Minggu, 11 Agustus 2019

Selasa, 06 Agustus 2019

Jumat, 08 Maret 2013

Pengorbanan Gagah Berani

 on  with No comments 
In ,  
Saat masih seorang guru sekolah, perhatian saya tertarik pada seorang siswa yang mendapat peringkat terbawah pada ujian terakhir dalam kelas saya yang terdiri dari 30 siswa. Saya melihat dia menjadi tertekan karena nilainya yang tidak bagus, lalu saya menghampiri dan mengajaknya berbicara.

Saya berkata kepadanya, ''Harusnya ada orang yang berada di peringkat ke-30 dari 30 siswa di kelas ini. Tahun ini, orang itu adalah kamu, yang melakukan pengorbanan gagah berani supaya tidak seorangpun temanmu menderita malu karena mendapat peringkat terbawah di kelas ini. Kamu sungguh baik begitu penuh belas kasih. Kamu pantas mendapatkan medali''.

Kita berdua tahu bahwa apa yang saya katakan itu konyol, tetapi dia menyeringai lebar. Dia tidak lagi menganggap peringkat terbawahnya sebagai sebuah kiamat.

Dia mendapat peringkat yang jauh lebih baik pada tahun berikutnya, ketika tiba giliran orang lain melakukan pengorbanan gagah berani.

Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share:

Jenis Kebebasan Manakah yang Anda Sukai?

 on  with No comments 
In ,  
Jenis Kebebasan Manakah yang Anda Sukai?
Oleh Ajahn Brahm

Dua bhikkhu Thai yang dihormati ke rumah seorang umat untuk menerima persembahan dana makanan pagi. Di ruang tamu, tempat mereka menunggu, terdapat sebuah akuarium berisi berbagai jenis ikan hias. Bhikkhu yang lebih muda mengadukan bahwa memelihara ikan di akuarium itu bertentangan dengan prinsip Buddhis mengenai belas kasih. Itu bagaikan memenjara mereka.

Apa sih yang telah diperbuat oleh ikan-ikan itu sehingga mereka harus dikurung dalam penjara tembok kaca? Mereka semestinya bebas berenang di sungai atau di danau, bebas pergi ke mana pun mereka suka. Bhikkhu yang kedua tidak setuju. Memang benar, dia mengakui, bahwa ikan-ikan itu tidak bebas menuruti kehendaknya, tetapi hidup dalam akuarium membebaskan mereka dari begitu banyak marabahaya. Lalu dia menguraikan daftar kebebasan mereka.
    1. Pernahkah Anda melihat orang memancing ikan di akuarium di rumah seseorang? Tidak! Jadi, kebebasan pertama bagi ikan-ikan dalam akuarium adalah bebas dari ancaman para pemancing. Bayangkan apa jadinya bagi ikan di alam bebas, ketika melihat seekor cacing lezat atau seekor lalat sedap, mereka tidak pernah yakin apakah itu aman dimakan atau tidak.

      Mereka, tidak diragukan lagi, telah menyaksikan banyak teman dan kerabat mereka mencaplok seekor cacing yang tampak lezat, dan tiba-tiba lenyap dari pandangan mereka untuk selamanya. Bagi ikan di alam bebas, kegiatan makan itu penuh ancaman bahaya dan sering berakhir dalam tragedi. Makan malam bisa menjadi traumatik.

      Ikan di alam bebas bisa-bisa menderita gangguan pencernaan kronis karena hilangnya nafsu makan, dan ikan yang paranoid bisa dipastikan akan mati kelaparan. Ikan di alam bebas mungkin saja menderita tekanan batin, tetapi ikan di akuarium terbebas dari bahaya semacam ini.

    2. Ikan di alam bebas juga harus mencemaskan ancaman ikan lebih besar yang akan memangsa mereka. Dewasa ini, di beberapa sungai yang rusuh, para ikan tidak lagi merasa aman untuk keluyuran pada malam hari! Akan tetapi, tidak ada pemilik akuarium yang akan mengisi akuariumnya dengan jenis ikan yang akan memangsa ikan lainnya. Jadi, ikan dalam akuarium terbebas dari bahaya ikan kanibal.

    3. Dalam daur alaminya, ikan di alam bebas kadang tidak memperoleh makanan. Namun bagi ikan di akuarium hidup itu bagai tinggal di sebuah restoran. Dua kali sehari, makanan bergizi diantarkan ke depan pintu mereka, bahkan lebih nyaman daripada jasa pesan-antar pizza, karena mereka tidak perlu membayar. Jadi, ikan dalam akuarium terbebas dari bahaya kelaparan.

    4. Selama perubahan musim, sungai dan danau mengalami perubahan suhu yang ekstrem. Sungai dan danau menjadi sangat dingin pada musim dingin, sampai permukaannya tertutupi es. Pada musim panas, air bisa menjadi terlalu hangat untuk ikan, kadang bahkan sampai mengering. Namun, ikan dalam akuarium memiliki sistem pengaturan udara dan suhu. Suhu air dalam akuarium terjaga baik dan nyaman, sepanjang hari sepanjang tahun. Jadi ikan dalam akuarium, terbebas dari bahaya kedinginan dan kepanasan.

    5. Di alam bebas, bila seekor ikan jatuh sakit, tidak ada yang akan merawatnya. Namun, ikan dalam akuarium punya asuransi kesehatan gratis. Pemiliknya akan memanggil dokter ikan untuk datang ke rumah kapan pun ada ikan yang sakit; mereka bahkan tidak harus pergi sendiri ke klinik. Jadi ikan dalam akuarium terbebas dari bahaya ketiadaan perlindungan kesehatan.
Bhikkhu kedua yang lebih senior, menyimpulkan sikapnya, Ada banyak keuntungan menjadi seekor ikan dalam akuarium, katanya. Memang benar, mereka tidak bebas menuruti kehendaknya dan berenang ke sana kemari, tetapi mereka terbebas dari begitu banyak bahaya dan ketidaknyamanan.

Bhikkhu yang lebih senior melanjutkan penjelasannya bahwa itu sama seperti orang-orang yang hidup dalam kehidupan yang bajik. Benar, mereka tidak bebas mengikuti nafsunya dan seenaknya ke sana ke mari, namun mereka terbebas dari begitu banyak bahaya dan ketidaknyamanan.

Jenis kebebasan manakah yang Anda sukai?

Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share:

Inipun Akan Berlalu

 on  with No comments 
In ,  
Inipun Akan Berlalu
Oleh Ajahn Bram

Salah satu pengajaran tidak ternilai yang dapat membantu mengatasi depresi, adalah juga salah satu yang paling sederhana. Namun pengajaran yang terlihat sederhana, mudah untuk disalahpahami. Hanya jika kita akhirnya sudah terbebas dari depresi, barulah kita boleh menyatakan diri sudah betul-betul memahami cerita berikut.

Seorang narapidanan baru merasa ketakutan dan tertekan. Tembok-tembok batu di selnya seperti menyerap habis semua kehangatan; jeruji-jeruji besi bagai mencemooh segala belas kasih; suara gelegar baja yang beradu ketika gerbang ditutup, mengunci harapan jauh-jauh. Hatinya terpuruk sedalam hukumannya yang sedemikian lama. Di tembok, di atas kepala tempat tidur lipatnya, dia melihat sebuah kalimat yang tergores di sana; ''Ini Pun Akan Berlalu''.

Kalimat itu melecut semangatnya, mungkin demikian juga dengan narapidana lain sebelum dia. Tidak peduli betapa beratnya, dia akan menatap tulisan itu dan mengingatnya; ''ini pun akan berlalu''. Pada hari ia dibebaskan, dia mengetahui kebenaran dari kata-kata itu. Waktunya telah terpenuhi; penjara pun telah berlalu.

Ketika ia menjalani kembali kehidupan normalnya, dia sering merenungi pesan itu, menulisnya di secarik kertas untuk di taruh di samping tempat tidurnya, di mobil dan di tempat kerja. Bahkan saat dia mengalami hal-hal yang buruk, dia tidak akan menjadi depresi. Dengan mudah dia akan mengingat, ''ini pun akan berlalu'', dan terus berjuang. Saat-saat yang buruk pun tidak memerlukan waktu lama untuk berlalu. Lalu ketika saat-saat yang menyenangkan tiba, dia menikmatinya, tetapi tanpa terlalu sembrono. Sekali lagi dia akan mengingat, ''ini pun akan berlalu'', dan terus lanjut bekerja, tanpa menggampangkan hal yang menyenangkan itu. Saat-saat yang indah biasanya juga tidak akan bertahan lama-lama.

Bahkan ketika dia menderita kanker, ''ini pun akan berlalu'' telah memberinya pengharapan. Pengharapan memberinya kekuatan dan sikap positif yang mengalahkan penyakitnya. Suatu hari, dokter spesialis memastikan bahwa, ''kanker pun telah berlalu''.

Pada hari-hari terakhirnya, di atas ranjang kematian, dia membisikkan kepada orang-orang yang dicintainya, ''ini pun akan berlalu'', dan dengan enteng dia meninggalkan dunia ini. Kata-katanya adalah pemberian cinta terakhir bagi keluarga dan teman-temannya. Mereka belajar darinya bahwa, ''kesedihan pun akan berlalu''.

Depresi adalah sebuah penjara yang sering di alami oleh kita-kita ini. ''Ini pun akan berlalu'' membantu melecut semangat kita; juga menghindarkan salah satu penyebab depresi hebat, yaitu tidak mensyukuri saat-saat bahagia.

Sumber: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm
Share: