Minggu, 10 Februari 2013

Milinda Panha - Apendiks

 on  with No comments 
In ,  
Apendiks
Kata Kata Pali dan Istilah Teknis
  • Empat Buah Sang Jalan
    1. Pemenang-Arus (sotappana, tingkat kesucian pertama). Ketika mewujudkan nibbana untuk pertama kalinya, pemenang-arus telah menghancurkan tiga belenggu pandangan salah: percaya adanya pribadi, percaya pada tata-cara dan ritual, dan keraguan. Dia tidak mungkin dapat melakukan kejahatan yang keji, dan seandainya melakukan suatu perbuatan jahat, dia tidak dapat menyembunyikannya. Dia terjamin pasti mencapai tingkat Arahat, paling banyak dalam tujuh kali kelahiran.
    2. Yang-Kembali-Sekali-Lagi (sakadagami, tingkat kesucian kedua). Yang-kembali-sekali-lagi ini telah menghilangkan sebagian besar kekuatan belenggu nafsu keinginan dan niat jahat; dia akan dilahirkan di bumi paling banyak hanya satu kali lagi sebelum mencapai tingkat Arahat.
    3. Yang-Tidak-Kembali-Lagi (anagami, tingkat kesucian ketiga). Yang-tidak-kembali-lagi ini telah sepenuhnya mematahkan belenggu-belenggu nafsu keinginan dan niat jahat; dia tidak akan dilahirkan kembali di bumi tetapi akan mencapai tingkat Arahat di alam-alam yang lebih tinggi, di alam dewa atau alam Brahma.
    4. Arahat. Arahat telah menyingkirkan lima sisa belenggu, telah menghancurkan semua kebodohan batin dan nafsu keinginan, serta mengakhiri semua bentuk kelahiran kembali. Dengan demikian dia mencapai tujuan akhir kehidupan suci. Empat Cara Hidup Tanpa Rasa Takut (vesarajja)
    5. Sang Buddha berkata, “Aku tidak melihat alasan apa pun yang dipakai orang untuk marah terhadapku di dalam hal:
      1. telah sepenuhnya tercerahkan,
      2. banjir-banjir yang telah sepenuhnya dihancurkan,
      3. pengetahuan tentang penghalang kemajuan,
      4. pengetahuan Dhamma yang menuju ke penghancuran banjir-banjir itu.
  • Lima Kelompok Pembentuk Makhluk (khandha)
    Ketika kita mengatakan ‘makhluk hidup’, ini hanyalah suatu cara bicara konvensional. Yang mendasari konvensi ini adalah pandangan salah mengenai kepercayaan akan adanya pribadi, kekekalan dan adanya substansi. Tetapi, apabila kita periksa dengan lebih seksama apakah sebenarnya makhluk hidup atau orang itu, maka yang akan kita temukan hanyalah suatu arus fenomena yang terus menerus berubah. Fenomena-fenomena ini dapat diatur di dalam lima kelompok: tubuh atau fenomena materi, perasaan, persepsi (pencerapan), bentukan-bentukan mental dan kesadaran murni. Ini hanya kategori, dan janganlah menganggap bahwa kelompok-kelompok ini merupakan sesuatu yang stabil.

  • Lima Penghalang (nivarana)
    Nafsu keinginan, keinginan jahat, kelambanan dan kemalasan, keresahan dan penyesalan yang mendalam, serta keraguan. Kekotoran-kekotoran batin ini disebut penghalang karena menghambat perkembangan konsentrasi.

  • Delapan Penyebab Gempa Bumi
    1. Bumi ini ditopang oleh air, air ditopang oleh udara, udara oleh ruang. Kadang-kadang angin besar bertiup kencang dan air tergoncang. Ketika air tergoncang, bumi tergoncang. (Catatan- Air adalah elemen kohesi/ kepaduan atau ketidak-stabilan, udara adalah elemen gerak. Elemen-elemen ini ada sekalipun pada batu karang yang meleleh).
    2. Seorang petapa atau dewa dengan kekuatan yang besar menyebabkan bumi bergoncang lewat kekuatan konsentrasinya.
    3. Ketika Sang Bodhisatta secara sengaja dan sadar meninggal dari surga Tusita, dan terkandung dalam rahim ibunya, bumi besar ini bergoncang.
    4. Ketika Sang Bodhisatta secara sengaja dan sadar keluar dari rahim ibunya, bumi besar ini bergoncang.
    5. Ketika Sang Tathagata mencapai pencerahan tertinggi yang sempurna, bumi besar ini bergoncang.
    6. Ketika Sang Tathagata memutar roda Dhamma, bumi besar ini bergoncang.
    7. Ketika Sang Tathagata secara sengaja dan sadar melepaskan proses mental yang menahan kehidupan, bumi besar ini bergoncang. (Dengan kekuatan kesaktiannya Beliau sebenarnya dapat memperpanjang kehidupannya, tetapi karena tidak diminta, Beliau melepaskan kemungkinan itu dan mengumumkan waktu wafatnya)
    8. Ketika seorang Buddha meninggal dunia dan mencapai Parinibbana, bumi besar ini bergoncang. Sepuluh Belenggu (samyojana)
  • Kamachanda (nafsu), byapada (kemauan jahat), mana (kesombongan), sakkaya-ditthi (percaya adanya pribadi), vicikiccha (keraguan), silabattam (kemelekatan pada ritual dan upacara), ruparaga (nafsu akan keberadaan), issa (iri hati), macchariya (ketamakan), avijja (kebodohan batin).

  • Sepuluh Kesempurnaan (Parami)
    Dana (kedermawanan), sila (moralitas), nekkhama (meninggalkan keduniawian), panna (kebijaksanaan), viriya (semangat), khanti (kesabaran), sacca (kejujuran), adhitthana (tekad), metta (cinta-kasih), upekkha (ketenang-seimbangan).

  • Delapan Belas Sifat Kebuddhaan (Buddhadhamma)
    1-3. Melihat segala hal: di masa lalu, kini dan yang akan datang.
    4-6. Pantas dalam tindakan, ucapan, dan pikiran.
    7-12. Mantapnya hal-hal berikut ini sehingga tidak dapat dicegah oleh yang lain: kehendak, doktrin, hal-hal yang dihasilkan oleh konsentrasi, semangat, pembebasan dan kebijaksanaan.
    13-14. Menghindari kesenangan atau apa pun yang dapat mengundang hinaan, serta perselisihan dan pertikaian.
    15. Mahatahu.
    16. Melakukan segala hal dengan kesadaran penuh.
    17. Melakukan semua hal dengan tujuan tertentu.
    18. Tidak melakukan apa pun dengan memihak secara tidak bijaksana.

  • Tiga Puluh Dua Bagian Tubuh (untuk perenungan)
    Rambut kepala, bulu tubuh, kuku, gigi, kulit; daging, otot, tulang, sumsum tulang, ginjal; jantung, hati, sekat rongga dada, limpa, paru-paru; usus besar, usus kecil, isi perut, makanan di dalam perut, tahi; empedu, lendir, nanah, darah, keringat; lemak padat, lemak cair, ludah, ingus, minyak sendi, air kencing, otak.

  • Abhidhamma- berarti Ajaran yang lebih tinggi. Abhidhamma menggunakan metode analitis. Sementara khotbah-khotbah menggunakan bahasa konvensional manusia atau makhluk, Abhidhamma menggunakan istilah-istilah seperti ‘lima khanda makhluk’.

  • Penyerapan (jhana) – yaitu tahap-tahap konsentrasi mental yang dapat dicapai dengan mengatasi lima rintangan. Hasil dari keadaan-keadaan ini adalah kelahiran kembali di alam Brahma.

  • Latihan Keras (dukkarakarikam) – Ini adalah latihan-latihan penyiksaan diri yang dijalankan oleh Sang Bodhisatta tetapi harus dibedakan dari latihan-latihan petapa (dhutanga), yang walaupun sulit namun bukannya rendah dan bukan pula tidak menguntungkan.

  • Arahat – Lihat Empat Buah dari Sang Jalan.

  • Yunani Bactria (Bactrian Greek) – (Yonaka) Ada beberapa acuan untuk kata yonaka selain yang ada di dalam Milinda Pañha. Sebuah prasasti di gua di Nasik, dekat Bombay, menyebutkan sembilan Yonaka yang merupakan donor, dan Mahavamsa menghubungkannya dengan bhikkhu-bhikkhu dari Yona, seorang Yonadhammarakkhita yang pasti merupakan seorang bhikkhu Yunani Baktria.

  • Bhikkhu – Biarawan Buddhis yang telah menerima penahbisan yang lebih tinggi.

  • Bodhisatta – Makhluk yang sepenuhnya mengabdi untuk mencapai pencerahan sempurna seorang Buddha. Untuk itu dia harus mengembangkan kesempurnaan-kesempurnaan (parami) selama berkalpa-kalpa.

  • Pohon Bodhi – Pohon di mana Sang Bodhisatta menjadi seorang Buddha. Pohon Bodhi Ananda merupakan anak pohon dari pohon aslinya, yang dibawa Ananda ke Savatthi untuk mengingatkan orang-orang pada Sang Buddha jika Beliau sedang pergi. Sebatang anak pohon lain dikirim ke Sri Lanka oleh Raja Asoka dan masih dipuja sampai kini.

  • Brahma – Seorang dewa atau makhluk agung yang berada di alam kehidupan yang terbebas dari hawa nafsu.

  • Brahmacari – Orang yang menjalani kehidupan selibat.

  • Brahmana – Seorang pendeta Hindu atau orang dari kasta itu.

  • Cara (perilaku yang baik) merupakan penyelesaian tugas-tugas. Pengimbangnya, sila, adalah penahanan diri dari perbuatan salah.

  • Jasa (puñña) – Perbuatan-perbuatan baik yang merupakan landasan untuk kebahagiaan dan kemakmuran di dalam lingkaran kelahiran kembali.

  • Peraturan-peraturan yang Minor dan Kurang Penting
    Pengarang Milinda Pañha mengatakan bahwa yang dimaksud dengan peraturan-peraturan minor adalah pelanggaran karena perbuatan salah (dukkata), sedangkan peraturan-peraturan yang kurang penting adalah pelanggaran karena ucapan salah (dubhasita), walaupun dia mengakui bahwa lima ratus bhikkhu thera yang mulia tersebut tidak satu suara mengenai hal ini.

  • Yang-Tidak-Kembali-Lagi - Lihat Empat Buah Sang Jalan.

  • Yang-Kembali-Sekali-Lagi – Lihat Empat Buah Sang Jalan.

  • Parinibbana – Kematian seorang Buddha, Paccekka Buddha, atau Arahat.

  • Patimokkha – 227 peraturan latihan yang diucapkan lagi oleh para bhikkhu pada upacara hari uposatha, setiap bulan baru dan bulan purnama.

  • Masa Vassa – Masa tiga bulan, dari Agustus sampai Oktober, di mana para bhikkhu tetap tinggal di satu tempat. Senioritas seorang bhikkhu diukur dari vassa atau jumlah tahun dia menjadi bhikkhu.

  • Penalaran (Yoniso Manasikara) – Sering diterjemahkan sebagai “perhatian sistematis”. Artinya perhatian akan sifat-sifat yang mengikis kekotoran batin dan bukannya sifat-sifat yang meningkatkan kekotoran batin. Samana – Seorang petapa, tidak harus Buddhis.

  • Buddha Soliter – Pacceka Buddha atau Buddha yang mencapai pencerahan tanpa bantuan seorang Buddha Mahatahu. Tidak seperti Buddha Mahatahu, Buddha Soliter belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan untuk mengajar orang lain.

  • Pemenang Arus – Lihat Empat Buah Sang Jalan.

  • Tipitaka – Kumpulan berunsur tiga, yaitu Sutta, Vinaya dan Abhidhamma; yang berupa khotbah, peraturan disiplin dan filsafat – Lihat Kitab Suci Pali.

  • Vedagu – digunakan di Milinda Pañha dengan pengertian suatu jiwa atau sesuatu yang mengalami, yang melihat, mendengar, membau, mencicipi, merasa atau mengetahui. Ini juga merupakan julukan bagi Sang Buddha yang artinya ‘Yang Telah Memperoleh Pengetahuan.’

  • Vinaya – Enam dari Kitab Suci yang menangani disiplin-disiplin para bhikkhu dan berbagai urusan pengaturan lainnya.

  • Visuddhimagga – Buku pegangan yang sangat berharga yang ditulis di dalam bahasa Pali pada abad ke-3 M oleh Yang Mulia Buddhaghosa, yang menjelaskan latihan berunsur tiga: moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan.

Share:

Milinda Panha - Prolog

 on  with No comments 
In ,  
Prolog

Di kota Sagala bertahta Raja Milinda, orang yang sangat pandai dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, dengan sifatnya yang sangat ingin tahu. Dia pandai berdebat tetapi selama itu tak seorang pun mampu menghapus keraguannya mengenai persoalan keagamaan. Raja telah menanyai guru-guru terkenal tetapi tak satu pun yang memuaskan hatinya.

Assagutta, salah satu dari sekian banyak Arahat yang hidup di pegunungan Himalaya, dengan kekuatan super-normalnya mengetahui keraguan raja. Maka dia lalu mengadakan pertemuan untuk bertanya apakah ada orang yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan raja. Karena tak ada yang sanggup, maka mereka semua naik ke Surga Tiga Puluh Tiga dan memohon pada Dewa Mahasena agar lahir sebagai manusia sehingga agama dapat terlindungi. Salah satu bhikkhu yang bernama Rohana setuju pergi ke Kajangala di mana Mahasena telah lahir kembali dan menungguinya sampai besar. Ayah si anak, Brahmana Sonuttara, menyuruh agar anaknya mempelajari tiga Kitab Veda, tetapi si anak, Nagasena, menyatakan:

“Ketiga kitab Veda ini kosong, dan bagaikan sekam!
Di dalamnya tak ada realita, kebenaran yang penting atau
berharga.”

Menyadari bahwa anak ini telah siap, Rohana lalu muncul. Kedua orang tua Nagasena menyetujui anaknya menjadi samanera. Maka Nagasena mempelajari Abhidhamma. Setelah menguasai dengan sempurna pengetahuan tentang tujuh buku Abhidhamma, Nagasena diizinkan masuk ke Sangha para bhikkhu dan Rohana mengirimnya ke Petapaan Vattaniya untuk belajar dari Assagutta. Sementara menghabiskan musim penghujan di sana, Nagasena diminta berkhotbah pada seorang wanita saleh yang merupakan pendukung Assagutta. Sebagai hasil dari percakapan ini, baik si wanita maupun Nagasena mencapai dhammacakkhu: pengetahuan bahwa apa pun yang mempunyai awal juga pasti bersifat mempunyai akhir. Assagutta kemudian mengirim Nagasena kepada Dhammarakkhita di Taman Asoka di Pataliputta.

Di sana, dalam waktu tiga bulan, Nagasena telah menguasai kitab-kitab Tipitaka lainnya. Dhammarakkhita mengingatkan muridnya agar tidak hanya puas dengan pengetahuan dari buku saja. Pada malam hari itu juga, Nagasena -si murid yang rajin itu- mencapai tingkat Arahat. Kemudian dia pergi bergabung dengan para Arahat lainnya yang masih tinggal di Himalaya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nagasena siap untuk berdebat dengan siapa pun.

Sementara itu, Raja Milinda terus melanjutkan pencaharian spritualnya dengan cara mengunjungi bhikkhu Ayupala di Petapaan Samkheyya dan bertanya mengapa para bhikkhu meninggalkan kehidupan duniawi. Bhikkhu itu menjawab, “Agar dapat hidup dengan benar dan berada dalam ketenangan spiritual.” Lalu raja pun bertanya, “Adakah, Yang Mulia, orang awam yang hidup sedemikian itu?” Sang bhikkhu mengakui bahwa banyak orang awam seperti itu. Maka raja pun berkata dengan pedas:
“Kalau begitu, Yang Mulia Ayupala, tidak ada gunanya meninggalkan kehidupan duniawi. Pastilah karena dosa-dosa yang telah dilakukan di dalam kehidupan sebelumnya maka para petapa meninggalkan kehidupan duniawi, dan bahkan menjalani juga praktek-praktek penyiksaan petapa seperti misalnya: hanya mengenakan pakaian dari kain buruk, makan hanya sekali sehari, atau tidak tidur berbaring. Di situ tidak ada nilai-nilai luhur, tidak ada pantangan yang bermanfaat, tidak ada kehidupan yang benar!”

Setelah raja berkata demikian, Bhikkhu Ayupala terdiam dan tidak berkata apa pun. Lalu lima ratus orang Yunani Bactria yang menemani raja berkata: “Sang bhikkhu itu terpelajar tetapi dia tidak berani, jadi dia tidak menjawab.” Mendengar ini, raja berseru: “Seluruh India ini kosong, bagai sekam! Tidak ada orang yang mampu berdebat denganku dan mampu mengusir keraguanku!”

Tetapi orang-orang Yunani Bactria masih tidak bergerak, maka raja pun bertanya lagi, “Hai para pengawalku yang setia, adakah orang terpelajar lain yang mampu berdiskusi denganku dan dapat mengusir keraguanku?”

Maka menteri Devamantiya berkata, “Ada, baginda yang agung, seorang bhikkhu bernama Nagasena yang terpelajar, bersifat tenang namun penuh dengan keberanian. Beliau mampu berdiskusi dengan baginda. Sekarang ini beliau tinggal di Petapaan Samkheyya. Baginda harus pergi ke sana dan mengajukan pertanyaan kepadanya.” Pada waktu nama ‘Nagasena’ disebut, raja menjadi gelisah dan bulu romanya berdiri. Kemudian raja mengirimkan utusan ke sana untuk memberitahukan kedatangannya. Diiringi lima ratus orang Yunani Bactria, raja menaiki kereta kencananya dan pergi menuju tempat tinggal Nagasena.
Share:

Milinda Panha Bab I Jiwa

 on  with No comments 
In ,  
Raja Milinda pergi menemui Bhikkhu Nagasena. Setelah saling mengucapkan salam persahabatan secara sopan, raja duduk dengan hormat di satu sisi. Milinda mulai bertanya:
  1. “Apa sebutan Yang Mulia dan siapakah nama Anda?”
    “Baginda, saya disebut Nagasena. Namun itu hanyalah rujukan dalam penggunaan umum, karena sebenarnya tidak ada individu permanen yang dapat ditemukan.”

    Mendengar itu, Milinda mengundang orang-orang Yunani Bactria serta para bhikkhu untuk menjadi saksi: “Nagasena ini berkata bahwa tidak ada individu permanen yang tersirat di dalam namanya. Mungkinkah hal seperti itu diterima?” Kemudian dia berbalik kepada Nagasena dan berkata, “Yang Mulia Nagasena, jika hal tersebut benar, lalu siapakah yang memberi Anda jubah, makanan dan tempat tinggal? Siapakah yang menjalani kehidupan dengan benar? Atau juga, siapakah yang membunuh makhluk hidup, mencuri, berzinah, berbohong dan mabuk-mabukan? Jika apa yang Anda katakan itu benar, maka tidak ada perbuatan yang bajik atau perbuatan yang tercela, tidak ada pelaku kebajikan atau pelaku kejahatan, dan tidak ada hasil karma. Yang Mulia, seandainya saja seseorang membunuh Anda, maka tidak akan ada pembunuh. Dan itu juga berarti tidak ada master atau guru di dalam Sangha Anda. Anda katakan bahwa Anda disebut Nagasena. Nah, apa itu Nagasena? Apakah rambutnya?”

    “Saya tidak mengatakan demikian, raja yang agung.” “Kalau begitu, apakah kukunya, giginya, kulitnya atau bagian tubuh lainnya?” “Tentu saja tidak.” “Atau apakah tubuhnya, atau perasaannya, atau pencerapannya, atau bentuk-bentuk pikirannya, atau kesadarannya?[1] Ataukah gabungan dari itu semua? Ataukah sesuatu di luar semua itu yang disebut Nagasena?” Masih saja Nagasena menjawab: “Bukan semuanya itu.” “Kalau begitu, dapat dikatakan bahwa aku tidak dapat menemukan Nagasena itu. Nagasena hanyalah omong kosong. Lalu siapakah yang kami lihat di depan mata ini? Yang Mulia telah berdusta.”

    “Baginda, tuan telah dibesarkan di dalam kemewahan sejak dilahirkan. Bagaimana tadi baginda datang kemari, berjalan kaki atau naik kereta?” “Naik kereta, Yang Mulia.”

    “Kalau begitu, tolong jelaskan apakah kereta itu? Apakah porosnya? Apakah rodanya, atau sasisnya, atau kendalinya, atau kuknya, yang disebut kereta? Ataukah gabungan dari itu semua, ataukah sesuatu di luar semua itu?” “Bukan semuanya itu, Yang Mulia.”

    “Kalau begitu, baginda, kereta ini hanyalah omong kosong. Baginda berdusta ketika berkata datang kemari naik kereta. Baginda adalah raja yang besar di India. Siapa yang baginda takuti sehingga baginda berdusta?” Kemudian Nagasena memanggil orang-orang Yunani Bactria dan para bhikkhu untuk menjadi saksi: “Raja Milinda ini telah berkata bahwa beliau datang kemari naik kereta, tetapi ketika ditanya, ‘Apakah kereta itu?’ beliau tidak dapat menunjukkannya. Dapatkah hal ini diterima?” Maka secara serempak ke-500 orang Yunani Bactria itu berteriak bersama-sama kepada raja, “Jawablah bila baginda bisa!”
    “Yang Mulia, aku telah berkata benar. Karena mempunyai semua bagian itulah maka ia disebut kereta.” “Bagus sekali. Baginda akhirnya dapat menangkap artinya dengan benar. Demikian pula, karena adanya tiga puluh dua jenis materi organik[2] di dalam tubuh manusia beserta lima unsur makhluklah maka saya disebut Nagasena. Seperti yang telah dikatakan oleh Bhikkhuni Vajira di hadapan Sang Buddha yang Agung, ‘Seperti halnya karena memiliki berbagai bagian itu maka kata ‘kereta’ digunakan, demikian juga bila ada unsur-unsur makhluk maka kata ‘makhluk’ digunakan.’”[3] “Sangat indah Nagasena, sungguh luar biasa teka-teki ini telah Anda pecahkan, meskipun sulit. Seandainya Sang Buddha berada di sini pun Beliau pasti akan menyetujui jawaban Anda.”

  2. “Berapa musim penghujan (masa vassa) yang telah Anda jalani, Nagasena?” “Tujuh, baginda.” “Tetapi bagaimana dapat Anda katakan tujuh; apakah Anda yang tujuh atau jumlahnya yang tujuh?” Lalu Nagasena menjawab, “Bayang-bayang baginda sekarang ada di tanah. Apakah baginda rajanya atau bayang-bayang itu rajanya?” “Akulah rajanya, Nagasena, tetapi bayang-bayang itu ada karena aku.” “Demikian juga, O baginda, jumlah tahunnya tujuh, saya tidaklah tujuh. Tetapi karena sayalah angka tujuh itu ada dan merupakan milik saya, sama seperti bayang-bayang itu merupakan milik baginda.” “Sungguh hebat, Nagasena, dan sangat luar biasa. Dengan baik teka-teki ini telah Anda pecahkan, meskipun sulit.”

  3. Kemudian raja berkata, “Yang Mulia, maukah Anda berdiskusi denganku lagi?” “Jika baginda ingin berdiskusi sebagai orang terpelajar, ya; tetapi jika baginda ingin berdiskusi sebagai raja, tidak.” “Bagaimana orang terpelajar berdiskusi?” “Bila orang terpelajar berdiskusi akan ada kesimpulan, dan ada penyelesaian kekusutan; yang salah ditunjukkan kesalahannya dan dia mengakui kesalahannya tanpa marah.”

    “Dan bagaimana raja berdiskusi?” “Bila raja mendiskusikan suatu masalah dan beliau mengemukakan suatu pandangan, jika ada yang berbeda pendapat dengan raja maka raja akan menghukum orang itu.”
    “Baik, kalau begitu sebagai orang terpelajarlah aku akan berdiskusi. Silakan Yang Mulia berbicara tanpa takut.”
    “Dengan senang hati, baginda.”
    “Nagasena, aku akan bertanya”, kata raja.
    “Bertanyalah, baginda.”
    “Aku telah bertanya, Yang Mulia.”
    “Kalau demikian saya telah menjawab.”
    “Apa yang telah Anda jawab?”
    “Apa yang telah baginda tanyakan?”

    Raja berpikir, “Bhikkhu ini benar-benar seorang terpelajar yang hebat, dia cukup mampu mendiskusikan apa pun juga denganku.” Maka sang raja menyuruh Devamantiya, menterinya, untuk mengundang Nagasena ke istana bersama dengan banyak bhikkhu lain. Raja lalu pergi dengan bergumam: “Nagasena, Nagasena.”

  4. Maka Devamantiya, Anantakaya dan Mankura pergi ke petapaan Nagasena untuk menjemput para bhikkhu ke istana. Di dalam perjalanan menuju ke istana, Anantakaya berkata kepada Nagasena, “Yang Mulia, bila saya mengatakan ‘Nagasena’, apakah sebenarnya Nagasena itu?” “Anda pikir apa Nagasena itu?” “Jiwa, nafas di dalam yang keluar dan masuk.” “Jika nafas itu, setelah keluar, tidak lagi kembali masuk, apakah orang itu masih akan hidup?” “Tentu saja tidak.” “Tetapi setelah para peniup trompet, misalnya, meniup trompetnya, apakah nafas mereka kembali pada mereka?” “Tidak Yang Mulia, tidak.” “Kalau begitu kenapa mereka tidak mati?” “Saya tidak mampu berbantahan dengan Anda. Tolong jelaskanlah bagaimana.” “Tidak ada jiwa di dalam nafas. Proses menarik dan menghembuskan nafas ini hanyalah tenaga unsur pokok dari kerangka tubuh.” Kemudian Nagasena Thera[4] berbicara tentang Abhidhamma dan Anantakaya merasa puas dengan penjelasan itu.

  5. Setelah para bhikkhu tiba di istana dan selesai makan, sang raja duduk di tempat rendah dan bertanya, “Apa yang akan kita diskusikan?” “Marilah kita mendiskusikan Dhamma.” Dan raja berkata, “Apa tujuan Yang Mulia meninggalkan kehidupan duniawi, dan apa tujuan akhir yang ingin dicapai?” “Kami meninggalkan kehidupan duniawi dengan tujuan melenyapkan penderitaan dan tidak ada penderitaan lain yang muncul. Lenyapnya nafsu secara total tanpa sisa adalah tujuan akhir kami.” “Yang Mulia, apakah setiap orang masuk Sangha untuk tujuan yang sangat mulia tersebut?” ‘Tidak. Ada yang masuk untuk menghindar dari kekejaman raja, ada yang untuk menghindar dari perampok, ada yang untuk menghindar dari hutangnya, dan ada yang untuk mencari nafkah. Tetapi mereka yang masuk dengan tujuan yang benar melakukannya agar nafsu dapat sepenuhnya padam.”

  6. Sang raja berkata, “Adakah orang yang tidak terlahir kembali setelah mati?” “Ya, ada. Orang yang tidak lagi mempunyai kekotoran batin tidak akan terlahir kembali setelah mati; yang masih mempunyai kekotoran batin akan terlahir kembali.” “Apakah Anda akan terlahir kembali?” “Jika saya mati dengan nafsu keinginan di dalam pikiran, ya; tetapi jika tidak, tidak.”

  7. “Apakah seseorang yang terbebas dari kelahiran kembali itu bisa terbebas karena kekuatan penalarannya?” “Dia bisa terbebas karena penalaran dan juga karena kebijaksanaan, keyakinan, moralitas, kewaspadaan, semangat, dan konsentrasi.” “Apakah penalaran sama dengan kebijaksanaan?” “Tidak. Binatang memiliki penalaran tetapi tidak memiliki kebijaksanaan.”

  8. “Bhikkhu Nagasena, apa ciri khas penalaran; dan apa ciri khas kebijaksanaan?” “Memegang adalah ciri penalaran, memotong adalah ciri kebijaksanaan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Bagaimana petani gandum memanen gandumnya?” “Mereka memegang batang-batang gandum dengan tangan kirinya, dan dengan sabit di tangan kanannya mereka memotong gandum tersebut.” “Demikian juga halnya, O baginda, para petapa memegang pikirannya dengan penalaran dan memotong kekotoran batin dengan kebijaksanaan.”

  9. “Bhikkhu Nagasena, apakah ciri khas moralitas?” “Menopang, O baginda, karena moralitas merupakan landasan bagi semua sifat yang baik, yakni:
    • Lima kemampuan batin yang mengendalikan dan lima kekuatan moral (Catatan- yakni: keyakinan, semangat, kewaspadaan, konsentrasi, dan kebijaksanaan),
    • Tujuh faktor pencerahan (Catatan- yakni: kewaspadaan, penyelidikan, semangat, sukacita, ketenangan, konsentrasi, dan ketenang-seimbangan),
    • Delapan faktor Jalan Mulia (Catatan- yakni: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, kewaspadaan benar, dan konsentrasi yang benar),
    • Empat landasan kewaspadaan (Catatan- yakni: kewaspadaan pada tubuh, pada perasaan, pada buah-pikir, pada objek pikiran),
    • Empat usaha benar (Catatan- yakni: usaha untuk mencegah dan menghilangkan keadaan yang tidak bajik serta usaha untuk mengembangkan dan mempertahankan keadaan yang bajik),
    • Empat landasan keberhasilan (Catatan- yakni: hasrat, energi, keuletan dan kebijaksanaan),
    • Empat penyerapan (Catatan- yakni: empat tahap pemusatan pikiran atau jhana ),
    • Delapan kebebasan (Catatan- yakni: delapan tingkat pelepasan pikiran oleh konsentrasi yang sangat kuat),
    • Empat metode konsentrasi (Catatan- yakni: meditasi untuk cinta kasih, kasih sayang, sukacita bersimpati, dan ketenang-seimbangan), serta
    • Delapan pencapaian yang agung (Catatan- yakni: empat jhana tanpa-bentuk dan empat jhana berbentuk).

    Semua sifat yang baik itu ditopang oleh moralitas. Di dalam diri orang yang mengembangkan batinnya dengan menggunakan moralitas sebagai fondasi, kondisi-kondisi yang baik ini tidak akan berkurang.”
    “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya semua bentuk kehidupan hewan dan tumbuhan bergantung pada tanah sebagai penopang, demikian juga seorang petapa -dengan moralitas sebagai penopangnya- mengembangkan lima kemampuan batin yang mengendalikan dan lain sebagainya itu.[5] Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha:

    “Bila orang bijaksana, yang telah kokoh moralitasnya, Mengembangkan konsentrasi dan permahaman, Kemudian sebagai bhikkhu, dia gigih dan bijaksana, Dia berhasil menguraikan kekusutan ini.”[6]

  10. “Apakah ciri khas dari keyakinan?”
    “Kejernihan dan inspirasi. Ketika keyakinan muncul di dalam pikiran, keyakinan itu menembus cadar lima penghalang. Maka pikiran menjadi terang, tenang dan tidak terganggu. Dengan demikian keyakinan menjadi jernih. Dan inspirasi adalah tanda ketika meditator -karena memahami bagaimana pikiran orang lain telah terbebas- kemudian terinspirasi untuk mencapai apa yang masih belum dapat dicapainya, untuk mengalami apa yang masih belum pernah dirasakannya, dan untuk merealisasikan apa yang masih belum dimengertinya. Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha: ‘Dengan keyakinan dia menyeberangi banjir, Dengan kewaspadaan melewati samudera kehidupan, Dengan ketetapan hati semua penderitaan dia tenangkan, Dengan kebijaksanaan dia dimurnikan’.”[7]

  11. “Dan apa, Yang Mulia, ciri khas dari semangat?”
    “Penguatan, O baginda, sehingga semua sifat baik yang ditopang oleh semangat tidak menjadi pudar.”
    “Berikanlah ilustrasi.”

    “Sama seperti bila bala tentaranya telah dipukul mundur oleh pasukan musuh yang lebih besar, seorang raja akan mengingat-ingat siapa sekutu yang bisa diharapkan untuk menguatkan pasukannya agar dapat mengalahkan musuh yang kuat itu. Begitulah penguatan merupakan ciri dari semangat. Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha:

    ‘Siswa mulia yang penuh semangat, O bhikkhu, Menyingkirkan yang tidak bajik dan mengembangkan yang bajik, Menghindari yang tercela dan mengembangkan yang tak tercela, Dengan begitu dia menjaga kemurnian pikirannya’.”[8]

  12. “Nagasena, apakah ciri khas dari kewaspadaan?”
    “Mencatat dan menyimpan di dalam ingatan. Ketika kewaspadaan timbul di dalam pikiran petapa, secara berulang-ulang dia mencatat apa yang bajik dan apa yang tidak bajik, apa yang tak-tercela dan apa yang tercela, apa yang tidak penting dan apa yang penting, sifat-sifat yang gelap dan terang, dan sebagainya. Dia akan berpikir, ‘Inilah empat landasan kewaspadaan, inilah empat usaha yang benar, inilah empat landasan keberhasilan, inilah lima kemampuan batin yang mengendalikan, inilah lima kekuatan moral, inilah tujuh faktor pencerahan, inilah delapan faktor Jalan Mulia, inilah ketenangan, inilah kebijaksanaan, inilah pandangan terang, dan inilah kebebasan.’
    Demikianlah dia mengembangkan semua sifat yang bajik dan menghindari sifat-sifat yang harus dihindari.”

    “Berikanlah ilustrasi.” “Sama seperti bendahara raja yang mengingatkan tuannya tentang besarnya pasukan raja dan jumlah kekayaan yang ada.” “Bagaimana ‘menyimpan di dalam ingatan’ dapat menjadi tanda kewaspadaan?” “Ketika kewaspadaan muncul di dalam pikiran, orang akan mencari kategori tentang sifat-sifat yang baik dan yang tidak baik. Dia akan berpikir, ‘Sifat-sifat yang ini menguntungkan dan yang itu merugikan.’ Dengan demikian dia melenyapkan apa yang jelek di dalam dirinya serta mempertahankan apa yang baik.” “Berikanlah ilustrasi.” “Sama seperti perdana menteri raja yang memberikan nasihat tentang tindakan yang benar. Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha: ‘Kunyatakan, O para bhikkhu, kewaspadaan sangatlah membantu di mana pun juga’.”[9]

  13. “Dan apa, Nagasena, ciri khas dari konsentrasi?”
    “Menjadi pemimpin, O baginda. Semua sifat yang bajik mempunyai konsentrasi sebagai pemimpinnya; sifat-sifat bajik mengarah padanya, dan menuju ke situ.” “Berikanlah ilustrasi.”
    “Seperti halnya kalau rumah miring dan menuju ke suatu titik -yaitu titik tertinggi di atap- demikian juga semua sifat yang baik mengarah dan memusat pada konsentrasi. Demikian ini yang dikatakan Sang Buddha:
    ‘Bhikkhu, kembangkanlah konsentrasi; seorang bhikkhu yang terkonsentrasi melihat segala sesuatu sebagaimana adanya’.”[10]

  14. Apa, Nagasena, ciri khas dari kebijaksanaan?”
    “Menerangi,[11] O baginda. Ketika kebijaksanaan muncul di dalam pikiran, kebijaksanaan itu mengusir kegelapan yang dimiliki kebodohan batin, membuat munculnya pancaran pandangan terang, membuat bersinarnya pengetahuan, dan membuat jelasnya Kesunyataan Mulia. Demikianlah meditator dengan kebijaksanaan yang paling terang mencerap ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan tidak-adanya-diri di dalam segala bentuk.” “Berikanlah ilustrasi.”

  15. “Sama seperti lampu, O baginda, yang berada di ruangan gelap akan menerangi ruangan itu dan membuat objek yang ada menjadi jelas terlihat.”

  16. Sifat-sifat yang sangat berbeda ini, Nagasena, apakah membuahkan hasil yang sama?”
    “Ya, yaitu hancurnya kekotoran di dalam pikiran. Sama seperti berbagai kekuatan pasukan misalnya gajah, kavaleri kereta perang, dan pemanah membuahkan satu hasil, yaitu takluknya tentara musuh.” “Penjelasan yang baik, Nagasena. Anda pandai menjawab.”

Catatan:
[1]. Lihat catatan pada lima kelompok di Apendiks.
[2]. Lihat Apendiks.
[3]. S. i. 135.
[4]. Thera (sesepuh) biasanya digunakan untuk orang yang menjadi bhikkhu lebih dari 10 musim hujan (vassa), tetapi Nagasena baru 7 vassa. Lihat Pertanyaan no. 2 hal. 7.
[5]. Bandingkan dengan S. syair 45.
[6]. S. i. 13. 165; Vism (syair pembuka).
[7]. S. i. 214; Sn. syair 184.
[8]. A iv. 110
[9]. Tidak terlacak.
[10]. S. iii. 13, syair 414; bandingkan dengan Asl. 162.
[11]. Termasuk juga ‘memotong’ yang telah disebutkan di atas.
Share:

Sabtu, 09 Februari 2013

Milinda Panha Bab II Kelahiran Kembali

 on  with No comments 
In ,  
  1. “Orang yang terlahir kembali, Nagasena, apakah dia orang yang sama atau berbeda?”
    “Bukan sama namun juga bukan berbeda.”
    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Sama halnya seperti susu yang pertama-tama berubah menjadi dadih lalu menjadi mentega dan kemudian menjadi ghee. Tidak benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih tersebut sama dengan susu, tetapi semuanya itu berasal dari susu. Begitu juga tidaklah benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih itu sesuatu yang bukan susu.”

  2. “Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali itu menyadari tentang kenyataan ini?”
    “Ya, baginda.”
    “Bagaimana dia tahu?”
    “Dengan lenyapnya semua yang menjadi penyebab atau kondisi dari kelahiran kembali. Seperti halnya seorang petani yang tidak membajak atau menabur atau memanen akan mengetahui bahwa lumbungnya tidak akan terisi.”

  3. “Nagasena, di dalam diri seseorang di mana pengetahuan (ñana) telah timbul, apakah kebijaksanaan (pañña) juga timbul?”
    “Ya, baginda.”
    “Apakah pengetahuan sama dengan kebijaksanaan?”
    “Ya, baginda.”
    “Kalau begitu, apakah dengan pengetahuan dan kebijaksanaan itu ada kemungkinan dia tidak mengetahui tentang suatu hal?”

    “Dia akan tetap berada di dalam ketidaktahuan tentang hal-hal yang belum dipelajarinya. Akan tetapi mengenai hal yang telah dicapai oleh kebijaksanaan -yaitu pemahaman tentang ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan tidak-adanya-diri- dia tidak akan tidak tahu.”

    “Kalau begitu, apa yang terjadi pada pandangan kelirunya tentang hal-hal itu tadi?” “Pada saat pengetahuan muncul, pada saat itu pula pandangan salahnya lenyap. Seperti ketika sinar datang, maka kegelapan pun hilang.”
    “Tetapi apa yang terjadi pada kebijaksanaannya?”
    “Setelah melakukan tugasnya, kebijaksanaan itu kemudian lenyap; tetapi pengertian orang itu tentang ketidakkekalan, ketidakpuasan dan tidak-adanya-diri tidak ikut lenyap.”

    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Seperti halnya orang yang ingin menulis surat pada malam hari akan menyalakan lampu dan kemudian menulis surat tersebut. Setelah selesai dia akan memadamkan lampu. Tetapi meskipun lampu telah dipadamkan, suratnya tetap ada.”

  4. “Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali merasakan kesakitan?”
    “Mungkin dia merasakan kesakitan fisik, O baginda, tetapi bukan kesakitan mental.”
    “Jika dia merasakan kesakitan fisik, mengapa dia tidak mati saja dan mencapai keadaan lenyapnya kemelekatan, dan menghentikan penderitaan?”
    “Arahat tidak memiliki kesukaan atau kebencian terhadap kehidupan. Dia tidak menggoncangkan pohon agar buahnya yang masih belum matang jatuh, melainkan menanti sehingga buahnya masak. Demikian ini dikatakan oleh Bhante Sariputta, siswa utama Sang Buddha:
    ‘Bukan kematian, atau kelahiran yang kunantikan;
    Bagaikan pekerja menantikan upah, aku menantikan waktuku.
    Bukan kematian atau kelahiran yang kurindukan,
    Dengan waspada dan jelas mengerti,
    Begitulah aku menantikan waktuku’.”[1]

  5. “Apakah perasaan yang menyenangkan itu bermanfaat, tidak bermanfaat, atau netral?” “Mungkin salah satu di antara tiga itu.”
    “Tetapi, Yang Mulia, tentunya jika kondisi yang bermanfaat itu tidak menyakitkan, sedangkan yang menyakitkan itu tidak bermanfaat, maka tidak akan mungkin ada keadaan yang bermanfaat yang sekaligus menyakitkan.”[2]

    “Bagaimana pendapat baginda seandainya saja ada orang yang memegang bola besi panas di satu tangannya, dan di tangan lain menggenggam bongkah es, apakah kedua-duanya akan menyakitkan orang itu?” “Tentu saja.” “Kalau begitu hipotesa baginda pasti keliru. Jika keduanya tidak sama-sama panas, tetapi rasa panas itu menyakitkan, atau jika keduanya tidak sama-sama dingin, tetapi rasa dingin itu menyakitkan, maka rasa sakit itu tidak datang dari rasa panas atau dingin.” “Aku tidak mampu berbantahan dengan Anda. Tolong jelaskan.”

    Kemudian Nagasena mengajarkan Abhidhamma:- “Ada enam rasa senang yang berhubungan dengan kehidupan duniawi dan enam yang berhubungan dengan kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; enam kesengsaraan di dalam kehidupan duniawi dan enam di dalam kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; dan enam perasaan netral pada kedua-duanya. Semuanya ada tiga puluh enam. Kemudian ada tiga puluh enam perasaan pada masa lalu, pada masa kini, dan semuanya ada seratus delapan perasaan.”

  6. “Apa yang terlahir kembali itu, Nagasena?’
    “Batin dan jasmani.”
    “Apakah batin dan jasmani yang ini juga yang terlahir kembali?”
    “Bukan, tetapi oleh batin dan jasmani inilah maka perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itulah maka batin dan jasmani yang lain terlahir kembali. Walaupun demikian, batin dan jasmani itu tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya.”
    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang. Setelah merasa hangat, mungkin orang itu pergi meninggalkan dalam keadaan menyala. Andaikan saja api tersebut kemudian menjalar dan membakar ladang orang lain, lalu pemilik ladang itu menyeretnya ke hadapan raja serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut. Bila dia berkata, ‘Baginda yang mulia, saya tidak membakar ladang orang ini. Api yang saya tinggalkan itu berbeda dengan api yang membakar ladang orang ini. Saya tidak bersalah’, apakah dia patut dihukum?”

    “Tentu saja, karena tak peduli apa pun yang dia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya.”

    “Demikian juga, O baginda, oleh batin dan jasmani ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka batin dan jasmani baru akan terlahir kembali; tetapi batin dan jasmani tersebut tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya.”

  7. “Apakah Anda, Nagasena, akan terlahir kembali?”
    “Apa gunanya menanyakan hal itu lagi? Bukankah telah saya katakan bahwa jika saya mati dengan nafsu keinginan di pikiran saya, maka saya akan terlahir kembali? Jika tidak, ya tidak.”

  8. “Anda tadi baru saja menjelaskan tentang batin dan jasmani. Apakah batin itu, dan apakah jasmani itu?”
    “Apa pun yang kasar adalah jasmani (materi). Apa pun yang halus dan pikiran atau keadaan mental, adalah batin (mentalitas).”
    “Mengapa jasmani dan batin ini tidak dilahirkan secara terpisah?”
    “Kondisi-kondisi ini saling berhubungan seperti halnya kuning telur dan kulitnya. Keduanya selalu timbul bersama dan hubungan ini sudah ada sejak waktu yang lama sekali.” [3]

  9. “Nagasena, ketika Anda mengatakan, ‘Waktu yang lama sekali’, apakah artinya? Apakah ‘waktu’ itu ada?”
    “Waktu berarti masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Bagi beberapa orang, waktu itu ada; bagi orang lain tidak. Di mana ada makhluk yang akan dilahirkan kembali, bagi mereka waktu itu ada; di mana ada makhluk yang tidak akan terlahir kembali, bagi mereka waktu itu tidak ada.”
    “Bagus sekali, Nagasena, Anda pandai menjawab.”
Catatan:
[1]. Thag .1002, 1003.
[2]. Perbuatan-perbuatan bajik tidak menyakitkan hasilnya, tetapi mungkin kita sulit melakukannya karena kemelekatan dan kebencian kita. Padahal kekotoran batinlah yang menyebabkan kita menderita bukan perbuatan bajik. Perbuatan-perbuatan jahat menyakitkan hasilnya, tetapi mungkin kita senang melakukannya karena kebodohan kita. Kemudian bila hasilnya datang, kita harus menderita.
[3]. Rhys Davids, dengan menggunakan Teks Sinhala, membaca kalimat ini sebagai evametam dighamaddhanam sambhavitam tetapi di Teks Burma tertulis: sandhavitam.
Share:

Milinda Panha Bab III Permulaan Waktu

 on  with No comments 
In ,  
  1. “Nagasena, apakah akar dari masa lalu, masa kini, dan masa mendatang itu?” “Kebodohan batin. Kebodohan batin mengkondisikan bentuk-bentuk pikiran; bentuk-bentuk pikiran mengkondisikan kesadaran yang menghubungkan kembali; kesadaran mengkondisikan batin dan jasmani; batin dan jasmani mengkondisikan enam landasan indera; enam landasan indera mengkondisikan kontak; kontak mengkondisikan perasaan; perasaan mengkondisikan nafsu keinginan; nafsu keinginan mengkondisikan kemelekatan; kemelekatan mengkondisikan dumadi; dumadi mengkondisikan kelahiran; kelahiran mengkondisikan usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kepedihan, kesengsaraan, dan keputusasaan.”

  2. “Anda katakan bahwa asal mula yang pertama dari segala sesuatu adalah tidak jelas. Berikanlah ilustrasi.” “Sang Buddha berkata, ‘Karena adanya landasan indera dan objek indera maka timbullah kontak; karena adanya kontak, timbullah perasaan; karena adanya perasaan, timbullah nafsu keinginan; dan karena adanya nafsu keinginan, timbullah tindakan (karma). Lalu dari tindakan ini sekali lagi landasan indera dihasilkan.’ Nah, bisakah ada akhir dari rangkaian ini?” “Tidak.” “Demikian pula, O baginda, asal mula yang pertama dari segala sesuatu itu tidak dapat dipahami.”[1]

  3. Apakah asal mula yang pertama dari segala sesuatu itu tidak diketahui?” “Sebagian dapat diketahui, sebagian lagi tidak.” “Kalau begitu, manakah yang dapat diketahui dan manakah yang tidak?” “Kondisi apa pun yang mendahului kelahiran ini, bagi kita tampaknya tidak pernah ada. Berkenaan dengan hal itu, asal mula pertamanya tidaklah diketahui. Namun kondisi yang tadinya belum ada kemudian ada, dan segera sesudah kondisi itu muncul, ia lenyap lagi. Berkenaan dengan hal itu, asal mula pertamanya dapat diketahui.”

  4. “Apakah ada bentukan-bentukan yang dihasilkan?” “Tentu saja, O baginda. Di mana ada mata serta bentuk maka ada penglihatan; di mana ada penglihatan maka ada kontak; di mana ada kontak maka ada perasaan; di mana ada perasaan maka ada nafsu keinginan; di mana ada nafsu keinginan maka ada kemelekatan; di mana ada kemelekatan maka ada dumadi; dan di mana ada dumadi maka ada kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kepedihan, kesengsaraan dan keputusasaan. Tetapi bilamana tidak ada mata dan bentuk maka tidak ada penglihatan, tidak ada kontak, tidak ada perasaan, tidak ada nafsu keinginan, tidak ada kemelekatan, tidak ada dumadi; dan bilamana tidak ada dumadi maka tidak akan ada kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kepedihan, kesengsaraan dan keputusasaan.”

  5. “Apakah ada bentukan-bentukan yang tidak dihasilkan?” “Tidak ada, O baginda, karena hanya dengan proses dumadilah mereka dihasilkan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Apakah rumah yang baginda tempati ini dihasilkan dari proses dumadi?” “Semuanya, tidak ada yang tidak. Kayu ini dahulu berada di hutan, dan tanah liat ini dahulu ada di tanah. Hanya melalui usaha para pekerjalah rumah ini terwujud.” “Demikian juga, O baginda, tidak ada bentukan-bentukan yang tidak dihasilkan.”

  6. “Adakah, Nagasena, sesuatu yang disebut ‘Sang Yang Mengetahui’ (vedagu) ?”[2] “Apakah itu?” “Suatu inti yang hidup di dalam diri, yang dapat melihat, mendengar, mencicip, membau, merasakan dan memahami segala sesuatu; sama seperti halnya kita yang saat ini duduk di sini dapat melihat keluar lewat jendela mana pun yang kita inginkan.” “Jika, O baginda, inti yang hidup di dalam diri itu dapat melihat, mendengar, mencicip, membau dan merasakan benda-benda seperti yang baginda katakan, dapat jugakah ia melihat benda-benda melalui telinga dan sebagainya?” “Tidak, Yang Mulia.” “Kalau demikian, baginda, inti yang hidup itu tidak dapat menggunakan indera semaunya sendiri seperti kata baginda. O baginda, hanya karena adanya mata dan bentuklah maka penglihatan dan kondisi-kondisi lainnya muncul, yaitu: kontak, perasaan, pencerapan, niat, pemusatan pikiran, semangat dan perhatian. Secara sekaligus semuanya timbul bersama dengan penyebabnya, dan karena itu ‘Sang Yang Mengetahui’ tidak dapat ditemukan.”

  7. “Apakah kesadaran-pikiran muncul setiap kali kesadaran mata muncul?” “Ya, baginda, bila ada yang satu maka ada juga yang lainnya.” “Yang mana muncul terlebih dahulu?” “Pertama kesadaran-mata, baru kemudian kesadaran-pikiran.” “Apakah kesadaran-mata mengeluarkan perintah kepada kesadaran-pikiran, atau sebaliknya?” “Tidak, tidak ada komunikasi di antara keduanya itu.” “Kalau begitu, Nagasena, mengapa kesadaran-pikiran muncul di mana pun ada kesadaran mata?” “Karena, O baginda, ada kecenderungan, pintu, kebiasaan dan asosiasi.” “Berikanlah ilustrasi.” “Jika kota perbatasan raja memiliki tembok yang kuat tetapi hanya ada satu pintu gerbang dan seseorang akan meninggalkan kota, lewat manakah dia?” “Melalui pintu gerbang itu.” “Dan jika ada orang lain yang akan pergi, lewat manakah dia?” “Melalui gerbang yang sama.” “Apakah orang pertama tadi memerintah orang kedua dengan mengatakan, ‘Keluarlah dengan cara yang sama denganku’, atau apakah orang kedua mengatakan kepada orang pertama, ‘Saya akan keluar dengan cara seperti anda’?” “Tidak Yang Mulia, tidak ada komunikasi di antara mereka berdua.” “Dengan cara seperti itulah kesadaran-pikiran muncul di mana ada kesadaran-mata, namun tidak ada komunikasi di antara mereka.”

  8. Di mana ada kesadaran-pikiran, Nagasena, apakah selalu ada kontak dan perasaan?” “Ya, di mana ada kesadaran-pikiran, ada kontak dan perasaan. Juga pencerapan, niat, pikiran pemicu dan pikiran yang bertahan.”

  9. “Apakah ciri khas dari kontak?” “Sentuhan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Bagaikan dua rusa yang berbenturan kepala; mata adalah bagaikan rusa yang satu, sedangkan objek yang terlihat bagaikan rusa lainnya. Benturan yang terjadi itu adalah kontak.”

  10. “Apakah ciri khas dari perasaan?” “Yang dialami, O baginda, dan dinikmati.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya seseorang yang telah melayani rajanya dan diberi kedudukan, dia kemudian akan menikmati keuntungan karena jabatannya.”


  11. “Apakah ciri khas dari persepsi (pencerapan)?” “Mengenali[3] kebiruan, kekuningan, atau kemerahan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya bendahara raja mengenali barang-barang milik rajanya dengan cara melihat bentuk dan warnanya.”

  12. “Apakah ciri khas dari niat?” “Dikandung, O baginda, dan dipersiapkan.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya seseorang yang menyiapkan racun dan setelah meminumnya dia akan menderita kesakitan, demikian pula seseorang yang memikirkan suatu kejahatan dan kemudian melaksanakannya, dia akan menderita di neraka.”

  13. “Apakah ciri khas dari kesadaran?” “Mengetahui, O baginda.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya penjaga di alun-alun kota akan mengetahui orang yang datang dan dari mana arah datangnya; begitu pula ketika seseorang melihat suatu objek, mendengar suatu suara, mencium suatu aroma, mencicipi suatu cita rasa, merasakan suatu sentuhan atau mengetahui sebuah gagasan; dengan kesadaranlah dia mengetahui hal itu.”

  14. “Apakah ciri khas dari buah-pikir pemicu?” “Memasang, O baginda.” “Berikanlah ilustrasi.” “Seperti halnya tukang kayu memasang kayu yang sudah ditakik dengan cermat ke dalam takik lainnya agar pas demikianlah pemasangan merupakan ciri buah-pikir pemicu”

  15. “Apakah ciri khas dari buah-pikir yang bertahan?” “Memeriksa berulang-ulang.” “Berikanlah ilustrasi.” “Buah-pikir pemicu bagaikan pukulan pada gong; sedangkan buah-pikir yang bertahan bagaikan gaungnya.”

  16. “Apakah kondisi-kondisi ini dapat dipisahkan dan dikatakan; ‘Ini adalah kontak, ini perasaan, ini persepsi, ini niat, ini kesadaran, ini buah-pikir pemicu, dan ini buah-pikir yang bertahan’?” “Tidak, baginda, hal itu tidak dapat dilakukan. Jika seseorang menyiapkan sup yang berisikan dadih, garam, jahe, biji lada, dia tidak dapat mengeluarkan cita rasa dadih itu dan menunjukkan ‘Inilah cita rasa dadih’ atau mengeluarkan cita rasa garam dan mengatakan ‘Inilah cita rasa garam’. Walaupun demikian, semua cita rasa itu ada di dalam sup dengan ciri-cirinya sendiri.”

  17. Lalu Bhikkhu Nagasena bertanya, “Apakah garam, O baginda, dapat dikenali oleh mata?” “Ya, Yang Mulia.” “Berhati-hatilah dengan apa yang baginda katakan.” “Kalau begitu, garam dikenali oleh lidah.” “Ya, itu betul.” “Tetapi, Nagasena, apakah hanya dengan lidah saja setiap jenis garam dapat dikenali?” “Ya, setiap jenis.” “Kalau demikian, mengapa sapi membawa segerobak penuh garam?” “Garam itu sendiri tidaklah mungkin dibawa. Sebagai contoh, garam juga mempunyai massa, tetapi orang tidak mungkin dapat menimbang garam. Yang dapat ditimbang hanyalah massanya.” “Nagasena, Anda sungguh lincah di dalam perdebatan.”
Catatan:
[1]. Mencari asal mula kehidupan di dalam Super Nova atau di dalam D.N.A. adalah pencarian yang sia-sia, karena penyebab akarnya terdapat di dalam pikiran. Sang Buddha berkata:–
“Selama kelahiran yang tak terhitung banyaknya
Aku telah mengembara di dalam samsara,
Aku mencari, tetapi tidak menemukan pembangun rumah ini.
Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang!
Pembangun rumah, kini engkau telah terlihat!
Engkau tak akan membangun rumah lagi.
Semua kasau [kekotoran batin] telah patah.
Tiang bubungan [kebodohan] telah hancur berserakan.
Pikiranku telah pergi ke nibbana.
Telah tercapai akhir dari nafsu keinginan.” Dhp. syair 153-154.

[2]. Di tempat lain vedagu digunakan sebagai sebutan untuk Sang Buddha yang berarti ‘Seseorang yang telah mencapai Pengetahuan’.

[3]. Sañña, viññana, dan pañña berturut-turut dapat dibandingkan sebagai seorang anak, seorang dewasa, dan seorang pedagang uang yang melihat koin emas. Si anak kecil mengetahui bahwa koin itu bulat dan bersinar. Hanya itu saja. Si orang dewasa mengetahui bahwa koin itu juga memiliki nilai yang berharga. Si pedagang uang mengetahui segala sesuatu tentang koin itu. Lihat Vism. 437.
Share: