Sabtu, 05 Januari 2013

Namakara Gatha

 on  with No comments 
In  
Araham Sammasambuddho Bhagava
Buddham Bhagavatam Abhivademi
Hyang Bhagava yang maha suci yang telah mencapai penerangan sempurna.
Aku bersujud di hadapan Hyang Bhagava.

Svakkhato Bhagavata Dhammo
Dhammam Namassami
Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Hyang Bhagava.
Aku bersujud di hadapan Dhamma.

Supatipanno Bhagavato Savakasangho
Sangham Namami
Sangha Hyang Bhagava telah bertindak sempurna.
Aku bersujud di hadapan Sangha.
Share:

Karaniya Metta Sutta

 on  with No comments 
In  
Ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi bersama dengan murid-muridnya, Sang Buddha memerintahkan kelima ratus orang muridnya untuk berlatih diri, bermeditasi di hutan untuk mencapai tingkat kesucian. Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju ke suatu desa yang cukup besar. Penduduk desa yang ketika mengetahui murid-murid Sang Buddha mendatangi desa mereka, segera menyambutnya dengan menyiapkan tempat untuk beristirahat, dan mempersembahkan bubur dan makanan lainnya.

Mereka lalu bertanya: “Kemanakah Bhante akan pergi?”.

Para bhikkhu itu menjawab: “Kami akan pergi ke suatu tempat yang nyaman”.

Penduduk desa itu menyarankan: “Bhante, tinggallah di hutan di dekat desa kami ini selama tiga bulan, sehingga kami dapat mempelajari Dhamma dibawah bimbinganmu”. Para bhikkhu menyetujuinya, dan para penduduk berkata lagi: “Bhante, di dekat desa kami ada hutan kecil, Bhante dapat tinggal di sana”.

Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju hutan yang ditunjukkan penduduk desa. Di dalam hutan itu banyak terdapat makhluk halus penghuni hutan, mereka mengetahui kedatangan para bhikkhu, “Sekumpulan bhikkhu akan datang ke hutan ini, apabila para bhikkhu itu tinggal di sini, pasti tidak enak lagi kita berdiam di sini bersama anak dan istri”.

Mereka turun dari pohon dan duduk di bawah, mereka berpikir lagi: “Kalau bhikkhu-bhikkhu itu tinggal di sini hanya satu malam, besok mereka pasti pergi dari hutan ini”.

Mereka lalu duduk diam di bawah pohon. Tetapi keesokkan harinya setelah para bhikkhu berpindapata ke desa di dekat hutan itu dan makan hasil pindapatanya, ternyata mereka kembali ke hutan itu. Para makhluk halus penghuni hutan itu berpikir: “Besok, kalau ada yang mengundang mereka, mereka pasti pergi dari sini. Kalau hari ini mereka tidak jadi pergi, besok mereka pasti pergi”. Setelah berpikir demikian, mereka duduk kembali di bawah pohon sepanjang malam.

Makhluk halus penghuni hutan ragu-ragu, apakah para bhikkhu itu akan segera pergi dari tempat tinggal mereka, lalu berpikir kembali: “Apabila para bhikkhu ini tinggal di sini selama tiga bulan, pasti tidak enak lagi tinggal di sini, lagipula kita sudah lelah sekali duduk di bawah. Bagaimana yah, caranya supaya para bhikkhu ini pergi dari sini?”.

Karena merasa terganggu akhirnya makhluk halus penghuni hutan itu mengganggu para bhikkhu supaya mereka pergi dari tempat tinggal mereka. Siang dan malam hari para bhikkhu itu diganggu, ada yang melihat kepala-kepala beterbangan, ada pula yang melihat badan tanpa ada kepalanya berjalan-jalan, lalu terdengar suara-suara yang menyeramkan. Pada waktu yang bersamaan, para bhikkhu itu banyak yang menderita bermacam-macam penyakit, ada yang sakit batuk, pilek atau sakit-sakit lainnya. Mereka lalu saling bertanya: “Saudaraku, kamu sakit apa?”. “Saya sakit pilek”. “Saya batuk-batuk”. “Saudaraku, hari ini saya melihat banyak kepala beterbangan”. “Saudaraku, di malam hari saya melihat badan tanpa kepala berjalan-jalan”. “Saya mendengar suara-suara yang menyeramkan”. “Saudaraku, kita harus meninggalkan tempat ini, tempat ini tidak cocok untuk kita.

Mari kita menemui Guru kita, Sang Buddha”. Mereka meninggalkan hutan itu dan menemui Sang Buddha, setelah memberikan hormatnya dengan bernamaskara, mereka lalu duduk dan menceritakan mengapa mereka kembali, Sang Buddha lalu berkata: “Bhikkhu, mengapa kalian tidak dapat tinggal di hutan itu?”.

Para bhikkhu menjawab: “Yang Mulia, kami tidak dapat lagi tinggal di sana, tempat itu amat menyeramkan, banyak hal menakutkan yang kami lihat dan alami. Tempat itu tidak nyaman untuk kami, jadi kami memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali menemui Yang Mulia”. “Bhikkhu, kamu harus kembali ke tempat itu”. “Maaf Yang Mulia, kami tidak mau kembali ke sana”.

“Bhikkhu, ketika kamu pergi ke hutan itu untuk pertama kalinya, kamu tidak membawa “senjata”. Dan sekarang kamu harus membawa “senjata” bila kamu kembali ke sana”. “Senjata apakah itu Yang Mulia?” Sang Buddha lalu menjawab, “Aku akan memberikan senjata yang dapat kamu bawa kemana pun kamu pergi”. Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta:
Inilah yang harus dilaksanakan oleh mereka-mereka yang tekun dalam kebaikan.
Dan telah mencapai ketenangan bathin.
Ia harus pandai, jujur, sangat jujur.
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.

Merasa puas, mudah dirawat
Tiada sibuk, sederhana hidupnya
Tenang indrianya, selalu waspada
Tahu malu, tidak melekat pada keluarga 

Tak berbuat kesalahan walaupun kecil yang dapat dicela oleh para Bijaksana.
Hendaklah ia selalu berpikir:
“Semoga semua makhluk sejahtera dan damai,
semoga semua makhluk berbahagia” 

Makhluk apapun juga
Baik yang lemah atau yang kuat tanpa kecuali
Yang panjang atau yang besar
yang sedang, pendek, kurus atau gemuk 

Yang terlihat atau tidak terlihat
Yang jauh maupun yang dekat
Yang telah terlahir atau yang akan dilahirkan
Semoga semuanya berbahagia 

Jangan menipu orang lain
Atau menghina siapa saja,
Janganlah karena marah dan benci
Mengharapkan orang lain mendapat celaka 

Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya
Untuk melindungi anaknya yang tunggal
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkannya pikiran kasih sayang tanpa batas 

Hendaknya pikiran kasih sayang
Dipancarkannya ke seluruh penjuru alam,
ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling
Tanpa rintangan, tanpa benci, atau permusuhan 

Sewaktu berdiri, berjalan, atau duduk
Atau berbaring sesaat sebelum tidur
Ia tekun mengembangkan kesadaran ini
Yang dinamakan “Kediaman Brahma” 

Tidak berpegang pada pandangan yang salah
Tekun dalam sila dan memiliki kebijaksanaan,
Hingga bathinnya bersih dari segala nafsu indria
Maka ia tak akan lahir lagi dalam rahim manapun juga 

Selesainya Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta, Sang Buddha berkata: “Bhikkhu, bacakanlah Karaniya Metta Sutta ini, ketika kamu hendak masuk ke dalam hutan, dan ketika hendak memasuki tempat meditasi”.

Setelah berkata demikian, Sang Buddha melepaskan para bhikkhu kembali ke hutan. Para bhikkhu menghormat Sang Buddha dan kembali ke hutan dengan membawa “senjata” yang telah Sang Buddha ajarkan. Dengan membacakan Karaniya Metta Sutta bersama-sama, mereka masuk ke dalam hutan. Makhluk halus penghuni hutan mendengar Karaniya Metta Sutta, yang menggambarkan cinta kasih dan belas kasihan kepada semua makhluk. Sesudahnya mereka amat senang dan merasa bersahabat dengan para bhikkhu. Kemudian mereka mendatangi para bhikkhu dan minta ijin agar diperbolehkan membawakan mangkok-mangkok dan jubah-jubah.

Mereka membersihkan tangan dan kaki para bhikkhu, lalu menempatkan penjagaan yang kuat di sekelilingnya. Mereka duduk bersama-sama para bhikkhu, berjaga-jaga. Suara-suara dan bayangan-bayangan menakutkan tidak ada lagi, para bhikkhu menjadi tenang dan nyaman. Mereka segera duduk bermeditasi, melatih diri pada siang dan malam hari, untuk mendapatkan Pandangan Terang. Dengan pikiran yang terpusat dan terkendali mereka merenungkan kematian, tentang tubuh yang mudah rusak dan membusuk, lalu mereka menarik kesimpulan, “Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”.

Mereka lalu mengembangkan Pandangan Terang. Sang Buddha yang sedang bermeditasi mengetahui bahwa murid-muridnya mulai mengembangkan Pandangan Terang, lalu ia berbicara kepada mereka: “Demikianlah bhikkhu. Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”. Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengirimkan bayangan dirinya yang dapat terlihat dengan jelas oleh murid-muridnya. Meskipun Sang Buddha berada amat jauh, tetapi para bhikkhu dapat melihat Sang Buddha dalam bentuk yang nyata, dengan memancarkan sinar yang amat terang, Sang Buddha mengucapkan syair:
“Dengan menyadari bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan, maka hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota dan menyerang mara dengan senjata kabijaksanaan”
Share:

Ratana Sutta

 on  with No comments 
In  
Ketika itu, di kota Vesali mengalami wabah kelaparan yang mengakibatkan banyak korban kematian bagi penduduknya terutama kaum miskin. Karena adanya mayat yang membusuk, roh jahat mulai bergentayangan di kota itu; yang kemudian diikuti dengan wabah campak. Mewabahnya ketiga jenis ketakutan ini: kelaparan, mahluk halus, dan campak mengakibatkan penduduk mencari bantuan kepada Sang Buddha yang saat itu berdiam di Rajagaha. Diikuti dengan sejumlah besar Bhikku termasuk Yang Mulia Ananda, pengikut setia-Nya, Sang Buddha datang ke kota Vesali.

Tibanya Sang Buddha diikuti dengan hujan teramat lebat dan deras, yang menyapu semua mayat membusuk hingga udara menjadi jernih dan kota menjadi bersih. Setelahnya, Sang Buddha membabarkan Sutra Permata (Ratana Sutta) ini kepada Yang Mulia Ananda, dan memberikan perintah kepadanya mengenai bagaimana Ia harus berkeliling kota bersama penduduk Licchavi membaca Sutra untuk tanda perlindungan bagi penduduk Vesali. Yang Mulia Ananda mengikuti perintah tersebut dan memercikkan air suci dari mangkok Sang Buddha kepada penduduk kota.

Karenanya, semua roh jahat terusir dan wabah campak-pun menyusut. Kemudian, Yang Mulia Ananda bersama penduduk Vesali kembali ke Balai Umum, tempat Sang Buddha dan pengikutnya berkumpul menanti kedatangannya. Di sana Sang Buddha membacakan Sutra Permata tersebut kepada semua yang berkumpul:

1. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, semoga semua makhluk itu bahagia. Demikian juga, semoga mereka mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan.

2. Karena itu, wahai para makhluk, perhatikanlah baik-baik. Pancarkanlah kasih sayang kepada umat manusia yang siang malam memberikan persembahan kepadamu. Karena itu, lindungilah mereka dengan setulus hati.

3. Harta apapun yang ada di sini atau di dunia lain, atau permata tak ternilai apa pun yang ada di alam-alam surga, tidak ada satu pun yang sebanding dengan Sang Tathagata. Permata tak ternilai ini ada di dalam Buddha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

4. Manusia bijak dari suku Sakya, yang tenang pikirannya, telah mewujudkan penghentian yang bebas dari nafsu, yang bebas dari kematian, dan luar biasa. Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan keadaan itu. Permata tak ternilai ini ada di dalam Dhamma. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian ! 5. Buddha yang agung memuji meditasi murni yang segera memberikan hasil. Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan meditasi itu. Permata berharga ini ada di dalam Dhamma. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

6. Delapan individu yang dipuji oleh orang-orang baik-baik terdiri dari empat pasang.3 Mereka adalah siswa-siswa Sang Buddha, yang pantas menerima persembahan. Apapun yang dipersembahkan kepada mereka akan memberikan buah yang melimpah. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

7. Mereka yang terbebas dari nafsu semuanya mantap di dalam ajaran Gotama yang berpikiran teguh. Mereka telah mencapai apa yang harus dicapai karena telah menyelam ke dalam Nibbana yang bebas dari kematian. Mereka menikmati Kedamaian yang dicapai, yang tak ternilai. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

8. Bagaikan gerbang kota yang berfondasi kokoh tidak tergoyahkan oleh angin dari empat penjuru, demikianlah kunyatakan bahwa orang yang sepenuhnya memahami Kebenaran Mulia adalah orang yang baik. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

9. Mereka yang dengan jernih memahami Kebenaran Mulia yang telah diajarkan dengan baik oleh Yang Maha Bijaksana, betapapun tidak berhati-hatinya mereka itu, mereka tidak akan terlahir untuk kedelapan kalinya. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

10. Tiga kondisi telah ditinggalkan oleh dia pada saat mencapai pandangan terang, yaitu: (i) pandangan salah tentang diri, (ii) keraguan, dan (iii) pandangan salah bahwa ritual dan upacara dapat menyelamatkan. Dia juga telah sepenuhnya terbebas dari empat keadaan menderita dan tidak dapat lagi melakukan enam kejahatan. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian !

11. Kejahatan apa pun yang dilakukan, baik lewat tubuh, ucapan atau pikiran, tak dapat disembunyikannya. Karena telah dikatakan bahwa tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan oleh orang yang telah melihat Sang Jalan. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

12. Bagaikan pohon-pohon yang pucuknya berbunga pada bulan-bulan pertama musim panas, begitu juga ajaran tertinggi yang menuju ke Nibbana ini diajarkan untuk tujuan tertinggi. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

13. Yang Luar Biasa, Yang Maha Mengetahui, Sang Pemberi yang luar biasa, dan Sang Pembawa Kesempurnaan telah membabarkan ajaran yang luar biasa. Permata tak ternilai ini ada di dalam Buddha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

14. Dengan musnahnya (kamma) lampau, tidak ada (kamma) baru yang dihasilkan, maka pikiran pun tak melekat pada kelahiran di masa depan — mereka telah menghancurkan benih-benih tumimbal lahir. Nafsu-nafsu tidak lagi muncul dan para bijaksana itu pergi, sama seperti lampu ini. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

15. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Buddha. Sang Tathagata dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!

16. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari ruang angkasa, marilah kita menghormat Dhamma. Sang Tathagata dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!

17. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Sangha. Sang Tathagata, dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!
Share:

Albert Einstein & Agama Buddha

 on  with No comments 
In  
Albert Einstein dilahirkan di Ulm, Kerajaan Wuettemberg, Prusia Raya (sekarang Jerman) pada tanggal 14 Maret 1879. Beliau terlahir sebagai putra sulung dari pasangan Hermann Einstein dan Pauline Koch. Di waktu kecilnya, Albert Einstein nampak terbelakang karena kemampuan bicaranya amat terlambat. Wataknya pendiam dan suka bermain seorang diri.

Bulan November 1981 lahir adik perempuannya yang diberi nama Maja. Sampai usia tujuh tahun Albert Einstein suka marah dan melempar barang, termasuk kepada adiknya. Minat dan kecintaannya pada bidang ilmu fisika muncul pada usia lima tahun. Ketika sedang terbaring lemah karena sakit, ayahnya menghadiahinya sebuah kompas.

Albert kecil terpesona oleh keajaiban kompas tersebut, sehingga ia membulatkan tekadnya untuk membuka tabir misteri yang menyelimuti keagungan dan kebesaran alam. Meskipun pendiam dan tidak suka bermain dengan teman-temannya, Albert Einstein tetap mampu berprestasi di sekolahnya. Ia menjadi juara kelas. Selain bersekolah dan menggeluti sains, kegiatan Albert hanyalah bermain musik dan berduet dengan ibunya memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen.

Albert Einstein menghabiskan masa kuliahnya di ETH (Eidgenoessische Technische Hochscule). Pada usia 21 tahun Albert dinyatakan lulus. Setelah lulus, Albert berusaha melamar pekerjaan sebagai asisten dosen, tetapi ditolak. Akhirnya Albert mendapat pekerjaan sementara sebagai guru di SMA. Kemudian dia mendapat pekerjaan di kantor paten di kota Bern. Selama masa itu Albert tetap mengembangkan ilmu fisikanya.

Tahun 1905 adalah tahun penuh prestasi bagi Albert, karena pada tahun ini ia menghasilkan karya-karya yang cemerlang. Papernya yang tersohor, yaitu tentang teori relativitas khusus, dimuat Annalen der Physik dengan judul Zur Elektrodynamik Bewegter Kurper (Elektrodinamika benda bergerak). Kelanjutan papernya yang sampai pada kesimpulan rumus termahsyurnya : E = mc², yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E). c adalah laju cahaya di ruang hampa (c >> 300 ribu kilometer per detik). Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Satu gram massa dengan demikian setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3000 rumah (berdaya 900 watt) selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya.

Tahun 1909, Albert Einstein diangkat sebagai profesor di Universitas Zurich. Tahun 1915, ia menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya sejak kecil terbayar dengan diraihnya Hadiah Nobel pada tahun 1921 di bidang ilmu fisika. Selain itu Albert juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu. Pada tahun 1933, Albert beserta keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya, baik sebagai pengajar ataupun sebagai peneliti terganggu. Tahun 1941, ia mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, Albert ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu.

 Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Albert Einstein meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia. Dalam tahun-tahun terakhirnya ia mengaju pada "perasaan religius kosmik" yang meresapi dan menjaga karya-karyanya. Pada tahun 1954, setahun sebelum kematiannya, ia mengatakan tentang ingin "merasakan alam semesta seperti sebuah kesatuan kosmik." Ia juga suka menggunakan istilah religius, seperti pada tahun 1926 mengatakan bahwa "Ia [Tuhan] tidak bermain dadu" ketika mengacu pada ketidakpastian yang dihasilkan oleh teori kuantum.

Beberapa pernyataan Albert Einstein dikutip dari berbagai sumber:

The beginnings of cosmic religious feeling already appear at an early stage of development, e.g., in many of the Psalms of David and in some of the Prophets. Buddhism, as we have learned especially from the wonderful writings of Schopenhauer, contains a much stronger element of this. The religious geniuses of all ages have been distinguished by this kind of religious feeling, which knows no dogma and no God conceived in man's image; On the other hand, I maintain that the cosmic religious feeling is the strongest and noblest motive for scientific research. It is cosmic religious feeling that gives a man such strength. A contemporary has said, not unjustly, that in this materialistic age of ours the serious scientific workers are the only profoundly religious people. (Albert Einstein : The Development of Religion, New York Times Magazine dan Albert Einstein: The World as I See It) 

Menurut Albert Einstein, Buddhis sebagai agama yang tanpa dogma dan tanpa adanya Tuhan sangat cocok dengan sains.

Schopenhauer's saying, that "a man can do as he will, but not will as he will," has been an inspiration to me since my youth up, and a continual consolation and unfailing well-spring of patience in the face of the hardships of life, my own and others". (a speech by Albert Einstein to the German League of Human Rights, Berlin, in the autumn of 1932) 

At first, then, instead of asking what religion is I should prefer to ask what characterizes the aspirations of a person who gives me the impression of being religious: a person who is religiously enlightened appears to me to be one who has, to the best of his ability, liberated himself from the fetters of his selfish desires and is preoccupied with thoughts, feelings, and aspirations to which he clings because of their superpersonalvalue. It seems to me that what is important is the force of this superpersonal content and the depth of the conviction concerning its overpowering meaningfulness, regardless of whether any attempt is made to unite this content with a divine Being, for otherwise it would not be possible to count Buddha and Spinoza as religious personalities. Accordingly, a religious person is devout in the sense that he has no doubt of the significance and loftiness of those superpersonal objects and goals which neither require nor are capable of rational foundation. They exist with the same necessity and matter-of-factness as he himself. In this sense religion is the age-old endeavor of mankind to become clearly and completely conscious of these values and goals and constantly to strengthen and extend their effect. (Albert Einstein: "Science and Religion" in The Conference on Science, Philosophy and Religion)

 I believe in Spinoza's God, Who reveals Himself in the lawful harmony of the world, not in a God Who concerns Himself with the fate and the doings of mankind. (Albert Einstein: "Science and Religion" in The Conference on Science, Philosophy and Religion dan Albert Einstein: Philosopher-Scientist edited by Paul Arthur Schilpp) 

What humanity owes to personalities like Buddha, Moses, and ranks for me higher than all the achievements of the enquiring and constructive mind. (Albert Einstein, The Human Side, edited by Helen Dukas and Banesh Hoffman, Princeton University Press, 1954) 

Konsep Tuhan Personal menurut Einstein:
“I cannot accept any concept of God based on the fear of life or the fear of death or blind faith. I cannot prove to you that there is no personal God, but if I were to speak of him I would be a liar.” (Albert Einstein in an interview with Professor William Hermanns)

 "The word God is for me nothing more than the expression and product of human weaknesses, the Bible a collection of honourable, but still primitive legends which are nevertheless pretty childish. For me the Jewish religion like all others is an incarnation of the most childish superstitions, No interpretation no matter how subtle can (for me) change this" (a letter written by Albert Einstein on January 3, 1954 to the philosopher Eric Gutkind) 

About God, I cannot accept any concept based on the authority of the Church. As long as I can remember, I have resented mass indocrination. I do not believe in the fear of life, in the fear of death, in blind faith. I cannot prove to you that there is no personal God, but if I were to speak of him, I would be a liar. I do not believe in the God of theology who rewards good and punishes evil. My God created laws that take care of that. His universe is not ruled by wishful thinking, but by immutable laws. (W. Hermanns, Einstein and the Poet—In Search of the Cosmic Man) 

Einstein tidak mengakui adanya Tuhan personal dan menganggap keyakinan akan Tuhan personal sebagai sesuatu yang kekanak-kanakan. Konsep ketiadaan Tuhan secara personal sejalan dengan konsep Buddhis.
Share:

Ajaran Buddha Tentang Kematian

 on  with No comments 
In  
Jika terdapat satu hal yang pasti dalam hidup ini, maka hal itu tidak lain adalah bahwa kita semua akan mengalami yang namanya kematian, tergantung pada suatu proses waktu yang sulit untuk dipahami. Untuk sebagian orang kematian mungkin sesuatu yang “tabu” atau bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk di bicarakan ataupun dipikirkan, karena sesungguhnya tanpa dipikirkan, kematian itu sendiri pastinya akan datang. Ada beberapa orang yang terkalahkan oleh rasa takut akan kematian sehingga mereka sangatlah sulit untuk memiliki energi atau semangat untuk hidup terlebih pada saat mengalami sakit. Ketakutan akan kematian adalah suatu bentuk keadaan pikiran yang tidak sehat.

Kematian dalam ajaran Buddhis biasa disebut lenyapnya indra vital terbatas pada satu kehidupan tunggal dan bersamaan dengan fisik kesadaraan proses kehidupan. Kematian merupakan transformasi arus kesadaran seseorang yang terus mengalir dalam satu bentuk kehidupan ke bentuk kehidupan yang lain. Hal ini dapat disebabkan oleh kebodohan batin ataupun kemelekatan. Pada akhir kehidupan fisik, pada saat bersamaan terdapat pemutusan hubungan antara proses mental dan tubuh, yang dengan cepat fisik akan mengalami kelapukan. Tetapi kelahiran lagi dengan cara yang tepat terjadi dengan segera pada beberapa alam kehidupan. Dalam buddhis tidak dikenal adanya sosok entitas abadi yang “mungkin” juga kita kenal sebagi roh abadi yang tidak bertransformasi ataupun satu sosok entitas kehidupan tunggl.

Kematian dalam pandangan Buddhis bukanlah akhir dari segalanya, namun kematian berarti putusnya seluruh ikatan yang mengikat kita terhadap keberadaan kita yang sekarang. Semakin kita dapat tidak terikat pada dunia ini dan belenggunya, akan semakin siap kita dalam menghadapi kematian dan pada akhirnya akan semakin dekat kita pada jalan menuju “keadaan tanpa kematian”. Dalam Buddhis, sesungguhnya kematian tidak dapat dipisahkan dari kelahiran, dan juga sebaliknya dimana setiap yang mengalami kelahiran akan juga mengalami kematian.

Dalam literatur medis dapat dikatakan bahwa kematian otak adalah kematian manusia. Kriteria kematian otak yang dapat diterima adalah kematian pada batang otak. Batang otak berada di bagian bawah otak manusia. Fungsi batang otak berkaitan dengan pengaturan pernafasan, detak jantung, dan tekanan darah. Secara umum dalam tradisi Buddhis menyepakati bahwa kematian dalam ajaran Buddha tidak ditentukan semata-mata oleh faktor fisik. Faktor batin yang mencakup kesadaran dianggap berperan sebagai faktor utama kematian.

Menurut ajaran Buddha ada empat penyebab kematian:
1. Habisnya masa hidup (ayukkhaya)
2. Habisnya tenaga karma atau akibat perbuatan penyebab kelahiran serta perbuatan pendukung (kammakkhaya)
3. Habisnya usia sekaligus akibat perbuatan (ubhayakkhaya)
4. Kecelakaan, bencana atau malapetaka (upacchedaka)

Perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan empat penyebab kematian tersebut berturut-turut adalah bagaikan pelita yang padam akibat habisnya sumbu, habisnya bahan bakar, habisnya sumbu serta bahan bakar, dan karena angin. Perenungan akan kematian memberikan manfaat yang sangat besar kepada siapapun baik ketika masih hidup maupun ketika mendekati ajal.

Buddha mengatakan ada lima hal yang harus sering direnungkan oleh siapapun:
“Usia tua mendatangiku, aku tidak dapat terhindar dari usia tua. Sakit dapat mendatangiku aku tidak dapat terhindara dari sakit. Kematian mendatangiku aku tidak dapat terhindar dari kematian. Aku adalah hasil dari perbuatan-perbuatanku. Perbuatan adalah sumber, asal muasal dan landasan. Perbuatan apapun yang kulakukan, baik ataupun buruk, itulah yang akan aku warisi”. (Anguttara Nikaya III, 71)

Bentuk perenungan kematian diberikan oleh sang Buddha dalam Sutta Nipata 574-581:
“Hidup di dunia ini tidak dapat diramalkan dan dipastikan.
Hidup adalah sulit, singkat, dan penuh dengan penderitaan.
Karena dilahirkan, orang harus mati.
Inilah sifat dunia.
Dengan usia tua, ada kematian.
Inilah sifat segala hal ketika buah telah masak, buah itu dapat jatuh dipagi hari.
Demikan pula, sesuatu yang terlahir dapat mati pada saatnya.
Bagaikan semua periuk yang dibuat oleh semua ahli tembikar akan berakhir dengan terpecahkan, begitu pula dengan kehidupan dari semua yang terlahirkan.
Tidak muda maupun tua, bodoh maupun bijaksana akan terlepas dari perangkap kematian, semuanya menuju kepada kematian. Mereka dikuasai oleh kematian.
Mereka melanjutkan perjalanan ke dunia lain.
Seorang ayah tidak dapat menyelamatkan anak maupun anggota keluarganya.
Lihatlah! Dengan disaksikan oleh sanak keluarga, disertai air mata dan ratap tangis, manusia dibawa satu persatu, bagaikan sapi menuju ke penyembelihan.
Maka, kematian dan usia tua merupakan bagian yang alami dari dunia.
Jadi, orang bijaksana tidak akan berduka cita, dengan melihat sifat dunia.”
Share: