersamaan didukung oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Dalam kitab suci, Ratu Mallika, permaisuri Raja Kosala, mengingat sebuah kebohongan yang telah dilakukannya kepada suaminya sebelum meninggal, dan karena itu ia menderita selama tujuh hari di alam menyedihkan. Jadi, bisa dikatakan pikiran seseorang pada saat menjelang kematian sangat dipengaruhi oleh tingkah laku atau perbuatannya secara umum ketika masih hidup.

3. Acinna Kamma
Acinna Kamma adalah kamma yang dilakukan secara berulang-ulang dan akhirnya menjadi kebiasaan. Kebiasaan, apakah itu baik atau buruk, cenderung membentuk karakter seseorang. Pada saat pikiran kurang waspada, seseorang dapat tergelincir pada pola pikir mentalnya yang sudah menjadi kebiasaan. Pada saat menjelang kematian, jika tidak dipengaruhi oleh faktor-fator lainnya, seseorang biasanya akan mengingat kembali kebiasaan-kebiasaan yang telah dia lakukan. Cunda, seorang tukang jagal, yang tinggal di sekitar vihara tempat Sang Buddha tinggal, meninggal sambil menjerit seperti seekor binatang karena dia menafkahi hidupnya dengan menjagal atau menyembelih binatang. Raja Sri Langka yang bernama Dutthagamini, mempunyai kebiasaan memberikan dana makanan kepada para Bhikkhu sebelum ia sendiri makan. Acinna kamma atau kebiasaan inilah yang menyebabkan ia berbahagia dan tenang pada saat meninggal dan sebagai akibatnya ia terlahir ke alam surga Tusita.

4. Katata kamma
Secara harafiah, kațatā kamma berarti “karena telah dilakukan”. Semua perbuatan yang tidak termasuk dalam penggolongan yang telah disebutkan sebelumnya dan perbuatan yang segera dilupakan setelah dilakukan, termasuk kedalam kategori ini. Hal ini seperti simpanan perbuatan dari si pelaku.

(C) Penggolongan kamma berdasarkan waktu berbuahnya, yakni;
1. Kamma yang berbuah pada kehidupan sekarang (Dițțhadhamma-vedaniya-kamma)
2. Kamma yang berbuah langsung pada kehidupan berikutnya (upapajja-vedaniya-kamma)
3. Kamma yang berbuah pada kehidupan yang akan datang (aparāpariya-vedaniya-kamma)
4. Kamma yang gagal berbuah (ahosi-kamma)

Dițțhadhamma-vedaniya-kamma adalah kamma yang berbuah langsung pada kehidupan sekarang ini juga. Menurut Abhidhamma, seseorang melakukan kebaikan dan kejahatan (kamma) pada saat berlangsungnya proses javana (dorongan / impuls pikiran), yang biasanya berlangsung selama tujuh momen pikiran. Hasil dari momen pikiran yang pertama, yang paling lemah, seseorang dapat memetiknya pada kehidupan sekarang juga. Inilah yang disebut sebagai Dițțhadhamma-vedaniya-kamma. Jika Kamma itu tidak berbuah pada kehidupan sekarang, maka ia disebut sebagai ahosi-kamma (kamma yang gagal berbuah).

Momen pikiran yang ketujuh adalah yang terlemah kedua. Akibat-akibatnya dapat berbuah langsung pada kehidupan berikutnya (kehidupan langsung setelah sekarang). Ini yang disebut sebagai upapajja-vedaniya-kamma. Kamma ini juga akan disebut sebagai ahosi-kamma, jika tidak berbuah pada kelahiran yang berikutnya sesudah sekarang. Akibat dari momen pikiran yang terletak ditengah (momen pikiran kedua hingga keenam) dapat berbuah kapan saja dalam siklus kehidupan seseorang hingga ia mencapai Nibbana. kamma yang seperti ini disebut sebagai aparāpariya-vedaniya-kamma.

Tidak seorang pun, bahkan para Buddha dan Arahat, yang terbebas dari penggolongan kamma ini selama mereka masih menjalani rangkaian kehidupan di alam samsara. Tidak ada penggolongan khusus bagi ahosikamma, akan tetapi ketika perbuatan yang seharusnya menghasilkan akibatnya di kehidupan sekarang atau di kehidupan langsung sesudah sekarang tidak berbuah, maka mereka dinamakan sebagai ahosi-kamma atau kamma yang gagal berbuah.

(D) Penggolongan kamma berdasarkan tempat dimana kamma akan berbuah, yakni;
1. Perbuatan jahat (akusala kamma), yang berbuah di alam-alam penuh nafsu (kāmaloka). (Enam alam surge + satu alam manusia + empat alam sengsara = sebelas kāmaloka). Yang dimaksud disini hanyalah empat alam sengsara.
2. Perbuatan baik (kusala kamma), yang berbuah di alam-alam penuh nafsu (kāmaloka) kecuali di empat alam sengsara.
3. Perbuatan baik (kusala kamma), yang berbuah di alam brahma yang berbentuk (rupa- brahmaloka). Ada enam belas rupa- brahmaloka.
4. Perbuatan baik (kusala kamma), yang berbuah di alam brahma tanpa bentuk (arupa- brahmaloka). Ada empat arupa- brahmaloka.
Judul asli: The Teory Of Kamma in Buddhism
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw
Alih Bahasa: Marlin & Bodhi Limas
Editor: Y.M. Bhikkhu Abhipañño
Share:

Pertanyaan-pertanyaan Seputar Hukum Kamma

 on  with No comments 
In ,  
Pertanyaan-pertanyaan Seputar Hukum Kamma

Tanya : Apakah kamma orang tua menentukan atau mempengaruhi kamma anak-anak mereka?
Jawab : Secara fisik, kamma dari anak umumnya ditentukan oleh kamma orang tua mereka. Orang tua yang sehat biasanya akan memiliki keturunan yang sehat dan orang tua yang berpenyakitan akan memiliki anak yang berpenyakitan pula. Mengenai bagaimana kamma dari anak-anak mereka ditentukan: sesungguhnya kamma si anak adalah sesuatu yang terpisah dan berdiri sendiri. Kamma si anak inilah yang membentuk kepribadian anak tersebut, yang merupakan akumulasi dari semua kebajikan dan kejahatan yang telah dilakukan dalam kehidupannya yang lampau dan tak terhitung banyaknya. Sebagai contoh adalah kamma dari Sang Buddha. Kamma Pangeran Siddhattha tidak dipengaruhi oleh gabungan kamma kedua orang tuanya, Raja Suddhodana dan Ratu Maya. Kekuatan dan keluhuran kamma dari seorang Buddha melebihi gabungan kamma kedua orang tuanya.

Tanya : Jika kamma orang tua tidak mempengaruhi kamma anak-anak mereka, bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa orang tua yang menderita penyakit mematikan, berkemungkinan atau cenderung menularkan atau menurunkan penyakit ini kepada keturunan mereka?
Jawab : Ketika seorang anak mewarisi sebuah penyakit, hal ini disebabkan oleh kekuatan sifat-sifat orang tuanya karena kekuatan Utu (kondisi-kondisi menguntungkan atau mendukung). Sebagai contoh, dua bibit yang diambil dari sebuah anak pohon. Yang satu ditanam di tanah yang kurang subur dan kering. Yang lain ditanam di tanah yang subur dan lembab. Hasilnya adalah bibit yang pertama akan tumbuh sebagai anak pohon yang layu dan tak lama kemudian akan mati. Sedangkan bibit yang kedua akan tumbuh dengan subur, dan akan menjadi sebuah pohon yang tinggi dan sehat. Dari sini diketahui bahwa sepasang bibit yang diambil dari pohon yang sama akan mengalami pertumbuhan yang berbeda sesuai dengan tanah dimana mereka ditanam.

Kamma lampau si anak dapat disamakan dengan bibit: sifat-sifat fisik dari ibu disamakan dengan tanah: dan sifat-sifat fisik ayah disamakan dengan kelembaban yang menyuburkan tanah. Untuk memudahkan pembicaraan, kita anggap saja pertumbuhan dan keberadaan dari anak pohon sebagai angka satu. Maka bibit berperan 1/10 dari pertumbuhan anak pohon, kondisi tanah berperan 6/10, dan kelembaban tanah sisanya, 3/10. Dengan demikian, meskipun potensi untuk tumbuh ada pada bibit (sang anak), akan tetapi pertumbuhan bibit tersebut secara langsung ditentukan dan dipercepat oleh kondisi tanah (sang ibu) dan kelembaban tanah (sang ayah). Oleh karena itu, kondisi tanah dan kelembaban harus diperhitungkan sebagai faktor yang menentukan pertumbuhan dan kondisi pohon. Demikian pula, faktor orang tua harus diperhitungkan pengaruhnya dalam pembuahan dan pertumbuhan keturunan mereka.

Andil kamma orang tua dalam menentukan faktorfaktor jasmaniah anak-anak mereka, adalah sebagai berikut: Jika orang tuanya adalah manusia maka keturunan mereka adalah manusia juga. Jika orang tuanya adalah binatang ternak maka anak mereka akan memiliki species yang sama dengan orang tuanya. Jika orang tuanya adalah keturunan Cina maka keturunan mereka akan berada dalam ras yang sama. Jadi, keturunannya tanpa terkecuali akan memiliki jenis dan spesies yang sama dengan orang tuanya.

Dapat dilihat dari atas bahwa, meskipun kamma si anak itu sendiri sangat kuat, ia tetap tidak dapat sepenuhnya terbebas dari pengaruh orangtuanya. Anak-anak cenderung mewarisi sifat-sifat fisik kedua orangtuanya. Tetapi bisa saja terjadi bila kekuatan kamma sang anak sangat kuat sekali, maka pengaruh gabungan kamma kedua orangtuanya tidak dapat mengalahkannya.

Semua mahluk yang terlahir karena hubungan seksual merupakan hasil dari tiga kekuatan berikut :
1. Kamma di kehidupan lampau.
2. Air mani dari sang ibu.
3. Air mani dari sang ayah.

Sifat-sifat fisik dari orang tua mungkin saja kekuatannya tidak sama. Yang satu dapat menetralkan yang lain pada tingkat tertentu. Kamma dan karakteristik fisik sang anak, seperti; ras, warna, dsb, merupakan hasil dari tiga kekuatan diatas.

Tanya : Ketika satu makhluk meninggal, apakah terdapat suatu ‘jiwa’ yang mengembara sesuai kehendaknya?
Jawab : Ketika suatu makhluk meninggal, dia akan mengalami kelahiran kembali, baik sebagai manusia, sebagai dewa atau brahma, sebagai hewan, atau sebagai salah satu penghuni alam neraka. Orang yang skeptis dan bodoh berpegang pada kepercayaan bahwa terdapat alam antara –antrabhava– antara kematian dan kelahiran kembali. Mereka percaya disana terdapat makhluk yang bukan manusia, bukan dewa atau brahma, bukan pula makhluk lainnya seperti yang tertulis dalam kitab suci.

Beberapa menyebutkan bahwa alam ini dihuni oleh makhluk yang memiliki lima khanda (lima kelompok, yakni : materi (rupa), perasaan (vedanā), pencerapan (sañña); bentuk-bentuk pikiran (sańkhara), dan kesadaran (viññana)). Beberapa lagi menyebutkan bahwa mahluk-mahluk ini adalah ‘jiwa’ atau ‘roh’ yang terlepas dari ikatan materi / fisik. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka memiliki kemampuan melihat seperti para Dewa, bahkan mereka memiliki kemampuan mengubah wujudnya untuk sementara menjadi makhluk apa saja sesuai kehendaknya. Yang lain berpegang pada teori yang tidak masuk akal dan keliru bahwa makhluk-makhluk ini dapat mengkhayalkan diri mereka berada di alam yang bukan alam keberadaan mereka sebenarnya.

Hal ini dapat diibaratkan sebagai orang miskin yang berkhayal menjadi orang kaya. Makhluk ini mungkin saja berada di alam neraka, tetapi ia beranggapan dirinya berada di alam para Dewa. Kepercayaan tentang alam antara ini adalah salah, dan ditolak dalam Buddhisme. Seorang manusia pada kehidupan ini, yang sesuai kamma -nya akan menjadi manusia pada kehidupan akan datang, akan terlahir kembali sebagai manusia. Seseorang, yang sesuai kamma –nya akan menjadi dewa di kehidupan selanjutnya, akan terlahir di alam para dewa. Demikian pula seseorang yang di kehidupan mendatang akan berada di alam neraka, akan mendapati dirinya berada di salah satu alam neraka pada kelahiran berikutnya.

Pemikiran tentang adanya suatu entitas, atau jiwa, atau roh yang ‘pergi’, ‘datang’, ‘berubah’, atau ‘berpindah’ dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain adalah pemikiran yang tidak dibenarkan oleh Dhamma. Menurut Dhamma, konsep ‘perpindahan’ ini dapat diilustrasikan seperti gambar yang dipancarkan oleh sebuah proyektor dengan filmnya itu sendiri, atau suara yang dihasilkan oleh gramofon dengan piringan hitamnya. Sebagai contoh, ada manusia yang meninggal dan terlahir kembali di alam Dewa.

Meskipun kedua alam ini berbeda, namun tetap terdapat suatu aliran atau kontinuitas yang tidak terputus antara keduanya pada saat terjadinya kematian. Hal ini berlaku juga pada kasus orang yang kehidupan berikutnya adalah di alam neraka. Jarak antara neraka dan alam manusia terlihat sangat jauh. Tetapi, tetap aliran ‘perjalanan’ dari satu alam kehidupan ke alam kehidupan lainnya tidak terputus sedikitpun, dan tidak ada penghalang berupa jarak atau lainnya yang dapat menyela gerakan kamma seseorang untuk terlahir dari alam manusia ke alam nereka. ‘Perjalanan’ dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya terjadi secara seketika, dan perubahan ini tak terhingga cepatnya, melebihi kecepatan kedipan mata atau kilatan petir.

Kamma menentukan ke alam mana semua makhluk akan terlahir kembali dan bagaimana kondisi kehidupan mereka di alam tersebut (dalam siklus kehidupan, yang harus dilewati atau dijalani hingga akhirnya pencapaian Nibbana). Akibat kamma bisa bermacam-macam, dan dapat dipengaruhi dengan banyak cara. Dengan melakukan dana, seseorang akan terlahir kembali sebagai manusia atau menjadi dewa di salah satu dari enam alam dewa, sesuai dengan tingkat kebajikan yang telah dilakukannya. Demikian pula halnya dengan menjalankan sila. Pencapaian jhana atau keadaan pencerapan, akan menyebabkan seseorang terlahir dalam alam brahma atau brahmaloka yang berjumlah dua puluh alam. Sedangkan seorang pelaku kejahatan akan jatuh ke kedalaman neraka, tingkat demi tingkat. Demikianlah kamma, baik yang lampau, sekarang, atau yang akan datang, akan menjadi jumlah total dari seluruh perbuatan kita, baik yang bajik, buruk, maupun netral. Seperti yang sudah disampaikan, kamma menentukan perubahan dari kehidupan kita. Oleh karena itu, ‘roh yang jahat’ bukanlah makhluk yang menghuni alam antara atau berada pada tahap transisi dari kehidupan.

Mereka adalah makhluk tingkat rendah dan termasuk dalam satu diantara lima alam kehidupan berikut:
1. Alam manusia
2. Alam raksasa (asura)
3. Alam neraka
4. Alam binatang
5. Alam hantu atau (peta)

Alam nomor 2 dan 5 sangat dekat dengan alam manusia. Kondisi mereka sangat tidak membahagiakan dan mereka biasanya dianggap sebagai roh-roh jahat. Tidak benar bahwa setiap makhluk yang meninggal di dunia ini akan terlahir kembali sebagai roh jahat. Tidak benar juga bahwa setiap makhluk yang meninggal secara mendadak atau karena pembunuhan cenderung terlahir kembali di alam raksasa.

Tanya : Apakah ada seorang manusia yang mengalami kelahiran kembali dan mampu mengetahui dengan jelas tentang kehidupannya yang lampau?
Jawab : Sebenarnya hal ini bukan merupakan kejadian yang luar biasa, dan sejalan dengan ajaran Buddhisme dalam kaitannya dengan kamma. Berikut adalah mereka-mereka yang pada umumnya tidak mampu mengingat kehidupannya yang lampau ketika terlahir menjadi manusia: Anak-anak yang meninggal ketika masih kecil; orang yang meninggal dalam usia tua dan pikun; orang yang kecanduan narkoba atau minuman keras; orang yang ibunya sering sakit-sakitan atau bekerja terlalu keras selama mengandung, atau ibunya bersikap sembrono dan lalai; anak-anak yang selama berada dalam kandungan sering kaget atau terkejut. Kesemua kelompok ini setelah meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai manusia pada umumnya tidak memiliki kemampuan untuk mengingat kehidupan lampaunya, dan kelompok ini meliputi sebagian besar manusia sekarang.

Berikut adalah mereka-mereka yang memiliki ingatan akan kehidupannya yang lampau: orang yang tidak terlahir kembali di alam manusia melainkan lahir di alam dewa, alam Brahma, atau di alam-alam neraka. Orang yang meninggal mendadak karena kecelakaan, padahal dirinya dalam kondisi sehat, kemungkinan akan memiliki kemampuan ini pada kehidupannya yang akan datang. Apalagi bila ditunjang oleh ibunya ketika mengandung dalam keadaan sehat juga. Orang yang menjalani kehidupan yang mantap dan penuh kebajikan, serta pada kehidupan yang lampau telah berjuang demi pencapaian, mampu memiliki kemampuan ini. Yang terakhir adalah para Buddha, para Arahat, dan para Ariya yang memperoleh kemampuan yang dikenal sebagai pubbenivāsā-abhiññā (kekuatan batin untuk mengingat kehidupan-kehidupan lampau).

Tanya : Apa saja lima abhiññā itu? Apakah abhiññā ini hanya dapat dicapai oleh seorang Buddha?
Jawab : Lima abhiññā (Pali: -abhi berarti luar biasa, tinggi; dan –ñana berarti pengetahuan, kebijaksanaan) atau lima kekuatan batin terdiri dari:

Iddhividhā = kemampuan untuk menciptakan benda-benda, kesaktian
Dibbasota = telinga dewa
Cetopariya-ñaņa = kemampuan untuk mengetahui pikiran orang lain
Pubbenivāsānussati = kemampuan untuk mengetahui kehidupan masa lampau
Dibbacakkhu = mata dewa

Abhiññā tidak hanya dapat dicapai oleh seorang Buddha, tetapi juga dapat dicapai oleh Arahat dan Ariya (orang yang telah mencapai kesucian), atau oleh orang biasa yang berlatih menurut Kitab (seperti halnya para pertapa, yang sudah ada sebelum zaman Sang Buddha, dan memiliki kemampuan terbang di udara dan pergi ke alam-alam lain).

Dalam kitab-kitab Buddhis, secara jelas dibabarkan tentang cara-cara untuk mencapai kelima abhiññā tersebut. Bahkan pada kehidupan sekarang, bila kita melatihnya dengan tekun dan cermat, kita mungkin saja akan mencapainya. Bila kita tidak menemukan ada seseorang yang memiliki kelima abhiññ pada saat ini, hal ini disebabkan karena kurangnya pengerahan tenaga baik fisik maupun mental dalam usaha untuk mencapainya.

Judul asli: The Teory Of Kamma in Buddhism
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw
Alih Bahasa: Marlin & Bodhi Limas
Editor: Y.M. Bhikkhu Abhipañño
Share:

Sifat Kamma

 on  with No comments 
In ,  
Dalam proses bekerjanya kamma, terdapat kekuatan atau kondisi yang merugikan dan menguntungkan untuk menghalangi maupun menyokong hukum ini. Kelahiran (gati), waktu atau kondisi (kala) dasar dari kelahiran kembali atau kemelekatan untuk terlahir kembali (upadhi), dan usaha (payoga) bertindak sebagai penyokong dan penghalang yang kuat terhadap berbuahnya Kamma. Meskipun kita tidak sepenuhnya menjadi budak maupun majikan dari kamma kita sendiri, berdasarkan adanya faktor-faktor penghalang dan penyokong, maka berbuahnya kamma dipengaruhi sampai tingkat tertentu oleh keadaan eksternal, lingkungan sekitar, kepribadian, perjuangan individu itu sendiri, dan lain sebagainya.

Ajaran tentang kamma inilah yang menjadi penghiburan, harapan, pegangan, dan keteguhan hati bagi seorang Buddhis. Ketika hal yang tidak diharapkan terjadi, atau menghadapi kesulitan, kegagalan, dan kemalangan, seorang Buddhis menyadari bahwa dia hanya sedang memetik apa yang telah ditanamnya, dia sedang melunasi hutang-hutang masa lampaunya. Daripada bersikap pasrah dan menyerahkan semuanya kepada kamma, dia melakukan usaha yang tekun untuk menyingkirkan tanaman pengganggu dan menanam benih yang bermanfaat, karena masa depan ada di tangan mereka sendiri. Orang yang meyakini hukum Kamma tidak akan mengutuk bahkan orang yang paling jahat sekalipun, karena mereka juga mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri kapan saja. Meskipun ‘ditakdirkan’ untuk menderita di alam-alam sengsara, mereka tetap mempunyai harapan untuk mencapai kedamaian abadi. Melalui perbuatan sendiri mereka menciptakan neraka bagi dirinya sendiri, dan melalui perbuatan sendiri pula mereka menciptakan surga.

Seorang Buddhis yang sepenuhnya meyakini hukum Kamma tidak akan memohon dan berdoa pada ‘sesuatu’ untuk diselamatkan melainkan sepenuhnya bergantung kepada dirinya sendiri untuk mencapai pembebasan. Daripada bersikap pasrah atau bergantung pada hal-hal gaib, ia lebih memilih untuk bergantung pada kekuatan kehendaknya sendiri dan berusaha tanpa kenal lelah demi kebahagiaan dan kesejahteraan semua mahluk. Keyakinan akan kamma membulatkan usahanya dan membangkitkan semangatnya, karena hukum ini mengajarkan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Bagi seorang Buddhis yang tidak paham, Kamma menjadi penghalang untuk berbuat. Sedangkan bagi mereka yang mengerti, Kamma berfungsi sebagai pendorong untuk melakukan kebajikan. Mereka berusaha untuk menjadi orang yang baik, toleran, dan penuh perhatian. Hukum Kamma ini menjelaskan masalah penderitaan, penguasaan oleh apa yang disebut nasib dan takdir dalam agama lain, dan tentang penyebab semua perbedaan yang ada di antara umat manusia.

Judul asli: The Teory Of Kamma in Buddhism
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw
Alih Bahasa: Marlin & Bodhi Limas
Editor: Y.M. Bhikkhu Abhipañño
Share:

Sabtu, 05 Januari 2013

Reinkarnasi VS Punabhava

 on  with No comments 
In  
Reinkarnasi berasal dari bahasa Latin yaitu Reincar dan Incarnate yang berarti masuk kembali ke dalam daging. Reinkarnasi merupakan istilah keyakinan jiwa seseorang tidak mati dengan tubuh, tanpa jiwa, atau bagian darinya, dapat masuk ke tubuh yang baru, baik pada manusia atau hewan. Reinkarnasi adalah istilah yang timbul dari gagasan bahwa orang akan dilahirkan dalam tubuh lain setelah mereka mati. Yang dilahirkan dari reinkarnasi bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.

Dalam ajaran Buddha, terlahir kembali merupakan bukti dari kehidupan yang berulang-ulang dari setiap makhluk yang disebut dengan istilah punabhava (pali) atau punarbhava (sansekerta). Setiap makhluk yang masih diliputi tanha (keinginan tanpa akhir) akan selalu terlahir kembali di salah satu dari 31 alam kehidupan. Dari tiga macam tanha, yang paling berpengaruh dalam kelahiran kembali adalah bhava tanha (keinginan untuk terlahir) meskipun kama tanha (keinginan pemuasan nafsu indera) dan vibhava tanha (keinginan untuk memusnahkan diri). Darimana keinginan-keinginan itu muncul? Dari pikiran keinginan itu muncul oleh ucapan dan perbuatan keinginan itu dicetuskan. Rangkaian ini disebut sabagai karma yang akan menjadikan sebab dari yang diperoleh selanjutnya.

Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut; sederhananya, bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderita. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.

Punabbhava pada ajaran Budha tidaklah merujuk pada konsep reinkarnasi yang mengakui adanya sifat kekekalan roh atau entitas jiwa abadi yang mengalami perpindahan ke dalam bentuk tubuh ataupun fisik yang berbeda. Dalam reinkarnasi roh atau atma adalah kekal dan selalu berpindah-pindah dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya. Dalam punarbhava tidak ada roh atau atma yang kekal yang berpindah-pindah pada setiap kelahiran, tetapi kelahiran kembali hanya merupakan proses kesadaran yang berpindah dan berubah di setiap kelahiran baru. Kesadaran makhluk di kehidupan baru berbeda dengan kesadaran pada makhluk di kehidupan lalu.

Ajaran buddha memandang sukma, roh, jiwa adalah tidak kekal seperti dikatakan dalam hukum tilakhana yaitu anatta, malainkan hanya merupakan proses yang selalu bergerak. Kelahiran kembali juga bukan merupakan perpindahan kehidupan di satu alam ataupun perpindahan kehidupan dari satau alam ke alam yang lain. Kelahiran kembali merupakan kelangsungan proses kesadaran yang bergerak terus karena adanya kekuatan karma.

Tumimbal-lahir (patisandhi/punabbhava) bukan berarti pemindahan atau penjelmaan. Dalam agama Buddha tidak dikenal pemindahan atau penjelmaan dari nama (bathin/jiwa) setelah seseorang meninggal dunia. Tetapi dikenal dengan istilah "penerusan" (patisandhi) dari nama, disebut Patisandhi-vinnana. Ketika seseorang akan meninggal dunia, kesadaran-ajal (cuti-citta) mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan kamma. Kemudian, kesadaran-ajal (cuticitta) padam dan langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi-vinnana) untuk timbul pada salah satu dari 31 Alam Kehidupan (Bhumi 31) sesuai dengan karmanya. Hal ini secara umum disebut pula suatu permulaan dari bentuk kehidupan baru.

Ada 4 cara tumimbal-lahirnya makhluk-makhluk dalam ajaran Buddha, yaitu :
1. Jajabuja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kandungan, seperti manusia, kuda, kerbau dan lain-lain
2. Andaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari telur, seperti Burung, ayam, bebek dan lain-lain.
3. Sansedaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kelembaban, seperti nyamuk, ikan dan lain-lain.
4. Opapatika-Yoni : Makhluk yang lahir secara spontan, langsung membesar, seperti para dewa, brahma, makhluk neraka, setan dan lain-lain.
Share: